
Dikediaman Abian. Pekarangan rumah besar itu nampak penuh terparkir mobil-mobil mewah, setelah kejadian yang mengejutkan banyak orang, para keluarga besar dan sahabat terdekat mereka berkunjung untuk melihat keadaan Angkasa.
"Angkasa, kamu nggak papa? Astaga, luka kamu banyak sekali," Reini yang baru datang bersama kedua orang tuanya itu langsung menghampiri Angkasa yang sedang diobati lukanya oleh sang tante, Denisa.
Raut wajah Reini terlihat begitu khawatir, dia menatap pilu Angkasa, tangan halusnya ingin menyentuh luka dipipi Angkasa, tapi Angkasa sontak menjauhkan wajahnya, entah karena dia takut sakit, risih atas perhatian wanita yang ia hindari, atau dia menjaga hati saudara kembarnya.
"Aku nggak papa, ini cuma luka kecil," sahut Angkasa.
"Anak laki memang harus seperti itu, nggak boleh lembek." Denisa menimpali.
Daniel yang juga ada disana, yang duduk disisi lain bersama para orang tua, seperti Abian, Rendy, dan Mahesa. Tak sengaja melihat Awan yang baru turun dari kamarnya, Awan menghentikan langkahnya dengan pandangan lurus, Daniel mengikuti arah pandang Awan, ternyata keponakannya itu sedang memperhatikan Angkasa dan Reini. Sebagai cassanova, dia tahu, jika Awan sedang cemburu pada saudara kembarnya.
Daniel tersenyum penuh arti, sepertinya dia mendapat mainan baru.
"Kamu begini gara-gara nyelametin Arum? Kamu tega sekali sih Ang. Kalau aku yang begitu, kamu bakal nyelametin aku juga nggak?"
"Bukan karena Arum, tapi karena Arum ingin menunjukkan bukti itu." Jawab Angkasa yang tentu berbanding terbalik dengan kenyataannya.
"Selama kamu kerja, apa kamu tidak pernah dengar gosip-gosip seperti itu, Rein? Biasanya kan, kalau gosip seperti itu, sangat cepat menyebarnya." Tanya Rendy pada anaknya.
"Reini kan nggak mau ikut campur urusan orang, Pa. Meski bisa aja Reini ngelaporin hal ini. Tapi itu urusan masing-masing, setiap perbuatan buruk pasti kena batunya sendiri," jawab Reini dengan nada ketusnya seperti biasa.
Awan tersenyum sendiri mendengar jawaban Reini, baginya apapun yang keluar dari mulut Reini, itu lucu.
"Tante, lengan Awan ada sakit, tolong periksain lengan Awan tante." Awan turun menghampiri Denisa, menyingsing lengan kemejanya. "Hai Rein, aku kemarin ikut menyelamatkan Angkasa juga."
"Terus?" Reni tak peka.
"Ya nggak papa." Sahut Awan.
Daniel tertawa terbahak, sungguh menggemaskan para keponakannya ini, drama apa yang sedang dia tonton tapi orang sekitar tak ada yang paham?
Kecuali Delia. Delia tahu apa saja yang terjadi pada anak-anaknya, tapi ia memaklumi itu, anak-anaknya tidak akan bertengkar hanya karena masalah wanita. Mereka cukup dewasa menanggapi hal ini.
__ADS_1
Semuanya menatap heran pada Daniel.
"Kenapa sih, orang lagi serius juga." Sungut Abian, sudah setua ini, mereka masih saja suka bertengkar.
"Nggak papa, sorry-sorry," ujarnya masih dengan sisa tawanya.
"Lagian Bi. Kamu kok bisa sih, kecolongan begitu? Ini untung loh ada yang berani ngerekam perbuatan mereka, jadi bisa buat bukti kuat, bagaimana kalo enggak? Perusahaan yang sudah dibangun papa kamu, bisa hancur." Protes Delia marah pada Abian, sekarang dia bisa mengendalikan emosinya setelah tahu kabar penyekapan Angkasa, dan di jebaknya Angkasa.
"Aku sih percaya saja sayang sama pak Axel. Dia kan orang kepercayaan Papa juga, yang sudah menyelamatkan perusahaan kita waktu kita kecelakaan dulu. Ya nggak disangka aja, dia melakukan kecurangan, membeli mobil tanpa sepengetahuan kita. Dan aku juga nggak menyangka jika dia juga sampai mengedarkan obat terlarang." Jawab Abian membela diri, karena memang dia hanya mengontrol jalanya perusahaan, menurutnya selagi keuangan masih stabil, berarti tak ada masalah apapun.
"Terus sih Arum itu bebas, Om? Kan dia seharusnya ikut ditangkap, Arum itu ada main sama Alex disaat jam kerja, gosipnya," lirih Reini diujung kalimatnya.
Angkasa menunduk, menahan perih mendengar kenyataan jika memang Arum sering melakukan itu dengan Alex. Padahal dulu dia sering menepis kabar buruk itu, dan tak mempermasalahkan, tapi berkali-kali melihat mereka berciuman dengan mata kepalanya sendiri, Angkasa jadi gamang dan enggan menemui Arum.
"Kamu jangan fitnah kalau nggak ada buktinya, sayang," tegur Voni. "Kalau memang itu kenyataannya, seharusnya kamu selidiki, dan laporkan kejadian ini sama om Abian langsung."
