
Malam itu, untuk pertama kalinya Reini dan Awan tidur bersama dan saling berpelukan, setelah mengobrol dan menyelesaikan perbedaan diantara mereka, hanya berpelukan, tidak lebih dari itu. Mereka layaknya sepasang kekasih yang masih berpacaran, masih belum melakukan hubungan suami istri, Awan hanya menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga mereka.
Usia Reini terpaut dua tahun diatas Awan, tapi sifat Reini masih terbilang egois dan kekanakan. Sedang Awan, meski lebih muda dari Reini, namun sifatnya sedikit lebih dewasa walau kadang masih mudah emosi menghadapi masalah.
Beruntung dia memiliki paman yang bisa menjadi mentor terbaik untuknya, yang tidak memihak siapapun jika dia sedang dalam masalah. Jika tidak, mungkin usia pernikahan mereka hanya bertahan hitungan hari, mungkin jam. Karena awal pertengkaran mereka terjadi dimalam pertama pernikahan saat Reini menyatakan jika dia belum bisa melakukan hubungan intim, karena belum sempat mengkonsumsi obat penunda kehamilan.
Dalam berumah tangga, sudah pasti sulit menyatukan dua manusia yang memiliki sifat yang berbeda. Namun jika sudah memutuskan untuk hidup bersama dalam jalinan mahligai rumah tangga, harus bisa menekan rasa egois yang tinggi agar bisa mencapai kebahagiaan yang diinginkan.
Bersyukurnya, Awan mau mengalah pada sang istri.
Malam semakin naik, udara ibu kota malam hari tak sepanas disaat siang hari. Tadi Reini masih mengenakan tanktop saja, dan celana pendek, Reini merasakan kedinginan sebab pendingin ruangan berada suhu terendah, yaitu 16 derajat celecius. Ia juga tidak mengenakan selimut karena selimut yang tadi sempat menutupi tubuhnya sudah lari entah kemana.
Reini merasa kedinginan, tapi malas untuk membuka mata, ia semakin merapatkan tubuhnya pada Awan, mencari kehangatan.
Awan yang merasakan pergerakan dari Reini, tersenyum, saat Reini semakin merapat padanya. Awan sedikit mengangkat kepala untuk mencari keberadaan selimut, ternyata dibawah kaki Reini. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka, lalu Awan merapatkan pelukannya.
"Good night, my baby." Mengecup kening Reini sebelum akhirnya ikut tenggelam dalam mimpi.
Esok paginya. Awan membangunkan Reini pukul enam pagi sebab ia akan masuk ke kantor lebih awal, ini hari peresmianya menjabat sebagai direktur utama menggantikan sang ayah.
__ADS_1
"Rein, bangun, sudah jam enam. Kamu hari ini ada jadwal terbang nggak?" Awan mengguncang tubuh Reini. Reini mengegeliat tanpa membuka mata.
"Rein, hari ini pelantikan aku menggantikan ayah. Aku harus masuk pagi sekali."
"Eunggh, yaudah kamu pergi aja. Aku masih ngantuk." Hanya itu jawaban Reini tanpa membuka mata.
"Yasudah, aku berangkat ya. Nanti jangan lupa cari kado untuk anak Angkasa dan Arum. Pulang dari kantor kita langsung menjenguk anak mereka."
"Kenapa harus aku? Kamu bisa pesan lewat online." Suaranya serak khas orang bangun tidur.
"Kan kamu perempuan, tahu barang bagus apa enggaknya."
Awan tersenyum, merapikan anak rambut Rein yang menutupi wajah cantiknya. "Iya, aku. Kartu belanja kamu sudah aku tarok di dompet kamu."
"Hem, thank you, sayang." Meraba wajah Awan tanpa membuka mata.
Awan hanya bisa menghela nafas, dia harus memiliki stok kesabaran yang banyak agar bisa lebih sabar menghadapi Reini. Reini kembali ke setelah awal, menyebalkan.
* * *
__ADS_1
Serah terima jabatan dilakukan di ruang meeting, hanya di hadiri jajaran direksi dan beberapa staf khusus, yang akan menandatangani surat persetujuan yang telah dibuat.
Waktu terus berputar, hari beranjak siang, Awan semakin disibukkan dengan pekerjaanya, ditemani sekretarisnya, sekretaris Awan merupakan seorang laki-laki, bukan wanita cantik berpakaian seksi. Reini masih asik bergelut dikamar hotel tempat mereka menginap. Salah satu teman pramugarinya menelepon, tangan Reini meraba letak ponselnya di nakas.
"Iya, halo," jawab Reini setelah panggilan terhubung.
"Rein, kamu libur? Bukanya jadwal kamu hari ini masuk?"
Reini tertawa sebelum menjawab. "Suka-suka aku. Maskapai kita sekarang dipimpin suami aku, makanya aku bisa terbang jika aku mau saja."
Reini tak tahu saja wajah sebal temanya diseberang sana atas ucapanya yang mulai sombong.
"Makanya, jangan ngincer pilot terus, sekali-kali CEO-ny. Biar bisa menikmati hidup tanpa harus bersusah payah terbang kesana-kemari, kaki udah pegel terasa mau copot baru dapat gaji."
"Iya, iya deh yang dapat suami kaya, pemilik maskapai. Yaudah deh Rein, cuma mau nanya aja kamu libur atau masuk."
Sebal sekali, yang ditanya masuk apa tidak malah di jawab kesombongan
"Hem, salam buat teman yang lainnya. Jangan terlalu berharap bisa sering terbang sama aku. Aku sekarang sudah jadi atasan kalian, Nyonya Awan Philips Hamzah."
__ADS_1