
Pagi itu sebelum kedatangan Awan ke kediaman Arum yang baru.
Arum dan Nining baru saja selesai sarapan. Dirumah baru mereka ini, belum ada apa-apa, mereka duduk beralaskan tikar, bukan karpet berbulu atau permadani berharga mahal.
Pagi ini Arum menyiapkan sarapan teh hangat dan roti yang Arum beli di warung, menu sederhana yang Arum siapkan, sebab dia harus menghemat, dia ingin membuka usaha roti, tabungan yang ada, akan dia gunakan untuk modal usahanya. Setelah membereskan bekas sarapan mereka, Arum mengambil duduk dihadapan Nining.
Wanita yang telah melahirkanya kedunia ini sejak kemarin selalu bengong dan melamun, mungkin memikirkan suaminya yang kini ikut mendekam di hotel prodeo, ya laki-laki yang menjadi cinta matinya, mungkin dia merasa kehilangan.
Arum menghela nafas, banyak yang ingin dia tanyakan pada mamanya, tapi dia ragu. Wajah mamanya terlihat begitu sendu, raganya ada disini, tapi nyawanya entah dimana. Jika dibilang lelah, sebenarnya Arum sudah sangat lelah, dari kemarin membereskan banyak masalah, dan kini melihat wajah mamanya yang menyedihkan, tak ada gairah hidup, tapi memang dari dulu begitu sih, wajah Nining itu wajah wanita-wanita tersakiti.
"Mama sedih nggak ada papa?" Akhirnya Arum bertanya juga.
Nining yang sedang melamun, menunduk menatap kosong pada tikar plastik yang ia duduki mengangkat pandangannya, menatap anaknya yang duduk bersila didepanya. Nining menggeleng lemah.
"Terus, kenapa Mama melamun? Maaf ya Ma, kalau Arum misahin Mama sama Papa, untuk sekarang, biarlah papa menebus kesalahannya, papa sudah bertindak diluar batas."
Wanita itu tetap diam, tak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap wajah cantik Arum. Perpaduan wajahnya dan Dikdik.
"Ma, Arum mau tanya sama, apa benar kalau papa Dikdik bukan papa Arum?"
Nining hanya diam, pertanyaan itu bukan pertanyaan pertama dari Arum, tapi dia masih sulit untuk menjawabnya. Dan itu membuat Arum hampir frustasi. Arum mendongak untuk menghalau air matanya yang akan jatuh.
"Susah ya Ma, jawab pertanyaan Arum? Sampai kapan lagi Mama sembunyiin status Arum yang sebenarnya? Apa salah Arum, Ma? Arum juga berhak tahu siapa papa Arum." ucap Arum mulai kesal, tanganya mengusap air yang jatuh diujung matanya yang tak bisa ia tahan lagi.
Hal itu tak membuat Nining iba, meski kemarin sempat keceplosan tentang Dikdik, nayatanya Nining belum mampu mengatakan yang sebenarnya.
Arum kembali menghela nafas, dia harus lebih bersabar lagi menghadapi mamanya.
"Hari ini Arum mau cari bahan untuk buat roti, Mama jangan kemana-mana, jangan buat Arum susah lagi. Kita mulai hidup kita dari nol. Jangan memikirkan papa, pikirkan Arum yang masih membutuhkan perhatian dari Mama."
Arum bangkit dari duduknya, dan Arum cukup terkejut saat membuka pintu sudah ada Awan didepan pintunya.
"Awan?" ucap Arum dengan mata membulat.
"Hai, selamat pagi. Rum." Sapa Awan dengan senyum manisnya.
Arum jadi kikuk, apa Awan mendengar perdebatanya dengan mamanya? Bukan terdebatan sih lebih tepatnya, tapi Arum yang terkesan seperti ngomong sendiri.
"Kamu sendiri?" tanya Arum mengabaikan sapaan Awan, dia melongok belakang tubuh Awan, berharap Awan datang bersama seseorang yang dia harapkan kedatanganya.
"Sendiri, memang kamu berharap aku datang sama siapa?" tanya Awan ingin tahu, sambil menelisik wajah Arum.
