
Tanpa terasa usia kandungan Reini sudah memasuki lima bulan. Selama kehamilanya, Reini semakin begitu manja pada Awan. Setiap malam ingin tidur sambil dipeluk, tidak mau ditinggal lama-lama, hingga berimbas pada Angkasa yang menggantikan posisinya. Arum yang diminta untuk mengerti.
"Kamu sabar ya sayang, nanti kita jalan-jalan ke luar negeri." Pinta Angkasa pada sang istri.
"Kalau begini, kenapa nggak jabatan itu jadi milik kamu aja? Sekalian kan, jangan cuma jadi pengganti," ucap Arum mengerucutkan bibirnya tidak suka. "Aku tahu ini anak yang di mau, Awan. Tapi kan dia nggak boleh lepas dari tanggung jawabnya, profesional donk. Istrinya juga harus ngerti, suami kerja juga kan buat keluarga, bukan buat main-main."
Angkasa menghela nafas, wajar sih Arum marah. Memang seharusnya Reini mengerti pekerjaan suaminya, bukan menghalangi suaminya untuk bekerja.
Ternyata sifat egois itu tidak serta merta hilang dari diri Reini.
"Aku sih nggak papa gantiin dia," Angkasa tersenyum lega, mengusap surai hitam istrinya, ingin mengucapkan terima kasih, tapi Arum kembali bicara, "tapi setipa hari jam lima kamu harus sudah dirumah, kecuali memang jabatan itu dialihkan ke kamu." Melirik suami yang duduk disampingnya, memberi syarat. Hal semacam ini yang membuat hubungan ipar tidak baik.
Huh, Angkasa harus memutar otak.
"Kamu bicara dong sama Awan, kalau dia harus profesional." Masih melanjutkan marahnya.
"Iya sayang."
"Iya aja, tapi nggak dilakuin." Menurunkan tubuh dari sandaran tempat tidur, menutupi tubuhnya dengan selimut.
Angkasa juga ikut masuk kedalam selimut yang sama.
"Bang, jangan macam-macam, aku lagi nggak mood." Berteriak saat tangan kekar itu masuk kedalam bawah sana.
"Aku butuh di charger, sayang."
"Nggak mau."
"Tapi aku yang mau, kamu diam aja. Aku yang kerja."
Bibir itu tidak lagi bisa menjawab, karena setelahnya sesuatu bergerak didalam selimut. Hingga tak lama, suara teriak penolakan itu berganti suara merdu lenguhan Arum yang membuat Angkasa semakin semangat bergerak maju mundur.
* * *
Pagi hari yang cerah, disebuah pemakaman elit ibu kota. Wanita cantik dengan balutan baju muslimah putih memasuki area pemakaman dengan kerudung yang menutup kepalanya.
Dia tidak sendiri, dia datang bersama sang suami dan juga ibunya. Penjaga pemakaman itu sudah hapal dengan mereka, karena saat baru datang, sang penjaga langsung memberikan sebotol air dan juga kembang, tidak lupa buku yasin.
"Assalamualaikum, selamat pagi, Pa." Mengucapkan salam, "Reini datang bersama menantu kesayangan papa, juga cucu papa. Istri solehah papa juga."
Melirik mamanya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang mama. Meski sudah setiap hari datang, matanya selalu saja mengeluarkan bulir bening.
Andai saja dulu dia tidak keras kepala, tidak egois, tidak mementingkan kepentinganya sendiri, mungkin papanya sudah bisa melihat cucu yang diinginkanya. Mungkin rasa penyesalan ini tidak menghantuinya.
Hiks hiks. "Maaf." Kata itu yang selalu terucap. Awan mengusap tangan sang istri. Setelah itu, dia memimpin doa.
Keluar dari pemakaman, Awan menerima pesan dari saudara kembarnya mengajak bertemu, dia tersenyum, tahu apa yang akan dibicarakan.
"Rein, Angkasa mengajak bertemu. Ayo ikut." Reini mengangguk.
"Sama Arum juga." Awan mengangguk, kemudian menghubungi kembaranya itu.
