
Benar istilah, jika seseorang sedang jatuh cinta. Dunia serasa milik berdua.
Seperti yang dirasakan Arum dan Angkasa, sepanjang perjalanan menuju rumah, bibir keduanya tak surut terus saja membentuk lengkungan. Saling melempar tawa, tangan yang saling bertaut, tak perduli orang yang melihat akan berkomentar apa tentang mereka?
Pukul empat sore, Angkasa sampai rumah, tadinya ia ingin mengajak Arum kerumahnya, dan bertemu dengan sang mama. Namun Angkasa mengurungkan niatnya itu, iya yakin saat dia pulang, dia akan disambut dengan ocehan petir.
Angkasa melangkahkan kakinya memasuki pintu utama. Sedang ada Daniel dan tantenya, Denisa.
"Nih yang bikin ribut dari kemarin baru pulang," ujar Abian. Yang diomongi, nyengir tak berdosa. Dia menghampiri ayahnya, mencium punggung tangan ayahnya hormat.
Namun saat ia akan mencium tangan sang mama, Delia lebih dulu berdiri.
"Lupa ada tamu dari tadi, belum disajiin minum. Aku kebelakang dulu ambilin minum ya?" pamit Delia kedapur, melengos tanpa melihat wajah anaknya yang sejujurnya ia rindukan sejak kemarin.
Angkasa menarik lagi tanganya yang kosong, berpindah menyalimi tangan om dan tantenya. Daniel memukul bahu Angkasa, seolah tahu apa yang sudah terjadi pada Angkasa.
"Kamu anak lelaki yang sesungguhnya, Bro." Daniel terkekeh sambil memberi dukungan pada sang keponakan. Daniel sempat meringis karena mendapat cubitan semut dari sang istri, tapi kemudian Daniel kembali memanggil Angkasa yang sudah melangkahkan kakinya di satu anak tangga.
"Angkasa" panggil Daniel. Yang dipanggil menoleh sejenak, "lanjutkan," ujarnya kembali memberi dukungan. Angkasa tersenyum atas kelakuan omnya. Dia menggeleng, entah bagaimana masa muda omnya dulu, hingga tahu apa yang sudah terjadi padanya.
Masuk ke kamar, Angkasa merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dua jam perjalanan dari puncak ke rumah dengan mengendarai motor tua ayahnya. Tak membuatnya merasa lelah sama sekali, dia memegangi dada, mengingat yang telah terjadi antara dirinya dan Arum.
Angkasa mengulum bibirnya, rasa manis cecapan bibir Arum masih sangat terasa, kemudian ia memejamkan mata, mencoba kembali mengingat rasa nikmat malam itu. Ahh, baru mengingatnya saja, kumbang dibawah sana langsung bangun.
Dalam pikiran Angkasa saat ini, Arum, Arum, dan Arum. Tak perduli wajah jutek mamanya tadi, yang sudah bisa dipastikan, marahnya Delia kali ini akan lebih lama dibanding dia mendapat semprotan meriam dari sang mama.
Angkasa mengambil ponselnya, menyalakan ponselnya yang ia matikan sejak kemarin. Nama Arum menjadi tujuan utamanya, baru berapa menit berpisah, dia sudah kangen.
Deringan kedua, panggilanya langsung dijawab.
"Ya, halo," sapa suara lembut Arum yang menyejukkan hatinya melebihi sejuknya hawa di puncak.
"Sayang, kamu lagi apa?" tanyanya sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang. Angkasa mirip abege yang sedang jatuh cinta.
"Baru selesai mandi," jawab Arum diseberang sana sambil membalurkan lotion ke kakinya.
"Emm, pantas wanginya sampai kesini."
Diseberang sana Arum tersenyum malu, wajahnya merona bak kepiting rebus, sayangnya Angkasa tak melihat itu, kalau Angkasa sampai melihatnya, yakin sekali Angkasa pasti tak akan tahan, gemas dan akan memakan bibir Arum lagi hingga bengkak.
"Rum." Panggil Angkasa.
"Hem."
"Kangen."
Ya ampun, Angkasa cuma bilang seperti itu saja, darah Arum langsung berdesir hebat.
"Rum."
"Iya."
