Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Meluluhkan Hati Mama


__ADS_3

Setelah membaca surat dari Delia, Angkasa menghampiri sang mama ke kamar. Angkasa mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah mendapat izin, baru dia masuk.


Delia baru saja selesai menelepon Voni, dan keduanya janjian untuk menemui Andini.


Angkasa merendahkan dirinya dihadapan sang mama, lalu mengambil tangan mamanya.


"Cecilia itu teman Mama waktu kami sama-sama menjadi pramugari, Ang. Kami pernah tinggal bersama. Kami berpisah setelah Mama menikah dengan ayah, dan dia memutuskan keluar, dan pindah ke maskapai lain." Delia bercerita tentang Cecilia. "Setelah itu, kami putus komunikasi, karena kesibukan masing-masing." Lanjutnya.


Angkasa mengangguk, diam, tak berkomentar, dia setia mendengar cerita mamanya.


"Mama nggak menyangka jika dia akan pergi secepat itu, dan menanggung sakitnya seorang diri, dia pasti sangat kesakitan, dan butuh dukungan, tapi Mama tidak ada untuknya." Delia terisak, menundukkan kepalanya.


"Siapa yang membesarkan Andini selama ini, jika ayah ibunya sudah tidak ada? Pasti dia berjuang begitu keras untuk hidupnya." Cerita Delia masih dengan isakan.


Angkasa menguatkan mamanya, dengan menggenggam erat tangan sang mama. Lalu dia berdiri, memeluk kepala mamanya, Delia membalas pelukan sayang Angkasa. Lama Delia menumpahkan kesedihan itu pada anaknya. Dan Angkasa dengan setia dan sabar mendengarkan semua cerita mamanya.


Hingga dirasa mamanya puas dengan semua ceritanya dan tenang, Angkasa melepaskan pelukannya, kembali merendahkan tubuhnya dihadapan sang mama. Tangannya terangkat menghapus air yang membasahi netra coklat yang diwariskan kepadanya itu. Ditatapnya mata itu dalam, dia tersenyum, senyum yang bisa membuat hari seorang ibu yang sedang dalam kebimbangan, menjadi tenang. Diambilnya tangan Delia yang berada diatas pangkuan, menggenggamnya.


"Hubungan Mama dengan sahabat Mama kelihatannya begitu dekat, ya? Mama pasti sangat baik, hingga dia mempercayakan Mama untuk menjaga anaknya, dan meminta anak Mama untuk menjadi pasangan hidupnya. Itukan inti dari surat wasiat teman Mama?" ucap Angkasa lembut. Delia mengangguk.


"Angkasa tak begitu paham, Ma. Tapi yang pernah Angkasa baca, takdir kelahiran, kematian, jodoh, rejeki, nasib baik dan buruk seseorang, semua juga sudah dituliskan di lauhulmahfudz, sejak kita masih didalam kandungan."


Angkasa berucap lebih ke bertukar pendapat dengan mamanya, tenang, tidak menggebu-gedung. Dia ingin apa yang disampaikannya masuk kedalam hati sang mama.


"Begitu juga dengan Andini, dia sudah sesukses dan sebesar ini, karena takdir baik sudah ia jalani, yang terjadi pada sahabat Mama, sudah jadi takdir yang harus dia jalani. Semua sudah memiliki takdir masing-masing. Mama jangan terlalu memikirkan surat wasiat itu, Ma. Angkasa sudah mengungkapkan perasaan Angkasa pada Arum, tak mungkin ditarik lagi."


"Angkasa sudah pernah mengatakan pada Mama, jika apa yang sudah Angkasa keluarkan dari bibir Angkasa, semua harus Angkasa pertanggungjawabkan. Biarkan Angkasa menjalani takdir yang Angkasa pilih, biar Angkasa memilih Arum. Ridhoi pilihan Angkasa, doakan yang baik buat Angkasa, Ma. Jika memang takdir Angkasa bersama Andini, sekuat apa Angkasa menolak, kami pasti akan dipertemukan dan disatukan dengan cara yang indah." Jelas Angkasa menyakinkan Delia.


Delia terharu, bangga Angkasa tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab, dan berpikir lebih dewasa darinya. Dia membelai wajah tampan putranya yang merupakan foto kopian suaminya itu.


"Tapi bukankah itu membuang waktu mu, sayang? Jika memang kalian harus bersatu sekarang, kenapa tidak dari sekarang saja kamu memilih, Andini?" lirih Delia masih teguh dengan pendirianya.


