Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Cobaan Terberat


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, kepala Angkasa terasa berdenyut, kata demi kata yang keluar dari mulut Arum sungguh sangat melukai hatinya. Kenapa Arum sampai berkata demikian, tidak bisakah dia sedikit saja menjaga perasaanya?


Angkasa menepikan motornya sejenak, ia tak bisa melanjutkan perjalanan jika pikiranya tak tenang.


Matanya melihat sekeliling, ternyata dia sudah melaju cukup jauh. Angkasa mendesah, memukuli badan motor meluapkan kekesalanya, berteriak kencang tanpa suara didalam helm yang tak ia lepaskan.


Kesal, sungguh kesal pada Arum.


Angkasa kemudian memejamkan matanya, menenangkan diri. Kemudian ia kembali membuka mata, sebab bayangan wajah Arum sedang menangis melintas dipikiranya.


Seketika Angkasa ingat akan perkataan mama Delia jika mencintai wanita yang belum selesai dengan masa lalunya, dia akan banyak terluka. Apa benar begitu? Dan mereka baru memulainya, tapi Angkasa merasa sudah tak sanggup.


Tapi mencintai Arum adalah pilihanya, dia juga yang memaksa Arum untuk menerima cintanya, bahkan dia sudah berjanji apapun yang terjadi dia akan bertanggung jawab atas perasaanya pada Arum, dan membuktikan pada mama Delia, jika perkataan mamanya tidaklah benar.


Arum berbeda dengan wanita lain. Arum tidak akan meninggalkanya, dan Arum juga mencintainya.


Angkasa berpikir sejenak, akankah dia kembali menghampiri Arum, atau menyudahinya?


* * *


Seoarang wanita cantik terus melangkahkan kakinya dengan tatapan hampa, hari mulai terik, kulitnya pun mulai terasa terbakar, kakinya juga sudah terasa lecet, karena tanpa dia sadari jika dia sudah berjalan sangat jauh. Namun wanita itu tak menghiraukanya, ia terus saja berjalan tanpa arah.


Pertengkaranya dengan Angkasa menyisakan perasaan sedih yang sangat mendalam, Arum sudah menjatuhkan hatinya pada Angkasa, tapi dia tadi melakukan kesalahan, jujur ia takut ditinggalkan oleh laki-laki itu.


Arum memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya dihalte, kakinya sudah pegal. Arum melihat sekelilingnya, dia sendirian. Tiba-tiba matanya memanas, lalu pandangannya mengabur.


Arum menunduk, menutup mata dengan kedua tangan, dia terisak, sampai tubuhnya terlihat berguncang, baru kali ini ia merasakan disayang, diperhatikan oleh laki-laki, tapi ada saja yang membuat mereka salah paham.


Akankah dia sendiri lagi? Adakah di dunia ini yang benar-benar tulus mencintainya? Atau memang dia tak pantas bahagia? Sekotor inikah dia? Sampai Tuhan tak mengizinkanya merasakan hidup yang ia mau.


Tubuhnya semakin berguncang, tak ia perdulikan beberapa langkah kaki yang melewatinya, ada juga yang duduk disebelahnya, hanya sebentar karena akan kembali melanjutkan perjalanan hidup mereka yang terarah. Tak seperti dirinya yang sekarang tak tahu arah.


Lalu kalang kendaraan yang berhenti, dan kemudian berjalan lagi, tak membuat Arum ingin mengangkat pandangannya sedikitpun.


Hingga sebuah tangan menyentuh pundaknya, membuat Arum mau tak mau harus melihat siapa pelakunya.


Arum mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan sosok tampan yang berdiri dihadapanya. Menangis dalam waktu yang cukup lama, membuat pandanganya menjadi buram, Arum kemudian mengucek matanya.


Memastikan ia tak salah lihat?


Hingga sosok tampan dan tinggi menjulang itu merendahkan tubuhnya dihadapanya. Dan usapan tangan lembut yang menghapus air dipipinya membuatnya tersadar jika ini nyata, bukan mimpi.