"Aku tak sabar ingin segera meminangmu, Rum. Jadi nggak harus merasakan rindu seperti ini."
Arum diam, tak menanggapi apa-apa, tapi hatinya menghangat mendengar ungkapan itu dari Angkasa. Arum mengangkat jarinya yang tersemat cincin yang harganya lebih mahal dari harga seblak.
Tes.
Setitik air mata jatuh mengenai cincin itu.
__ADS_1
"Rum."
"Iya," jawab Arum menyeka pipinya yang basah.
"Jangan pernah tinggalin aku bagaimanapun keadaan aku nanti," pinta Angkasa lirih, "tetap tunggu aku sampai aku bisa membawa kita ke pelabuhan terakhir cinta kita."
Entah mengapa ucapan Angkasa sampai ke telinga Arum berbeda, itu membuat Arum merinding, seolah ada firasat buruk yang akan terjadi.
"Kamu bicara apa sih? Aku pasti akan setia, apapun yang terjadi. Justru aku takut kamu tidak akan setia, karena ada pilihan wanita yang lebih baik dari aku."
Angkasa mengulas senyum. "Kamu cemburu pada Andini?"
"Tidak."
"Katakan kamu cemburu, Rum. Aku akan senang kalau kamu cemburu."
"Apasih, kok maksa?"
"Rum."
"Hemmm."
"Aku masih merasakan sisa malam itu. Apa kamu juga?"
Ish Angkasa, kenapa harus membahas itu sih?
"Kamu habis mandi, leher kamu pasti sedap banget, Rum." Pikiran Angkasa sudah kemana-mana, sigini cuma dibayangkan. Bagaimana jika dia melihat sendiri Arum habis mandi yang terlihat sangat segar.
Astaga, kok dia makin mesum?
"Udah ya, matikan dulu. Aku mau buat adonan untuk besok." Arum tak tahan jika Angkasa terus mesum. Dia wanita dewasa yang normal.
"Tapi aku sibuk." Terdengar decakan kecil dari Angkasa.
Tapi Arum harus menghentikan obrolan yang sudah menjurus ke pembahasan dewasa, perbuatan mereka kemarin saja sudah membuat Arum cukup merasa berdosa pada orang tua mereka, jika dia melayani keinginan Angkasa, yang ada nanti mereka akan mengulang dosa itu lagi.
Cukup sekali itu terjadi, dan sebagai wanita, Arum berkewajiban menjaga batasan mereka, berkewajiban mengingatkan pasanganya jika yang mereka lakukan salah. Meski bisa dikatakan terlambat, karena mereka sudah melakukannya diawal.
Saat panggilan itu terputus, Arum terkejut, mamanya berdiri diambang pintu.
Sejak kapan mamanya mendengar obrolan mereka?
* * *
Dikamar Angkasa, Angkasa menggerutu saat panggilan itu diputuskan secara sepihak oleh Arum. Tapi kemudian dia tersenyum senang, hubunganya dengan Arum sejauh ini berjalan lancar, tinggal dua langkah lagi, meluluhkan hati mamanya, lalu langsung menuju ke pelaminan.
Itu sangat mudah bagi Angkasa.
Angkasa memejamkan matanya dengan ponsel di dadanya. Dia membayangkan hidup berumah tangga dengan Arum yang begitu menyenangkan.
"Buahhhh hayooo, Kakak lagi bayangin apa?"
Angkasa terkejut, ia langsung menegakkan tubuhnya bangun.
"Aira, bagaimana bisa kamu disini? Kakak sudah mengunci pintu." Mata Angkasa membulat sempurna, lalu melirik pintu kamarnya yang masih terkunci rapat.
"Ra-ha-si-a," jawab Aira sok misterius. "Wah, wah, wah, Kakak. Aira nggak nyangka Kakak ngelakuin itu. Gimana kalau mama tahu. Mama pasti akan tambah marah besar sama Kakak." Entah apa yang Aira tangkap dari obrolan Angkasa tadi, sampai Aira bisa berkata demikian.
Gadis cantik itu berdiri didepan Angkasa, bersedekap tangan didada, menatap Angkasa dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
"Ngapain kamu ngumpet disini, heh?" Angkasa heran, kenapa sampai adiknya berada dikamarnya?
