Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Pemandangan Panas


__ADS_3

Hari ini adalah sidang vonis, Alex, papanya, dan Dikdik. Abian sudah menyerahkan semua masalah itu pada pihak pengacara yang dipercayanya. Abian ingin ketiganya dihukum seberat mungkin.


Pagi sekali Angkasa sudah rapih dan ingin ke toko Arum. Besok dia sudah bisa aktif lagi, dan sebelum dia kembali pada tugasnya, dia ingin membantu pekerjaan Arum sekaligus mencarikan karyawan. Namun saat kakinya baru saja menuruni anak tangga, panggilan Delia menghentikan langkahnya.


"Masih pagi mau kemana sih?" tegur Delia sambil mengoleskan slai diatas roti. Ada Andini yang membantunya.


"Mau ke toko Arum, Ma. Besok Angkasa sudah aktif lagi, belum tentu bisa bantu dia dan ketemu dia." Delia mencebikkan bibirnya mendengar jawaban Angkasa.


"Mama iri loh sama Arum, karena sampai sekarang, kamu nggak pernah tuh bantu Mama." Angkasa terkekeh dan menghampiri Delia. Mencium pipi mamanya.


"Memang Mama mau dibantuin apa sama Angkasa?"


"Bantu belanjain keperluan didapur ke pasar, stok sayur Mama udah menipis," sahut Delia cepat.


"Apa, Ma? Yang bener aja Angkasa ke pasar, Ma?" Mata Angkasa membulat atas permintaan Delia.


"Jadi kamu nggak mau? Nanti aja kalau kamu sudah nikah sama Arum, jangankan kepasar, belikan dia pembalut saja kamu pasti mau," ucap Delia benar-benar menunjukkan kecemburuannya pada Angkasa.


Angkasa memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Yang benar saja, belum apa-apa tapi mamanya sudah bersikap begini, apalagi nanti kalau sudah menikah dengan Arum?


"Mama juga nggak nyuruh kamu sendiri. Kamu kepasarnya sama Andini."


Andini yang sejak tadi diam, jadi menatap Delia karena namanya disebut. Andini dan Angkasa saling pandang.

__ADS_1


"Maaf Tante, Tap-"


"Udah, nggak ada tapi-tapi. Bibi hari ini sibuk, dia ada mau hajatan dikeluarganya. Mumpung ada yang anterin dan kamu juga libur, kan? Ayah minta dibuatin nasi kuning kalau tuntutannya dikabulkan pak Hakim." Jelas Delia panjang lebar. Membuat Andini dan Angkasa tak bisa menolak perintah ibu negara.


* * *


"Ehem, Ang. Kita jalanya cepat sedikit ya, soalnya aku ada janji sama Arum," ucap Andini saat dalam perjalanan menuju ke pasar.


Angkasa mengerutkan keningnya. "Janji apa?"


"Emm," Andini nampak ragu, takut salah bicara. "Aku ditugaskan Arum untuk mengobati Alex, dan hari ini kami akan mendampingi Alex dipersidangan."


Hampir saja Angkasa menginjak rem mendadak mendengar itu. Dia kaget, Arum masih memberi perhatian pada Alex, sampai memberi pendampingan dokter psikolog untuk Alex.


Angkasa menundukkan tubuhnya, melihat jalanan didepan yang terlihat sangat macet, ia membawa mobil, karena tak mau tubuh Andini menempel dipunggungnya. Sebenarnya jarak rumahnya dengan pasar tak terlalu jauh, hanya lika belas menit, jika normal, inipun sebenarnya tinggal belokan didepan, mereka sampai. Tapi gara-gara macet parah, mobilnya tak bergerak sama sekali, mau putar balikpun sudah tak bisa, dia harus memutar pasar dulu.


Angkasa memukul stir mobil keras karena kesal, membuat Andini tersentak kaget. Andini melihat wajah Angkasa yang tak bersahabat.


"Apa dia tidak tahu ini? Makanya dia terlihat sangat marah?" Andini menduga. Tapi dia memilih diam daripada nanti kena semprot.


Setelah keluar dari terjebaknya kemacetan, mobil Angkasa memasuki area parkiran pasar. Andini membuka pintu mobil hendak turun.


"Cepat belanjanya, jangan lama-lama." Pesanya pada Andini.

__ADS_1


Andini hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, hubungannya dengan anak-anak Delia masih kaku, kecuali pada Aira, karena Aira anaknya cerewet, sula ingin tahu, tapi itu yang membuat suasana hidup.


Dalam hati dia mengerutuk, mana bisa dia cepat belanjanya, ini bukan pasar tempat yang biasanya dia kunjungi dulu, mana tahu penjual yang murah yang mana? Letaknya dimana?


Meski mendapat uang belanja, dia harus pandai-pandai menawar harga. Andini terus memeriksa jam yang melingkar manis dipergelangan tanganya.


Dia juga sebenarnya sudah terlambat Arum, tapi Andini sudah mengirim pesan pada Arum, jika dia ada sedikit keterlambatan.


Tiga puluh menit, Andini baru keluar dari dalam pasar, membuat Angkasa marah. "Lama sekali sih, tadi aku sudah bilang jangan lama-lama." Sentaknya marah. Tadi mendengar Arum menemani Alex saja sudah membuatnya sangat marah, ditambah teleponya tidak dijawab-jawab oleh Arum, kepala Angkasa sampai mengeluarkan asap.


"Maaf, saya nggak hapal tempat-tempat jualanya, jadi harus cari dulu," sahut Andini tak terima disalahkan.


Angkasa tak menyahut lagi, mukanya sangat menyeramkan, bawa mobil saja dia seperti orang kesetanan, perut Andinipun sampai dibuat mual olehnya. Sepuluh menit mereka sampai rumah, Angkasa tak lagi masuk kerumahnya, dia langsung menuju garasi, menyalakan motor gede milik ayahnya.


Delia mendengar suara motor suaminya dinyalakan. "Astaga, mau kemana lagi tuh anak? Nggak ada capeknya," Delia menggelengkan kepalanya heran.


Setelah menyerahkan belanjaanya, Andini langsung berlari mencegat motor Angkasa yang baru keluar dari garasi. "Ang, aku ikut. Aku juga mau ke pengadilan." Andini merentangkan kedua tanganya.


Angkasa berdecak kesal. "Kamu nggak perlu obati begundal itu, biarkan dia hancur didalam sel sanah."


"Maaf Ang. Semalam Arum sudah mentranfer uangnya untuk menebus obat Alex yang sangat mahal. Aku sudah mendapat obatnya juga, jadi aku harus menyerahkan obat itu."


Apa? Angkasa semakin kesal saja atas pengakuan Andini. Astaga apa itu memakai uang sewa dari rumah?

__ADS_1


Angkasa menggerakkan kepalanya memerintah Andini naik keboncengan. Jarak yang cukup jauh dan padat, tapi Angkasa bisa sampai ke pengadilan dalam waktu lima belas menit. Setelah memakirkan motor, Angkasa berlari mencari ruang pengadilan, namun tiba-tiba langkahnya terhenti melihat pemandangan didepanya, Arum tengah berpelukan dengan Alex.


__ADS_2