Arum menggaruk pelipisnya karena malu. "Ah, enggak, bukan siapa-siapa." Wajah Arum berubah sendu karena kecewa, Awan mengangguk sambil terkekeh kecil.
"Boleh aku masuk?" tanyanya tanpa malu, sebab Arum tak ada menawarinya untuk masuk.
"Ah, boleh-boleh, maaf, tapi keadaan rumah kami masih seadanya." Arum membuka pintunya lebih lebar, mempersilahkan Awan masuk kadalam rumahnya yang sederhana.
"Santai aja," jawabnya, kemudian berhenti didepan Arum. "Boleh minta kopi?"
"Oh ya boleh-boleh, tunggu sebentar ya, aku beli ke warung sebelah dulu." Arum masuk kedalam kamarnya untuk mengambil uang, lalu dia keluar lagi, kewarung yang terletak disebelah rumahnya untuk membelikan kopi sasetan dan roti.
Dari dalam mobilnya Angkasa dapat melihat jelas wajah wanita cantik yang berhasil membuat dadanya berdebar itu keluar, ternyata benar, jika dia tidak salah lihat jika wanita yang ditemui Awan itu Arum.
Arum yang berjalan membelakangi mobil Angkasa itu membelokkan kakinya ke warung yang berjarak tiga rumah dari rumah Arum. Mata Angkasa tak lepas dari gerak-gerik wanita itu. Tak lama Arum kembali dengan menentang kresek hitam yang Angkasa tak tahu isinya apa?
__ADS_1
"Apa maksud Awan calon istrinya, Arum?" gumam Angkasa, tanpa terasa tanganya mencengkeram erat bulatan setir mobilnya, sampai buku tanganya memerah, dan urat-urat tanganya terlihat. Dadanya bergemuruh, apa tidak ada wanita lain yang bisa membuat Awan move on dari Reini?
Hampir lima belas menit lebih Angkasa mengawasi rumah dan mobil tempat Awan memberhentikan mobilnya, sambil membuka ponselnya dan memotret mobil Awan yang berhenti itu, kemudian Angkasa membuka ponselnya, membuka aplikasi berbalas pesan berwarna hijau, lalu melihat status yang baru diupload Awan.
Mata Angkasa membulat status yang dibuat saudara kembarnya itu, foto secangkir kopi hitam, dan sebungkus roti dengan di bubuhi caption.
"Sarapan pagi yang spesial, karena dibuatkan oleh calon istri cantikku."
Status Awan itu tidak hanya membuat Angkasa terkejut, tapi Reini juga yang sedang dalam perjalanan menuju bandara.
"Ini Awan nggak salah statusnya? Bukannya dia nggak punya pacar?" tanyanya pada dirinya sendiri, "siapa cewek yang dia maksud?" Entah mengapa dia ada rasa tak rela Awan dekat dengan wanita lain, meski dia tak menyukai Awan.
Reini yang memang selalu to the poin, langsung mencari nama Awan dikontak ponselnya.
Dering pertama Awan langsung menjawab panggilannya.
"Iya, Rein," ujar suara berat yang sudah sangat Reini kenal.
"Kamu lagi dimana?"
"Dihati mu."
"Nggak usah ngeselin deh," ujar Reini ketus, "kamu lagi dimana? Sama siapa?" cecarnya lebih terdengar seperti kekasih yang sedang cemburu.
"Someone."
"Jangan sok misterius, cepat jawab kamu lagi sama siapa? Kenapa status kamu seperti itu? Calon istri siapa?"
"Ya calon istri aku."
"Nanti aku kenalin sama kamu."
Degh.
Hati Reini bak teriris pisau yang sangat tajam, begitu sakit mendengar kenyataan Awan yang blak-blakan mengatakan ingin memperkenalkan calon istrinya.
"Kamu serius, siapa dia? Apa dia wanita baik-baik? Dari keluarga yang bebet, bibit, bobotnya jelas. Jangan mudah tergoda dengan wanita sembarangan, mereka bisa saja cuma manfaatin kamu," cerocos Reini.
