
Reini hanya menatap ponselnya yang terus bergetar diatas meja, panggilan dari Awan, dari kemarin dia mengabaikan telepon dari suaminya setelah insiden penolakan malam itu. Dia masih sakit hati, ingin tahu seberapa usaha Awan meminta maaf padanya. Reini duduk seorang diri di restoran hotel tempatnya menginap. Dua hari tidak bertemu Awan, sebenarnya dia merindukan suaminya.
Reini mengingat kesabaran Awan dulu, saat dia selalu diacuhkan Angkasa, Awan selalu ada untuknya, mengikuti semua keinginanya meminta dibawa kemanapun dia mau ke tempat yang bisa menghiburnya. Tapi kenapa Awan berbeda setelah mereka menikah.
Hampir seminggu pernikahan mereka, tapi Awan belum sama sekali menyentuhnya, bahkan menciumnya. Apa dia tidak menarik? Apa dia kurang cantik?
"Melamun saja dari tadi, cewek cantik dilarang melamun," Reini mendongak untuk melihat siapa pemilik suara yang menyapanya. Dia Angga, pilot yang terbang bersama Reini. "Kamu tidak bisa baca kalau disana sudah ada tulisan cewek cantik dilarang keras melamun."
Angga menunjuk papan quote's di belakang Reini, Reini memutar tubuh melihat arah yang ditunjuk Angga. Lalu kembali menatap laki-laki tampan yang berdiri didepan mejanya.
Angga tersenyum. "Boleh saya bergabung, Rein?" tanya Angga.
Reini mengangguk. "Silahkan, Capt." Reini mengizinkan Angga bergabung satu meja dengannya. Lalu ia kembali melamun.
"Sepertinya kamu sedang banyak pikiran," tebak Angga tepat sasaran, menatap Reini yang hanya mengaduk minumanya.
"Emang kelihatan ya, Capt?" sahutnya malas, tetap melakukan kegiatanya mengaduk minuman didalam gelas, seolah membenarkan tebakan Angga.
"Tebakan ku benar?"
Reini hanya menghela nafas. "Sedikit sih, Capt."
"Kamu bisa membaginya dengan ku kalau itu bisa membuat pikiran mu lebih baik," ujar Angga, "tapi kalau tidak mau tidak apa-apa, aku tidak memaksa," lanjut Angga terus menatap Reini.
Lama Reini diam, memikirkan apakah dia harus menanyakan hal yang terus berputar dikepalanya.
"Capt, apa penyebab Captain dulu berpisah dari istri Captain? Maaf jika pertanyaan saya sedikit menyinggung masalah pribadi." Reini menatap Angga serius. "Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa," kata Reini malah tak enak hati. Pasalnya pertanyaan yang keluar, berbeda dengan pertanyaan yang ada didalam hatinya.
Angga seorang duda beranak satu, bercerai setahun yang lalu.
Hahahaha, Angga tertawa terbahak. "Tidak apa-apa kali, Rein." Reini terus menatap wajah Angga, wajah pilot ini terlihat sangat manis jika diperhatikan lebih lama, apalagi saat dia tertawa lepas tadi.
Reini terpesona, tapi bukan berarti dia menyukai pilot duda keren satu ini. Reini sudah cukup puas dengan ketampanan Awan yang melebihi rata-rata ketampanan laki-laki pada umumnya, itu menurut Reini. Tapi untuk kalian, harus suami kalian yang lebih tampan.
Itu pesan bijak dari Reini.
"Kami dulu dijodohkan," jawab Angga, Reini tak menyangka jika Angga akan jujur padanya.
"Apa Captain tidak menyukainya selama pernikahan, Captain? Tapi Captain punya anak satu."
"Entahlah, tapi banyak perbedaan yang membuat kami terus bertengkar. Dan kami memutuskan untuk berpisah baik-baik," jawab Angga jujur.
Reini mengangguk.
__ADS_1
"Apa Captain tidak coba mempertahankan pernikahan, Captain? Kan sudah ada anak yang mengikat janji suci pernikahan Captain dengan istri Captain?"
Angga diam sejenak, pertanyaan Reini cukup sulit untuk dia jawab.
