Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Jebakan Tikus


__ADS_3

"Kita tidak melanjutkan apa yang kita lakukan tadi, Lex?" tanya Siska keluar dari kamar Alex dengan selimut melilit tubuhnya.


"Aku sudah tidak berselera, Siska. Cepat kenakan pakaian mu, dan pergilah." Usirnya membuat Siska terhina.


"Kamu keterlaluan Lex. Membuang ku karena dia? bukankah katamu dia wanita payah yang tidak bisa memuaskan mu?" tuding Siska wajah Arum dengan sengit. Dia sangat kesal, disaat sudah diujung tanduk tapi ditinggalkan begitu saja. Arum hanya diam dalam pelukan Alex.


Alex hanya mengendikkan bahunya santai, yang terpenting baginya kini Arum ada disampingnya, dia berhasil menjebak Angkasa dengan memberikan zat yang mengandung obat terlarang didalam roti yang di beri Siska, dan itu bisa membuat Arum kembali tanpa dia harus bersusah payah mencari Arum.


Siska kembali masuk kekamarnya, dan tak lama keluar lagu sudah dengan pakaian lengkap. "Aku tidak akan pernah membuat hidup mu tenang, Arum, kamu wanita tidak berguna," ucapnya menatap Arum sengit sebelum keluar dari apartemen Alex.


Arum diam, rak berekspresi apapun, karena yang dikatakan Siska memang benar, dia wanita tidak berguna.


Setelah memastikan Siska keluar, Alex langsung menyeret Arum masuk kedalam kamarnya, menghempaskan tubuh Arum keatas tempat tidur, tempat tadi dia bergumul panas dengan Siska meski tidak menuntaskanya, kamar Alex sudah sangat kacau, aromanya saja sangat tidak enak, Arum sampai harus menahan nafas.


Pandangan Arum berpindah pada Alex yang kini membuka jubah yang menutupi tubuhnya, dan langsung terlihatlah milik Alex yang sudah sangat tegak berdiri itu, karena Alex tadi belum sempat memakai dalaman.


Arum menahan dada Alex saat Alex mulai merangkak dan naik keatas tubuhnya.


"Aku bau Lex, aku belum sempat membersihkan tubuh ku hari ini, dan mana mungkin kita melakukan ditempat yang sama bekas kamu berhubungan dengan perempuan lain. Ini sangat berantakan, baunya juga sangat tidak enak. Apa selama tidak ada aku kamu tidak pernah membersihkan apartemen mu?" Arum coba mengulur waktu, berharap Angkasa mengerti keadaan dan membaca surat yang ia buat dan mau menolongnya.


"Kamu coba mengulur waktu, Arum? Aku tidak akan melepaskan mu lagi kali ini, dan awas, jika kau berani mengulang yang kau lakukan, maka jangan harap bisa bertemu ibu mu lagi."


Arum menjadi gugup, harus bagaimana lagi dia mengulur waktu untuk mencari ponselnya dan berharap Angkasa benar-benar datang menolongnya.


"Lex, ini yang pertama untuk ku, bolehkah kalau aku minta tempat yang bersih, ada aroma wanita lain, itu mengganggu ku." Pinta Arum lagi menatap bola mata kecoklatan Alex, berharap Alex akan mengabulkan permintaanya.


Mendadak Alex menjadi tak tega, padahal biasanya ia paling suka melihat wajah kesakitan dan ketakutan Arum, dia juga membenarkan ucapan arum jika kamarnya berbau tak ssdap,

__ADS_1


"Satu jam" ucap Alex turun dari atas tubuh Arum dan berjalan menuju kamar mandi, "aku memberi mu waktu satu jam untuk mmebereskan kamar ini dan buatlah dia jadi harum." lanjutnya dan menghilang dibalik pintu kamar-mandi yang tertutup.


Arum menjadi sangat lega, dia tahu Alex orang yang baik, dia hanya menjadi korban keegoisan orang tua. Arum pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari tas dan kopernya yanh tertinggal. Namun tak ingin Alex curiga, Arum pun mulai membersihkan tempat tidur itu.


Arum membuka lemari tempat penyimpanan sprei Alex, dia mengacak seluruh isi lemari, berharap bisa menemukan tasnya, namun disana tidak ada, Arum kemudian berpindah ke lemari pakaian Alex, karena Alex sedang mandi, Arum berkesempatan membuka lemari pakaian berinisiatif mengambil pakaian untuk lelaki itu kenakan. Namun sayang, disana juga tak ada.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Arum cepat-cepat keluar agar Alex tak curiga, dengan membawa satu set sprei dan satu set pakaian untuk Alex.


Arum diam menatap tubuh Alex yang ditetesi buliran air dari rambutnya yang menetes. "Aku rasa kamu tidak butuh ini, Lex." Arum mengangkat tangan yang berisi pakaian Alex, menunjukkan pada Alex.