"Berarti, takdir Angkasa memang Arum, Ma. Apa Mama akan marah pada takdir yang harus Angkasa lewati?"


Angkasa sebisa mungkin menahan diri, bicara dengan mamanya yang sudah berusia, harus berhati-hati, orang tua perasaanya begitu sensitif, mengambil hatinya harus dengan cara yang lembut.


"Lalu bagaimana Mama menunaikan wasiat orang yang sudah tidak ada? Bukankah wasiat orang yang sudah meninggal harus kita penuhi?"


"Mama minta maaf saja padanya, dia pasti akan mengerti, jika memang takdir anaknya tidak bersama anak, Mama."


"Apa kamu nggak mau menunaikan wasiat itu? Bantu Mama biar Mama tidak merasa bersalah."


Angkasa menarik nafas, cukup sabar, bagaimanapun, Delia mamanya, wanita yang juga harus dia jaga hati dan perasaannya.


"Bukan tidak mau, tapi Angkasa tidak bisa, ada Arum disini, Ma. Duduk berfamoin dengan Mama." Angkasa mengarahkan tangan Delia ke dadanya. Delia mengerucutkan bibirnya melihat itu, tapi hatinya masih berat menerima Arum.


Jika begini, dia harus melawan jalur langit.

__ADS_1


* * *


Dua insan yang duduk berhadapan saling diam, mereka berada di restoran vip yang Angkasa pilih untuk menunggu jawaban Arum atas permintaanya. Di samping tempat duduk Arum, ada bucket bunga besar yang tadi diberikan untuknya, wanginya sampai menembus indra penciumanya.


Tadi, setelah membahas perihal surat wasiat dengan mamanya, Angkasa langsung bertolak ke toko roti Arum, dan memaksa Arum untuk menutup toko kecil roti Arum itu.


"Maaf Capt, aku masih dengan jawaban saya semalam, saya tidak bisa menerima permintaan Captain," ucap Arum pada akhirnya.


"Alasannya?" tanya Angkasa ingin tahu. Menaikkan sebelah alisnya.


"Masih sama seperti semalam, masih ada orang lain di hati saya, Capt," lirih Arum menunduk.


Arum berbohong, tentu bukan itu alasannya. Melihat sendiri jika Angkasa dijodohkan dengan Andini, tidak mungkin Arum akan menerima permintaan Angkasa, dia tidak ingin terluka terlalu dalam, hubungan mereka pasti akan terjal dan ditentang.


"Lihat aku saat bicara, Rum. Aku tahu kamu berbohong." Angkasa berucap tegas. Arum perlahan mengangkat kepalanya. "Apa karena aku dijodohkan dengan Andini?" tanyanya tepat sasaran. Arum diam, dan Angkasa sudah menebak itu.


"Mama tidak tahu jika aku memilih mu, Rum. Tapi setelah mama tahu, mama tidak bisa memaksa." Angkasa menyelami iris mata Arum "Sekarang yang aku ingin tahu, apa kamu merasakan seperti apa yang kamu rasakan?"


Arum tetap diam.


Iya, dia merasakan apa yang Angkasa rasakan, mungkin bahkan lebih besar, sebab bersama Angkasa, Arum merasakan debaran yang berbeda, merasa terlindungi, dan Angkasa orang pertama yang menyayanginya dengan tulus. Tapi jika dia memupuk rasanya pada Angakasa, Arum takut dia akan terluka dan dia sulit menyembuhkan luka itu, berakhir dia akan terpuruk.


"Jawab Rum."


"Tidak, aku tidak merasakan apapun," sangkal Arum merutuki hatinya, kenapa dia begitu mudah jatuh cinta pada Angkasa.


"Kamu merasakannya Rum. Jangan mengingkarinya."


Angkasa bangkit, memeluk tubuh rapuh Arum, diciumnya puncak kepala wanita yang dicintainya itu, membiarkan Arum mengeluarkan semua beban dihatinya.


"Aku bukan tidak mau berjanji, Rum. Tapi aku akan mempertanggung jawabkan ucapan ku yang tidak akan meninggalkanmu."


Arum menarik dirinya dari pelukan erat tangan kokoh yang mengurung tubuhnya, mendongak menatap wajah Angkasa.


"Lalu bagaimana saya akan mempercayai ucapan Captain? Apa jaminanya?" Arum benar-benar takut jika suatu saat Angkasa ingkar, sebab janji manusia tidak pasti, jika diingkari, itu akan sangat menyakitkan, dan Angkasa meninggalkanya.


