Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Hari berganti, minggu bertukar, bulan berlalu, setelah Awan dan Reini memilih hidup masing-masing. Awan pulang ke apartemenya, dan Reini pulang kerumah orangtuanya.


Tidak ada komunikasi sama sekali diantara keduanya, bagai tidak saling mengenal, padahal mereka memiliki nomor kontak masing-masing, Awan juga hapal diluar kepala nomor Reini, sebab wanita yang ia sukai sejak remaja itu tidak pernah mengganti nomor ponselnya, bisa dikatakan Reini memang wanita yang setia, kekurangan Reini hanya memiliki sifat nyeleneh yang menyebalkan saja.


Ck, Awan jadi menghela nafas berat, kenapa dia hanya terfokus pada noda hitam di wajah Reini, tidak melirik pada sisi mulus wajah wanitanya? Tapi ini bukan tentang wajah.


Duduk di meja kebesaranya, siang ini pekerjaanya telah selesai, tidak ada agenda pertemuan apapun. Awan mengambil ponselnya, mencari foto Reini. Dipandanginya wajah cantik sang istri yang sedang berpose di tepi jembatan, itu hasil jepretanya lima tahun silam sebelum mereka menikah. Menggesernya lagi, melihat Reini sedang berpose di taman bunga, hasil jepretanya saat Reini patah hati, ketika tahu Angkasa mencintai wanita lain.


Awan terkekeh, saking bucinya dulu dia dengan Reini, dia rela dijadikan tempat pelarian Reini, penghibur setia Reini, dan pendengar setia ditiap keluh kesah Reini saat wanita itu patah hati, dan selalu ditolak cintanya oleh Angkasa. Sesabar itu dia dulu, tapi kenapa setelah menikah, dia tidak bisa sesabar itu?


"Udah selesai melamunya?" Awan terhenyak oleh suara berat Angkasa, hampir saja ponsel ditanganya terjatuh.


"Udah kayak setan aja, masuk nggak kedengeran suara kakinya." Memasukkan ponsel kedalam laci.


Angkasa terkekeh, duduk dihadapan saudara kembarnya. "Enak ya jadi pak direktur, kerjaanya duduk santai main hape."


"Lihatnya pas santai doang, pas lagi bag, big, bugnya nggak pernah lihat." Menangkup kedua tangan diatas meja, "tumben, ada apa?"


"Kangen sama pak direktur, sekarang jarang main kerumah." Tanpa izin menyesap kopi milik Awan diatas meja. Awan hanya menatapnya tanpa menegur. "Aku denger Reini kerja di Merak Airlines, bener?"


Diam, Awan tahu rencana istrinya, tapi tak tahu jika Reini sudah bekerja disana. Ini sudah berjalan dua bulan mereka mediasi, tapi tak ada komunikasi sama sekali.


"Jadi nggak tahu Reini kerja di Merak Airlines?" diamnya Awan berarti dia memang tidak tahu. "Kacau, suami macam apa?" Menggeleng heran. "Mau sampe kapan begini?"


"Entahlah." Awan mengendikkan kedua bahunya.


"Jangan sampai rencana ayah menyatukan kalian gagal, ayah tuh gak mau ada anak-anaknya yang mengalami perceraian." Menyilangkan kaki, menyandarkan tubuh di sandaran kursi, lalu menatap Awan yang terlihat lebih kurus. "Apa sih yang dipermasalahin? Harusnya sebagai kepala keluarga bisa nyetir mau dibawa kemana arah rumah tangga kalian, jangan hanya diam ditempat. Istri lebih ke bagaimana suami, tegas dikit kenapa? Tapi bukan berarti berpisah, tapi jangan mau diremehin terus. Manusia harus punya tujuan hidupnya mau dibawa kemana." Memberi petuah rumah tangga.


"Entah, aku juga nggak tahu."


"Terus istrinya nggak dijemput-jemput? Mikir nggak mama sama ayah tuh senam jantung tiap hari mikirin anaknya? Mereka sudah berusaha sebagai orang tua, masa anaknya nggak mau ada kemajuan."


Namun Awan merasa getaran cinta itu tak sahabat dulu sebelum dia mendapatkan Reini.


"Jangan mikirin cinta lagi, menikah itu komitmen. Jangan kayak anak kecil ah, kasihan orang tua yang mikirin." Angkasa ini seperti tahu saja apa yang dipikirkan kembaranya.

__ADS_1


Dari kemarin, ayahnya, Daniel, sekarang saudara kembarnya, semua seolah menyalahkanya sebagai seorang kepala rumah tangga. Awan jadi berpikir, apa memang semua yang terjadi salahnya?


"Jangan berpikir begitu, justru semua sayang sama kamu. Jangan ada penyesalan di kemudian hari, hanya menuruti ego sesaat, rumah tangga jadi taruhanya." Lagi-lagi Awan seakan tahu apa yang ada dipikiranya.


"Meski kalian belum punya anak, setidaknya kamu bukan laki-laki pengecut yang lari dari masalah."


