Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

"Thank you Sayang, kamu sudah memenuhi permintaan ku," ucap Angkasa, mendekap tubuh istrinya dari samping mengutarakan kegembiraanya, dia begitu senang mendapati Arum hamil kembali.


Pandangannya kini beralih pada Reini yang belum memberikan ucapan selamat pada Arum. Reini mematung, dia syok mendapat kabar Arum hamil lagi.


"Rein, belum mau pulang kan?"


"Be-belum, nunggu Awan sampai," jawabnya terbata. Reini mengalihkan kegugupanya dengan melihat jam dipergelangan tanganya.


"Kalau begitu, kita makan di kantin. Merayakan kehamilan kedua Arum," ajaknya. Mengeratkan dekapan tubuh sang istri, mencium kening Arum penuh sayang dari samping.


Reini mengangguk, ingin menolak, tapi belum menemukan alasan yang tepat.


Yaudah deh, hitung-hitung nyenengin yang lagi bahagia.


Berjalan menuju kantin yang ada di gate 2 bandara, tangan sebelah kiri Angkasa menggendong Adithya, dan tangan kananya masih merangkul pinggang Arum yang tidak langsing lagi. Sedang kopernya ditarik Arum. Hal yang dulu hanya Angkasa bayangkan, kini menjadi kenyataan. Berjalanpun, Angkasa tak canggung mencium kening istrinya.


Reini yang mengikuti langkah keduanya, membatin, memperhatikan body Arum dari belakang. Dari pinggul, betis, dan ke lengan Arum yang terlihat seperti tukang pukul dibanding seorang istri seorang sultan yang memiliki penampilan anggun dan feminim. Sungguh sangat kebanting dengan Angkasa yang tampan, modis, wangi.


Tak adakah keinginan Arum mengembalikan badannya yang dulu bagus, kenapa memilih hamil lagi?


"Kamu pengen makan apa, Sayang?" tanya Angkasa menoleh pada sang istri.


"Emm, apa aja." Malas berpikir, tapi memang Arum tidak pengen apa-apa.


"Kamu sebutin mau makan apa? Tujuan aku mau kamu hamil lagi kan, karena aku ingin melayani kamu disaat ngidam. Biar aku ada gunanya jadi suami."


Arum terkekeh. "Yaudah, aku mau nostalgia makan di bakmi GM aja."


"Nostalgia sama siapa nih?" tanya Angkasa cemburu.


"Nostalgia waktu aku jadi pramugari donk sayang. Tadi nanya mau makan apa?"


"Benar ya, bukan nostlagia dengan mantan kamu?"


Kehamilan Arum yang kedua ini memang disengaja oleh keduanya, bukan tak sayang pada Adithya, tapi karena permintaan Angkasa. Ketika kehamilan pertama Arum, Angkasa tak mendampingi Arum sama sekali, jadi dia ingin melayani saat ngidamnya Arum, tak mau jika harus menunggu satu atau dua tahun lagi, Angkasa tak sabar.


Pernah merasakan, dan mengalami hampir kehilangan, tanpa berdebat, Arum mengiyakan permintaan Angkasa, tak ingin menyesal dikemudian hari, tanpa Arum sadari, jika dia mengalami trauma atas apa yang pernah terjadi.


Reini yang setia dibelakang mereka, bergidik melihat keromantisan pasangan yang sedang berbahagia ini. Gila saja, anak mereka baru berusia dua bulan lebih, tapi sebahagia ini hamil lagi.


Menunggu pesanan sampai, Reini terus menunduk sibuk dengan ponselnya, tak tertarik sama sekali dengan kelucuan Adithya. Sampai suara pecah tangis Adithya membuatnya mendongak.

__ADS_1


Dilihatnya Arum kerempongan membuat susu, dan Angkasa yang terus menggoyangkan badannya mendiamkan Adithya yang berada didalam gendonganya sambil berdiri. Tubuh Reini seketika bergidik, jangankan untuk membantu Arum mendiami Adithya, mendengar suara tangis Adithya saja kepalanya serasa mau pecah.


Adithya tipe bayi yang mudah menangis, jika kepanasan, kehausan, atau dalam keadaan tidak nyaman, anak itu memberi tahu lewat tangisan. Diberi botol susu oleh sang ayah, bocah laki-laki yang wajahnya sudah memerah akibat menangis itu langsung terdiam.


"Astaga Sayang, kamu nggak sabaran sekali ya. Haus nangisnya sampai seisi bandara dengar," ujar Angkasa terkekeh, bicara pada anaknya. Arum ikut mentertawakan anaknya, lalu mengusap pipi Adithya yang basah dengan tissu basah.


Melihat kesabaran Angkasa, Reini begitu salut.


"Rum, kamu yakin hamil lagi?" tanyanya pada Arum saat Arum duduk disampingnya.


"Iya," jawab Arum. "Ini permintaan Angkasa."


"Sudah kamu pikirin matang-matang? Lihat Rum, lingkungan kerja Angkasa wanita cantik dan modis, kamu malah berubah kayak embok-embok gini," ujarnya menggeleng. "Meski Angkasa nerima-nerima aja bentuk badan kamu, tapi siapa menjamin dia tidak tergoda saat diluar. Aku bukan julid, tapi justru aku sayang sama kamu, makanya aku ngingetin kamu."


Arum tersenyum.


"Iya, Rein. Terima kasih sudah mengingatkan. Aku cuma nggak mau menyesal setelah apa yang sudah aku alami, aku hampir kehilangan Angkasa. Jikapun Angkasa sampai tergoda dengan wanita diluaran sana, berarti dia bukan laki-laki yang baik untuk ku. Yang terpenting bukan aku yang melakukan kesalahan."


