Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Masih Menagih Hutang Janji


__ADS_3

Arum keluar dari ruang ICU, langsung disambut Delia. Wanita berusia lima puluh tahun tapi rambutnya belum memutih itu langsung memeluk calon menantunya.


Tak ada kata yang terucap, hanya memeluk erat, sebagai dukungan menguatkan dengan isakan kecil yang terdengar, hati Delia sudah terbuka sepenuhnya untuk Arum setelah peristiwa ini.


Delia mengurai pelukan, menatap wajah Arum yang sembab, ditepuknya pundak Arum lembut, lalu kini gilirannya masuk, menjenguk keadaan sang putra.


Baru juga masuk, hati ibu tiga anak itu langsung dibuat hancur melihat tubuh kokoh anaknya yang terbaring tak berdaya dipembaringan, dengan berbagai alat pendukung kesembuhan yang menempel ditiap organ vital putranya.


Kakinya bergerak untuk lebih dekat, saat sudah dihadapan Angkasa, tangis Delia tak bisa ditahan lagi. Dia menyesal, sungguh menyesali keputusannya menghalangi keinginan Angkasa menghalalkan hubungan dengan wanita pujaan hatinya.


Menatap lekat wajah Angkasa yang masih tampan meski terlihat pucar, kemudian dengan sangat kehati-hatian tangan Delia terangkat, meraba setiap inci tubuh anaknya, mencari luka yang menyebabkan anaknya ini akan tertidur lama. Namun tak menemukan luka berarti, benar kata dokter, hampir tak ada luka ditubuh Angkasa, hanya ada goresan sedikit dibagian siku, luka dalamlah yang menyebabkan Angkasa lama untuk bangun.


"Nggak papa kamu milih untuk tidur yang lama, sayang. Tapi setelahnya kamu harus bangun, ya." Mengusap kepala Angkasa.


"Mama anggap kamu sedang istirahat, kamu lelah setelah menyelesaikan banyak masalah. Maafkan Mama, kamu seperti ini karena Mama."


Lalu diambilnya tangan Angakasa, diciumnya tangan yang lemah itu. "Mama janji akan menjaga Arum, kamu istirahat yang baik, lalu cepat bangun. Kami semua menunggu kamu, Sayang, kami menyayangimu." Bisik Delia tepat ditelinga Angkasa.

__ADS_1


Andai waktu bisa diputar, tak akan ia menyuruh Angkasa mengantarkan Arum pulang. Andai dia tahu kejadianya akan seperti ini, suka tidak suka, mau tidak mau, dia harus menikahkan Angkasa.


Delia kembali menatap wajah putranya yang tumbuh dewasa itu, bibirnya bergetar, andai bisa ditukar, Delia ingin dia yang menggantikan Angkasa merasakan sakit itu.


Menyudahi melihat Angkasa, karena Abian juga ingin melihat anaknya, Delia bangkit dari kursi. "Mama keluar ya sayang, kamu jangan takut, Mama dan semuanya jagain kamu kok diluar." Terus mamandang kebelakang, Delia membuka pintu, berat rasanya meninggalkan Angkasa sendiri didalam ruang yang dingin ini.


"Bagaimana kondisi cucu ku?" Delia langsung mendapatkan pertanyaan dari mama Amanda saat keluar. Ternyata keluarga besarnya sudah berkumpul.


Delia tak langsung menjawab, mengingat kondisi Angkasa yang seperti tadi, membuat Delia kembali menitikkan air mata.


"Angkasa membutuhkan doa kita semua untuk kesembuhanya, Ma."


* * *


Hari berganti, sudah dua hari Arum dan Delia berjaga dirumah sakit. Mereka menjenguk Angkasa secara bergantian. Siang ini, Delia yang lebih dulu menjenguk Angkasa diruanganya, saat Delia keluar, Arum langsung masuk.


"Hai, gimana kabar kamu hari ini? Apa kamu masih mau tidur nyenyak?" Arum menjepit bibir menahan tangis, untuk membuka suara saja sulit.

__ADS_1


"Aku beberapa hari ini mikirin nama panggilan kesayangan buat kamu, yang enaknya gimana? Aku juga udah nanya ke Mama Delia, enaknya manggil kamu apa setelah kita udah nikah? Aa, mas, atau abang?" Arum terkekeh sendiri. Dia kemudian mengambil tangan Angkasa, menempelkan punggung tangan Angkasa dipipinya, seakan Angkasa membelai pipinya lembut seperti yang biasa Angkasa lakukan.


"Aku tetap setia disini nunggu kamu bangun, kamu harus cepat bangun ya? Aku masih menunggu kamu membayar hutang janji kamu buat bawa aku ke pelaminan."


Setiap hari seperti itu, Arum dan Delia sangat kompak menjaga Angkasa, mereka juga semakin akur, hubungan keduanya semakin menghangat, obrolanya pun sudah tak kaku lagi. Untuk makan, mereka diantar Andini atau Aira secara bergantian, kadang juga kerabat yang lain jika tidak sibuk, setiap hari ada saja yang datang menjenguk, membawakan makanan untuk Arum dan Delia makan.


"Rum, Mama lihat muka kamu pucat. Kamu mending pulang dulu istirahat, besok kesini lagi." Delia rasa Arum kecapean kurang tidur.


"Nggak papa, Ma. Arum disini aja. Kalau Arum pulang, Mama sama siapa?"


"Aira lagi dijalan mau kesini, nanti Aira datang, kamu pulang saja."


Arum mengangguk, dia pikir begitu, Arum juga butuh berganti pakaian. Sudah berapa hari ini dia memakai baju milik Aira.


Setelah Aira dan Awan datang, Arum berpamitan pulang. Namun belum sampai lima langkah, terdengar suara ...


Buggghhhh ....

__ADS_1


"Arum/ Kak Arum." Delia, Awan dan Aira menyebut nama Arum bersamaan.


__ADS_2