
"Oke, Ayah terima keputusan kamu," Abian menyetujui. "Apa kamu sudah menjatuhkan talak pada Reini?"
Awan menggeleng.
"Apa yang sebenarnya kamu rasakan selama ini? Bahagia?"
"Awan nggak tahu, Yah." Awan juga bingung dengan yang dia rasakan saat ini.
"Papa tidak mengerti pepatah yang dimiliki kereta api. 'Jika ditengah perjalanan tujuan mu berubah, tidak ada salahnya berputar arah. Lebih baik memulai dari awal, daripada tiba ditujuan salah'. Ayah hanya paham pepatah pesawat. 'Ketika semua terlihat berlawanan dengan mu, ingatlah bahwa pesawat terbang melawan angin, bukan mengikuti arus angin."
Awan menatap sang ayah tak paham.
"Salahnya Ayah, kenapa tidak mengatakan hal seriskan ini padamu diawal sebelum kamu menikah."
Awan menaikkan sebelah alisnya, makin tak paham kemana arah pembicaraan ayahnya. Kenapa ayahnya jadi berteka-teki, sungguh otaknya saat ini sedang tumpul, bahkan lebih tajam paku payung dibandingkan otaknya sekarang. Diajak ngobrol tentang pepatah, otaknya serasa mau pecah.
"Wan, laki-laki jika ingin melatih sabar yang tiada batas, ya menikah," Abian membisikkan kata-kata ditelinga Awan, takut didengar sang istri.
Delia sudah menatap awas, penasaran apa yang ingin dikatakan suaminya pada anak mereka. "Resiko terbesar menikah adalah, meng-ha-da-pi kebengkokan wanita."
Hahahaha Abian terbahak sendiri setelah mengatakan itu, hingga matanya berair, Delia makin penasaran saja.
"Apa sih, Bi? Kok kamu main bisik-bisik sama Awan?" ujarnya kepo.
Sedang Awan diam, memikirkan lagi apa yang diucapkan ayahnya barusan.
Abian melambaikan tanganya pada Delia sambil terkikik. "Tidak ada apa-apa sayang. Aku hanya memberi saran pada Awan, jangan ada masalah sedikit langsung memutuskan berpisah, sedang ujian pernikahan itu tiada akhir, sampai kita menghembuskan nafas terakhir, kecuali pasangan kita sudah berkhianat, baru jangan minta pendapat kiri, kanan, depan belakang. Yang suaminya memakai narkoboy dan dipenjara saja masih bisa bertahan. Masa cuma istrinya bengkok sedikit otaknya, Awan mau menyerah." Abian menekan beberapa kali matanya yang berair.
Tidak ada yang tahu jika didalam hatinya begitu sedih jika anaknya sampai berpisah, sedang mungkin Awan tersiksa dengan kelakuan istrinya. Sebagai orang tua, dia hanya ingin sedikit meluruskan apa itu makna pernikahan.
Jika menikah semudah mengucapkan kata berpisah, maka pernikahan tidak akan bermakna sama sekali. Pernikahan hanya dijadikan status, dan ajang lomba, yang terpenting, aku sudah pernah menikah.
Abian menghentikan tawanya. Lalu menepuk lutut Awan.
"Nak, Ayah bukan ingin menyiksa batin kamu, Ayah hanya ingin kamu pikirkan lagi. Yang namanya menikah, mau dengan siapapun kita menikah, ujian tetap ada. Hanya berbeda jenis ujianya. Kecuali kadeerte dan perselingkuhan, Ayah tidak bisa memaklumi itu, tapi tergantung yang menjalani."
"Saran Ayah, berilah Reini kesempatan satu kali lagi. Dengan syarat yang Ayah ajukan, bukan Ayah ikut campur, hanya saja Ayah ingin kalian tumbuh lebih dewasa."
Sekarang, papa Philips Hamzah sudah tidak ada lagi, Abianlah yang berperan penting sebagai laki-laki dalam pondasi keluarga, menggantikan ayahnya yang selalu berpikir bijak, dan berpikir luas.
"Apa syarat yang Ayah ajukan?" tanya Awan setelah berpikir.
Delia juga menunggu apa permintaan suaminya, sejak tadi dia memilih diam, biarlah Abian yang memberikan saran untuk Awan, dia akan setuju saja.
"Ayah minta, tunda setahun lagi jika kalian ingin bercerai, jangan ucapkan talak dulu pada Reini. Hanya satu tahun, Nak. Bersabarlah." Pintanya sungguh-sungguh.
