
Keputusan ibu negara, adalah keputusan mutlak, tidak bisa diganggu gugat, dia memberi tahu, bukan berarti meminta pendapat, tapi sudah sah, jika Andini harus tinggal bersama. Abian sebagai kepala keluarga, sudah menyetujui itu, semalam mereka sudah membahasnya sebelum tidur, sengaja Abian tak memberitahu ini dengan Angkasa, karena Delia minta, biar dia sendiri yang menyampaikan ini pada anak-anak mereka.
"Mama sudah menyampaikan ini pada kalian, Ayah harap kalian bisa menerima Andini seperti saudara sendiri," ucap Abian. "Meski ini terkesan terlambat, karena Andini sendiri sudah dewasa dan sukses, Ayah harap kalian bisa memberikan kasih sayang layaknya saudara kandung, saling menyayangi dan melindungi."
"Pasti donk Yah. Aira jadi punya saudara cewek," tukas Aira memeluk Andini yang duduk disebelahnya.
"Kalian berdua?" tanya Abian pada si kembar.
"Kami tidak masalah," jawab Angkasa santai. Meski nanti ujung-ujungnya mamanya tetap mendekatkan dia dengan Andini.
Abian mengangguk, menenggak segelas air putih yang disediakan Delia hingga tandas.
"Yasudah kalau begitu, Ayah anggap ini tak ada masalah. Ayah berangkat dulu, jangan lupa, Wan. Nanti juga kamu harus ngantor." Abian mengingatkan Awan. Awan mengangguk sebagai jawaban, karena dia sedang mengunyah makananya.
Abian berdiri, mendorong kursinya kebelakang, diikuti Delia yang mengantarkannya sampai kedepan. Setelah mobil Abian menjauh, dan keluar dari halaman besar rumahnya, Delia kembali menghampiri anak-anaknya yang masih ada di meja makan.
"Ang, nanti setelah makan, kamu bantu Andini buat bawain barang-barangnya kesini ya. Kasihan kalau dia harus membawa barangnya sendirian. Nanti Andini akan menempati kamar kosong yang ada diatas."
"Iya, Ma," sahut Angkasa tak membantah.
"Kamu yakin?" bisik Awan, "Mama kayaknya beneran serius sama perjodohan ini."
"Tenang, aku bisa mengurus semuanya," jawab Angakasa balas berbisik juga.
* * *
Angkasa memang membantu Andini, tapi bukan melalui tanganya, melainkan tangan orang bayaranya. Dijalan Angkasa menurunkan Andini, dan mencarikan taksi untuk Andini. Keduanya sedang menunggu taksi datang, masih didalam mobil.
"Tuan Captain, maaf jika kehadiran saya mengganggu Tuan Captain," ucap Andini. Sebenarnya dia tak terima diturunkan dijalan seperti ini, tapi apa mau dikata. "Aku juga sudah menolak ajakan mama Anda, tapi Mama Anda terus memaksa dan mendesak."
Angkasa tersenyum menatap Andini. "Jangan panggil aku Tuan Captain lagi, Andini. Sekarang kita saudara, panggil saja aku Angkasa saja, atau kakak seperti Aira memanggil ku," pinta Angkasa tulus. Dia mau-mau saja jika Andini jadi adiknya, tapi tidak untuk pasangan hidup.
"Aku rasa juga usia ku lebih tua dari mu, bukan?" kata Angkasa lagi. Andini mengangguk.
"Andini," panggil Angkasa. Andini menoleh kearahnya, diam, menunggu yang akan dikatakan Angkasa. "Aku minta maaf atas nama mama jika kamu merasa keberatan tinggal ditempat kami, karena aku yakin, mama dan ayah hanya ingin memenuhi surat wasiat mama kamu."
"Dan masalah perjodohan itu, aku minta kamu jangan terlalu berharap lebih, karena kamu sudah pasti tahu jika sejak awal aku memiliki rasa pada Arum."
