Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Membuat Kecewa


__ADS_3

"Kak Arum sudah bangun?" Suara Aira langsung menyapa saat Arum membuka matanya. Arum menoleh, mendapati Aira tersenyum manis padanya.


Sambil memegangi kepalanya yang terasa berat Arum mengangkat tubuhnya.


"Kak Arum tiduran aja kalau masih pusing." Aira berdiri, memegangi tubuh Arum.


"Kakak nggak papa, kenapa Kakak ada disini?" .


"Kak Arum kecapean, tadi pingsan. Makanya dibawa kesini. Bagian mana yang masih sakit?" Arum menggeleng. "Ada yang Kak Arum pengen? Mau makan apa? Biar Aira cariin." Aira bertanya penuh perhatian.


"Nggak ada, Kakak cuma pengen pulang dulu lihat keadaan toko. Terus nanti kesini lagi."


"Kalo Kak Arum merasa pusing, Kakak istirahat aja dirumah, kasihan nanti kenapa-napa sama-" Aira meringis, tak mau melanjutkan kata-katanya, ini bukan wewenangnya memberi tahu hal yang sensitif ini.


Disisi lain, Delia tak tahu harus merespon seperti apa mendapat kabar yang begitu mengejutkan untuknya saat dokter mengatakan apa yang terjadi pada Arum. Delia tadi langsung keluar, dadanya terasa sesak mendapati kenyataan yang menakutkan baginya. Delia memilih menyendiri sejenak diruang Angkasa dirawat saat ini. Ruangan itu terpisah dengan ruangan Angkasa, seperti dua kamar yang menyatu hanya dipisahkan dinding kaca, ruangan itu cukup nyaman, karena fasilitas yang dimiliki lebih menyerupai kamar hotel bintang lima.

__ADS_1


"Ma, Arum mau pulang. Awan mau antar Arum dulu." Awan izin, membuka sebagian pintu ruangan, dengan tanganya memegang handle pintu. "Arum juga mau pamitan sama Mama."


"Bilang Mama lagi dikamar mandi, Mama lagi sakit perut." Delia terlihat ketus. "Pesankan saja taksi, jangan kamu yang mengantar." Bicara tanpa menoleh, tanganya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


Awan menghela nafas, kembali keluar menemui Arum. Tapi bukan untuk memesankan taksi, melainkan mengantar Arum pulang. Sepanjang perjalanan mengantarkan Arum, Awan tak banyak bicara, bertanya sekenanya, sebab takut keceplosan, sama seperti Aira, Awan merasa bukan wewenangnya untuk memberi tahu Arum yang terjadi pada wanita itu.


"Jaga kesehatan ya, Rum. Jangan sampai telat makan, Angkasa nggak suka lihat kamu sakit." Arum mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban, berterima kasih pada Awan, keluar dari mobil, lalu berjalan masuk kerumah.


"Rum." Awan masih memanggilnya. Arum menoleh. "Jangan capek-capek, kalau butuh apa-apa dan butuh teman mengobrol, hubungi aku." Arum kembali hanya menjawab dengan senyuman tipis.


Pulang kerumah sakit, Awan langsung keruang Angkasa, dia berdiri didepan dinding kaca melihat keadaan Angkasa.


"Ini bukanya kabar bagus ya, Ma. Bisa membantu Angkasa untuk cepat bangun."


Delia mengangkat pandangannya menatap Awan yang berdiri membelakanginya. Laki-laki yang memiliki postur tubuh tak jauh dari Angkasa itu masih memandangi tubuh Angkasa yang tak bergerak sama sekali.

__ADS_1


"Berita aib mana yang bisa dibilang bagus? Apa jaman sekarang hal seperti itu bisa dianggap hal biasa dan wajar?" Delia menekan keningnya. "Bagaimana Angkasa dan Arum sampai melewati batas hubungan mereka? Mama memang awalnya tidak menyetujui hubungan mereka, tapi bukan berarti mereka harus melakukan itu sebelum menikah. Nyatanya Mama bisa merestui, tapi kemarin Mama menunda pernikahan karena ingin kamu dan Angkasa berada diatas pelaminan bersamaan. Tapi yang terjadi, malah diluar ... Ah sudahlah." "Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan hasil akhir."


Awan membalikkan badan, menghampiri mamanya, duduk disamping wanita yang telah melahirkanya kedunia.


"Terus apa kedepannya Mama akan mencegah Arum menjenguk Angkasa?"


Delia mendelik menatap Angkasa. "Mama nggak sekejam itu, Mama cuma bingung saat ketemu dia. Apa Mama harus pura-pura nggak tahu, apa memberi tahu yang sebenarnya? Tapi Mama nggak suka dengan yang mereka lakukan." Delia menunduk, dia benar-benar pening. Arum dinyatakan hamil disaat Angkasa dalam keadaan koma.


"Gimana Mama bilang sama ayah. Ayah pasti syok." Delia snagat sedih. "Kami memang orang tua yang kurang baik. Kami juga bukan orangtua yang taat agama, tapi mendengar anak Mama melakukan hal yang melewati batas, hati Mama sakit. Sakit sekali. Jadi Mama harus seperti apa? Memarahi? Tapi mereka sudah sama-sama sudah dewasa, tahu mana yang baik dan buruk. Tidak dimarahi, tapi itu tanggung jawab kami untuk memarahi."


Awan menarik kepala Delia untuk bersandar dibahunya.


"Marahi saja saat Angkasa sudah bangun, Ma"


"Kamu sama Reini jangan sampai seperti itu, Wan. Entah Mama sanggup atau tidak kalau sampai kamu melakukan kesalahan yang sama." Tanpa mereka sadari, jika Abian sudah mendengar obrolan mereka. Sesuai prediksi Delia, meski mungkin Abian akan bisa menerima kenyataan ini dengan bijak, tapi hati kecewanya tak bisa dibohongi.

__ADS_1


__ADS_2