
Angkasa terlihat begitu tegang, keringat mengucur di keningnya.
"Huha, huha, huha." Berulangkali ia mengatur nafas, mengikuti instruksi dokter yang membimbing Arum, seperti dia yang mau melahirkan. Tanganya menggenggam erat tangan Arum, menyalurkan kekuatan.
Setelah dua hari dua malam, akhirnya Arum bisa pindah ke ruang persalinan saat pembukaanya sampai pada pembukaan sempurna. Angkasa diizinkan menemani Arum saat persalinan. Perjuangan yang cukup panjang untuk Arum, setelah merasakan mulas dua hari dua malam, bukanlah perkara mudah, dengan sabar ia menunggu dan mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter, ditengah ketidak sabaran suaminya yang takut melebihi dirinya. Bahkan dia yang harus menenangkan hati sang suami yang tak tenang sejak kemarin.
Angkasa bahkan berkali-kali mengatakan ingin pindah rumah sakit, dia takut terjadi apa-apa pada Arum.
"Pak, tolong bantu pegang pa ha istrinya ya, biar istrinya tidak angkat pinggul saat ngedan nanti." Pinta dokter pada Angkasa.
"Hah? gimana, Dok?" Angkasa tak konsentrasi. Dia terlalu tegang, lebih tegang dari Arum yang akan melahirkan malaikat kecil mereka.
"Rambutnya sudah kelihatan, Bapak tolong pegang paha istri Bapak, supaya tidak angkat pinggul saat ngedan nanti. Biar bagian vagi-nanya tidak robek besar." Ulang dokter ucapanya.
"Oh baik, Dok." Angkasa mengangguk, memegang paha Arum seperti yang diminta dokter.
"Sayang, kamu yang kuat ya. Aku yakin kamu pasti bisa." Menatap wajah cantik Arum, memberi semangat pada sang istri. Arum mengangguk, mengeratkan genggaman tangan pada suaminya. Dukungan penuh dari Angkasa, bak mengisi penuh daya batre Arum.
"Ayo Bu. Kita mulai," suara dokter mengintruksi. "Bismillahirrahmanirrahim. Ayo bu kita mulai ya. Satu, dua, tiga."
Owekk, owekkk, owekkk.
Tangis bayi itu terdengar nyaring, hanya dengan sekali saja Arum mengejan.
"Alhamdulilah, babynya laki-laki," dokter itu berkata, tersenyum begitu lebar. "Ganteng sekali mirip papanya," puji sang dokter, memberikan baby boy pada perawat untuk dimandikan.
Dari tempat berbaringnya, Arum melihat mata bayinya yang bulat bersih melirik ke kanan, ke kiri. Seketika rasa sakit melahirkan hilang begitu saja, berganti rasa bahagia yang tiada terkira. Arum sampai menitikkan air mata.
__ADS_1
"Kamu hebat sayang. Terima kasih sudah bertahan dan sabar, terima kasih sudah mau melahirkan anak kita." Angkasa mencium kening Arum yang masih basah oleh keringat.
Arum hanya dapat mengangguk, tak dapat berkata apa-apa. Tapi dalam hati dia juga mengucapkan terima kasih pada suaminya karena telah setia menemaninya.
"Jahitanya sudah selesai ya, Bu." Suara dokter menyadarkan keduanya yang tengah mengharu.
Hah, kapan dijahitnya? Nggak kerasa sama sekali.
Batin Arum yang memang tidak sadar jika tadi dia tengah dijahit oleh dokter.
"Tadi ibunya pintar, tidak angkat pinggul, jadi cuma dapat satu jahitan." Jelas dokter tahu dipikiran Arum.
"Terima kasih, Dok," ucap Arum dan Angkasa bersamaan ketika dokter hendak keluar.
Tak lama bayi mereka datang setelah dimandikan oleh perawat. Bayi tampan dengan berat 4,0kg, dan panjang 55cm sudah dibedong dengan begitu rapih oleh perawat.
Perawat itu meletakkan bayi Arum di dada Arum. Perawat itu juga membantu membukakan kancing daster yang dikenakan Arum, membantu menekan dada Arum agar keluar air asi-nya. Bayi merah itu begitu pintar, baru diletakkan didada sang ibu saja, bibirnya langsung mencari sumber makananya.
"Sabar sayang, Mommy kamu belum terbiasa." Angkasa terkekeh, anaknya seperti bayi dua hari tidak diberi makan, anaknya itu bahkan menangis karena Arum terlalu lama.
Saat bibir mungil itu menemukan sumber makananya, dengan cepat dia menye sap dengan lahap, tangisnya tadi yang terdengar nyaring, hening seketika.
"Asi-nya langsung keluar," ucap perawat, "kalau tidak pasti bayi ibu semakin kencang menangisnya."
Arum dan Angkasa terkekeh, kemudian mereka memandang bayi yang sedang menikmati santapan pertamanya setelah lahir kedunia.
* * *
__ADS_1
Ketegangan bukan hanya dirasakan oleh Arum dan Angkasa. Tapi juga dirasakan oleh Delia, Nining dan yang lainya yang ikut menunggu persalinan, mereka bisa bernafas lega setelah mendengar jerit tangis bayi Arum dan Angkasa dari luar.
Awan yang mendengar itu ikut tersenyum bahagia. Tapi dia harus pergi.
"Ma, titip Reini. Awan mau ke kantor dulu, ada urusan penting." Reini yang duduk disamping Reini melotot, terkejut mendengarnya. Ia mendongak, menatap Awan yang berdiri disampingnya, tapi Awan sama sekali tak menatapnya, suaminya itu sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Iya Sayang," sahut Delia. Delia tak bertanya, karena dia tahu banyak yang harus Awan pelajari sebelum ia dilantik menggantikan posisi Abian sebagai direktur utama di Airlangga Airlines.
"Aku berangkat dulu ya," pamitnya pada Reini.
Hah? Begitu doank?
Reini benar-benar tak percaya, Awan jadi begitu dingin setelah mereka sah menjadi suami istri, jauh berubah saat sebelum mereka menikah.
"Aku antar sampai lobby," Reini berdiri. Awan tak menanggapi, ia berjalan begitu saja menuju lift. Reini mengikuti dari belakang setelah berpamitan pada Delia.
* * *
"Apa memang begini sifat laki-laki setelah menikah? Aku seperti setangkai bunga, di buang setelah dipetik." Reini bersekap, bersandar pada dinding lift. Mereka hanya berdua di dalam lift.
Awan masih sibuk dengan ponselnya, merasa diabaikan, Reini menarik ponsel Awan. Awan tak marah, hanya membiarkanya saja.
"Aku disini, istri sah kamu. Bukan tembok yang bisa bicara atau ponsel kamu yang nggak bisa diajak bicara itu." Sentak Reini kesal, dadanya terlihat sampai naik turun.
"Aku mendengar apa yang kamu ucapkan, apalagi?" katanya datar.
Tercengang, Reini begitu tercengang dengan jawaban Awan. Matanya langsung memanas dan dengan cepat banjir bandang tiba, sakit sekali dengan sikap acuh Awan. Awan membuang muka, paling tidak bisa melihat wanita menangis. Tapi dia juga sigap mendekat, menghapus air mata Reini, cepat Reini menepisnya.
__ADS_1
"Ceraikan aku, Wan. Kalau memang kamu nggak cinta sama aku," ucapnya menghapus airmatanya.