"Mereka belum menikah, sama-sama single. Jadi kita tidak bisa menegur mereka juga jika mereka melakukan diluar ja kerja," sahut Abian, karena peraturan yang tertera, mereka yang sudah memiliki pasangan yang mendapat sangsi pemecatan jika ketahuan selingkuh di lingkungan kerja.
"Tuh kan, Reini disalahin. Gimana Reini mau ngadu masalah dilapangan, nanti di kata fitnah."
"Sekarang, bagaimana kabar pramugari yang bernama Arum itu?" tanya Daniel ingin tahu, dia melirik Angakasa, "apa dia masih gabung di Airlangga Airlines?"
"Dia mengundurkan diri, aku sempat menawarinya untuk kembali bergabung, tapi sepertinya dia menyadari kemampuannya bukan di dunia penerbangan."
"Baguslah kalau dia sadar, lagian kenapa harus menempuh jalan pintas kalau memang tidak mampu," ketus Delia, "dulu Mama berjuang mati-matian buat jadi pramugari, baru ini Mama dengar yang begituan, kalau memang sudah mencoba tapi gagal terus, berarti bukan rejeki dia, kenapa sampai harus jual diri."
Delia terlanjur kecewa dengan Arum, mungkin sebagai seorang ibu, dia tak rela dan sakit melihat anaknya sampai babak belur seperti itu, meski sampai tidak kehilangan nyawanya, tapi jika tidak ada bala bantuan, bisa saja dia kehilangan anak kesayangannya.
* * *
Diri memang coba mengabaikan, tapi hati tak bisa di bohongi. Angkasa duduk di balkon, ditutupnya mata kuat-kuat, menengadah, mengarah pada langit yang gelap, coba menghilangkan bayang-bayang ketika wanita yang dicintai sedang di cumbu oleh laki-laki yang tak disukainya.
Bisa Angkasa menerima itu, tapi mendengar permintaan Arum yang sampai menemui ayahnya secara pribadi, meminta agar laki-laki yang hampir membuat nyawa mereka melayang, bukan hanya dia dan Arum, tapi laki-laki itu juga menyekap ibunya, untuk mendapat pengobatan selama laki-laki itu mendekap di tahanan. Angkasa tak habis pikir lagi dengan yang dipikirkan Arum.
__ADS_1
Sebegitu besarnya rasa cintanya pada Alex? Lagi-lagi pertanyaan itu yang muncul dalam benak Angkasa.
Rasanya, jika dia berjuang sampai titik darah penghabisan pun, Arum tak akan berpihak kepadanya.
Esok paginya, Angkasa membawa sebuah kotak coklat menuju halaman belakang rumahnya. Digalinya tanah dibawah pohon rambutan yang rindang dan tak terlalu tinggi, tapi memiliki buah yang cukup lebat.
"Kakak ngapain, sih?" gumam Aira yang mengikuti Angkasa sejak keluar dari kamarnya. Penasaran, gadis cantik yang mewarisi wajah mama dan ayahnya itu menghampiri Angkasa.
"Itu apa Kak yang di kubur?" tanyanya. Angakasa sempat terkejut karena kepergok adiknya, tapi ia mencoba santai.
"Nggak ada."
Aira mencebik. "Aira lihat loh, foto mantan ya? Emang Kakak punya mantan?"
"Anak kecil jangan suka kepo, nanti cepet tua." Angkasa mengusak rambut panjang sang adik, kemudian meninggalkan Aira yang masih menatap gundukan tanah yang diberi tanda pita coklat itu.
"Apa sih isinya?" penasaran Aira.
"Jangan dibongkar, awas kalau sampai isinya hilang."
"Berarti boleh dilihat, yang penting isinya nggak hilang." Aira cekikikan.
"Aira, jangan coba-coba." Peringati Angkasa dari balik pintu belakang.
* * *
Dipagar rumah Arum, sudah terpasang tulisan 'Disewakan'
Arum dan mamanya sedang menunggu taksi yang akan mengantarkan mereka ke tempat rumah kontrakan yang akan dijadikan tempat tinggal barunya. Arum memutuskan untuk pindah, karena dirumah ini terlalu banyak kenangan pahit untuknya, lagi pula, rumah besar dikompleks perumahan mewah seperti ini, sudah pasti membutuhkan biaya besar perbulanya.
Keputusan Arum yang meninggalkan profesi yang di cita-cita kan mamanya, sudah pasti berimbas pada penghasilannya juga. Dia memutuskan untuk pindah, dan membuka usaha baru.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat didepan mereka. Kaca depan bagian kemudi diturunkan. Seorang laki-laki berusia setengah abad namun masih terlihat sangat tampan itu menyapanya.
__ADS_1
"Hai, Arum," sapanya ramah. Arum mengernyit, coba mengingat orang yang menyapanya sok akrab ini, sepertinya dia pernah melihat orang tersebut, tapi lupa kapan dan dimana? Belum sempat Arum mengingat, seorang laki-laki turun dari sisi lain mobil menghampirinya.
"Captain?" Arum terkejut tak percaya. Pasalnya, beberapa hari lalu Angkasa bersikap dingin dan cuek padanya, dihampiri oleh Angkasa tiba-tiba tentu saja dia sangat bahagia.