
Reini menyusul langkah lebar Awan dari belakang, dia terseok, menyincing gaun panjangnya yang belum sempat ia ganti. Tangan Reini menahan pintu lift yang dinaiki Awan sebelum lift tertutup sempurna.
"Awas, Rein."
Meski sedang kesal, Awan tetap perhatian pada Reini yang sudah sah menjadi istrinya. Awan menarik tangan Reini agar Reini cepat masuk, tak terjepit pintu lift hingga tubuh Reini menabrak dadanya yang bidang. "Hati-hati, itu bahaya buat kamu." Awan ngomel sambil merapikan gaun Reini yang hampir terjepit pintu lift.
Reini mendongak. "Ini semua karena kamu, kenapa ngomong begitu?" Reini kemudian menenggelamkan lagi wajahnya di dada Awan, cairan kristal membasahi pipinya. "Kenapa kamu tega ngomong begitu?" Reini makin terisak.
Awan paling tidak bisa melihat wanita menangis, terlebih yang menangis ini istrinya sendiri, dan ini semua karenanya. Berat mengucapkan kata maaf, Awan hanya bisa memeluk Reini dan mengusap pucuk kepala Reini menenangkan.
Reini memberontak. "Lepasin aku, kamu udah tega nyakitin aku." Tapi Awan tak melepaskan Reini.
Reini tak memberontak lagi, pasrah didalam pelukan Awan. Hingga lift yang mereka naiki berhenti dilantai dasar, pintu lift otomatis terbuka, Awan kembali menekan nomor lantai kamar mereka tanpa melepaskan pelukan, sehingga pintu lift kembali tertutup. Jangan sampai ada pihak keluarga yang melihat keberadaan mereka berdua, dan mengetahui jika mereka sedang bertengkar.
Apa kata dunia jika mereka ketahuan bertengkar dimalam pertama?
Selama lift bergerak naik, tak ada satupun yang membuka suara, baik Reini dan Awan sama-sama saling diam, tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
Ting
Lift terbuka.
"Wan, ngapain kalian disini?" Reini dan Awan terkejut mendengar suara Angkasa. Cepat mereka melepaskan pelukan. "Pengantin baru nggak tahu tempat, nggak sabaran banget. Tunggu sampai kamar sih."
Awan mengusap tengkuknya, malu karena yang dikatakan Angkasa berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi, andai itu benar adanya, Awan tidak akan malu, malah menunjukkan kemesraanya pada Angkasa.
"Kalian mau kemana?" tanya Awan menepikan rasa malu.
"Kami mau kerumah sakit, Arum sepertinya mau melahirkan." Angkasa mendekap perut Arum.
Reini menatap Arum, terlihat Arum meringis menahan sakit. Refleks tangan Reini meraba perutnya, semakin parno saja dia dengan yang namanya, ke-ha-mi-lan.
"Aku antar ya?" Awan menawarkan diri, dia ikut khawatir melihat wajah Arum menahan kesakitan.
"Nggak usah, kalian nikmati saja malam pertama kalian. Biar anakku cepat dapat teman main." Tolak Angkasa, menuntun Arum masuk kedalam lift dan menekan lift menuju lantai dasar.
* * *
Sampai dikamar, Awan melepaskan jas yang tadi belum sempat ia buka, menyampirkanya di kursi rias.
"Wan." Reini membuka suara lebih dulu.
"Sudah malam, aku capek. Ganti baju kamu kita istirahat." Awan bicara tanpa menatap Reini.
"Mana bisa aku tidur kalau kita belum membahas itu."
__ADS_1
"Terserah, tapi aku tidak ingin membahasnya sekarang. Aku lelah, Rein."
Reini ingin menjangkau lengan Awan, tapi Awan lebih dulu berjalan masuk ke kamar mandi. Reini hanya dapat memandang punggung Awan yang hilang dibalik pintu kamar mandi. Reini mencelus, Awan mengacuhkanya, dan Reini baru tahu, jika Awan bisa sedingin ini padanya.
Padahal dulu Awan selalu menuruti segala permintaanya. Reini mengetahui jika Awan menyukainya, karena itu Reini memanfaatkan itu. Sejak mereka remaja, Awan selalu mendengarkan curhatanya yang menyukai Angkasa, mengabulkan keinginanya jika ia mengajak Awan pergi saat ia jenuh atau patah hati, apapun kemaunya selalu Awan turuti.
