Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Sepasang Sayap Angkasa


__ADS_3

Rasa tidak percaya jika Arum tengah hamil anaknya. Tapi tak mungkin juga Arum mengkhianatinya. Saat diberitahu jika dia koma selama tujuh bulan, Angkasa begitu terkejut, dan dia percaya, jika yang dikandung Arum anaknya, bukan Arum sudah menikah dengan laki-laki lain. Angakasa lebih terkejut lagi, jika dia tengah dirawat di negara lain.


"Maafkan aku, maaf tadi meragukan mu." Angkasa hanya dapat menggenggam tangan Arum, ingin dia memeluk wanita hebat ini, tapi Oma melarangnya. Angkasa tak bisa berkata apa-apa, jika dia koma sampai tujuh bulan lamanya, berarti Arum berjuang seorang diri. Entah apa yang sudah Arum hadapi selama ini.


Arum, hanya bisa menitikkan air mata tanpa bisa berkata-kata, dia bersyukur Angkasa masih bisa bersamanya. Angkasa menarik tangan Arum agar lebih dekat, ia hapus air mata itu.


"Ma, Yah. Bisa nikahkan kami sekarang?" Pintanya tiba-tiba membuat semua orang terkejut.


"Kamu tidak bercanda?" Arum memastikan ucapan Angkasa.


"Tidak sayang, mumpung kita disini. Anak kita segera lahir. Untuk apa menundanya lagi."


"Aku takut kamu masih dalam pengaruh obat. Dan kamu mengatakanya secara tidak sadar."


"Aku sangat sadar sayang." Ditatapnya manik hitam Arum, "aku sudah janji bukan untuk segera


"Jangan khawatir, Nak. Angkasa sangat sadar," Oma mendekat, mengusap rambut Arum. "Benar apa yang dilakukan Angkasa. Niat baik harus disegerakan."


Arum menatap Delia.


Delia tersenyum. "Mama merestui kalian."


* * *


Disaksikan dokter yang merawat Angkasa, serta direktur rumah sakit, juga keluarga besar Angkasa. Angkasa resmi menikahi Arum.


Tadi, saat Angkasa meminta untuk segera dinikahkan, Abian dibantu Awan mengurus segala surat izin, dan meminta bantuan dokter yang sudah dekat dengan mereka, untuk dicarikan orang yang bertugas menikahkan.


Tak ada yang tahu rencana Tuhan. Tujuan mereka datang ke negara yang memiliki menara tertinggi di dunia itu untuk melihat Angkasa yang terakhir kalinya, tapi berubah menjadi menyatunya dua insan yang dengan sabar menjalani cobaan yang hampir saja dipisahkan oleh maut.


Meski hanya dirumah sakit, tak ada dekorasi mewah, pakaian seadanya yang mereka pakai. Namun menyatunya dua insan yang mengikrar janji suci kepada Tuhan itu begitu mengharu. Delia sampai tersedu, tak menyangka jika anaknya kembali diberi kesempatan hidup kedua kalinya, dan janji itu diucapkan di negara yang salah satu kotanya menjadi tempat suci umat muslim.


Suasana makin mengharu, tatkala Nining menyaksikan pernikahan mereka lewat sambungan video.


"Selamat untuk kalian berdua. Akhirnya setelah melewati jalan yang panjang, kalian bersatu juga." Delia memeluk Arum dan Angkasa bergantian. "Maafkan Mama sayang, andai-"


"Stttt, Ma. Jangan diteruskan, Mama tidak salah. Dengan kejadian ini, kami jadi mendapat pelajaran jika kami harus melawan nafsu kami. Bagaimanapun keadaannya." Angkasa menghapus air mata Delia. "Sebagai hadiah untuk Mama dan Ayah. Bagaimana sekalian bulan madu, sekalian kita sekeluarga berkunjung ke tanah suci."


"Ide bagus sayang. Kita doakan semoga Awan segera menemukan tambatan hatinya." Abian menyetujui ide Angkasa. Melirik Awan yang tersipu malu. Abian tahu jika Awan memiliki hati pada Arum, tapi ia pura-pura tidak tahu. "Tapi kita harus pastikan jika keadaan mu sudah benar-benar baik."

__ADS_1


"Aku baik, Yah. Angkasa sudah sangat sehat sekarang."


Awan yang tadi di goda, mèmukul lengan saudara kembarnya. "Benar sudah sehat? Aku rasa tujuan mu lain setelah sah."


"Jangan iri ya, Brother. Pulang dari sini lamarlah wanita mu." Awan jadi diam, ia tiba-tiba ragu pada Reini.


Dulu sebelum mereka resmi jadi pasangan kekasih, Awan begitu menggebu ingin memiliki Reini. Tapi makin kesini, rasa menggebu itu berkurang.


"Eh, ngomong-ngomong, Aira dimana? Mama nggak lihat adik kamu dari tadi, Wan." Delia menyadari anak bungsunya tidak ada.


"Kebawah cari makanan sama Oma, Ma."


Iya, Aira memang mengantar Oma Amanda mencari makanan, tapi Aira kini sedang menerima telepon dari temanya ditanah air.


Aira menjauh dari Oma.


"Apa? Dion kecelakaan pake mobil aku?" Aira memijit keningnya, Aira pusing, karena mobil yang dipakai kekasihnya itu mobil Angkasa. Ia menoleh kebelakang, takut Oma mendengar obrolanya.