"Yah, aku sudah cukup bersabar selama setahun ini, sabar yang seperti apa lagi?" Awan protes. Dia rasa sudah cukup dia bersabar pada Reini.
"Ayah akan menjelaskan dengan Reini, dan juga orangtuanya jika yang dia lihat pagi itu antara kamu dan Andini tidak terjadi apa-apa. Sekarang kita kerumah papa Rendy," jelas Abian. "Apa kamu ada komunikasi dengan Reini setelah kejadian itu?"
Awan menggeleng. "Tidak ada," jawab Awan cepat.
"Astaga." Abian mengucap, menggeleng heran.
Dasar anak muda, egoisnya masih tinggi.
"Yasudah, sebaiknya kita kerumah Rendy sekarang, Sayang," ajaknya pada Delia. Delia pun mengangguk.
Saat itu juga Abian, Delia, dan juga Awan pergi ke kediaman keluarga Reini. Saat sudah didepan pintu, suara cempreng Aira memanggil.
"Mama sama Ayah mau kemana?" tanya Aira turun dari tangga. "Ada Kak Awan? Kakak apa kabar?" Aira berlari kecil, menghampiri kakaknya, dan memeluk Awan. "Kangeenn."
"Kamu bau kecut." Awan menutup hidung, menjauhkan tubuh Aira yang memeluknya.
Aira mengerucutkan bibirnya. "Aku habis dari toko kak Arum tahu, bantuin kak Arum. Dia keteteran."
"Belakangan dia sering bantu Arum, tahu kenapa tiba-tiba suka ke toko Arum." Delia memberitahu, juga heran.
"Ih, Mama. Bocorin aja." Cengengesan pada Awan, lalu gelendotan di lengan kekar sang kakak. Dulu sering sekali memperkenalkan pada teman-temannya kalau Awan atau Angkasa sebagai pacar.
Eh, tapi Angkasa belum sempat, padahal dia ingin sekali menyombongkan pada teman-temannya jika dia punya pacar pilot. Tapi saat itu Angkasa sudah mengenal Arum, dan banyak tertimpa masalah.
"Nggak papa kalau kamu punya pacar, asal tetap bisa jaga diri." Mengusak rambut adiknya sayang.
"Pasti donk, Aira pasti jadi anak yang membanggakan buat Ayah sama Mama. Meski masih pengangguran."
__ADS_1
"Kapan wisudanya?" tanya Awan. Ingat jika adiknya belum wisuda.
"Bulan depan, Kakak datang ya? Awas kalau nggak datang." Mengancam.
Awan terkekeh. "Iya, bawel."
"Mama sama Ayah pergi dulu, mandi gih, benar kata Kakak kamu, kamu bau kecut." Delia ikut menekan hidungnya.
"Sudah punya pacar kok bau, yang ada pacarnya lari." Ledek Awan.
"Eh jangan salah, justru dia tergila-gila sama bau Aira."
"Cowok kamu nggak normal."
"Nggak tahu juga sih, belum nyobain." Nyengir, mendapat pelotototan ibu negara. "Enggak Ma, Aira pasti jaga nama baik Mama dan Papa sampai halal pokoknya." Aira berkata sambil terus tersenyum, sangat terlihat jika dia sedang kasmaran.
"Kakak pinjam Mama sama Ayah dulu. Kamu jaga rumah, jangan sampai ada maling." Aira mengangguk patuh. "Pinter, uang jajan nanti Kakak transfer."
"Bener Kak?" mata Aira langsung berbinar.
"Hem, makanya jadi anak gadis yang baik." Aira mengacungkan jempol.
"Sip."
Awan dan Abian juga Delia berpamitan, dan naik dalam satu mobil milik Awan.
Aira menatap kepergian Awan dan orang tua mereka, dia tahu apa yang tengah dihadapi sang kakak, merasa kasihan, tapi tak bisa berkata apa-apa. Sebab Delia melarang siapapun ikut campur urusan rumah tangga saudaranya.
"Semoga ada jalan terbaik buat kakak, Amiin." mengusap kedua telapak tangannya kewajah.
* * *
"Awan sudah beberapa hari tidak bertemu Andini, dia baik-baik saja kan, Ma?"
