
Selesai dari sarapan bersama, Arum menyiapkan lima puluh bungkus roti yang dipesan Awan, memasukkan kedalam kotak, dan papar bag. Lalu memberikannya pada Awan.
"Terima kasih sudah menjadi pelanggan pertama hari ini, dan sudah memborong roti ku, mas Awan," kata Arum tetunduk, sungguh dia sangat malu mengucapkan itu.
Tadi Awan mengirimkannya pesan, dan meminta tolong, agar Arum memanggilnya dengan panggilan sayang. Arum menurut saja.
Angkasa yang sedang memantau para pekerja yang tadi meletakkan barang-barang yang ia bawa, mengepalkan tanganya mendengar panggilan mesra Arum pada Awan, dia memejam kuat untuk meredam sesak didadanya.
Tak lama Awan pamit. "Aku duluan ya," pamitnya pada Angkasa, menepuk pundak Angkasa.
Awan berjalan menuju mobilnya diantarkan Arum.
"Ehem," Angkasa berdehem, Arum menghentikan langkahnya berbalik menatap Angkasa, "Captain kenapa?" tanya Arum khawatir.
"Tenggorokan ku sepertinya kering," ucap Angkasa mengusap tenggorokannya.
"Maaf, saya belum menyediakan air buat Captain, kalau begitu saya ambilkan air putih." Arum berjalan menuju dapur.
Angkasa segera menyusul Awan.
"Mana roti yang diberi Arum tadi?" Angkasa mengambil paper bag dari tangan Awan.
"Eh, apa-apaan?" Awan ingin mengambil paperbag yang direbut Angkasa, tapi langsung disembunyikan oleh Angkasa. Angkasa membawanya menuju mobilnya, memilah mana saja yang rasa srikaya. Lalu sisanya ia berikan lagi pada Awan.
Awan melongokkan kepalanya pada paperbag itu. Awan tersenyum menatap serius pada wajah saudara kembarnya, yang sangat mirip dengannya.
"Aku benar-benar menyukai Arum, tak perduli masa lalu Arum seperti apa? Tak perduli Arum masih memiliki rasa pada Alex, tapi aku akan mengubah ras itu, dan Arum hanya akan melihat aku, tak ada laki-laki lain. Aku akan menjadi satu-satunya laki-laki yang akan melindunginya, dan tak akan pernah melepaskannya. Apapun yang terjadi, tak akan aku biarkan seoarang pun yang akan mengganggu Arum." katanya tegas.
Kemudian berlalu masuk kedalam mobilnya setelah mengatakan itu. Meninggalkan Angkasa yang masih diam di tempat.
"Hati-hati mas, Awan." Arum melambaikan tanganya mengantar kepergian Awan, tak tahu saja dia jika hal itu menyiram api yang sedang berkobar. Awan membalasnya dengan membunyikan klakson.
__ADS_1
"Capt, ini air minumnya." Arum menyodorkan secangkir air putih. Angkasa hanya menatapnya dalam diam.
"Tidak ada air kemasan?"
Arum menatap air ditangannya, apa Angkasa tidak suka air dari cangkirnya.
"Kalau begitu saya belikan."
"Tidak perlu. Minum dulu, baru aku akan meminumnya." Arum diam, matanya berkedip, otaknya sedang memikirkan ucapan Angkasa. Arum tersenyum getir, Angkasa takut ia guna-guna? pikirnya, oh astaga.
Dengan menatap Angkasa tajam, Arum menempelkan cangkir ke bibirnya, air putih itu berpindah kedalam mulutnya separoh. Tanpa pikir panjang lagi, Angkasa yang sedang tersulut emosi, ditambah melihat leher Arum yang bergerak naik turun membasahi kerongkonganya, membuat Angkasa gelap mata.
Ditariknya tengkuk Arum, dan merebut paksa air itu dari dalam mulut Arum tanpa rasa jijik. Arum terbelalak, terkejut dengan yang Angkasa lakukan. Kemudian Angkasa menjauhkan bibirnya dari bibir Arum yang kini terasa kaku seperti terkena struk.
Dengan santai Angkasa mengusap bibirnya yang basah. "Ada manis-manisnya," ucapnya. Kini Arum yang ditinggalkan begitu saja. Arum bahkan seperti boneka manekin, tak bergerak sama sekali, jantungnya pun terasa berhenti berdetak persekian detik.
* * *
"Loh, Rein. Kamu gak jadi kerja? Kok pulang?"
Tak ada sahutan, Voni ikut menyusul ke kamar Reini yang ada dilantai dua. Dia merasa ada yang tak beres dengan anaknya, Reini seperti menangis.
Voni mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar, melongokkan sedikit kepala, dilihatnya Reini sedang duduk membelakanginya sambil memukul-mukul bantal bee pemberian Awan, yang Voni tahu.
