
Dua hari berlalu.
Hari ini merupakan hari kelahira Angkasa dan Awan. Arum bingung, dia belum membelikan apa-apa untuk ulang tahun Awan dan Angkasa. Acaranya nanti sore, pagi ini Arum bisa buka toko dulu. Ini hari ketiga dia buka toko, toko roti Arum sudah lumayan ramai, walau sebagian adalah pembeli ghoib, tapi bisa untuk pemasukan Arum.
Arum menelepon Andini meminta pendapat tentang kado apa yang pantas untuk Awan dan Angkasa.
"Sus, nanti Suster Andini ikut datang kan ke acara ulang tahun, Captain?" tanya Arum saat panggilannya pada Andini sudah tersambung.
"Maaf Nona, sepertinya saya tidak bisa ikut, ada acara mendadak," kata Andini. Tentu dia menjawabnya dengan tak enak hati. Tapi undangan ini sedikit penting, karena ajakan dari teman seprofesinya.
Arum menghela nafas. "Sayang sekali, kalau begitu aku juga tidak jadi datang."
Arum termasuk orang yang susah bergaul, dia sudah membayangkan, jika dia disana tak ada yang ia kenal, pasti dia akan sangat bingung akan melakukan apa? Tidak mungkin dia akan mengekori Awan terus. Jika Angkasa, Arum bahkan tak tahu akan memulai obrolan apa dengan laki-laki itu, Angkasa kadang terkesan cuek dan menjauhinya. Apalagi insiden Angkasa menciumnya, Arum jadi malu untuk bertemu dengan Angkasa.
"Jangan Nona, datang saja. Captain Angkasa pasti sangat mengharapkan kehadiran, Nona."
"Masalahnya, aku juga belum tahu ingin memberikan kado apa?" curhat Arum, "menurut Suster, apa ya enaknya? aku tidak punya banyak uang, keluarga Captain juga bukan keluarga biasa, aku tidak cukup percaya diri memberikan barang dengan harga murah."
Diseberang sana, Andini diam, dia ikut memikirkan apa yang cocok Arum berikan untuk Angkasa. Untuk Awan dia tak terlalu pusing, bisa apa saja. Tapi, melihat Angkasa seperti sangat menyukai Arum, Andini yakin apapun yang Arum berikan, Angkasa akan menyukainya.
"Apapun itu, aku yakin Awan dan Captain akan senang mendapat hadiah dari Nona."
"Kenapa bisa begitu? Memangnya saya ini siapa?"
"Nona orang yang diharapkan kedatangannya diacara penting tuan, Captain."
"Diharapkan? Tapi aku tidak yakin, Sus. Dia saja tidak mengundangku secara pribadi," kata Arum berkecil hati, karena tak ada ajakan apapun dari Angkasa, hanya Awan yang mengundangnya secara pribadi. Dia tidak mau geer, meski kemarin Angkasa menciumnya. Mungkin saja itu hanya tindakan spontan.
"Iya. Tapi Nona, Nona pernah bilang jika captain orang yang sudah sangat berjasa dalam hidup Nona, bukan? Anggap Nona memberikan hadiah terima kasih padanya. Tidak mungkin juga Nona hanya memberikan kado pada saudara kembarnya, tapi tidak pada Captain."
Arum diam, membenarkan ucapan Andini. Diapun mengakhiri panggilan itu. Otak Arum berpikir keras, memikirkan kado apa yang pantas, dan berguna untuk Awan dan Angkasa.
Sedang sangat bingung memikirkan dia akan datang atau tidak? Ada kurir yang datang ke tokonya, mengantarkan barang.
"Dari siapa, Pak?" tanya Arum, merasa dirinya sedang tidak memesan apapun.
"Nggak tahu, Mba. Saya cuma antar barang sesuai alamat pesanan," jawab abang kurir apa adanya.
Arum menerimanya, dia membuka kotak itu, mencari nama sang pengirimnya.
Nanti datang pakai gaun ini ya, Rum.
Salam sayang Awan.
__ADS_1
Arum tersenyum. Kemarin dia sudah bertanya pada Awan apa maksud Awan sebenarnya? Awan tidak mengatakan yang spesifik, dia hanya mengatakan dia minta tolong, tapi jika mereka benar berjodoh, apa boleh buat?
Bicaranya dengan candaan, jadi Arum akan menolong sebisanya saja, meski tak tahu tujuanya apa? Arum sedang tidak mau ambil pusing. Dia yang tadi sempat ragu mau datang atau tidak, mau tak mau harus datang karena Awan sudah memberinya gaun.
* * *
Dirumah Delia dan Abian sangat ramai, dimana para sepupu Angkasa, Arsyi dan Almira sudah menikah, mereka membawa anak dan pasangan masing-masing. Tuan Philips Hamzah dan mama Amanda juga sudah datang, mereka yang lebih semangat, karena mendengar Awan katanya akan memperkenalkan calon istrinya.
Dari pihak keluarga Delia juga sudah berdatangan, Denisa bersama Daniel dan anak-anaknya, Dania juga bersama suami dan anak-anaknya.
Mereka berkumpul diruang keluarga, bersama Angkasa.
"Kamu kapan bawa calon mu?" tanya mama Amanda, "Grandma tidak pernah lihat kamu dekat sama perempuan, kamu normal kan?" tanyanya frontal, membuat yang lain melihat ke Angkasa dengan tatapan mengintimidasi.
"Astaga, Nek. Angkasa sangat normal, nanti juga Angkasa kenalkan," jawab Angkasa. Dia sudah memiliki rencana sendiri.
