
Setelah mendatanangani surat perjanjian yang dibuat Abian, ayahnya. Awan mengajak Reini bicara berdua, taman belakang rumah orangtuanya Reini ambil untuk mereka bicara.
Memandangi kolam ikan berukuran 1x1,5 meter, dan berisi lima ikan koi milik Rendy yang Rendy impor langsung dari jepang. Keduanya terlihat canggung, dan duduk berjauhan seperti anak muda sedang melakukan pendekatan.
Lima menit berlalu, belum ada yang berani bersuara. Reini ingin sekali meminta maaf terlebih dahulu pada Awan atas kesalah pahaman beberapa hari lalu, namun ia yang memiliki sifat keras kepala dan harga diri yang tinggi sebagai seorang wanita, lidahnya terasa keluh.
Awan yang teringat wejangan ayahnya tadi pagi, jika dia harus ekstra sabar menghadapi kebengkokan wanita, akhirnya memilih mengalah.
"Apa kabar kamu, Rein?" tanyanya sebagai pembuka obrolan mereka. Menoleh pada Reini yang sejak muncul tak menoleh kearahnyasama sekali, dan itu membuat Awan bertanya-tanya. Ingin sekal
"Baik." Wanita itu menjawab singkat, tak bertanya balik kabar pasanganya yang sudah tiga hari lebih tak bertemu.
Tapi dalam hati Reini, ingin sekali bertanya, beberapa hari ini kamu pulang kemana? Apa makan dengan baik? Dan apa tidur nyenyak tanpanya?
Awan tersenyum kecil. "Kamu nggak nanya balik kabar aku, Rein? Apa aku sehat beberapa hari ini?"
Reini menunduk, kemudian menggeleng sebagai jawabnya, tapi berbanding terbalik dengan lubuk hatinya yang terdalam. Jika dia begitu mengkhawatirkan keadaan sang suami.
"Walau kamu nggak nanya, aku akan memberitahu kamu, Rein. Kalau beberapa hari ini aku sangat memikirkan hubungan kita, akan dibawa kemana? Sebenarnya, apa kamu masih mengharapkan aku, Rein?"
Setitik bulir menggelinding di kedua pipi Reini, cepat-cepat Reini menghapusnya.
"Aku nggak tahu." Suaranya parau.
Penyesalan mendalamlah yang kini dirasakan oleh Reini.
Awan menelan ludah, menarik nafas dalam, sungguh dia kecewa. "Kita berhubungan sejak kecil, Rein. Tidak mudah untuk ku mengkhianati pernikahan kita, tidak mungkin juga aku bodoh melakukan hal sekonyol itu." Menoleh menatap Reini yang sejak tadi masih anteng menatap kolam.
Reini mendengarkan, tidak menyela. Tapi ada yang membuat mata Awan salah fokus, lebam dipipi sebelah kanan Reini yang Reini coba tutup dengan makeupnya.
"Apa ini Rein?" Awan ingin menyentuhnya, tapi Reini cepat menghindar. Masih terasa sakit akibat hadiah dari Rendy.
"Bukan apa-apa, cuma kepeleset di kamar mandi." Reini memberi alasan.
"Sudah diobati?" Berbagai pikiran berkecamuk dipikiran Awan. Tahu jika itu bukan lebam karena jatuh, tapi karena perbuatan seseorang. Tapi siapa yang melakukanya?
Apa Papa Rendy? Tidak mungkin, papa Rendy tidak sekasar itu.
Nafas Awan memburu mengetahui wanitanya tersakiti, tapi dia akan mencari tahu sendiri. Reini tak akan jujur sekarang.
"Sudah, ini nggak papa."
"Diberi ayah kesempatan setahun ini, kamu menerimanya atas keinginan mu, atau ada keterpaksaan?"
Lagi-lagi Reini hanya diam, Awan semakin bingung dengan perubahan sikap Reini.
"Baiklah Rein. Aku harap apapun yang terjadi setahun kedepan, itu yang terbaik untuk kita." Awan berdiri, "jaga dirimu baik-baik, Rein. Aku selalu pulang keapartemen jika kamu ingin pulang, apartemen itu tempat kita kembali, kamu bebas pulang kapanpun."
Meski pulang dengan perasaan kecewa karena Reini hanya diam, tapi Awan merasa lebih baik. Entahlah, dia patut berterima kasih atas keputusan ayah Abian memberi mereka ruang untuk berpikir, jika saja mengikuti egonya, mungkin kini Awan akan merasakan penyesalan yang mendalam.