Voni menghampiri dan duduk dibelakang Reini.
"Kenapa, ada masalah sama Awan?" tanyanya lembut, mengusap bahu Reini dari belakang.
"Reini sebel sama Awan, dari jutaan wanita yang ada di Indonesia ini, kenapa Arum yang harus jadi calon istrinya, Awan?" ucapnya kesal, mengusap pipi basahnya menggunakan lengan, meninggalkan bekas foundatoin di seragam kesayangannya.
"Kamu kesal dengan wanita yang akan jadi calon istri Awan, apa kesal Awan akan menikah?" tanya Voni, masih mengusap punggung anaknya yang membelakanginya. Pertanyaan itu memancing rasa ingin tahu perasaan anaknya yang sebenarnya. "Sikap kamu kayak orang cemburu," lanjut Voni.
__ADS_1
"Ma, Mama tahu Arum itu siapa?" Reini memutar tubuh jadi menghadap mamanya. "Arum itu pramugari yang dekat sama Alex, pilot yang hampir buat nyawa Angkasa melayang," katanya dengan nada menggebu, "nah, kalau begitu, Awan tahu nggak sih? pramugari mana saja yang sudah dekat sama Alex, artinya wanita itu sudah nggak segel lagi," jelasnya.
"Astaga, kalau begitu kamu harus gagalkan rencana Awan ingin memperkenalkan Arum pada keluarganya," Voni mengeluarkan sebuah undangan, "Awan kirim undangan ulang tahunnya, dua hari lagi. Kamu harus kasih tahu Awan. Tapi jika Awan menerima Arum apa adanya, kamu harus terima." Voni memberi ide, sekaligus agar anaknya legowo dengan keputusan Awan. Memberikan undangan berwarna biru ke telapak tangan anaknya.
Reini melihat undangan itu.
"Seumur-umur, Awan bahkan nggak mau di kasih kejutan, apalagi merayakan ulang tahun. Demi ngenalin Arum, dia bikin acara ulang tahun segala. Ini juga, kenapa kasih undanganya nggak langsung ke Reini? Awan benar-benar berubah," kesal Reini.
"Nggak bisa pokoknya. Reini nggak setuju Awan sama Arum?" kata Reini, menunjukkan wajah tak sukanya, lalu menyandarkan kepalanya di pundak sang mama.
"Rein, kamu ini kenapa sebenarnya? Kamu suka sama, Awan? Kamu cemburu?" tebakanya langsung.
Reini mengangkat kepalanya. "Ma, Reini nggak suka sama, Awan. Ini tuh sikap peduli Reini sama Awan, karena Reini dekat sama Awan."
"Tapi yang Mama dengar, Awan berubah semenjak ingin mempersunting wanita itu, wanita itu membuat Awan banyak berubah ke hal positif. Bagaimana donk, berarti wanita itu sangat berarti buat Awan." Voni malah memanasi.
Dia sendiri gregetan selama ini dengan anaknya, bukan dia tidak tahu, antara Reini, Awan dan Angkasa. Tapi ia tak ingin ikut campur saja, melihat sikap anaknya seperti ini, Voni yakin jika sebenarnya anaknya juga memiliki rasa pada Awan, hanya saja dia gengsi mengakui perasaannya, karena Awan bukan pilot seperti Angkasa.
* * *
"Nanti Nona mau kasih kado apa, buat saudara kembar tuan Angkasa?" tanya Andini merapikan letak roti. Hari ini dia tidak ada pasien, jadi dari pagi dia menemani Arum. "Ulang tahun saudara tuan Angkasa, berarti ulang tahun tuan Angkasa juga," ucap Andini lagi, "kadonya berarti dua, kalau untuk tuan Angkasa, apa Nona tidak mau memberinya hadiah?"
Tidak ada jawaban, Andini menoleh pada Arum yang diam termenung. "Nona, Nona ada apa?" tanya Andini menenglengkan kepalanya agar bisa melihat Arum. "Nona." Andini mengguncang lengan Arum, Arum baru tersadar dari lamunannya.
"Hah, iya. Ada apa, Sus?"
"Nona mau kasih hadiah apa buat ulang tahun si kembar?"
Arum menggeleng. Dia benar-benar tak tahu harus memberi hadiah apa, sedang kini dikepalanya banyak sekali pikiran akibat ulah sikembar padanya, Awan yang mengaku-ngaku sebagai calon suaminya, tadi Angkasa yang tiba-tiba menyiumnya.
Arum meraba bibirnya, masih terasa jelas hangat lembutnya bibir Angkasa yang menempel dibibirnya, yang sempat membuatnya seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi, hingga membuatnya lupa bernafas.
__ADS_1