Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Buntut Masalah Lama


__ADS_3

Jika tak bisa menjerat Dikdik dan tidak memiliki bukti apapun, maka Angkasa akan mengambil langkah sendiri.


"Kapan mereka bisa keluar?" tanyanya pada seseorang ditelepon.


"Besok siang, setelah aku mengurus semuanya."


"Pastikan tidak ada jejak apapun, aku ingin bersih. Dan siapkan semuanya dengan baik."


"Baik, Tuan. Akan kami lakukan sebaik mungkin."


Angkasa langsung mematikan panggilanya, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, hari ini benar pendaratan terakhirnya di kota lain. Angkasa tidak tahu apa Arum sudah tidur, tapi dia tetap menghubungi Arum. Namun lebih dulu Angkasa memberi tahu Delia kalau dia tidak pulang, dia ingat mamanya akan menyiapkan bekal untuknya.


Dering ke tiga panggilan langsung diangkat.


"Belum tidur?"


"Aku lagi hitung pemasukan toko," jawab suara lembut Arum, hingga bisa membuat Angkasa yang terasa lelah, seketika hilang. Tapi memang sebenarnya Arum menunggu kabar darinya.


"Jangan tidur malem-malem nanti sakit."


"Sekarang lagi dimana?" Tak mengindahkan perhatian Angkasa, tapi memang Arum ingin tahu dimana keberadaan sang kekasih sekarang.


"Surabaya, tadi dari Kalimantan."


"Pasti melelahkan."


"Nggak, kalau sudah dengar suara kamu aku langsung baik-baik saja."


Arum mengulum senyum, meski terkesan lebay dengan gombalan, tapi dalam hubungan itu penting, 'kan?


"Pramugarinya pasti cantik-cantik." Arum mulai menunjukkan rasa cemburu.


"Kalau nggak cantik, nggak akan terpilih jadi pramugari, bukannya memang itu salah satu syarat jadi pramugari ya?" Sengaja Angkasa memancing kecemburuan Arum.


Terdengar helaan nafas kasar dari Arum. "Jangan meladeni kalau ada yang caper."


Angkasa terkekeh. "Oh, biasanya pramugari-pramugari suka caper ya sama pilotnya, makanya dulu Alex tertarik sama kamu, karena kamu suka caper sama dia?"


"Apa sih? Jangan mulai, itu beda cerita."


Angkasa terbahak, untung kamar hotelnya kedap suara, jadi tidak akan ada yang bisa mendengar suaranya. Angkasa memilih kamar hotel jauh dari para awak kabin lain. Arum benar, memang ada flight attendant yang caper padanya, itu fakta.


"Jangan khawatir, secantik apapun mereka, tak ada yang bisa memikat hati seorang Angkasa Philips Hamzah kecuali, Citra Arum Pratiwi."

__ADS_1


Arum menggigit ujung pulpenya, menahan senyum, sumpah rasanya dia seperti dibuat melayang terus digombali Angkasa.


"Jangan kebanyakan gombal, lelaki yang suka gombal itu yang mudah memikat hati perempuan."


"Hei, aku begini hanya dengan seorang Citra Arum Pratiwi, tidak dengan wanita lain."


"Kamu nggak boleh bohong, kalau bohong nanti hidung kamu akan panjang." Angkasa bahagia, sangat bahagia mendengar candaan Arum.


"Ganti panggilan video, ya?" Angkasa meminta, sebab dia ingin mengatakan sesuatu, dan ingin melihat wajah Arum saat mengatakan itu.


"Apa?" Wanita itu memasang wajah judes, tapi kemudian tersenyum, Angkasa bisa melihat wajah cantik Arum. Angkasa hanya diam, dia menikmati pemandangan dihadapanya. Sekarang Arum sedang duduk dimeja kerja yang ia belikan.


"Andai saja aku kenal kamu diusia lima belas tahun, aku akan meminta mama melamar kamu untuk aku, Rum."


Arum rertawa sambil menutup mulutnya. "Pernikahan dini dilarang dinegara kita tahu."


"Sayang sekali kita dipertemukan diusia kita sekarang. Sangat terlambat."


"Ck, apasih?"


"Rum, seminggu lagi, kita nikah yuk?" Ajaknya serius, Arum kaget.


"Apa ih? Jangan becanda." Arum memelototkan matanya.


Ini yang ingin Angkasa lihat, ekpresi Arum saat dia mengatakan itu. Dan dia tahu jawabnyaArum melihat wajah serius Angkasa, tidak terlihat laki-laki itu seperti sedang bercanda. "Kita bahasnya nanti aja pas kamu pulang."


"Hem, tidurlah. Tapi jangan matikan teleponya." Perintah Angkasa, melihat wajah Arum mengantuk.