"Iya," sahut Delia. "Setelah menceritakan pada Mama dan Ayah masalah waktu itu, dia merasa lega, karena Ayah sama Mama percaya padanya. Sekarang dia sibuk di klinik tante Denisa."
"Syukurlah, karena memang kami tidak ada hubungan apa-apa."
"Bagus kalau begitu, yang sudah jadi saudara, anggap saudara sendiri. Cari jodoh diluar, wanita banyak diluaran sana. Ya tapi kalau memang sudah jodoh kalian, mau bagaimana lagi?"
"Gimana sih, katanya suruh balikan sama Reini." Cibir Delia protes.
"Itu kalau jodoh Awan dan Reini sudah tidak ada jodohnya sayang." Ralatnya.
Hampir satu jam, Awan tiba dirumah orang tua Reini. Dari luar rumah itu nampak sepi, seperti tak ada penghuninya.
Delia turun lebih dulu untuk mengecek kondisi rumah sang besan. Mengetuk pintu rumah Voni, diketukan ke tiga, pintu dibuka.
"Eh, Nyonya Delia. Silahkan masuk, Nyonya." Pembantu Voni yang membukakan.
"Voni dirumah?"
"Ada Nyonya didalam, tuan Rendy sedang tidak enak badan." Adunya.
Delia mengangguk, kemudian memanggil Abian dan Awan.
Delia, bersama Awan dan Abian masuk, lalu menunggu Voni keluar.
"Delia, maaf menunggu lama." Voni keluar dari kamar, agak terkejut dengan kedatangan Delia dan Abian. Tapi sudah bisa menebak jika akan membicarakan perceraian anak mereka.
"Rendy mana, Von?" tanya Abian.
"Mas Rendy sedang sakit, nggak bisa keluar," Voni tersenyum tak enak. "Silahkan diminum tehnya." Mempersilahkan.
Ketiganya mengangguk, lalu menyesap sedikit teh yang disajikan sang empu rumah.
Awan meneliti setiap sudut ruang mertuanya, jujur saja hatinya tiba-tiba rindu dengan sosok Reini. Dan Abian melihat itu.
"Rendy sudah dibawa kerumah sakit?" Abian bertanya lagi.
"Mas Rendynya belum mau."
Abian mengangguk. Lalu menatap sang istri agar bicara pada Voni lebih dulu sebagai sesama wanita, dan sebagai seorang ibu.
"Emm, Von. Kedatangan kami kesini ramai-ramai ada yang ingin kami bicarakan. Apa bisa kami bertemu Rendy, dan juga Reini?"
__ADS_1
Voni mengangguk. "Boleh Delia, aku panggilkan Reini dulu."
Voni beranjak lemah, dipikirnya kedatangan Abian dan Delia ingin membahas perpisahan anak mereka. Sungguh jauh-jauh hari dia sudah mempersiapkan ini, tapi tetap saja merasa berat hati, apalagi menyadari ini kesalahan besar anaknya.
Sudah beberapa hari ini juga Voni melarang Reini menghubungi Awan. Melarang Reini meminta kesempatan kedua pada Awan, sebab kesempatan itu sudah Reini sia-siakan begitu saja, tak ingin Awan membuang waktunya demi Reini, dan meminta Reini siap jika Awan menjatuhkan kata pisah padanya.
Tak lama, Voni turun bersama Reini, wajah Reini terlihat sembab dan terus menunduk, malu bertemu Awan dan keluarganya.
Melihat itu, hati Awan berdenyut sakit, melihat tubuh Reini yang begitu kurus, perasaan beberapa hari kemarin, Reini masih terlihat segaran.
Berbagai rasa muncul dihati Awan, rasa bersalah, rasa iba, rasa rindu, tapi juga kesal menjadi satu. Tapi satu yang tidak Awan sadari, jika masih ada debar di dadanya melihat wajah Reini. Namun sayang, Reini justru terus menundukkan pandanganya, membuat Awan penasaran, dan ingin melihat wajah menyebalkan tapi merindukan istrinya.
Reini menyalami tangan Delia, Abian, dan juga Awan masih dengan tetap menundukkan pandanganya, tak berani menatap wajah laki-laki yang masih sah menjadi suaminya.
Kemudian Voni keluar dari kamarnya, menuntun sang suami yang memang terlihat pucat. Abian dan Awan sigap membantu menuntun Rendy berjalan.
"Biar kami saja, Ma," kata Awan menggantikan Voni. Voni mengangguk, menyerahkan tugasnya pada sang menantu.
