
Pukul dua dini hari Awan mendarat di kota dimana Reini sekarang berada ditemani juru bicaranya. Awan bahkan yang menbawa mobil taksi agar cepat sampai di hotel, beruntung jalan menuju hotel disana tidak seruet alamat ibu kota hingga supir taksi lebih mudah mengarahkan jalanya. Turun dari taksi Awan melangkah lebar tak sabar ingin melihat wajah kedua orang yang telah mengintimidasi istrinya.
Belum ada yang tahu kejadian ini, Awan tidak memberi tahu siapapun, baik pada mama Delia maupun mama Voni. Awan akan menutup kasus ini rapat-rapat tapi tidak dengan hukuman untuk Viona dan Angga, Awan akan menjebloskan keduanya hingga hukuman seumur hidup dengan pasal berlapis.
Awan baru selesai mandi juga sama seperti Reini saat Reini meneleponya, namun saat ia mengangangkat panggilan dari Reini, Awan mendapati Reini sedang bicara dengan Viona. Suami sabar seperti Awan, tidak mematikan begitu saja panggilan itu, ia sabar menunggu sampai istrinya selesai dengan urusannya.
Tapi yang terdengar berikutnya, justru suara laki-laki berada dikamar Reini, seketika membuat darah Awan mendidih. Sempat berpikiran buruk jika Reini sengaja janjian dengan pilotnya, dan bayangan cerita jika pramugari sering ngamar bareng pilotnya berkelebat dikepala Awan.
Tapi nyatanya tidak? Awan justru mendengar jika istrinya sedang mendapat ancaman dari rekannya sendiri.
Kesal, marah, rasanya tak bisa dibendung lagi, ingin rasanya Awan menemui orang yang bernama Angga dan Viona itu, memuutiiilassi tubuh keduanya hingga terpisah atau menjeburkan kedalam kolam buaya, tapi menemui Reini yang terpenting sekarang, dia ingin tahu keadaan istrinya yang saat ini berada dikabarkan vvip.
Awan meminta juru bicaranya menunggu diluar, karena belum tahu kondisi Reini saat ini. Seorang staff dan manager yang berjaga diluar, melihat kedatangan Awan, menempelkan cardlock dan memberikanya pada Awan.
Reini yang sedang menunduk memeluk lututnya diatas tempat tidur, mendongak mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki seseorang.
"Wan," panggilnya dengan berlinang air mata melihat kedatangan suaminya. Awan mendekat dan ingin memeluk Reini, tapi respon Reini tak terduga, justru menolak.
Awan terperangah, diam ditempat.
"Jangan, tangan ku sudah menyentuh miliknya." Tolak Reini memundurkan tubuhnya yang gemetar.
__ADS_1
Sakit sekali melihat Reini ketakutan seperti itu. "Aku tidak mempermasalahkanya, Rein. Kamu melakukanya untuk melindungi diri mu. Kamu hebat, aku justru sangat bangga padamu."
"Aku juga melihat milik orang lain, Wan. Bukan hanya milik kamu, mataku sudah tidak suci lagi."
Meski Reini bermulut pedas, kata-katanya membuat orang ingin mengkaretin bibirnya dan mencubit ginjalnya, tapi dia bukan wanita yang suka celup sana, celup sini, sentuh sana, sentuh sini. Melihat milik Awan adalah yang pertama untuknya, menyentuh milik orang lain selain milik suaminya hal yang hina menurut Reini.
Tadi memang dia berani melakukan itu demi melindungi diri, tapi setelahnya dia menyesal dan takut, bayang-bayang milik Angga membuat perut Reini mual.
"Rein, aku suami kamu. Aku kenal kamu bukan hanya setahun dua tahun, aku mengenal kamu sejak kecil, jadi aku tidak mempermasalahkan itu, aku tetap akan menerima kamu apa adanya." Awan harap kata-katanya dapat meluluhkan hati Reini.
Pelan Awan coba mendekati Reini. "Aku sayang kamu, Rein. Yang terjadi padamu hari ini karena kesalahan ku yang tidak bisa menjaga kamu."
Lega rasanya Reini bisa diluluhkan. "Maaf, Rein. Maaf tidak bisa menjaga kamu dengan benar, Sekarang kamu aman, mereka sudah ditahan polisi." Tangis Reini pecah didada Awan.
* * *
Setelah menemui Reini dan memastikan Reini tenang. Awan menemui Angga dan Viona yang kini ditahan dikamar Reini.
Tangan Awan mengepal ketika tatapanya beradu dengan wajah Angga, laki-laki masih terbungkuskan seprei yang tadi dililitkan oleh Reini, sedang Viona, sudah sadar dan diobati kepalanya yang tadi mendapat hadiah dari Reini. Tanpa aba-aba, Awan mendaratkan kepalan tanganya diwajah Angga yang sudah tampan sejak lahir, tidak puas hanya sekali, Awan melakukanya berkali-kali hingga cairan merah menyembur dari mulut Angga.
"Sudah tahu siapa suami Reini kan? Tapi masih berani mengancamnya?" pekik Awan tepat diwajah Angga yang sudah seperti wajah badu, ditariknya rambut Angga sekencang mungkin hingga Angga teriak kesakitan.
__ADS_1
Viona yang melihat itu, gemetar ketakutan. Ia pikir Awan tak akan tega melakukan itu, sebab keluarga Abian terkenal dengan keluarga yang baik dan lemah lembut.
"Tunjukkan nyali mu, jangan hanya berani pada wanita." Kaki Awan yang berlapis sepatu kulit mahal menginjak aset berharga Angga yang masih terasa ngilu sebab ditarik dan dipelintir oleh Reini. Kini kembali mendapat hadiah dari Awan.
"Kenapa berteriak? Sakit?" tanya Awan dengan suara dan wajah menakutkan, tatapanya seolah dapat merontokkan segala tulang persedian Angga.
"Sss-akit, Pak."
"Tapi tak sebanding dengan trauma yang kamu berikan untuk Reini," ucap Awan. Dia mencengkeram rahang Angga seperti yang dilakukan Viona, untuk membuka sandi ponsel Angga.
Awan berdiri, mencari video yang diduga rekamanya dan Reini.
Setelah melihat video dirinya dan Reini, Awan menghapus video itu, mencari lagi, takut Angga menyimpan difile lain yang tidak diketahui. Tapi dalam hati ia menyesal tidak menyadari ada yang meletakkan kamera dikamarnya. Dia juga akan menuntut pihak hotel tempatnya dan Reini menginap karena tidak memberikan keamanan dan kenyamanan.
Awan hanya melirik Viona sekilas, tidak mungkin dia melakukan hal yang sama dengan Angga pada Reini, dia rasa Reini sudah cukup membalasnya.
Tak ingin berlama-lama sebab dia meninggalkan Reini saat Reini tidur, Awan keluar dari kamar itu karena sudah mendapatkan yang dia mau, dan menghapus video yang menjadi penyebab mereka berani mengancam Reini.
"Beri laki-laki sunti kan kebi ri sebagai hukumanya," ucapnya pada juru bicaranya.
Angga yang mendengar itu, nyawanya serasa ingin dicabut dengan kasar dari kepalanya.
__ADS_1