"Kamu kayak khawatir banget, tenang aja. Aku sudah tahu dia luar dalam, aku yakin kamu pasti setuju setelah ketemu sama dia, karena dia wanita yang tidak hanya cantik, tapi istimewa."
Reini langsung terdiam mendengar pujian Awan kepada wanita lain, hatinya terasa berdenyut.
"Oh, yaudah kalau begitu. Semoga dia memang wanita baik-baik yang benar-benar tulus menyayangi kamu, tidak hanya memanfaatkan harta keluarga kamu aja," lirihnya lesu.
"Iya, makasih ya Rein. Aku pastikan dia adalah wanita yang tepat, menantu idaman Mama." Reini langsung memutuskan panggilan itu begitu saja, dia tak sanggup lagi mendengar kata-kata pujian yang keluar dari mulut Awan.
Masih setia menunggu didalam mobil, Angkasa melihat kini Awan keluar dari rumah Arum. Arum sampai mengantarkan Awan sampai kedepan, terlihat begitu romantis, dan keduanya saling mengobrol, sesekali mereka juga saling melemparkan senyum satu sama lain, Arum bahkan sampai tersipu malu pada Awan, padanya saja selama ini Arum tak pernah tersenyum tersipu seperti itu padanya, yang ada tatapan sinis dan datar. Ingin rasanya Angkasa turun, dan menarik Arum agar Arum tak dekat-dekat dengan Awan karena Angkasa tahu, dihati Awan hanya ada Reini.
Seharian ini, seperti berbalik. Angkasa bak orang tak ada kerjaan mengikuti kemana saja Arum pergi, mulai Arum kepasar, dan Arum pulang yang menaiki ojek online, saat berhenti di lampu merahpun mata Angkasa tak lepas dari Arum, tak ingin kehilangan jejak Arum sedikitpun, dan Arum yang tak menyadari jika mobil disebelahnya adalah orang yang ia harapkan kehadirannya untuk ia mengucapkan terima kasih.
Sedang Awan, seharian ini dia melakukan inteview diperusahaan ayahnya sendiri. Sama halnya dengan karyawan lain, Awan yang ingin bergabung ke perusahaan ayahnya, harus menjadi karyawan atau staf biasa terlebih dahulu, agar dia tahu proses pekerjaan dari bawah.
* * *
Malam hari, setelah mendarat dari penerbanganya, Reini langsung kerumah Awan, padahal dia terlihat sangat letih dan butuh istirahat. Tiba dikediaman keluarga Abian, Reini langsung dibukakan pintu oleh penjaga, sebab mereka sudah mengenal anak dari Rendy dan Voni itu, tapi Reini malah bertemu dengan Angkasa yang tak sabar menunggu kepulangan Awan, entah kemana saudara kembaranya itu pergi? saat dihubungi ponselnya tidak aktif.
__ADS_1
"Hai Ang. Kamu ngapain diluar?" tanya Reini, "angin malam nggak bagus untuk kesehatan, nanti kamu masuk angin."
"Kamu sendiri, pulang kerja langsung kesini," ucap Angkasa mengangkat sebelah alisnya, "anak perempuan nggak bagus malam-malam berkunjung kerumah laki-laki." Angkasa tak pernah bisa berucap manis pada Reini, sebab tak mau Reini salah paham jika dia berkata manis pada gadis itu.
"Ck, kamu tuh Ang. Bisa nggak sih, ngomongnya jangan nyakitin hati aku." Reini mengerucutkan bibirnya manja didepan Angkasa. "Emm, Ang. Emang bener Awan sudah punya calon istri?" tanyanya langsung, siapa tahu Angkasa mau menjawab jujur.
"Kenapa? Kamu cemburu?"
"Ya enggak, aku kan dari dulu bersahabat dekat sama Awan, masa dia mau nikah aku nggak tahu siapa wanita yang dekat sama dia." Baru Angkasa ingin menjawab pertanyaan Reini, orang yang sedang mereka bicarakan datang.
Awan pulang bersama Daniel.