"Ang?" ujarnya. Suaranya terdengar serak. "Kamu disini?"


Angkasa tak menjawab, dia menatap sendu wajah teduh Arum, ada rasa sakit melihat Arum begini, beruntung rasa cinta yang teramat besar mengalahkan rasa marahnya, hingga dia sampai disini.


Ya, Angkasa memilih bertahan dengan Arum. Tadi dia kembali ke pengadilan, berharap Arum masih ada disana, namun Arum tak ada lagi. Dia tadi sempat bertemu Andini, tapi saat Andini keluar, sudah tak melihat keberadaan Arum.


Tak menawari Andini pulang. Angkasa pergi, dia harus mencari Arum. Cukup lama Angkasa menyusuri jalan, namun ia tak menemukan Arum. Dia kemudian mengarahkan motorntq ke rumah Arum. Dan akhirnya ia menemukan Arum disini.


Cukup lama sebenarnya Angkasa memperhatikan Arum dari jauh, dan melihat Arum menangis, meluapkan segala kesedihanya.


"Ang, kamu disini?" ulang Arum pertanyaanya sebab Angkasa tak ada niat ingin menjawab.


"Ia, aku disini." Angkasa membuka suara, menjawab pertanyaan Arum.


Bughhh


Tubuh Angkasa sampai terdorong kebelakang karena dorongan tubuh Arum yang memeluknya tiba-tiba.


"Maafkan aku. Aku janji untuk tidak menemui Alex lagi. Aku juga tidak akan bersentuhan dengan laki-laki manapun." Kata Arum sambil terisak di dada Angkasa. "Aku mencintaimu, Angkasa. Aku cinta kamu."


Nyessss


Hati Angkasa berbunga mendengar pengakuan Arum.


Sudut bibir Angkasa otomatis tertarik. Apa dia tidak salah dengar? Arum bukan hanya menuruti keinginanya, tapi juga mengungkapkan perasaanya. Tangan Angkasa terangkat, balas memeluk Arum, ia memejam, menikmati momen ini. Padahal kedatanganya mencari Arum untuk meminta maaf, tapi justru dia mendapatkan pengakuan perasaan Arum.


Angkasa kemudian melepaskan pelukannya, menatap wajah Arum yang sembab.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis?" tanyanya sambil menghapus air dipipi Arum.


"Karena aku bodòh, aku bod-"


Cup


Angkasa memotong ucapan Arum dengan ciuman, membuat pipi Arum merona, Arum melihat sekitar, ada dua orang melihat kearahnya, dia malu.


"Jangan diteruskan. Ayo, ikut aku." Angkasa tak memberikan Arum berkata-kata apalagi. Dia menarik tangan Arum, menuju motornya yang ia parkirkan tak jauh darisana.


"Kita mau kemana?" tanya Arum, karena Angkasa langsung memakaikan helm dikepalanya.


"Jalan-jalan, mencari suasana baru," sahut Angkasa tanpa menatap Arum. Tak banyak bicara lagi, tak juga minta persetujuan Arum mau atau tidak. Angkasa menaiki motornya, mengenakan helm.


"Ayo." Ajaknya mengulurkan tangan untuk membantu Arum menaiki motor gede ayahnya.


Arum mengangguk nurut, kakinya menginjak pijakan motor, menyambut uluran tangan Angkasa.


"Sudah siap?" tanya Angkasa sedikit menoleh kebelakang.


"Sudah," jawab Arum.


Angkasa memutar kunci kontak, menarik kopling, melajukan motor membelah jalanan ibu kota.


Tanpa diminta seperti saat pertama dulu, Arum langsung melingkarkan tangannya dipinggang Angkasa. Angkasa menunduk, melihat tangan Arum dibawah sana. Ia pegang tangan itu, hingga Arum menyandarkan kepalanya di punggung tegap itu.