Ini yang Arum takuti bertemu dengan Reini, meski terlihat santai, tapi Arum sudah menyiapkan mental.


"Sepasrah itu kamu, Rum?" Reini sungguh tak percaya dengan jawaban Arum. "Hei Rum, jangan mau donk."


"Ya, mau bagaimana lagi? Apa aku harus mengecek dan membuntuti Angkasa?"


"Tapi sebenarnya, tidak. Karena aku mengembangkan bisnisku melalui dia. Kalaupun Angkasa berkhianat nantinya, aku sudah punya modal dengan tidak harus bergantung hidup denganya."


Arum tidak menanyakan apakah Reini sudah hamil atau belum, sebab dia tak mau jadi ipar julid atas pertanyaan sensitif itu. Meski sebenarnya itu pertanyaan basa-basi atau bentuk perhatian.


Dan Reini juga tidak menceritakan jika dia memilih menunda momongan.


Makanan mereka datang, bersamaan dengan Awan yang juga baru sampai.


"Benar kata Aira, tenggorokan uncle Awan memang lempeng. Makanan siap, dia datang." Ledek Angkasa pada saudara kembarnya.


"Oh ya?" Awan terkekeh, menghampiri Reini, mencium kening Reini.


"Rejeki kamu bagus," ujar Reini. "Aira harus tahu ini."


Awan menghampiri Adithya dan menggendongnya. "Hai, handsomenya uncle. Dia semakin berat, Rum."


"Iya, asinya kuat." Angkasa yang menjawab. "Kamu jagain Adithya, aku mau makan dulu sama Arum." Pintanya pada Awan. Awan mengangguk.

__ADS_1


Ada rasa tak suka dihati Reini, dia juga ingin makan bersama dengan suaminya seperti Arum.


Punya anak satu merepotkan orang, sekarang mau punya anak dua.


Menghela nafas dalam.


Arum menyadari itu, Arum seperti tak suka, Arum juga menyadari, sejak Adithya lahir, Reini sama sekali tak pernah menggendong Adithya.


"Kami doakan uncle Awan, dan aunty Rein cepat menyusul Adithya punya adik," ujar Arum mendoakan. Melihat wajah tidak suka Reini, Arum pikir karena mereka belum dikaruniai momongan, Reini cemburu dengan Adithya.


"Eh, tunggu, tunggu. Ini maksudnya apa? Adithya mau punya adik?" Awan bertanya pada Angkasa dan Arum.


Angakasa dan Arum kompak mengangguk. Angkasa merangkul bahu istrinya. "Semoga kalian juga cepat menyusul."


Awan terkekeh menatap Reini, dia menatap Reini. "Semoga," wajah Reini berubah kecut, "tapi kami memutuskan untuk menunda lebih dulu," kata Awan yang mengakui.


Kini giliran Angkasa dan Arum saling pandang. "Kenapa? Sayang sekali." Angkasa bertanya, menyayangkan keputusan Awan.


"Kami masih ingin menikmati masa pacaran, kalian tahu sendiri, meski kami sudah lama-lama bersama, tapi kami dekat belum lama ini." Reini menjawab pertanyaan Angkasa.


"Belum lama dari mana? Setahun lebih bukan?" Angkasa mengoreksi. Lalu dia menggeleng. "Tapi terserahlah, itu keputusan kalian." Dia tak mau ikut campur juga. "Oh ya, sebagai perayaan kehamilan kedua Arum, bagaimana kalau kita malam ini menginap di hotel bintang tujuh yang baru itu. Anggap ini honeymoon kecil, sebelum kami memberi hadiah bulan madu buat sebenranya buat kalian."


"Hem, oke baiklah. Daddy kamu memberi kami hadiah Adithya. Uncle juga akan memberi kamu hadiah."


Selesai, mereka berempat keluar dari gerai mie. Awan membantu membawa koper Reini, sambil menggendong Adithya.


Dari lantai dua, empat pasang mata melihat benci dengan kemesraan yang ditunjukkan Reini.


"Mereka semakin harmonis, mungkin saja Reini merubah keputusanya memiliki momongan." Menatap lawan bicara dihadapanya.


"Reini bukan tipe wanita yang mudah berubah pikiran, dia sedikit keras kepala dan angkuh." Ia menyesap kopi cup-nya.


"Mungkin aku harus menyerah, berbahaya juga kalau bermain-main dengan keluarga konglomerat seperti mereka. Pal Axel yang memiliki kekuasaan besar saja bisa kalah." Ingatnya kejadian dulu yang menimpa keluarga Alex.


"Itu karena pak Axel hanya memanfaatkan Captain Alex. Coba saja kalau pak Axel baik dengan Captain Alex, dan Captain Alex tidak terlalu lama mempermainkan Arum, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini," melirik lawan bicaranya sekilas.


"Saya punya ide jika Captain mau bekerja sama dengan saya. Orang sombong seperti Reini harus diberi pelajaran, dia terlalu tinggi terbang, hingga dia lupa tanah."


Angga mengerutkan keningnya. "Ada masalah apa kamu dengan Reini?"


"Nggak ada, cuma orang-orang sombong sesekali memang harus diberi tahu, layangan terbang tinggi rentan putus tali senarnya."

__ADS_1


"Apa ide kamu?" Viona mendekatkan bibirnya ke telinga Angga. Angga tersenyum senang, merasa ide Viona cukup cemerlang.


__ADS_2