Delia menggenggam tangan Awan memberikan kekuatan. Awan tersenyum, kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu sang mama, bahu mamanya masih menjadi tempat ternyaman baginya. Beruntung dia memiliki orang tua yang bijak, tidak ikut terbawa emosi atas sikap Reini.
Malam ini Delia meminta Awan tidur di rumahnya, takut Awan akan mengulang mencoba minuman beralkohol lagi.
"Jangan diulang lagi, tidak sedikit orang celaka akibat minuman terlarang itu."
"Enggak, Ma. Itu yang pertama dan yang terakhir."
__ADS_1
"Ayah saja sampai sekarang tidak pernah mencoba minuman itu, bisa dikeluarkan oma kamu dari kartu keluarga jika itu sampai terjadi," Abian menimpali.
* * *
Delia dan Abian sudah siap ditempat tidur, keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar mereka.
"Kira-kira usaha kamu setahun kedepan berhasil nggak ya, Bi?" Delia menatap sang suami yang juga menatapnya.
"Mudah-mudahan sayang. Aku harap mereka bisa lebih dewasa setelah ini."
Delia kembali menatap ke langit-langit.
"Kenapa kamu bisa memberi kesempatan untuk Reini? Aku bukan tidak tahu kelakuan Reini pada Arum selama ini, juga kasus dengan teman-temannya itu. Kasihan sebenarnya anak kita."
Abian mengubah posisi memiringkan tubuhnya, menyangga menggunakan siku menghadap sang istri.
"Reini itu mengingatkan ku pada seorang wanita cantik yang sangat aku cintai tiga puluh tahun yang lalu, aku minta dia buat nggak kerja lagi, tapi dia ngotot untuk tetap kerja, hingga kejadian yang tidak mengenakkan itu harus terjadi," Delia merasa wanita yang dimaksud suaminya itu dia. "Bedanya Reini minta pindah tempat kerja, kalau wanita yang aku cintai itu, yah ... dia tipe ngeyelan juga." Abian terkekeh.
Delia tersenyum malu.
"Tadinya aku setuju Awan mau menceraikan Reini, karena dia menyebalkan."
Abian menelusuri wajah sang istri menggunakan jemarinya. "Kita punya anak perempuan sayang. Belum tentu anak kita lebih baik dari Reini, lagipula papa berpesan, kalau keluarga kita itu pantang dengan yang namanya perceraian, jadi apapun yang terjadi, jangan ada perceraian."
"Kalau kasusnya kekerasan atau perselingkuhan?"
"Kan aku pernah bilang padamu Awan, kecuali dua hal itu. Tapi jika ingin bertahan, itu beda lagi."
* * *
Permasalahan Awan sampai juga ketelinga Daniel, sebagai guru dari keponakanya, Daniel merasa dilupakan, jadilah ia mendatangi kantor Awan siang ini. Masuk tanpa permisi, Daniel duduk dihadapan Awan dengan wajah merah padam, untung saja Awan sedang tidak ada tamu.
"Om kecewa sama kamu," ujarnya penuh kesal. "Dari awal Om sudah jadi mentor buat kamu, tapi ada masalah besar kamu tidak cerita sama, Om."
Awan terbahak tahu apa yang dimaksud pamanya.
"Itukan masalah pribadi, Om. Awan lebih salah kalau melewati Ayah untuk masalah besar seperti ini."
"Tapi kamu juga bisa cerita sama, Om." Daniel masih tak terima.
"Sudahlah, Om. Yang penting sekarang masalahnya susah selesai, tinggal menunggu setahun kedepan, apa akan ada cahaya terang untuk ki, atau enggak?" Awan tidak tahu, apa dia dan Reini bisa kembali setelah ini.
Sebab, tak ada komunikasi yang terjalin diantara keduanya sejak Awan meninggalkan rumah Reini.
"Atas usul siapa?"
"Ayah. Ayah bilang, kalau menuruti ego. Semua orang pasti akan berakhir dengan perpisahan, sebab tidak akan ada yang sama disaat dua manusia dipersatukan, pasti ada perbedaan, tak akan ada rumah tangga yang bertahan. Karena untuk menguji kesabaran, ya menikah kata ayah."
Daniel mengusap-usap dagunya, saat sedang memikirkan perkataan Awan, teleponya berdering. Daniel melihat nama sang penelepon, ia kemudian meletakkan jari telunjuknya dibibir, sebagai isyarat agar Awan diam.
"Iya sayang, aku sedang di suatu tempat."
"Dimana?" Pekik suara diseberang. Daniel sampai menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Lagi meeting jauh."
"Pokoknya anterin aku sekarang."
__ADS_1
"Maaf sayang, nggak bisa, aku lagi ada klien penting."