"Sudah mencoba, tapi tetap kami memutuskan untuk berpisah, karena aku tidak ingin memaksakan kehendak pasangan ku, dia berhak bahagia dengan laki-laki yang bisa membahagiakanya menurut versinya."
Dari jawaban Angga, Reini mendapat jawaban atas keputusanya. Ponsel Reini yang tergeletak diatas meja kembali menyala, dan kembali Awan menghubunginya. Reini membiarkan saja, dia tahu Awan pasti memintanya pulang. Ketua pramugari sudah menghubunginya jika besok dia akan kembali ke ibu kota.
"Itu nama suami kamu, bukan? Kenapa tidak diangkat?" tanya Angga, Reini hanya menatap ponselnya yang masih menyala dan menampilkan nama Awan disana.
"Tidak apa-apa, Capt." Reini malas membahas Awan yang sudah membuatnya sakit hati.
"Kalian baru beberapa hari menikah bukan? Kenapa kamu sudah kembali bekerja? Apa kalian tidak berbulan madu?" Cukup aneh memang, seorang pramugari cantik, menikah dengan anak pemilik maskapai tempat mereka bekerja, tapi tidak melakukan honeymoon.
"Kami pikir itu tidak perlu, karena di rumah atau bulan madu sama saja, iya kan Capt?"
Angga mulai berasumsi jika pernikahan Reini dan Awan tidak baik-baik saja. Karena setahunya Reini dan Awan menikah karena memang mereka menjalin hubungan, bukan karena dijodohkan. Setidaknya mereka sedang asik-asiknya memadu kasih, menghabiskan malam yang panas berdua, meski tidak perlu berbulan madu atau pergi ke luar negara.
Malam itu Reini banyak menghabiskan waktu bersama Angga, Reini cukup terhibur dengan kehadiran Angga, laki-laki itu tidak menanyakan banyak hal lagi tentang masalah Reini, karena sepertinya Reini belum mau membagi masalahnya. Namun Angga cukup senang karena sudah bisa mengubah wajah sedih Reini dan berganti senyum dan tawa bahagia yang tercetak diwajah cantik pramugari yang sudah kenal denganya cukup lama, karena Reini dan Angga sama-sama sudah lama bergabung di Airlangga Airlines.
* * *
Berbeda dengan Reini yang sudah bisa tertawa dan sedikit meluapkan sakit hatinya atas penolakan Awan. Awan baru saja tiba di sebuah cafe yang di dominasi anak muda.
"Kenapa Om ajak aku kesini sih?" gerutunya. Awan melihat isi cafe, rata-rata anak muda yang datang berusia dibawah dua puluh tahunan.
"Sekalian cuci mata sekali-kali, Wan. Lihat daun muda," jawab Daniel dengan kekehan kecil.
"Ck, aku laporin tante Denisa nih." Awan memanggil palayan cafe, memesan kopi kesukaanya.
"Ini cafe milik pacar Dara, Om ingin tahu kegiatan laki-laki itu," cerita Daniel, "tapi dia tidak tahu Om papinya Dara."
"Ada masalah apa ajak Om ketemu, kayaknya penting banget?" tanya Daniel. Sebenarnya Awan mengajaknya bertemu tadi siang. Tapi dia sedang sangat sibuk, setelah pekerjaanya selesai, Daniel izin pada Denisa jika akan bertemu Awan. Daniel pun mengirim pesan pada istrinya foto Awan sebagai bukti jika dia memang tidak berbohong.
Daniel meminta istrinya untuk tidak menceritakan jika Awan menemuinya pada Delia, karena ini rahasia.
Awan pun menceritakan detail permasalahanya dengan Reini, keinginan Reini dan keinginanya.
Daniel tertawa. "Jadi sudah berapa hari menikah, dan kamu belum eksekusi Reini?" Awan menutup mulut Daniel yang mengeluarkan suara kencang.
Ssstttt.
"Om, kecilin sedikit kenapa sih suaranya?" Awan malu karena beberapa orang yang duduk didekat meja mereka melihat kearah keduanya.