Hingga kemarin pun Awan masih mengikuti kemauanya, dari mahar yang besar, resepsi pernikahan yang mewah, semua itu bertujuan agar ia bisa menyombongkan diri pada teman-teman seprofesinya jika ia begitu dicintai. Meski Awan bukan pilot yang di idam-idamkan para pramugari, tapi sekarang Awan otewe menjabat direktur utama ditempat maskapainya, bukan karyawan biasa seperti kemarin.
Suara pintu kamar mandi dibuka, Reini duduk di bibir ranjang menatap Awan yang keluar sudah dengan pakaian lengkapnya.
Awan berjalan melewatinya, tak menegurnya sama sekali, padahal Reini ingin sekali Awan bertanya. "Kenapa gaunya belum diganti?" Tapi itu hanya Reini dapatkan dari hayalanya saja. Reini memutar tubuh, dilihatnya Awan sudah tidur membelakanginya.
"Kamu nggak mau bukain gaun aku? Perhatian sedikit kek kenapa istrinya belum ganti baju. Malah ditinggal tidur, nggak peka banget." Ketus Reini sebal.
Awan bangun, mendekati Reini ingin membantu membukakan gaun Reini.
"Nggak usah, telat. Aku buka sendiri aja." Reini menjauh saat Awan ingin membantu membukakan resleting gaunya. Tak menyahut karena memang dia lelah, Awan menghembuskan nafas, melihat Reini yang berusaha menjangkau resleting dibelakangnya.
Awan kembali mendekat, Rein kembali menolak, tapi Awan memaksa. "Diam!" bentak Awan.
Dibentak seperti itu, Reini terdiam, matanya memanas, hingga pandangannya berkabut dengan dada yang terasa sesak menahan sakit.
Reini tak tahu saja, jika Awan dibelakangnya menelen ludah hanya melihat kulit putih punggungnya yang berhasil membangunkan menara miliknya.
"Sudah," ucap Awan dengan suara berat menahan hasrat hendak menerjang Reini diatas kasur.
Awan membuang nafas berat saat pintu tertutup, sekesal apapun Awan pada Reini, Reini tetaplah wanita pertama yang dicintainya, meski pernah hampir tergeser oleh Arum, tapi cepat ia buang jauh rasa itu, dan kini Reini telah resmi menjadi istrinya, bagaimanapun Awan harus menerima Reini dengan segala kekuranganya, Awan akan berusaha menjadi suami yang baik dan membimbing Reini agar menjadi istri yang baik, patuh padanya, hingga rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Tiga puluh menit berlalu Reini keluar, karena habis mandi, jadi tidak kelihatan jika dia habis menangis. Reini rasa dia cukup lama dia berada didalam kamar mandi karena ngambek, tapi Awan tak menanyakan sama sekali kenapa dia lama didalam sana, nyatanya Awan tak menanyakan apapun, Awan terlihat begitu cuek dan dingin. Hingga saat Awan selesai membantu mengeringkan rambutnya tanpa bicara sama sekali, dan mereka berdua terlelap saling membelakangi.
* * *
Suara dering ponsel membuat Reini tejaga, rupanya sudah terang saat Reini menbuka mata, Reini menjangkau ponselnya, melihat jam yang ternyata sudah pukul sepuluh pagi. Reini mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Iya, halo," ujarnya menjawab telepon, mengucek mata.
"Rein, gimana? Kamu jadi mau kb?" tanya teman Reini yang merupakan seorang dokter kandungan bernama April.
"Nanti dulu ya, Pril. Aku belum bahas ini sama suami aku."
"Oh yaudah. Kamu bisa hubungi aku seminggu lagi ya, karena aku ada penyuluhan diluar kota selama seminggu kedepan."
"Kok lama?" Reini lemas mendengarnya.
"Iya," sahut April, "kamu kenapa mau kb sih, Rein? Orang-orang mau cepat punya anak, kamu malah mau kb dulu," komentarya.
__ADS_1
"Kamu kan tahu aku masih suka terbang, kalau aku hamil aku harus cuti lama, belum lagi mabuknya yang bikin kita kayak orang mau metong."
"Pil aja dulu, Rein. Kalau kamu nggak sempat kesini, nanti aku kirim obat ke alamat rumah kamu." April memberi saran.