"Lebih penting aku, atau klien kamu? Kalau penting aku, pulang sekarang!" Panggilan terputus begitu saja.
Awan menaikkan sebelah alisnya mendapati raut pusing omnya.
"Kenapa, Om? Siapa tadi?"
"Oke, Wan. Sepertinya keputusan ayah kamu benar. Menguji kesabaran itu, ya menikah. Kalau kamu mau buktinya, ikut Om."
"Kemana?"
"Ikut saja kalau kamu tidak sibuk."
* * *
Dengan menggunakan mobil Daniel, Awan sampai disebuah mall tak jauh dari kantornya.
"Kita ngapain kesini, Om?"
"Menemui seseorang," jawab Daniel terus melangkah.
"Wah, kalau tahu Om segila ini, aku nggak akan ikut. Terlalu beresiko."
Daniel melambaikan tanganya, menyapa orang yang janjian denganya, ternyata itu Denisa.
"Oh, jadi ini klienya?" Denisa bersedekap, menatap marah sang suami, "alesan saja nggak mau nemenin." Dumelnya. Daniel hanya memasang wajah pasrah.
"Hai Tan." Awan mengambil tangan sang tante, menyalaminya. "Apa kabar, Tan?"
"Buruk, karena Om kamu ngeselin." Sengitnya pada sang suami. Awan menggaruk pelipis, terjebak disituasi yang salah.
"Kita siap-siap menguji kesabaran," bisik Daniel pada Awan.
Awan menaikkan alis tak paham. Kemudian berjalan mengikuti Denisa yang sudah berjalan lebih dulu. Mereka mengitari mall, dari lantai satu, setiap stand sihampiri, lalu naik ke lantai dua, dan terakhir ke lantai tiga. Hampir satu jam waktu yang mereka habiskan, Awan dan Daniel sudah merasakan kaki mereka akan lepas dari setiap sendinya.
Dilantai tiga, terdapat banyak foodcourt, Awan pikir mereka akan singgah untuk makan atau sekedar minum. Nyatanya mereka kembali turun lagi ke lantai dua, mumutari lagi lantai tersebut, mwnyinggahhi tempat yang tadi sudah disinggahi, namun, turun lagi ke lantai satu, kembali ke tempat semula, namun tak ada satupun barang yang Denisa beli.
"Ini kita ngapain sih, Om. Dari tadi mutet-mutet doang? Tenggorokan kering nih, kita nggak beli minum dulu kek, air mineral doang." Keluh Awan, meraba tenggorokanya.
"Nggak bisa, Tante kamu kayaknya lagi buru-buru."
Awan melihat pergelangan tangannya. "Kita udah satu jam lebih ini, emang Tante nyari apa sih, Tan?" tanya Awan pada sang tante pada akhirnya.
"Tante nyari gaun buat acara besok ketemu menteri kesehatan, tapi dari tadi nggak ada yang cocok, sekarang mall sepi ya? Banyak ruko yang tutup. Kayaknya pakai baju yang ada dirumah aja deh. Tante baru inget masih bisa dipake, soalnya baru dipake sekali," jawab Denisa begitu enteng.
"Abisnya Om kamu dari tadi ngedumel terus, bikin Tante pusing aja, bukanya bantuin nyariin, malah nanya mulu. Udah dapet belum, udah dapet belum. Kamu juga ditanya dari tadi jawabnya cocok semua, padahal nggak ada yang bagus." Lanjutnya menyalahkan kedua laki-laki yang setia menemaninya.
"Whatt?" Mata Awan membola, dia sampai tak bisa berkata-kata.
"Salah satu ujian laki-laki, dimana kesabaran kita benar-benar diuji dengan sikap ajaibnya," lirihnya hanya bisa didengar Awan, "kalau bisa ditukar dengan barang baru, Om mau tukar yang onderdilnya masih ori."
"Aku dengar loh, Mas. Kamu pikir onderdilku turun mesin karena perbuatan siapa? Enteng mau tukar tambah," ucapnya ketus. "Tau gini aku pergi aja sendiri, sana cari cabe-cabean yang onderdilnya ori, masih nemu nggak yang ori?" Denisa berjalan menuju lobi.
"Astaga, salah lagi kan," Daniel menepuk jidat, "Sayang tunggu."
"Om, aku pulang sama siapa?"
__ADS_1
"Jalan kaki aja," sahutnya, "taksi banyak." mengejar langkah sang istri. "Sayang, tunggu akuuu."
Awan terkekeh, benar-benar menguji iman dan amin. Daniel yang mantan seorang kasanova, penakluk wanita, pasrah saja dengan keabsrutan sifat wanita yang bikin geleng kepala.