"Kenapa memangnya, Kakak nggak suka, terus kenapa muka Kakak kelihatan ketakutan begitu?" tudingnya wajah kakaknya yang memang terlihat sedikit pucat pasi karena ketakutan. Gadis itu sungguh terlihat sangat menyebalkan buat Angkasa.
"Kak, tahu nggak? Gara-gara Kakak nggak pulang kemarin, kita semua kena damprat mama. Nggak tahunya Kakak enak-enakan chek-in sama kak Arum."
Angkasa berdiri, membekap mulut adiknya yang ember.
"Kamu mau, apa?" tanya Angkasa, dia sudah tahu keinginan adiknya.
Aira menunjuk tangan kakaknya agar membuka mulutnya.
Nafas Aira sedikit terengah setelah Angkasa melepaskan tanganya.
"Ih, Kakak coba mau nyogok Aira, ya? Enggak mempan," kata gadis itu menolak mentah-mentah, sambil mengusap mulutnya bekas tangan kakaknya.
"Sudah katakan, jangan banyak basa-basi." Angkasa yakin Aira tak akan menolak tawarannya ini. "Lagian Kakak sudah dewasa, sebentar lagi juga Kakak akan menikahi Arum."
"Tapi kan mama nggak setuju sama hubungan Kakak."
"Itu urusan Kakak. Sekarang katakan mau kamu apa? Cepat keluar dari kamar Kakak." Usirnya. Angkasa tak betah mendengar suara cempereng adiknya yang suka bicara.
"Yaudah, kalau Kakak maksa," akhirnya Aira bisa diluluhkan juga. "Besok, Aira mau ke kampus bawa mobil Kakak. Plus uang jajan, sama bensin full, tapi Kakak kasih mentahnya aja buat uang bensin."
"Kamu mau coba meras Kakak?"
"Yaudah kalau Kakak nggak mau, Aira tinggal kasih rekaman obrolan Kakak tadi sama mama?"
Angkasa makin terperangah saja, Aira bahkan merekam obrolan dia dengan Arum lewat telepon tadi.
"Asal Kakak tahu, Aira sebenarnya udah tahu, kalau Kakak ke villa, karena Aira bisa lacak Kakak dari ponsel Aira."
Angkasa makin pening saja, dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Yasudah, besok kamu antar Kakak ke bandara, lalu mobilnya kamu yang bawa."
"Enggak mau, enak saja begitu caranya. Aira nggak mau berangkat ke kampus pagi-pagi." Tolak gadis itu. "Kakak tarok aja mobil Kakak dibengkel depan. Terus uang bensin sama uang jajanya transfer saja."
Astaga, sejak kapan adiknya ini memiliki otak licik seperti ini?
"Yasudah, besok pagi Kakak tinggalin mobil Kakak dibengkel," mau tak mau Angkasa menuruti keinginan adiknya, daripada ia malu bukti obrolanya dengan Arum diperdengrkan didepan anggota keluarganya. Angkasa berjalan menuju pintu, membuka pintu.
"Kamu keluar, Kakak mau istirahat." Pintanya pada Aira, memegangi gagang pintu.
* * *
Esok pagi.
Jam enam Angkasa sudah bersiap, dia sudah rapih dengan setelan pilotnya. Awan dan Abian juga sudah bangun, Abian baru selesai dari lari pagi keliling kompleks, Abian sangat menjaga kesehatan tubuhnya.
Angkasa langsung menyapa Delia yang sedang membantu bibik menyiapkan sarapan.
"Pagi, Ma." Sapa Angkasa. Tapi Delia tak menyahut. Dia terus sibuk mengaduk susu didalam gelas, lalu membawanya ke meja makan.
Hanya ada dua gelas susu yang disediakan Delia, juga dua piring pancake yang sudah dibaluri madu diatasnya. Masing-masing didepan kursi Awan dan Abian. Sedangkan didepan kursi yang biasa di duduki Angkasa, kosong.
Awan dan Abian memilih diam, tak ingin ikut campur urusan mamanya yang sedang sangat kesal pada Angkasa.
Angkasa yang tahu diri, menyiapkan sarapannya sendiri, dengan perasaan yang campur aduk. Sedih sekaligus merasa bersalah pada mamanya.
__ADS_1