"Eh, ada Reini," sapa Awan ramah pada Reini, hati Reini mencelus, tidak seperti biasanya Awan akan terlihat cemburu saat melihat dia bersama Angkasa, kali ini Awan terlihat biasa saja. Reini jadi heran.
"Aku mau bicara, Wan." Kata Angkasa tegas, seperti ada hal penting yang ingin dia tanyakan.
"Sorry, my brother. Badan ku lengket banget, tar aja ya, aku mandi dulu." Awan menepuk bahu Angkasa, dan itu sangat menyebalkan untuk Angkasa, lalu Awan menoleh kebelakang, "Om, makasih untuk saran-saran yang Om kasih," ujarnya pada Daniel dan berlalu meninggalkan Angkasa dan Reini yang ingin bertanya padanya, Daniel mengacungkan jempol pada Awan.
Dengan wajah tengilnya Daniel menatap Angkasa dan Reini. "Kalian ini mengingatkan Om sama masa muda Om dulu. Pulang kerja capek-capek langsung menemui pujaan hati." Daniel mengedipkan sebelah matanya pada Reini. Reini tersipu malu, namun hal itu langsung ditepis oleh Angkasa.
"Kami tidak pacaran." Kata Angkasa, lalu dia masuk kedalam menyusul saudara kembarnya, dia harus menandakan hal penting pada Awan.
"Loh, Rein. Jadi kamu kesini mau menemui siapa?" Dengan tanpa berdosanya Daniel menanyakan itu pada Reini. Membuat bibir Reini langsung mencebik sedih.
"Nggak ada, Reini juga mau pulang." Daniel dengan naluri lelakinya menahan tangan Reini.
"Masuk dulu, nanti biar diantar si kembar. Nggak baik malam-malam perempuan pulang sendiri." Seperti dihipnotis oleh mantan cassanova itu, Reini mengangguk dan mengikuti langkah Daniel masuk kerumah Abian.
* * *
"Kak, tentang status Kakak tadi, beneran Kakak udah punya calon istri?" tanya Aira kepo. Semua mata tertuju pada Awan. Tapi tidak dengan Angkasa dan Reini, keduanya menunduk menunggu jawaban Awan.
"Iyalah, masa bohongan."
"Tapi apa kamu sudah tahu luar dalam wanita yang akan jadi istri kamu itu?" Angkasa yang bertanya, "apa dia tidak sedang berhubungan dengan laki-laki lain? atau dia mencintai laki-laki lain?" tanyanya lagi dengan tatapan tak suka.
Awan tersenyum. "Aku nggak perduli, selagi dia masih sendiri, dan belum terikat pernikahan dengan siapapun, mau dia mencintai laki-laki lain, aku yang akan memenangkan hatinya dengan melamarnya dan menjanjikan kehidupan masa depan yang lebih baik dengannya."
"Itu egois namanya, mana ada orang yang bertindak seperti itu."
"Ya ada, aku. Ya enggak Om?" ujarnya menaik turunkan alisnya Daniel, Daniel menelan nasinya terlebih dahulu sebelum menjawab Awan.
"Iya donk, jangan sampai wanita yang kita perjuangkan sampai hampir kehilangan nyawa, tapi malah kita cuekin. Sebelum janur kuning melengkung, dia masih milik siapa saja, dan bisa dimiliki siapa saja."
Angkasa mengernyitkan keningnya, perkataan Daniel seolah ditujukan padanya.
"Maksud, Om?"
"Ehem," Abian yang sejak tadi diam menyimak obrolan tak jelas anak dan adik iparnya berdehem. "Bisa kalau sedang di meja makan diam." Katanya seperti memperingatkan anak-anaknya yang masih kecil bertengkar.
"Ck, orang tua ganggu saja." Kesal Daniel sambil melanjutkan makanya.
"Eh orang luar, yang suka numpang makan dirumah orang lain, jangan merusak peraturan yang sudah dibuat dirumah ini." Tegurnya menatap tajam Daniel.
"Iya orang tua, maaf. Siap salah." Daniel menunduk seolah benar-benar takut pada ayah yang memarahinya.
__ADS_1