"Iya, Angkasa, aku tahu. Hanya tak menyangka saja, jika keluarga kalian yang ada dalam surat wasiat mama ku."
Taksi yang dipesan Angkasa datang. "Kemasi saja barang mu, jika kamu ada jadwal praktek, biarkan tetap berada di mobil yang sudah aku sewa. Aku ingin bertemu Arum."
Andini paham posisi Angkasa dan Delia. Delia yang ingin mengabulkan isi wasiat mamanya, sedang Angkasa anak yang amat berbakti pada orang tuanya, meski ia tak suka, dia tetap memenuhi permintaan mamanya tanpa menyakiti hati mamanya. Beruntung Arum dicintai lelaki sehebat Angkasa.
Setelah mobil yang membawa Andini menjauh. Angkasa naik ke mobilnya, tujuanya adalah toko roti Arum.
* * *
Ting tong ...
Suara bel toko Arum jika ada pembeli yang datang.
"Selamat pag-" Arum tak dapat melanjutkan kalimatnya, saat tahu siapa yang datang. Wajahnya langsung merona, laki-laki yang masuk ini, laki-laki yang sudah sah menjadi kekasihnya. Angkasa masuk dengan bucket bunga besar ditangannya, Angkasa terlihat tampan, dengan senyum manis yang terpatri dibibirnya.
Arum melepas apron yang menempel dibadanya, memutar etalase kacanya menyambut kedatangan sang kekasih.
"Hai," sapanya canggung, bibirnya melengkung, membentuk senyum malu-malu. Astaga, dadanya berdebar tak karuan. Dengan Alex, dia juga cinta, tapi tak seberdebar ini.
__ADS_1
Angkasa mengulurkan bunga yang dibawanya.
"Untuk aku?" tanya Arum basa-basi.
Yaiyalah, masa buat pembeli.
Arum mengambil bunga dari tangan Angkasa, lalu menghirup aroma wangi bunga tersebut.
"Kamu menyukainya?" tanya Angkasa, mencari wajah Arum yang sembunyi dibalik bucket bunga yang ia beri.
Arum mengangguk. "Wangi," puji Arum tersenyum manis, senyum yang selalu memikat hati Angkasa sejak pertama ia melihat Arum.
"Tapi wanginya masih kalah dengan wangi parfum kamu."
Aihhhh
Gombalan Angkasa membuat Arum makin tersipu malu, wajahnya merona. "Yang kemarin saja masih segar, sekarang dibawakan lagi," kata Arum membawa bucket bunga itu, dan meletakkan disamping bunga yang kemarin diberikan Angkasa.
"Kalau kamu mau, aku akan mengubah toko roti ini jadi taman bunga."
Dengan berani Angkasa memeluk tubuh Arum dari belakang. Arum tersentak, membuat debar jantungnya semakin jumpalitan.
Ya ampun Capt. Aku bisa pingsan.
Angkasa sendiri, dia sangat menikmati ini, sudah lama dia ingin melakukan ini, dan kini dia bisa merasakan itu, bersama Arum, wanita pilihannya, pencuri hatinya. Semua bak mimpi bagi Angkasa, bisa menaklukkan Arum, ia pikir Arum dan Alex tak akan bisa terpisah.
Arum, dia tak bisa menolak pelukan Angkasa, bisa-bisanya ia mengucap untung saat tokonya sepi, bukan berharap tokonya ramai.
"Lepas. Takut ada yang beli." Arum tak berani menoleh, wajah Angkasa yang berada diceruknya, membuatnya takut jika sampai wajah mereka saling bertemu.
"Aku lapar, buatin aku secangkir moccacino dan sebungkus roti srikaya." Hembusan nafas Angkasa yang menerpa kulit lehernya, membuat tubuh Arum meremang.
"Bolehkan aku minta sarapan gratis, aku masih pengangguran," lirih Angkasa. Membuat suasana romantis mereka jadi buyar.
Arum terkekeh, diikuti tangan Angkasa yang menguncinya melepaskan bahunya. Arum berlalu ke pantry kecil miliknya. Tak lama ia kembali membawa pesanan pelanggan spesialnya. Arum ikut duduk, mereka saling berhadapan.
