
Hampir tangan Awan ingin melayang ke wajah mulus Reini jika saja dia tidak cepat mengontrol diri.
"Jaga ucapan kamu, Rein. Jangan main-main dengan kata cerai." Awan mengepalkan tanganya menahan marah.
"Kenapa memang kalau aku tidak main-main?" Reini seperti menantang, "ceraikan saja aku kalau memang aku menyebalkan dimata kamu, aku tidak akan menyesal, toh kita juga belum melakukan hubungan suami istri."
Awan memejam, rahangnya mengetat menahan geram atas ucapan Reini yang memancing amarahnya.
Tak ingin sampai dia kelepasan, dan mengiyakan permintaan gila Reini. Awan menyambar kunci mobil, menghindar dan menjernihkan otak diluar.
Reini bertambah gondok saja ditinggalkan Awan begitu saja, Reini menangis, bukanya dipeluk saat sedang marah seperti ini, malah ditinggalkan begitu saja, rasanya begitu sakit.
Tapi tak lama pintu apartemen mereka kembali terbuka, Awan kembali, dan memeluknya. Reini ingin menolak, tapi Awan menahanya, dan semakin mengeratkan pelukan.
Jika bukan Awan suaminya, mungkin Reini sudah mendapatkan hadiah cap tangan dari Awan, atau diiyakan permintaan cerainya, atau malah ditinggalkan begitu saja. Sebab sudah marah-marah tidak jelas, menuduhnya yang bukan-bukan, dan setiap marah, selalu minta cerai.
Beruntungnya Reini bersuami kan Awan, laki-laki yang memiliki pemikiran dewasa, bukan laki-laki labil yang ngebet nikah hanya untuk memuaskan hasrat, bertengkar sedikit main fisik, beralasan khilaf, atau balik memarahi dan membentak, tapi Awan justru memeluk tubuh Reini.
"Rein, aku sudah pernah bilang padamu untuk tidak pernah mengucapkan kata itu, kan?" Mengusap rambut panjang Reini, mengecup puncak kepala istrinya sayang. "Kita harus menjunjung tinggi arti pernikahan, Rein. Jangan asal sebut, berdosa."
"Tapi aku benci kamu, Wan. Kamu membohongi ku, katanya membicarakan pekerjaan, malah mencari hiburan dengan menggendong anak Angkasa."
Awan tak menyela ucapan Reini, membiarkan Reini mengeluarkan semua unek-unek dan kekesalanya.
"Kalau memang pekerjaan mu sudah selesai, kenapa nggak langsung pulang? Kenapa malah asik main sama anak Angkasa? Aku kan menunggu kamu pulang."
"Maaf, maaf jika yang aku lakukan salah dan membuat kamu marah." Mengurai pelukan, mengusap air mata Reini.
Reini balas menatap wajah Awan, ia sudah bisa mengontrol dirinya, pelukan dan kata maaf Awan mampu memadamkan api kemarahan dalam Reini. Untung Awan tidak jadi pergi dan meninggalkanya, jika tidak? Mungkin Reini akan bertambah marah.
"Kita ke balkon yuk, semenjak tinggal disini kita belum pernah menghabiskan waktu berdua di balkon." Reini tersenyum, mengangguk setuju.
Berjalan berdua menuju balkon, namun baru beberapa langkah, Awan merendahkan tubuhnya, mengangkat tubuh Reini.
__ADS_1
"Wan." Reini memekik terkejut.
"Kamu pasti kelelahan kan habis marah-marah?" Reini melingkarkan tangan di leher Awan, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Sampai di balkon, Awan menurunkan Reini didepan pembatas, memutar tubuh Reini menghadap ke pemandangan malam ibu kota yang sangat indah. Awan kemudian mengunci tubuh Reini dari belakang.
"Ibu kota kita berkabut ya? Tapi bukan kabut seperti di gunung, tapi kabut polusi."
"Hem," jawab Reini singkat. Hembusan nafas Awan yang bicara, menerpa leher Reini, membuat tubuh Reini meremang.
"Rein."
"Hem."
"Tujuan kita menikah apasih? untuk bahagia, atau hanya untuk bertengkar?" tanya Awan, satu tanganya mengeratkan pelukan diperut Reini, meletakkan dagunya di pundak sang istri.
"Kamu bahagia dengan pernikahan kita, Rein?" tanya Awan lagi karena Reini belum menjawab. Pandangan keduanya lurus kedepan, Reini tak mampu menggerakkan kepalanya, dia gugul luar biasa.
Adegan ini sedikit romantis bagi Reini yang tak pernah dekat dengan lelaki manapun, Reini gugup karena mereka yang terlalu dekat, tak bisa menjawab. Berpikir pun dia tak bisa.