Angkasa belum tahu tujuanya akan kemana, tapi melihat papan penunjuk arah, ide muncul dikepalanya.


Sudah satu jam diperjalanan, Arum tak rewel bertanya, dia ikut saja Angkasa akan membawanya kemana, dibawa ke bulan pun Arum mau. Selama dierjalanan, keduanya tak ada yang membuka pembicaraan. Hingga mereka tiba dikawasan perkebunan teh.


Mereka sampai dipuncak.


Cuaca saat ini tidak bersahabat, kadang berubah-rubah, jika tadi dari ibu kota panas seperti digurun, kini tiba-tiba turun hujan begitu lebat, tanpa adanya peringatan terlebih dahulu.


Dalam sekejap, tubuh keduanyapun lepek oleh terpaan air hujan. Angkasa memberhentikan motornya didebuah villa. Angkasa turun, melepaskan helmya, lalu membantu melepaskan helm yang dikenakan Arum. Angkasa menutupi tubuh Arum menuju villa, meski itu percuma, karena Arum sudah basah sejak tadi.


Tak lama, Angkasa kembali membawa sebuah anak kunci ditangannya.


"Kita berteduh disini sebentar." Angkasa bicara pada Arum, sambil membuka pintu. Angkasa masuk terlebih dahulu, tapi Arum masih diam ditempat.


Arum ragu-ragu untuk ikut masuk.


"Masuklah, kamu bisa sakit," ujar Angkasa, ada maksud memaksa didalamnya.


Jederrrrrr


Suara guruh diikuti kilatan petir membuat Arum berjengit kaget. Ia takut, mau tak mau ikut masuk.


Angkasa berjalan kearah kamar mandi, dia menyalakan kran, memastikan jika air hangatnya berfungsi.


"Ada air hangatnya, mandilah dulu." Arum mengangguk, lalu masuk.


Beres dengan acara mandinya, Arum mendapat masalah baru, dikamar mandi hanya ada handuk biasa yang dapat menutupi sebagian tubuhnya, bukan handuk jubah atau handuk kimono. Lama Arum berdiam dikamar mandi, hingga ketukan dari Angkasa terdengar.


"Rum, kamu belum selesai, aku juga mau mandi."


Arum diam, tak langsung menyahut, takut-takut ia mau mengatakanya.


"Emm Ang. Apa tidak ada pakaian ganti?"


"Rum, kita kesini tanpa persiapan. Dan ini mendadak." Jawaban yang cukup panjang itu membuat itu membuat Arum mendesah.


Arum menunduk, memperhatikan handuk yang melilit ditubuhnya. Hanya menutup sebagian dadanya, dan turun kebawah, hanya sebatas setengah pahanya yang tertutupi.


"Rum." Angkasa mengetuk dengan tak sabar.


"I-i-iya" Mau tak mau Arum keluar.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu dibuka.


Angkasa seketika terpana dengan pemandangan didepanya, melihat ebagian tubuh Arum yang terekspos.


Gleg


Angkasa menelan air ludahnya, otaknya traveling melihat tubuh putih seputih susu milik Arum, belum lagi kulit mulusnya terlihat sangat menggoda.


Keimanan Angkasa sedang diuji.


Arum menutupi bagian atas dadanya, jadi risih dipandang Angkasa seperti itu, tangan satunya coba menutupi pahanya, meski itu tak akan berhasil.


"Ehem," Angkasa menyandarkan dirinya sendiri.


Astagfirullah, gumamnya sok istighfar.


"Maaf Rum. Bisa minggir sedikit, aku mau masuk." Katanya.


"I-iya," jawab Arum sedikit menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Angkasa masuk.


Sungguh Arum begitu gugup sekali, berada diruangan hanya berdua begini dengan Angkasa. Hanya berdua dengan Alex, biasa saja, tapi dengan Angkasa, dia bahkan tak bisa mengontrol jantungnya yang berlarian.