Angkasa terkekeh "Apa aku harus depe dulu, Rum. Agar kamu percaya?" Arum mencubit pinggangnya.


"Saya yang rugi besar."


"Besar perutnya?"


"Capt!" Arum melebarkan matanya.


"Abang, panggil aku Abang, Rum."


"Aku serius, Capt. Aku tidak main-main."

__ADS_1


"Maka ayo menikah. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan yang kamu takutkan."


Arum terdiam, cukup terkejut dengan permintaan Angkasa yang langsung mengajaknya menikah.


"Aku-"


Terlalu gemas, Arum terlalu banyak pertimbangan. Angkasa menarik tengkuk Arum, menyatukan bibirnya membuat mata Arum terbelalak, merasakan lembut dan dinginya bibir Angkasa yang menempel. Angkasa mulai menggerakkan bibirnya perlahan diatas bibir Arum, begitu lembut, hingga Arum memejamkan matanya menikmati pergerakan bibir Angkasa yang begitu memabukkan. Jantung keduanya berpacu begitu cepat dan saling bersahutan.


Tangan Arum naik, berpegangan pada kaos putih polos Angkasa, mencengkeram bagian dadanya, menahan tubuhnya agar tidak oleng karena desiran darah yang menyetrumi setiap sendi tubuhnya.


Lama Angkasa memakan bibir Arum, kemudian menelusupkan lidahnya menerobos masuk untuk mengabsen gigi Arum. Sampai kemudian dia melepaskan bibirnya, karena Arum mulai kehabisan nafas.


Masih dengan kening yang saling menempel, Angkasa mengusap bibir Arum yang basah. Wajah Arum merona, malu, tadi bilang menolak, tapi setelah merasakan bibir Angkasa, malah tak mau lepas.


Hingga kemudian Angkasa kembali menyatukan bibir mereka. Hati yang saling mendamba, Angkasa yang baru pertama kali melakukan hal ini pada lawan jenis, seperti seorang yang kehausan, tidak ingin berhenti, dan Arum, dia memang pernah melakukanya dengan Alex, hal yang bisa dibilang sudah biasa. Tapi yang Angkasa lakukan padanya, begitu lembut, sulit untuk dipungkiri jika ciuman Angkasa lebih memabukkan dibandingkan dengan ciuman Alex.


Tanpa terasa Angkasa ikut naik keatas sofa yang di duduki Arum, merebahkan tubuh Arum, menindihnya, hingga bunga yang tadi disamping Arum jatuh tersingkirkan oleh kaki jenjang Angkasa.


* * *


Malam tiba, mobil Angkasa tiba di kontrakan Arum. Mereka tadi menyempatkan menonton dulu, dan jalan-jalan layaknya muda mudi yang sedang pacaran. Tangan Angkasa tak melepaskan sedikitpun tangan Arum, seperti seoarang anak yang takut kehilangan ibunya, jika dia sampai melepaskan tangan wanitanya.


"Terima kasih" Arum ingin turun, tapi Angkasa tak ingin melepaskan tangannya.


"Aku ikut turun, ya. Bilang sama mama kamu, kita akan menikah."


Arum terkekeh. "Jangan gila, menikah bukan perkara hal mudah. Biarpun anak laki-laki tidak butuh restu orang tua, tapi aku ingin dapat restu dari mama Captain terlebih dahulu."


"Abang, Rum."


Arum tersenyum.


"Iya, Bang."


"Nanti kita menemui mama sama-sama setelah aku mendapat izin dari mama kamu." Arum tak dapat menyembunyikan raut bahagianya.


"Yasudah, aku masuk dulu."


"Kan udah," potong Angkasa. "Masuk ke hati ku." Arum terkekeh.


"Sudah ih, nggak enak. Nanti dikiranya lagi ngapa-ngapain."


Dengan berat hati Angkasa melepaskan tangan Arum. Dia turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu untuk Arum. Dia masih setia berdiri dibadan mobil, sampai Arum benar-benar masuk kedalam rumahnya.


* * *


Didalam kamarnya, Awan sedang merasakan sesak, kedua tanganya memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.

__ADS_1


Dia rasa dia tak kuasa lagi, Awan semakin merasakan sulit bernafas, dia yang biasanya tak takut lagi saat menaiki anak tangga, tak ada yang tahu jika dia kembali takut dan pusing saat menuju kamarnya yang berada dilantai dua, akibat terapi mandiri yang ia lakukan sejak kemarin.


"T- to-lo-nggg, Maaaa," lirihnya dengan suara yang tak terdengar sama sekali.


__ADS_2