"Kamu tidak bahagia menikah dengan ku, Rein?" Awan melepaskan pelukan, pindah berdiri disamping Reini. "Jika kamu tidak bahagia? Maka aku akan mengabulkan permintaan kamu, Rein. Untuk apa aku mempertahankan kamu jika kamu tidak bahagia." Meletakkan siku di besi pembatas, menatap Reini yang juga menatapnya.
Reini diam, hatinya tak rela Awan mengucapkan itu. Tidak! Dia tidak mau kehilangan Awan.
"Jadi kamu tidak mau mempertahankan aku?"
Awan terkekeh, bicara dengan Reini, sudah baik-baik pun salah.
"Kamu tuh aslinya begini ya, Rein?" Mengusap pipi Reini menggunakan ibu jari. "Dulu kamu tidak begini loh, lucu seperti papa Rendy, imut seperti mama Voni. Apasih yang buat kamu berubah? Apa memang kita lebih cocok jadi teman daripada pasangan hidup?"
Disini Reini berpikir, apa iya dia berubah?
"Apa keputusan kamu menunda momongan bisa buat kamu bahagia?" Awan terus mencecar Reini dengan pertanyaan, meski Reini tidak menjawab, dia tahu Reini memikirkan setiap ucapan yang ia keluarkan. Awan tahu betul sifat Reini.
__ADS_1
Tapi sifatnya yang menyebalkan ini, Awan baru tahu saat ia menyatakan cintanya pada Reini. Reini jadi banyak menuntut, berbeda dengan saat mereka masih berteman biasa. Apa Reini memanfaatkan cintanya? Untuk memuaska
Awan dan Reini berdiri saling menghadap, Awan menggenggam kedua tangan Reini.
"Jika keputusan kamu menunda momongan membuat mu bahagia? Seharusnya kamu tidak pernah berpikir yang macam-macam atau curiga pada ku, Rein. Seharusnya kamu percaya aku tidak akan menduakan kamu, atau terpaksa menerima keputusan kamu. Aku menikahi kamu bukan untuk kebahagiaan atau kepuasan ku sendiri. Aku ingin kita bahagia bersama, tertawa bersama, menangis karena bahagia bersama, dan menua bersama. Karena benar kata kamu, ada anak atau tidak, tidak menjamin rumah tangga bahagia. Tidak menjamin menjadi pengokoh ikatan sebuah pernikahan."
Hati Reini seperti tercubit atas ucapan Awan, mata Reini mengembun, Awan tak marah, rapi perkataan dan perbuatan Awan padanya serasa tamparan atas sikapnya.
"Rein, jangan menangis," Awan menarik Reini dalam pelukanya. "Apa kata-kata ku ada menyakiti hati mu? Aku minta maaf," ucap Awan lembut, semakin membuat Reini merasa bersalah.
Reini mengeratkan pelukanya di tubuh kekar Awan. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia tidak mau kehilangan Awan, sama saat Awan mendekati Arum dulu. Tak rela, sangat tak rela Awan jatuh ke tangan wanita lain.
"Aku menyakiti mu, Rein?"
Reini menggeleng. "Apa aku sangat menyebalkan, Wan?"
"Banget, nyebelin banget."
Reini mencubit pinggang Awan, membuat Awan berlari masuk kedalam kamar. Mereka jadi kejar-kejaran diatas kasur, seperti anak kecil, Rein melempari Awan dengan bantal.
"Padahal aku mau kasih kamu pecah telur, tapi kamu bilang aku nyebelin, nggak jadi pecah telur."
Awan yang tadi menangkis serangan Reini, mengambil bantal yang Reini gunakan untuk memukulnya.
"Apa Rein? Pecah telur? Pecah telur apa, Rein?" Menarik bantal hingga Reini jatuh kepelukanya. "Pecah telur apa?"
Reini ingin sekali menarik ucapanya yang asal bicara. Namun otaknya cepat mencari alasan.
"Pe-pe-cah telur masakin kamu mi instan." Ujarnya mencari aman.
"Aku nggak percaya, pasti pecah telur yang begini kan?" Menarik kepala Reini, menempelkan bibirnya di bibir Reini yang terasa dingin.
Sama-sama ciuman pertama, jadi sama-sama masih kaku. Tubuh Rein terasa membeku merasakan benda kenyal dan lembut itu menyapu permukaan bibirnya. Dari ujung kaki hingga ujung rambut tubuh Reini seperti terkena serangan listrik tegangan tinggi.
__ADS_1
Tubuh keduanya yang terasa lemas seperti jelli, tak dapat menopang berat badan mereka hingga mereka roboh dan jatuh diatas ranjang yang sudah berantakan itu. Bibir keduanya masih saling berpa gut, rasa yang baru mereka rasakan, hingga membuat mereka tak ingin melepaskan satu sama lain.