"Aku rasa aku membutuhkannya saat ini, apapun yang kamu siapkan, aku akan memakainya." Alex mengambilkan dari tangan Arum. Dan tanpa malu, melepaskan handuk yang menutupi asetnya didepan wajah Arum.


Arum membuang muka, merasa malu sendiri setiap Alex menunjukkan miliknya dihadapanya. Lalu berjalan menuju tempat tidur memasang seprei.


Diluar, Angkasa sudah tiba didepan apartemen Alex, menekan angka-angka yang sudah Arum beri tahu sebelumnya. Saat pintu apartemen terbuka, dia melihat Alex sedang m*****t bibir Arum dikamar Alex yang terbuka.


Angkasa tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari dua insan yang sedang bercumb* mesra itu, padahal dadanya terasa sesak bak dihimpit batu yang sangat besar, Alex begitu menikmati ciumanya dengan Arum, dan Arum sampai menjinjit untuk menyeimbangi serangan Alex.


Hingga Alex mendorong pintu kamar menggunakan kakinya, dan membawa Arum keatas tempat tidur, Alex sengaja membuat posisi Arum berada diatas tubuhnya dengan tanpa melepaskan ciumanya. Suara pintu yang ditendang membuat Arum terkejut dan melepaskan bibirnya dari Alex dan turun dari tubuh Alex.


"Captain Angkasa?" Arum terkejut karena ternyata Angkasa sudah sampai.


Angkasa tak mengindahkan Arum, dia mengambil langkah lebar, mendekat pada Alex, dan langsung menarik kerah baju Alex.


"Apa yang telah keluarga mu lakukan pada perusahaan keluarga ku, huh? Kalian ingin merebut perusahaan ayah ku?"


Alex tertawa menyebalkan dan mengangkat tangannya mengudara disisi kiri kanan bahunya. "Oh, santai Captain Angkasa Philips Hamzah. Ada apa kau datang marah-marah dan mengganggu kesenangan kami?" ucapnya santai.

__ADS_1


"B*****h, kau dan ayah mu bermain curang ingin menghancurkan perusahaan keluarga ku, huh?" Angaksa semakin menarik kerah baju Alex, wajahnya sudah merah karena marah, tangan Angkasa sudah mengepal ingin menghantam wajah menyebalkan Alex, nanum teriakan Arum membuat Angkasa tak fokus, dan dia merasakan hantaman benda keras mengenai punggangnya.


"Captain Angkasa."


* * *


Byurrrrrr


Siraman air pada wajah Angakasa membuat Angkasa membuka matanya, dan mengangkat kepalanya.


Meski samar dia bisa melihat saat ini Alex tertawa bersama seorang laki-laki tua yang Angkasa tak tahu siapa orang itu. Ketika pandangannya mulai dapat menyesuaikan dengan cahaya yang menyorot wajahnya, barulah dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dia tengah berada di suatu ruangan seperti gudang, ruangan ini begitu gelap dan pengap, hanya disinari cahaya lampu tembak yang menyorot tepat ke wajahnya.


Dan Angkasa juga melihat seorang wanita yang sedang diikat disebuah kursi, tangan dan mulutnya juga terikat sama seperti dirinya.


Siapa wanita itu?


"Dia yang bernama Angakasa, dia pilot, anak pemilik Airlangga Airlines tempat Arum dan aku bekerja. Tapi sayang dia sangat bodòh," Alex meludahi wajah Angkasa lalu tertawa.


Angakasa memejamkan matanya karena semburan air liur Alex yang menjij*kan itu, lalu menghempaskan wajahnya kesamping agar cairan kental berbau itu lepas dari wajahnya.


"Oh, jadi ini yang bernama Angakasa dan ingin merebut Arum dari mu?" tanya laki-laki itu.


"Apa Om sudi memiliki menantu tikus semacam dia? Mudah sekali dia masuk dalam jebakan, langkah mereka sangat mudah terbaca oleh ku." Alex tertawa, dan Angkasa menyimpulkan jika laki-laki tua bersama Alex itu adalah ayah Arum.


"Amatiran." Dikdik mencengkeram dagu Angkasa lalu menamparnya. "Untuk apa kamu ikut campur dalam urusan orang lain? Ingin sok jadi malaikat?"


Alex terkekeh, selalu suka dengan orang disiksa. "Om suka permainan yang aku berikan ini? Kalau Om suka lanjutkan, aku juga ingin melanjutkan acara ku dengan Arum yang sempat tertunda karena kedatangan tikus tak berguna ini."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Alex pergi meninggalkan Angkasa dan Dikdik, menyerahkan Angkasa pada Dikdik, karena dia sudah tak tahan, ingin segera mengeksekusi Arum, kali ini tak boleh tertunda lagi.


__ADS_2