* * *
Janji temu mereka bukan direstoran mahal, tapi di warung bubur ayam pinggir jalan, ini permintaan Arum atas misi balas dendam pada iparnya yang terkenal tidak mau makan makanan pinggir jalan.
Namun diluar dugaan, yang Arum pikir Reini akan menolak, dan melakukan drama, nyatanya Reini menikmati sarapanya, sampai dia nambah dua kalo, membuat Arum dan Angkasa melongok.
"Mau sate usus, telor, juga ati ampela donk, Yank," ujarnya pada sang suami. "Enak soalnya." Tidak bisa tidak memuji rasa yang memang sangat enak ini.
"Anak ayah suka makan apa aja ya." Mengusap perut istrinya, "sehat-sehat kesayangan ayah." Mengecup kening sang istri.
Huwek, sekarang Arum yang gelih melihat kemesraan itu, dia sudah melewati masanya.
Setelah makan, barulah mereka membicarakan apa yang ingin dibicarakan. Arum lebih dulu mengutarakan apa yang di pendamnya selama ini, dia tidak bisa menganandalkan sang suami yang memiliki perasaan, nggak enakan sama saudara.
Dia gemas.
"Begini ya, Wan. Kita langsung terbuka aja," Arum menatap Awan dan Reini. "Kamu sebenarnya masih mau di posisi direktur tidak? Kalau enggak, langsung alihkan saja ke suami ku. Maaf ya, bukan bermaksud apa-apa. Karena sudah hampir setahun gantiin posisi kamu, tapi gaji bagi dua."
Bukan masalah gajinya sih sebenarnya, tapi masalah profesionalnya. Terserah jika nanti Reini dan Awan tidak terima.
Awan terkekeh, saling pandang dengan sang istri. Dibawah sana, tangan mereka saling bertaut.
"Begini, Rum. Sebenarnya Airlangga Airlines itu tanggung jawab kami berdua. Ayah sudah menyerahkanya pada kita," Awan mulai menjelaskan. "Maka dari itu, kemarin-kemarin aku minta tolong. Tapi mulai besok aku akan aktif lagi."
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang-bilang dari kemarin?" Sungut Arum kesal. "Kalau konfirmasi dari awal kan, aku nggak mikir yang gimana-gimana."
"Iya maaf. Habisnya aku terlalu senang, terima kasih atas pengertianya selama ini." Awan terima dan memaklumi, Reini pun begitu. Tak merasa tersinggung dengan ucapan Arum.
Karena Delia sudah berpesan pada keduanya, hubungan ipar perempuan itu suka ada rasa cemburu sosial, dan sedikit perselisihan, kalau ada yang tidak di suka, lebih baik berterus terang. Yang penting masalahnya tidak keluar, dan diketahui orang lain. Jika masalahnya panjang dan tidak bisa diselesaikan, barulah Delia turun tangan menengahi.
"Rum, aku cuma mau bilang. Terima kasih banyak ya, atas pengertian kamu, soalnya selama kehamilan, aku mual terus, maunya di temani Awan terus."
"Iya, nggak papa. Yang penting sekarang sudah jelas."
Reini mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Sebagai hadiah dari kami berdua, ini tiket keliling eropa." Reini mendorong amplop kedepan Arum.
Arum dan Angkasa saling pandang. "Sebenarnya kami nggak butuh ini sih. Tapi ya kami pantas 'kan mendapatkannya?" Arum mengambilnya. Lalu mereka tertawa. Angkasa gemas, tidak bisa menahan untuk tidak menarik Arum untuk bersandar dibahunya.
"Rum, makasih ya. Gimana kalau kita bestian?" Reini merasa klop dengan Arum yang bersikap lebih dewasa dan terbuka.
"Ah, enggak ah," tolak Arum. "Aku nggak biasa begitu, biasa aja. Yang penting hubungan kita baik-baik aja." Arum tidak terbiasa bergantung dengan orang lain, lebih enjoy sendiri. Dan menurutnya, hubungan seperti itu tidak cocok denganya yang sejak dulu tidak memiliki teman.