"Oh yaudah, nanti kamu kirim aja ke alamat rumah aku." Panggilan mereka selesai, Reini baru menyadari ketidak beradaan suaminya.
"Wan." Panggil Reini mencari suaminya. "Kemana dia?" Reini berdecak, tak ada sahutan dari Awan.
Reini memutuskan turun dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri. Reini selesai mandi dan sudah berdandan cantik, Awan masuk.
"Kamu dari mana?" tanyanya.
"Sarapan," Awan menjawab sekenanya.
"Sarapan sendiri nggak ajakin aku?" Reini tak percaya apa yang dilakukan Awan. "Kalau keluarga kita lihat dan nanyain aku nggak sarapan bareng kamu gimana, kamu mikir kesana nggak sih?" sentaknya kesal.
"Mereka semua dirumah sakit," jawab Awan dengan ekpresi datar. "Kamu mau sarapan disini apa dibawah, kita kerumah sakit jenguk Arum." Awan bertanya mengabaikan perasaan kesal Reini.
"Nggak usah sarapan, aku masih kenyang." Yang lebih membuat Reini tercengang, Awan tak memaksanya sarapan lebih dulu, malah mengiyakan saja ucapanya, padahal perutnya sudah keroncongan.
Awan berjalan lebih keluar dari kamar hotel, Reini makin kesal bukan main, dia menyusul dengan menghentakkan kakinya ke lantai.
* * *
Sudah dua hari Arum berada dirumah sakit, sejak mereka datang kerumah sakit, dan hingga sekarang Arum masih saja pembukaan enam.
"Dok, apa kita akan ambil jalan operasi saja? Kasihan istri saya sudah dua haru merasakan sakit perut." Angkasa baru saja menemui dokter, dia begitu khawatir Arum yang belum juga melahirkan.
"Setelah kami periksa tadi, keadaan istri dan anak anda masih dalam keadaan sehat, air ketubanya juga masih utuh. Semuanya masih bagus, dan ini normal terjadi seoarang ibu yang ingin melahirkan," jawab dokter wanita berkaca mata itu.
"Dokter yakin ini tidak apa? Bagaimana kalau istri saya kehabisan tenaga dan kenapa-napa pada anak saya? Ini sudah dua hari, Dok." Angkasa tak sabaran, sungguh dia takut terjadi sesuatu pada Arum dan anaknya.
"Saya bisa menjaminya. Tidak mungkin kami membiarkan pasien dalam bahaya, jika terjadi apa-apa pada istri Anda, kami sudah mengambil tindakan sejak kemarin, tapi anak dan istri Anda masih dalam keadaan sehat. Kita lihat sampai nanti sore ya Pak, jika tidak ada kemajuan pada pembukaanya, baru kami akan melakukan tindakan," Dokter itu memberi jawaban yang tidak memuaskan Angkasa sama sekali.
Angkasa menghampiri Delia dan mengatakan akan memindahkan Arum kerumah sakit lain.
"Sabar sayang, memang begini kalau orang mau lahiran. Nggak semuanya mules langsung lahiran, ada yang ngerasain mules berhari-hari dan berminggu-minggu, ini namanya anaknya lagi cara cari jalan keluarnya. Kamu yang sabar aja, jangan panik. Kasih support buat Arum," nasihat Delia sambil mengusap punggung Arum yang terasa panas.
"Tapi Angkasa nggak tega lihat Arum kesakitan gini, Ma." Dia mengusap kening Arum yang berkeringat. "Kamu masih kuat tidak, Sayang?" menggenggam tangan Aum menyalurkan kekuatan.
"Untuk anak kita, aku bisa menahanya." Arum mencoba menenangkan sang suami yang sejak kemarin terlihat lebih khawatir dari dia yang ingin melahirkan.
"Kalau kamu tidak kuat, bilang sama aku. Jangan paksakan buat lahiran normal. Normal ataupun sesar, sama saja. Yang penting anak kita selamat, dan kamu tidak merasakan sakit yang terlalu lama."
"Iya, tapi sakit setelah sesar lebih sakit dari lahiran normal." Sabut Arum sambil menahan sakit yang datang dua puluh menit sekali.
__ADS_1
"Kamu lihat Arum? Masih maksain aku buat hamil? Kamu nggak tega lihat aku kesakitan begitu?" ujar Reini pada suaminya, mereka kembali mengunjungi Arum, menunda bulan madu sebelum Arum melahirkan.