__ADS_1
"Biarain aja, lagian nggak ada yang kenal sama kita," sahut Daniel tak merasa bersalah. Karena memang tak ada yang ia kenal sama sekali, tapi itu membuat Awan kesal. Setelah tawanya reda, barulah Daniel bicara. "Gimana ya, Wan? Agak sedikit bingung juga Om menanggapinya." Daniel sedikit berpikir, akan memberi masukan seperti apa.
Jangan sampai masukanya memojokkan salah satu pihak, dan jangan sampai memperkeruh masalah rumah tangga sang keponakan. Daniel menggaruk pelipisnya, matanya sesekali menatap laki-laki yang menjadi pacar Dara, dia seperti tidak asing dengan wajah laki-laki itu.
Awan tidak pernah menjalin hubungan dengan Reini, jadi Awan tidak memiliki ilmu tentang mengenal sifat lawan jenis, dan bagaimana cara mengatasinya. Awan masih begitu polos.
"Begini ya, Wan. Om tanya sama kamu, apa kamu benar-benar mencintai Reini?" Awan mengangguk ragu. "Ah sekarang tidak perlu cinta atau tidak? Pokok permasalahanya, kalian sudah menikah, begitu saja." Daniel memutuskan, "sekarang terima saja keinginan Reini. Karena jika kalian sama-sama keras, dan tetap pada keinginan kalian masing-masing, tidak akan ketemu. Harus ada salah satu yang mengalah," kata Daniel menjelaskan. Awan mendengarkan seksama.
"Om tadi sebelum kesini sudah bertanya pada tante Denisa, jika memang keinginan Reini seperti itu, jangan pakai obat penunda hamil, kamu pakai pengaman saja." Saranya.
"Untuk beberapa bulan, turuti keinginan Reini, buat Reini sadar dengan cara-cara yang halus, bukan menolak mentah-mentah seperti itu, jelas itu sangat melukai hatinya."
Awan memikirkan ucapan Daniel, dia menyadari jika dia salah.
"Kamu harus tahu, wanita itu akan selalu merasa benar meski dia salah, jadi jika kamu ngotot dengan keinginan kamu, itu akan membuat masalah semakin kacau. Dan berujung perpisahan, jangan sampai hal itu terjadi." Daniel sudah merasakan yang namanya penyesalan, dia tidak ingin itu terjadi pada Awan, atau siapapun dari keluarganya.
"Kita sebagai lelaki, harus menjadi pemimpin yang bijak dan tegas. Mampu memutuskan sesuatu tanpa harus adanya pertengkaran atau perdebatan. Jangan pernah biarkan wanita keluar, atau kita keluar dalam keadaan marah sebab disitulah ada celah orang ketiga hadir."
"Selesaikan masalah dengan kepala dingin, bicarakan baik-baik, apalagi pernikahan kalian masih hitungan hari. Jika menuruti ego masing-masing tidak akan ketemu, Om pernah bilang kan. Bersabarlah jadi suami, mengalah bukan berarti kalah, bimbing istri mu jika dia salah atau keliru, bukan menentang keinginanya."
Konsentrasi Daniel buyar saat dia mengingat laki-laki yang kini menjadi kekasih Dara.
"Wan, apa kamu pernah tahu pacar Aira?" tanya Daniel.
"Tidak tahu, Om. Kenapa
"Tidak ada." Daniel akan mencari tahu sendiri.
* * *
Esok harinya, Awan menunggu kedatangan Reini, ia memutuskan untuk berbesar hati menerima keinginan Reini menunda momongan.
Dari jauh Awan melihat Reini berjalan dengan seorang pilot tampan sambil berbincang, Reini nampak ceria.
"Jangan pernah biarkan wanita keluar, atau kita keluar dalam keadaan marah sebab disitulah kita memberikan celah orang ketiga masuk."
Nasihat Daniel kemarin membuat Awan sadar, jika dia memberi peluang untuk orang ketiga hadir dan merusak pernikahanya dengan Reini.
Awan menghampiri Reini.
"Hai, welcome back my wife," sapa Awan menyambut kedatangan sang istri.
Reini nampak terkejut, tiba-tiba Awan memeluknya, dan memberikan sebucket bunga.
__ADS_1