"Ma, nanyanya yang tidak-tidak. Mana ada keturunan Philips Hamzah yang belok."
Amanda mencebik. "Jaman sekarang kita harus hati-hati, banyak yang tidak beres."
"Tapi ya tidak Angkasa yang nenek tuduh begitu," Angkasa membela diri.
"Kamu juga harus hati-hati, jangan hanya melihat wanita dari luarnya saja, kalau bisa testdrive dulu, biar tahu onderdilnya asli atau tidak? Banyak wanita cantik berjakun sekarang," lanjut Amanda yang semakin tidak benar ucapanya.
Tahu jika kedua keponakan yang masih dekat dengannya itu, apalagi semenjak mama mereka sudah dipanggil sang pencipta lebih dulu, suka mengajak nonton drama negara tetangga yang terkenal dengan warganya yang mengubah status.
Delia dan Denisa yang sedang didapur, hanya geleng kepala mendengar perdebatan mama Amanda dan Abian.
"Denisa, teman kamu jadi datang 'kan?" tanya Delia pada Denisa.
"Jadi, Kak. Dia ada pasien dulu, aku sudah kirim supir ku buat jemput dia."
"Kakak harap cocok sama Angkasa, dari fotonya cantik, Kakak yakin Angkasa pasti suka."
"Kakak sudah tanya sama Angkasa?" tanya Denisa menatap kakaknya.
"Belum sih, tapi Kakak yakin Angkasa akan terima-terima aja," ucap Delia yakin.
"Tapi Kakak tidak boleh memaksakan juga kalau Angkasa tidak mau, siapa tahu Angkasa sudah punya pilihan sendiri."
Denisa merasa kakaknya jadi sedikit egois, apa karena faktor usia?
"Kakak hanya berusaha memberikan yang terbaik buat Angkasa. Kakak mau dia dapat wanita yang baik-baik, bisa membimbingnya dijalan yang benar, kasihan anak itu, dia tidak neko-neko, sayang kalau dapat pasangan yang kurang baik."
__ADS_1
Jelas Delia tahu jika Angkasa terlihat begitu mencintai sosok Arum, saat ia melihat sendiri bagaimana Angkasa menyimpan barang-barang dari Arum. Arum yang dia dengar, pernah berhubungan dengan Alex, sudah pasti gaya pacarannya menganut gaya pacaran bebas. Sebagai seorang ibu, wajar jika dia ingin, anak laki-lakinya yang baik-baik ini, mendapat pasangan yang baik juga.
Awan turun dari kamarnya dan langsung menghampiri Daniel yang sedang berbincang dengan ayahnya.
"Om sudah kirim gaun ke Arum dan Reini?" bisiknya begitu pelan. Abian melirik keduanya dengan tatapan curiga.
"Beres, gaun yang Om pilih, sesuai dengan kriteria mereka."
Awan memeluk pundak pamanya itu bangga. "Om memang terbaik, aku yakin dengan pilihan Om."
"Pasti donk." Daniel menepuk dadanya, membanggakan diri sendiri.
"Ehem, ada yang Ayah tidak tahu disini?" kata Abian merasa diabaikan.
"Ini urusan anak muda, orang tua tidak boleh ikut campur," jawab Daniel, membuat Abian mendengus.
"Awan, Ayah tidak pernah membatasi kamu bergaul dengan siapa saja? Tapi kamu harus bisa menjaga diri, mana ajaran yang baik dan tidak baik buat kamu," kata Abian memperingati sambil melirik Daniel tajam.
Daniel tergelak. "Oh astaga, Aa. Nggak mungkin aku mau menjerumuskan keponakan ku sendiri?"
"Aku tahu jejak kamu."
"Aku dengar Kakak dipanggil ke kampus karena Danish menepuk bokong anak gadis orang, benar Kak?" Mahesa tiba-tiba ikut nimbrung, tidak tahu jika kedua bapak-bapak itu sedang berdebat, membuat situasi semakin memanas.
Daniel menepuk jidat.
"Akar tumbuh tidak akan jauh dari pohonya," desis Abian.
"Iya aku tahu. Tentu aku sebagai bapak yang menciptakan dan membuatnya lahir tahu masalah itu. Dia sama seperti Angkasa, dijebak. Aku tidak mungkin hanya mendengar dari satu pihak, aku usut sampai ke akar-akarnya," jelasnya, "ngomong sama orang tua sensitif, Hes. Mudah marah dan tersinggungan." Daniel terkekeh.
Awan diam. Dia merasa tak enak, karena lebih dekat dengan pamanya ketimbang ayahnya, terlihat wajah ayahnya yang cemburu. Apalagi masalah wanita, dia mempercayakan pada Daniel, yang menurutnya saat ini ide Daniel cukup memberinya solusi.
Mahesa yang kini merasa jika kedua Kakak iparnya itu tidak dalam keadaan baik, menyingkir.
"Mau kemana?" tanya Daniel melihat Mahesa bangkit dari duduknya.
"Tadi Kak Denisa manggil, minta dipasangin gas," jawabnya asal, lari dari kesalahan.
Daniel mendengus, melirik arah dapur. Tak terlihat jika didapur sedang memasak sesuatu.
Terdengar suara salam dari luar, suara lembut wanita, membuat yang ada disana berpindah alih melihat ke sumber suara. Awan dan Angkasa berdebar, berharap yang datang, wanita yang mereka tunggu, memakai gaun yang mereka kirim.
"Hai, kamu sudah datang?" Denisa menghampiri tamu yang baru saja tiba, tamu yang juga Angkasa kenal.
__ADS_1