Awan mengusap wajahnya. Benar, dia terkesan menghindar, padahal dia bisa tegas membawa Reini pulang bersamanya. Sudah terlalu lama dia dan Reini saling introspeksi diri, seharusnya dia sudah menentukan pilihan.


* * *


Memang sudah satu bulan ini Reini bekerja di Merak Airlines, ia bisa langsung masuk setelah lulus pantukhir (penentuan akhir) di Merak Airlines. Dan sore ini Reini baru mendarat di bandara ibu kota setelah terbang selama delapan jam dari tiga provinsi yang ia singgahi.


Tempat baru, tapi masih suasana lama, itu yang Reini rasakan. Tetap saja, mau ia pindah ke maskapai manapun, akan berakhir di bandara yang sama.


"Mba Chika, mba jadi pulang kerumah ku?" Reini menyimak obrolan teman yang berjalan disebelahnya.


"Iya, nggak papa kan ya?" sahut wanita yang ditanya.


"Nggak papa, Mba. Suami ku juga pulang kerumah istri tuanya," ucap wanita itu gamblang,. Menjadi istri kedua biasa saja baginya, tak ia tutupi sama sekali, bahkan seakan begitu bangga.


"Santai aja, Mba. Kita ini kan saudara, saling tolong menolong. Kapanpun Mba butuh bantuan aku, aku pasti bantu mba. Karena mba dulu sering bantu aku."


"Rein." Teriak Arum memanggil Reini, Reini memberhentikan langkahnya, menoleh kearah Arum. Arum melambaikan tangan padanya meminta Reini menghampirinya. Reini mengangguk sebagai jawaban.


"Rein, kita duluan ya," ujar kedua wanita tadi pada Reini saat melewati Reini.


"Iya, Mbak." Setelah menjawab, dan kedua wanita tadi menjauh, Reini menatap punggung keduanya.


Kompleks sekali hidup kedua wanita itu, seakan memberi pelajaran berharga untuknya. Wanita bernama Chika itu, merupakan korban kekerasan dalam rumah tangganya, dan sekarang sedang dalam proses perceraian. Chika pulang kerumah temanya untuk mendapatkan ketenangan.


Sedang wanita satunya, rela menjadi istri kedua, karena istri pertama dari suaminya enggan hamil, sama seperti dirinya. Dan istri pertama rela dimadu, asal tidak hamil.


Reini seakan ditegur lewat keadaan, dan bekerja ditempat yang baru ini, ia seperti menjelajahi jurnal kehidupan berumah tangga.


Dan Reini teringat nasehat dari mamanya. Jika Reini hanya butuh bersyukur dalam hidupnya. Menikah bersama Awan memang tidak ada tantanganya, tidak memacu adrenalin, lurus-lurus saja, karena Awan bukan pria yang neko-neko. Tapi melihat kehidupan rumah tangga yang dijalani temanya, Reini sadar, jika dia harus banyak-banyak bersyukur.

__ADS_1


Bagaimana jika Awan tergoda oleh wanita lain, sedang kejadian salah paham dengan Andini saja Reini sudah sangat sakit dan sesak.


Apalagi ditambah berita para selebritis yang sedang ramai akhir-akhir ini, dia akan sangat malu jika sampai menghancurkan rumah tangganya.


"Jangan pernah memposisikan diri kamu diposisi yang salah. Jadilah wanita yang terhormat." Pesan mamanya menasihati.


"Hai, Rein. Apa kabar?" tanya Arum saat Reini menghampirinya.


"Baik, Rum."


"Jadi beneran kamu pindah tempat kerja? Kenapa?" Menatap seragam yang dikenakan Reini.


"Nggak papa."


"Mau aku buatin apa? Pesan aja," Arum menawari, memberi buku menu pada Reini. "Lama sekali nggak ketemu kamu." Menatap Reini yang sedang memilih.


Reini tersenyum menatapnya. "Nggak ada roti srikaya lagi?"


Arum tersenyum. "Hehehe, roti srikaya hanya untuk yang mulia Angkasa, jadi dia melarang aku jual itu."


"Sampai segitunya?"


Arum mengangguk malu. "Lebay ya, Rein? Tapi ya gitudeh, bang Angkasa posesif banget."


Reini menatap Arum dengan tatapan iri, Arum terlihat begitu bahagia dilimpahkan cinta yang begitu besar oleh Angkasa. Padahal tubuh Arum belum kembali ke bentuk semula. Reini jadi bertanya pada diri sendiri, apa dia bahagia juga seperti Arum dengan menerima Awan apa adanya?


Iya, sepertinya memang dia kurang bersyukur saja.


Baru mau membuka mulut ingin memesan minuman dan kue, ponsel Reini berdering. Panggilan dari mamanya.


"Sebentar ya, Rum. Telepon dari mama." Arum mengangguk.


"Halo, iya, Ma?" Tapi bukan suara mamanya yang menelepon, tapi suara Delia. Reini berdiri setelah mendengar kabar dari mama mertuanya.


"Apa, Ma?" pekik Reini terkejut, wanita itu menitikkan air mata. Arum yang disebelahnya sampai terkejut.

__ADS_1


"Ada apa, Rein?" tanya Arum yang ikut terkejut.


__ADS_2