Arum menurut, dia bangkit dari duduknya, kini tiduran dikasur barunya yang dibelikan Angkasa. Handponye ia letakkan di depan dengan bantal sebagai penyanggah agar bisa tetap berdiri.


"Aku tidur." Karena memang kelelahan, tak butuh waktu lama Arum langsung memejam disaksikan Angkasa.


"Nggak sampai lima menit kalau sudah ngantuk." Angkasa bergumam, dibelainya pipi Arum. "Aku akan selalu melindungi kamu, Rum." Diapun ikut terlelap.


* * *


Keesokan hari.


Waktu sudah berputar 180 derajat, hari yang tadinya terang, sudah berubah gelap. Angkasa baru mendarat, tujuanya sekarang bukanya pulang kerumah atau ke toko Arum, tapi ke tempat dimana Angkasa akan memberi pelajaran untuk Dikdik.


Iya, karena Dikdik menyangkal, dan ada bukti surat pinjaman itu, sulit bagi Angkasa menuntutnya lagi, terlebih Dikdik yang berada didalam sana, Angkasa tak bisa leluasa bicara pada laki-laki yang merupakan ayah tiri dari kekasihnya itu, dan juga, didalam sana, Dikdik masih bisa berkomunikasi dengan para preman untuk mengganggu Arum. Angkasa yakin, Dikdik pasti tidak bergerak sendiri, ada orang lain yang menolongnya.


Tapi siapa?

__ADS_1


Tak ingin terlambat, tak ingin Arum kenapa-napa, Angkasa bergerak cepat. Angkasa yang dulu jadi anak baik, kini berubah menjadi monster yang menakutkan saat ada orang lain yang mengganggu ketenangan wanita yang dicintainya.


Angkasa menaiki mobil sedan yang menjemputnya, didalam sudah ada tiga orang suruhan Angkasa yang akan mengantarkan Angkasa ke gedung kosong dimana mereka nenyekap Dikdik.


Seragam pilotnya sudah ia tanggalkan, berganti jaket kulit hitam yang membuat penampilan Angkasa layaknya seorang mafia.


Langkah panjang Angkasa memasuki gedung kosong itu, membuat Dikdik yang duduk dikursi kayu dengan tangan dan kaki yang terikat mengangkat kepalanya.


Dikdik tersenyum miring. "Ouhh pahlawan anak haram itu sudah datang. Aku begitu takut." Haha haha hahaha tawa devil Dikdik menggema.


Meski marah Arum disebut anak haram, Angkasa mencoba tak terpancing oleh ocehan Dikdik.


Angkasa melipat kakinya, menatap tajam Dikdik. "Apa yang kamu mau? Kenapa selalu mengganggunya?"


Sudut bibir Dikdik tersungging mendengar pertanyaan Angkasa. "Kamu pasti sudah tau apa yang aku mau. Aku ingin anak haram itu membalas budi padaku, setelah itu aku akan membebaskanya."


"Balas budi apa yang kamu mau? Meski kamu bukanlah ayah kandungnya, tapi kamu adik dari ayah biologisnya."


"Kamu benar ingin tahu?" Dikdik tersenyum menyeringai, "aku tidak yakin kamu kuat mendengarnya."


"Katakan jangan banyak basa-basi." Angkasa sudah menarik kerah kaos Dikdik. Ingin tahu mau Dikdik yang sesungguhnya.


"Cukup semalam, aku hanya butuh waktu semalam berdua denganya."


"Laki-laki biadab."


Tak kuat lagi, Angkasa melayangkan kepalan tanganya ke wajah Dikdik.


"Kau masih walinya, kenapa sampai bisa berpikir begitu?" Setelah wajah Dikdik, kini perut Dikdik yang menjadi sasaran Angkasa, menjadikan perut buncit itu samsak hingga cairan merah keluar dari mulut Dikdik.


Dalam keadaan tak berdaya, Dikdik masih bisa tertawa. "Kamu tidak tahu? Bahkan saat dia masih merah saja, aku menciumnya dengan naf-"


Tak bisa menyelesaikan kata-katanya, Angkasa kembali melayangkan tinjunya ke wajah Dikdik. Tidak hanya sekali, lima kali diwajah, dan lima kali diperut, tak ada yang berani menghentikan Angkasa. Mereka membiarkan Angkasa melakukan itu karena memang Dikdik harus mendapat pelajaranya.


Saat Angkasa sedang kalapnya, ponsel yang biasa digunakan Dikdik berdering. Angkasa menghentikan kegiatanya, dan menjawab panggilan itu.


"Kami sudah berada didepan rumah wanita itu."


Degh


Dikdik terkekeh.


"Dia telah membongkar semua rahasia pak Axel bukan? Jadi bukan hanya aku yang menginginkan anak haram itu."

__ADS_1


__ADS_2