"Iya, dan dia kecelakaan bareng cewek."


Siàl, berarti dia diduakan dan malah memakai mobil miliknya. Aira semakin cemas, dia takut jika sampai hal ini ketahuan orang tuanya, habislah dia.


"Beres, Ai. Urusan Dion biar aku yang mengurus," sahut teman Aira.


Aira mematikan panggilan, dan menghampiri sang Oma yang sudah menunggunya.


* * *


Bertumpu dengan sebelah tanganya, Angkasa miring, mengusap-usap perut Arum yang ia tidur disebelahnya. Mereka kini sudah sah menjadi suami istri, Angkasa dengan tegas meminta untuk ditinggalkan hanya berdua dengan Arum, dan mengusir yang lain untuk menginap di hotel saja.


"Apa selama aku tidur tidak ada yang mengganggu, mu?" Hal itu yang ingin Angkasa tahu pertama kali.


"Tidak ada. Oma minta aku tinggal dirumahnya, aku dibuat sibuk, ternyata kamu sudah dikirim kesini." Arum mengusap dagu laki-laki yang tak ia duga kini telah berubah status menjadi suaminya. Arum menikmati bulu-bulu halus yang mulai lebat itu.


"Keluarga ku menjahati, Mu?"


Arum menggeleng. "Mereka baik, tapi juga jahat sudah memisahkan kita."


"Hem, nanti aku marahi mereka." Angkasa mengecup kening Arum penuh sayang. "Apa selama hamil dia merepotkan?" Berpindah mencium perut istrinya.

__ADS_1


"Justru dia menjadi penguat ku selama ini."


"Jangan bohong. Kamu kurus, kamu pasti kurang tidur karena banyak menangisi ku."


"Ya, selain keluarga mu yang jahat. Kamu juga jahat, setelah ini aku akan menagih banyak makanan."


"Pintalah apa yang kamu mau, kalau aku bisa, seluruh isi dunia akan aku berikan untuk mu."


Arum menempelkan tanganya di kening Angkasa. "Nggak panas, tapi kenapa setelah koma kamu jadi pintar membual?" Arum menatap Angkasa, manik mereka bertemu, saling pandang dalam diam. Lama-lama, mata Arum memanas.


"Aku nggak akan minta apapun di dunia ini, aku bersyukur, sangat bersyukur Tuhan baik memberikan mukjizatnya pada kita."


Angkasa tak menjawab, dia hanya menatap Arum dalam diam, menghapus air asin yang makin deras mengalir. Angkasa paham betul apa yang dilewati Arum selama tujuh bulan ini, hamil tanpa ikatan pernikahan, dan dia koma dalam waktu yang panjang.


Dalam hati ia berjanji, akan lebih berhati-hati lagi, dia harus menjaga Arum. Kini gilirannya membahagiakan wanita yang setia menunggunya dalam keadaan berbadan dua.


"Kata orang, kalau orang koma itu masih bisa mendengar apa yang kita ceritakan. Aku ingin tahu, apa ada yang kamu dengar atau ingat sedikit cerita ku apa mama Delia?"


Angkasa mengusap-usap kening Arum dan merapikan rambut Arum. Dia mencoba mengingat-ingat.


"Sebelum aku bangun, aku seperti bermimpi berjalan sendiri kearah tangga. Terus aku bertemu bapak-bapak, entah siapa. Katanya aku tidak bisa naik tangga itu kalau tidak ada sayap. Lalu muncul anak laki-laki lari kearah ku, dia memanggil aku papa. Tidak lama kamu datang, kamu bilang kalau anak laki-laki itu, anak kita." Angkasa menceritakan yang dia ingat.


"Anak laki-laki itu yang meminta aku untuk tidak pergi. Dan dia bilang, kamu menangis kalau aku pergi. Ternyata saat aku bangun, kamu benar hamil anak kita, terima kasih sayang. Terima kasih tidak membuangnya karena aku tidak disisi mu." Angkasa memeluk Arum begitu erat, ia memejamkan mata, setetes air jatuh diujung matanya. "Ternyata kalian sepasang sayap milikku."


"Dan kamu malaikat penolong ku." Arum membalas pelukan Angkasa. "Apa hanya itu yang ada dalam mimpi mu? Kamu tujuh bulan tidur?"


Angkasa melepaskan pelukannya, menatap wajah Arum. "Ada, tapi aku ragu."


"Apa?"


Angkasa ingin sedikit menggoda Arum. "Ada seseorang berbisik, kalau aku bangun, dia ingin memanggil ku dengan panggilan sayang, tali aku nggak yakin sih."


Arum menyembunyikan wajahnya didada bidang Angkasa. Benar dulu dia pernah berkata demikian.


"Eh, apa itu benar?" Angkasa ingin melihat wajah Arum, tapi Arum semakin menenggelamkan wajahnya. "Apa itu benar, sayang. Kamu sudah menyiapkan panggilan sayang buat ku?"


Arum menggeleng di dada Angkasa. Angkasa terus membujuk Arum, sampai mereka kelelahan, dan terlelap dengan saling berpelukan.


Akhirnya, mereka bisa tidur bersama tanpa takut dosa.

__ADS_1


__ADS_2