Angkasa yang baru menutup pintu, menyandarkan tubuhnya disebalik pintu, memegangi dadanya yang berloncatan.


Ini pilihan yang salah berduaan dengan Arum dalam keadaan begini. Tak mau berlama dengan pikirannya yang semakin jauh, Angkasa berjalan menuju shower, melucuti seluruh pakaian yang membungkus dikulitnya. Angkasa tak butuh air hangat untuk menghangatkan tubuhnya, tapi dia butuh air dingin untuk mendinginkan otaknya yang terasa panas oleh pikiran-pikiran negatif yang bersliweran, serta menidurkan si kumbang yang bangun.


Setelah dirasa cukup, Angkasa mengambil handuk, untuk menutupi bagian inti tubuhnya. Saat Angkasa keluar, Arum sedang duduk diranjang membelakanginya, tatapannya langsung tertuju pada paha mulus Arum yang handuknya terangkat oleh tarikan duduknya.


Astaga, cobaan macam apa ini?


Angkasa menutup pintu, membuat Arum menoleh. Tapi hanya sebentar, karena sejurusnya kemudian Arum langsung memalingkan muka setelah melihat Angkasa yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.


"Apa kamu tidak punya baju yang bisa dipakai, Ang?" pertanyaan Arum membuat Angkasa jadi menatapnya.


"Kamu lihat aku tadi tidak membawa apa-apa, Rum? Aku bilang tadi kita kesini dadakan"


Mendengar jawaban Angkasa membuat Arum memejamkan matanya.


"Lantas, apa kita harus begini saja?"


"Mau bagaimana lagi? Apa kita akan memakai pakaian yang tadi? Kita bisa mati karena kedinginan."


"Aku memang sudah kedinginan, Angkasa." Lirih Arum. Angkasa cepat mendekati Arum.


"Apa? Kamu kedinginan?" tanyanya panik. Arum mengangguk.


Angkasa melihat ada selimut diatas tempat tidur, dia menarik selimut itu.


"Berbaringlah, aku akan menyelimuti mu."


Arum yang memang sudah sangat merasa kedinginan, menurut apa yang diperintahkan Angkasa, dia merebahkan tubuhnya.


Lagi-lagi Angkasa harus membuang muka, sebab pemandangan didepanya yang bisa membuat iman yang setipis kulit ari itu goyah.


Setelah Arum merebahkan dirinya, Angkasa segera menyelimuti tubuh Arum.


"Bagaimana, apakah lebih baik?" tanya Angkasa. Arum mengangguk dengan mata yang terpejam.


Lima belas menit berlalu. Angkasa pikir Arum sudah tidur, ia sedang sibuk dengan gadgetnya memesan pakaian ganti untuk mereka. Sayup terdengar suara Arum menggigil.


Angkasa yang sedang duduk pada kursi yang ada disudut kamar melihat pada Arum yang berada diatas tempat tidur. Angkasa bangkit.


"Rum, kamu tidak apa-apa?" tanyanya mengecek kening Arum yang terasa sangat dingin. "Astaga, Rum. Kamu terserang hipotermia?"


Arum tak lagi merespon, dia sudah setengah sadar, tubuhnya menggigil hebat, bibirnya sudah sangat pucat, kuku-kukunya bahkan sudah memutih. Tak ada pilihan lain, salah satu cara yang Angkasa pilih dengan ikut masuk kedalam selimut, ia tidak hanya menanggalkan handuknya, tapi juga menaggalkan handuk yang dikenakan Arum.


Kini, kulit tubuh keduanya saling menempel, tak ada kain tipis yang menghalangi, Angkasa menenggelamkan Arum didalam tubuhnya, memberi usap-usapan dipunggung Arum, agar suhu tubuh Arum cepat naik.


Tapi bukan hanya Arum yang harus ia obati, juga kumbang jantan miliknya yang bangun yang harus ia tangani.

__ADS_1


__ADS_2