Kecuali dengan Andini, itupun tidak terlalu dekat.
Setelah selesai, mereka berkunjung kerumah mama Delia dan ayah Abian.
Disana sedang ada drama antara Aira dan Delia.
"Mama sama Ayah nggak izinin kamu, Ai. Kamu itu anak perempuan Mama satu-satunya." Delia tidak mengizinkan memenuhi keinginan Aira untuk mengabdi si sebuah pulau terpencil dan terisolasi.
"Tapi Aira pengen cari pengalaman disana, Ma. Ingin menyumbang ilmu Aira buat orang-orang yang membutuhkan." Aira keuekeuh.
Abian dilema, jujur dia mengizinkan Aira, tapi juga tidak tega pada sang istri.
"Disini kan juga banyak anak-anak yang membutuhkan, tapi tidak terjangkau, Ai. Cari yang dekat saja." Saran Abian mengambil jalan tengah.
Memberikan izin untuk Aira mengabdikan ilmunya, tapi membuat sang istri tidak khawatir.
"Sudah ada tim lain yang disini, Yah. Tapi Ai mau ambil yang dipulau itu. Mau cari pengalaman lain, malas kalau disini-sini terus. Bosan."
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Angkasa masuk bersama Awan dan istri-istrinya.
"Suaranya kedengeran sampai luar loh." Awan menambahi. Ikut bergabung kedua orang tua mereka juga Aira.
"Pulau Kera? jauh amat, Ai." Komen Angkasa.
"Cari pengalaman, Kak. Bosen disini aja."
"Halah, bilang saja lagi patah hati. Iyakan?" ujar Awan.
"Hehehe, salah satunya."
"Tapi Mama tetap nggak mengizinkan. Itu terlalu jauh, Mama nggak bisa. Siapa yang jagain kamu kalau kamu sakit? Kalau kamu kenapa-napa, siapa yang mau nolongin? Kamu kan manja banget kalau lagi sakit."
"Makanya, Ai mau mandiri, Ma."
"Bank kali, ah." Canda Angkasa. Aira mensungut.
"Kenapa kamu pilih pulau itu, Ai? Yang Kakak tahu, disana gersang banget loh. Dalam satu tahun, hujan cuma dua bulan, jauh dari mana-mana juga. Kalau mau beli apa-apa harus nyebrang dulu." Arum malah membuat ibu mertuanya semakin tak bisa melepaskan anak gadisnya ke pulau itu.
Membuat Aira kesal.
"Nggak ada listrik juga masuk."
Astaga, Aira ingin menenggelamkan kakak iparnya itu ke laut saja.
"Tuhkan, Mama makin nggak izinin kalau begitu, bahaya, Ai. Kamu nggak sayang sama Mama, iya?"
Aira menggoyangkan badan kesal. "Kak Arum sih."
"Ups, tapi bener, Ai."
"Au ah, Kakak suruh istrinya diem kenapa sih?"
"Nanti Kakak cari tahu dulu tentang pulau itu." Kata Angkasa mengakhiri perdebatan.
"Ai mau pergi dulu sama, Dara." Berdiri, naik kelantai atas, mengambil tasnya. Lalu tak lama turun lagi, menyalami tangan orang tuanya, dan kakak-kakaknya, juga kakak iparnya. Memberi salam ketika sudah terdengar klakson dari mobil Dara.
Semenjak ketahuan kalau mobil Angkasa yang pernah dipinjam pernah digadaikan, Aira tak diizinkan lagi mengendarai mobil sendiri.
__ADS_1
"Rum, anak-anak nggak ikut?" tanya Delia menyadari kedua cucu jagoanya tidak ikut.
"Nanti nyusul Ma sama embak. Tadi karena ada urusan, jadi pergi berdua dulu."
"Kirain nggak ikut, Mama sudah kangen banget." Beralih menatap Reini. "Udah ketahuan belum, Rein. Cewek apa cowok?"
Reini dan Awan saling pandang, tadinya tidak ingin memberi tahu karena ingin kasih surprise, tapi kasihan mamanya sedang pusing dengan Aira.