"Badan mu terasa panas, Ren. Apa sudah berobat?" tanya Abian mendudukkan Rendy di sofa.
"Kamu tahu, aku malas sekali bertemu dokter, nanti badan ku manja, dan mau bertemu dokter lagi," jawab Rendy masih sempat terkekeh.
Sakitnya Rendy sudah pasti memikirkan rumah tangga anaknya, orang tua mana yang ingin anak mereka berpisah. Juga penyesalan atas apa yang sudah dilakukannya pada Reini. Seumur hidupnya, baru kali ini Rendy menghukum sang anak dengan cara kekerasan, sebagai bentuk pengajaran pada Reini.
"Kita sudah tua, sudah pasti akan sering rindu, atau bertemu dokter, minimal sebulan sekali, apalagi dokternya masih muda, bagai refreshing untuk otak kita yang sudah tua." Canda Abian.
"Oh begitu? Refreshing ya?" Delia memberikan tatapan menghunus, yang mendapat kekehan dari besan mereka.
"Aku cuma bercanda sayang, jangan terlalu dibawa serius." Merangkul pundak sang istri.
Rendy dan Voni ikut terkekeh. Tapi tidak dengan anak mereka, Awan tengah mencuri pandang pada Reini yang terus menunduk.
"Rein, apa kabar? Kamu terlihat kurusan." Delia menyapa Reini.
"Baik, Ma," jawabnya menatap sang mertua, tapi tak lama ia menundukkan wajahnya lagi.
Reini memang terlihat kurusan, sebab merasakan keganasan bagaimana Rendy saat marah. Selain selalu disalahkan, Reini juga mendapat hukuman dari Rendy tak boleh memegang ponsel yang membuatnya tak nafsu makan.
"Begini, Ren, langsung pada intinya saja ya. Tujuan kami datang kesini, bukan untuk ikut campur masalah rumah tangga anak kita. Tapi untuk meluruskan kesalah pahaman yang terjadi antara Andini dan Awan yang dilihat Reini," kata Abian. "Mereka murni tidak ada hubungan apa-apa, aku berani menjaminya," jelas Abian.
"Iya, aku percaya, Abian. Awan tidak akan mengkhianati Reini."
"Sebagai orang tua, aku ingin kita menjadi mediasi pertama untuk mereka sebelum sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi." Lanjut Abian.
"Rein, Awan," panggil Abian pada Awan dan Reini. Awan dan Reini menatap Abian.
"Ayah ingin kalian untuk introspeksi selama setahun ini. Tidak harus serumah, terserah kalian mau pulang kemana, untuk nafkah, Awan harus tetap memberikan itu. Hanya satu tahun ini, Ayah minta jaga kesetiaan kalian. Setelah setahun ini, kalian pikirkan baik-baik, dan jika kalian merasa memang tidak ada kecocokan, silahkan ambil keputusan, Ayah tidak akan melarang lagi."
Abian menatap Rendy. "Bagaimana Ren, kamu setuju? Biarlah Reini bekerja ditempat yang dia mau," Abian berpindah menatap Reini. "Ayah memberi mu kesempatan setahun ini, Rein."
Ada rasa kelegaan dihati Rendy, sangat senang tentunya. "Aku sangat setuju, Abian. Terima kasih banyak atas saran mu ini. Semoga ada jalan terbaik untuk mereka, bagaimana Rein, Wan. Apa kalian mau?"
"Awan ikut Ayah saja, tapi ..." Awan menatap Reini.
"Aku setuju," jawab Reini menghindari tatapan Awan, beralih menatap Abian. "Tapi Reini tidak bisa menjanjikan apa-apa, Yah."
"Tidak apa, kalian mau berusaha saja, dan bekerja sama, Ayah senang."
"Kalian ingin tinggal dimana?" tanya Delia dan Voni bersamaan.
"Untuk sementara, kami akan tinggal masing-masing, Ma," Reini memutuskan. "Kami butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Alhamdulilah," ucap Voni dan Delia kompak. kedua wanita yang sudah bersahabat itu berpelukan.
Abian tidak membuat perjanjian itu hanya dalam ucapan saja, tapi dia sudah mempersiapkan hitam diatas putih dibubuhi materai sebagai penguat.
*
*
*
*
Maaf jika cara pandang berumah tangga ada yang tidak sejalan. Hanya cerita, baik dan buruknya, ambil yang yang baik saja.
__ADS_1