Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Jalan Yang Arum Pilih


__ADS_3

Pagi itu, Arum cukup terkejut, mendapat kabar dari Edward tentang Angkasa yang positif menggunakan obat terlarang, dan ditemukan barang bukti didalam tasnya.


Awalnya dia percaya hal itu, tapi menelisik kebelakang dan mendengar obrolan Edward dan suster Andini, Arum bisa menyimpulkan, mungkin Angkasa dijebak Alex. Arum memang tidak mengenal Angkasa, tapi dia cukup mengenal Alex seperti apa. Jika Alex tidak suka, pada orang itu, maka orang itu akan Alex buat jatuh, sejatuh-jatuhnya.


Maka dari itu Arum memutuskan untuk menghentikan semua kegilaan Alex, dan menyerahkan diri saja pada Alex sebelum banyak yang menjadi korban karena dirinya, untuk apa juga dia terus bersembunyi, dan mengorbankan banyak orang? Toh hidupnya pun tidak berguna, tes menjadi pramugari saja Arum sampai ikut ujian lebih dari sepuluh kali, namun selalu gagal, dan bisa bergabungnya dia di Airlangga Airlines, karena bantuan Alex melalui papanya.


Tapi dia seolah tak tahu diri, bukanya membayar yang seharusnya ia bayar, malah menolak, dan menjadi wanita naif, cinta pada Alex, tapi tak mau menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang sudah berjasa padanya, sebenarnya, Alex sudah snagat baik padanya selama ini.


Saat tiba diapartemen Alex, Arum langsung saja masuk karena memang sudah tahu kode pintu Alex, namun saat Arum membuka pintu kamarnya Arum harus melihat adegan tak pantas Alex bersama seorang wanita yang Arum kenal, Arum pun harus kembali menutup pintu itu.


Sebenarnya sudah sering Arum melihat adegan itu, tapi selama ini Arum hanya melihat dari ponsel saja, sebab setiap kali mereka melakukan itu, Alex selalu mengirimkannya pada Arum, entah apa tujuannya, apa ingin membuat Arum cemburu atau agar Arum ikut ingin melakukannya, justru yang Alex lakukan, membuat Arum merasa jijìk padanya.


Alex yang menyadari kedatangan Arum, langsung mencabut miliknya yang sedang bekerja didalam sana, dan meninggalkan Siska yang sudah dipuncak itu begitu saja, membuat Siska kesal bukan kepalang, bukan hanya pada Alex, tapi juga pada Arum yang mengganggu kesenangan mereka.


"Arum," panggil Alex seraya mengenakan jubah tidur untuk menutupi tubuh polosnya.

__ADS_1


"Lanjutkan saja, aku akan menunggu di sini," jawab Arum dengan posisi membelakangi Alex.


Alex tersenyum miring. "Apa yang membuatmu datang kesini? Apa karena Captain baru itu?" Alex mengangkat satu alisnya berjalan mendekati Arum dan berhenti didepan Arum.


"Bukan, aku datang karena aku rasa aku memang memiliki urusan dengan mu, Alex." Arum menatap Alex, mendongak karena tubuh Alex jauh lebih tinggi darinya.


"Kamu pikir aku bodòh Arum? Meski kamu datang kesini, aku tidak akan melepaskan Captain sialan yang suka ikut campur urusan orang itu, dia akan aku jadikan umpan, semua orang sudah tahu jika dia anak pemilik Airlangga Airlines, dan sebentar lagi, Airlangga Airlines akan berpindah tangan ke tangan Papa ku."


Arum tak dapat menyembunyikan keterkejutanya mendengar apa yang Alex katakan baru saja, jika ternyata Angkasa anak pemilik Airlangga Airlines.


"Alex, aku rasa kamu salah, hentikan apa yang telah kamu lakukan, Lex. Itu akan membuatmu rugi sendiri." Arum coba menyadarkan Alex.


"Coba kamu pikirkan, yang membuat kamu seperti ini adalah ibu mu, dan yang membuat ibu mu berlaku kasar pada mu, itu papa kamu, Lex. Jika kamu membuat Airlangga Airlines jatuh ke tangan Papa kamu, itu sama saja kamu telah membantu orang yang menghancurkan hidup kamu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan Airlangga Airlines tidak akan jatuh kepada mu, tapi jatuh ke tangan anak-anak Papa kamu bersama istrinya, bukan kamu." Arum menatap bola mata Alex, mencoba menyelami iris mata coklat kehijauan itu. Mencoba mempengaruhi Alex.


"Hentikan Lex. Hentikan semuanya, sekarang aku datang padamu, aku akan menyerahkan semuanya pada mu, aku berjanji, Lex." Arum mengambil kedua tangan Alex, mencoba menyakinkan Alex. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan pada ku sesuka hati kamu, mulai saat ini, aku milik mu seutuhnya, tapi lepaskan Captain Angkasa."

__ADS_1


Alex tertawa mendengar ucapan terakhir Arum.


"Jadi benar kan? Benar jika kamu datang demi Captain itu? Kamu datang demi dia Arum? Kenapa kamu seperti itu? Dia bahkan tidak berbuat apa-apa untuk hidup kamu, tapi kamu rela berkorban untuk dia, IYA?" Alex menarik dagu Arum hingga Arum meringis kesakitan. Dan itu selalu membuat Alex merasa puas, dia kembali bisa menyiksa Arum.


"Katamu kita memiliki nasib yang sama Arum, tapi kenapa kamu mengkhianati aku, huh?" Lanjut Alex mencerca Arum.


Arum menggeleng dengan wajah ketakutan yang di sukai Alex. "Tidak Lex, aku tidak mengkhianati kamu, tapi kamu salah jika sampai menjebak dia, dia bukan siapa-siapa dalam cerita hidup kita, dia hanya akan menjadi bagian yang bisa memudahkan Papa kamu merebut Airlangga Airlines, jadi lepaskan dia, itu hanya akan menguntungkan Papa kamu."


Alex nampak diam sejenak, memikirkan apa yang diucapkan Arum. Dan Alex membenarkan apa yang dikatakan Arum, kenapa dia sangat bodòh sampai tak menyadari itu.


"Kamu sudah dewasa, Lex. Tidak butuh kasih sayang seorang ayah lagi, dia yang menghancurkan hidup kamu, dia hanya memanfaatkan kamu untuk membahagiakan anak-anaknya dengan istrinya, bukan untuk kamu." Arum masih terus menghasut Alex, dia bisa setenang itu mengatakan semuanya, Arum belajar dari suster Andini yang beberapa hari ini menemaninya.


"Kali ini aku percaya ucapan mu, Rum. Tapi jangan harap aku akan melepaskan ibu kamu."


Arum mengangguk lemah, meski dia belum bisa membebaskan mamanya, setidaknya, dia bisa membebaskan Angkasa yang tidak bersalah.

__ADS_1


__ADS_2