"Alhamdulilah, cewek, Ma."
Semua yang disana ikut senang. Termasuk Arum, tak ada iri, karena belum bisa memberikan cucu perempuan. Eh, tapi ada sedikit, cuma sedikit.
"Selamat ya, Rein. Semoga sehat sampai lahiran."
"Terima kasih, Rum."
"Lengkap donk ya cucu kita, Sayang. Jadi merasa semakin tua kita." Kata Abian pada sang istri.
"Iya, Bi." Mata Delia berkaca-kaca.
* * *
Seorang laki-laki bertubuh kurus, berambut gondrong, dengan bulu tebal yang memenuhi rahangnya hingga menutup wajah tampanya, dia terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya.
Laki-laki itu digiring keluar oleh dua orang petugas menuju pintu timur dari tempatnya menebus dosanya selama ini. Tak ada keluarga, sahabat, atau kerabat yang menyambut hari kebebasanya.
Matanya silau menatap panasnya terik yang menyentuh kulit. Tanganya menghalau sinar yang menerpa wajahnya, langkahnya berjalan menyusuri trotoar dengan tas ransel yang hanya berisikan beberapa potong pakaian.
Ya, hanya pakaian. Tak ada selembar uang ataupun sesuatu yang bisa ia gunakan untuk sekedar membeli air.
Lama dia menyusuri trotoar, entah sudah berapa jarak yang ie tempuh. Matahari semakin terik menyengat, tak tahu arah tujuanya kemana. Dia berpikir akan kembali kemana? Apartemen mewahnya? Sudah tidak memungkinkan, sudah ditarik pihak pengembang karena masih hitungan mencicil.
Saat lampu lalu lintas berganti, kakinya hendak menyeberang, tapi,
Tiiiiiiiiiiiiin
Suara klakson panjang mengagetkanya hingga dia harus mundur.
"Woiii, mau mati lo?" Maki seorang wanita dibalik kemudi menurunkan kaca jendelanya.
"Ra, gila lo."
"Lagian dia nyebrang nggak liat-liat. Udah tau udah ganti warna."
Aira menatap kebelakang dimana laki-laki itu sedang dimaki-maki pejalan kaki lain. Ia terus menatap laki-laki itu sampai mobil beralih arah hingga dia tak bisa melihatnya lagi.
"Lo kenapa, Ai? Kenal sama orang itu? Atau lo naksir?" tanya Dara menyadari sepupunya yang diam saja.
"Kayak nggak asing mukanya. Tapi siapa ya?"
"Salah satu mantan lo kali. Mantan lo kan ada dimana-mana, tapi sayang cuma manfaatin lo aja." Dara terbahak mentertawakan sepupunya itu.
"Kamprettt lo, Ra."
Sedang laki-laki tadi, setelah mendapat sumpah serrapah, makian, dan umpatan dan segala macam, dia hanya bisa sabar, hingga sebuah mobil berhenti tepat disampingnya.
"Tunggu, Tuan kami ingin bicara," ujar laki-laki bertubuh tegap menghampirinya. Memberikan ponsel yang menyala. "Bicaralah, kau mengenal bos kami."
Lama dia menatap wajah orang itu, setelah tahu, dia menerima ponsel dari orang tersebut.
"Bagaimana, kau mau menerima tawaran ku kemarin?" tanya seorang dari seberang telepon. "Tidak perlu kau jawab sekarang. Aku memberi mu waktu untuk berpikir, tunggulah di tempat yang pernah aku sebutkan waktu itu jika kau tidak ada tempat kembali."
Panggilan terputus, laki-laki itu mengembalikan ponselnya. Tanpa kata, dia kembali berjalan menyusuri jalanan yang tiada ujung. Berharap, tak ada yang mengenalnya dengan penampilan barunya ini.
.
.
.
.
Numpang promo ya. Yuk mampir ke cerita aku yang lain. Judulnya Second Mate, sudah sampai bab 29.
Jangan lupa favorit, like, dan komen. 😍 😍
__ADS_1