"Aku boleh bertanya?" tanya Arum ragu-ragu.
"Hem, tanya saja. Aku tidak minta bayaran sebuah ciuman." Angkasa menggoda Arum. Mengambil cangkir moccacinonya, menyesapnya sedikit karena masih panas.
Astaga, Arum jadi mengulum senyum malu.
"Apa Captain tidak jadi pilot lagi?"
"Hanya itu? Aku pikir pertanyaan sulit, kenapa? Kamu takut memiliki suami pengangguran?" tanya Angkasa menyesap kopi yang masih mengepulkan uap panas.
"Aku pikir karena kasus itu-"
Angkasa menggerakkan tanganya didepan wajahnya. "Tidak, tidak. Nggak usah khawatir, kata ayah, setelah putusan vonis, aku bisa kembali aktif. Beberapa kali hasil tes juga sudah negatif."
Arum manggut-manggut. "Syukurlah," ucap Arum lega mendengarnya.
"Besok putusan vonisnya, bukan?"
"Kamu akan datang?"
"Iya, aku tetap memberi dukungan untuk-"
__ADS_1
Arum tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ponsel Angkasa berdering.
"Ya, halo."
" ... "
Angkasa mentapap Arum, dia menjauhkan ponselnya, menutup dengan telapak tanganya.
"Apa rumah mu masih jadi disewakan?" tanya Angkasa.
"Masih-masih," jawab Arum begitu antusias.
"Teman ku ada yang mau menyewanya." Angkasa melanjutkan obrolanya.
"Dia ingin melihat rumah itu sekarang, apa bisa?"
"Bisa, sangat bisa," jawab Arum cepat. Angkasa tersenyum melihat Arum yang begitu bersemangat.
Mereka berdua bergegas menuju rumah itu, sebelumnya, Arum kembali kerumahnya dulu, minta tolong pada mamanya untuk menjaga tokonya sebentar.
"Carilah karyawan yang bisa membantu mu," ucap Angkasa saat dijalan menuju rumah lama Arum.
"Nanti, jika pemasukan roti sudah bisa untuk membayar orang."
"Jangan khawatirkan itu, aku yang akan membayarnya."
"Jangan, aku nggak mau merepotkan."
"Apa yang merepotkan? Kita pasangan kekasih, wajar aku membantu mu. Kecuali kamu tidak menganggap aku kekasih." Angkasa menyindir, Arum jadi menoleh kearahnya.
"Kenapa bilang begitu?"
"Maka besok pasanglah tulisan, jika kamu sedang mencari karyawan. Tapi harus perempuan."
"Iya, iya," jawab Arum dengan terpaksa. Belum apa-apa Angkasa sudah mulai posesif. Laki-laki sama saja, semua maunya harus dituruti. Gerutu Arum, tentu hanya dalam hati.
Mereka tiba dirumah ayah tiri Arum.
"Ada apa ini?" gumam Arum melihat ada banyaknya orang berbadan tegap berdiri didepan rumahnya.
"Kamu mengenal mereka?" Arum menggeleng.
"Kamu jangan turun, biar aku saja," ucap Angkasa.
"Jangan." Arum melarang. "Aku takut mereka orang jahat."
"Tenang saja, aku bisa mengatasinya."
"Tidak." Arum tak mengizinkan.
"Serahkan semua padaku, kita harus tahu tujuan mereka."
Angkasa turun, menghampiri kira-kira empat orang berpenampilan preman itu.
"Selamat malam. Ini ada apa ya ramai-ramai?" tanya Angkasa.
"Kami mencari pemilik rumah ini, sebab dia meninggalkan banyak hutang pada kami, dan kami ingin menyita rumah ini."
__ADS_1
Suaranya kerasa, hingga Arum dapat mendengarnya. Arum cukup terkejut, pasalnya setahunya, Dikdik tidak meninggalkan hutang.