Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Dikdik Bereaksi


__ADS_3

Sebelum berangkat kerja, Angkasa lebih dulu menyelesaikan masalah preman yang menagih hutang kemarin, jangan sampai mereka mendatangi Arum lagi.


Angkasa telah menyerahkan salinan bukti cctv pada pengacara yang telah ditunjuknya untuk mengurus semuanya, dan nanti akan meminta Alex menjadi saksi atas kebusukan Dikdik yang ingin memeras anak tirinya. Ya akhirnya dia bekerja sama mantan rivalnya.


Selesai dengan urusannya, Angkasa turun untuk sarapan, hari ini dia ada jadwal penerbangan agak siang, jadi saat dia berangkat saudaranya yang lain, Awan dan Aira sudah berangkat ke tempat tujuan mereka masing-masing.


"Ang, Mama nggak lihat mobil kamu. Mobil kamu kemana?" tanya Delia keluar kamar untuk menyiapkan sarapan Angkasa. Sadar mobil Angkasa tak ada, saat supir Abian mengeluarkan mobil milik Abian untuk berangkat kerja.


"Dibengkel, Ma. Semalam bocor," jawabnya bohong, menggigit roti panggang yang telah disediakan mamanya.


Delia mengambil duduk disebelah Angkasa. "Mau bawa bekal nggak?"


"Nggak usah, Arum sudah siapin untuk Angkasa."


Delia mengerucutkan bibir, ingin marah, karena Angkasa memilih menerima bekal dari Arum ketimbang dirinya, tapi ingat jika dia dulu rajin membawakan sarapan untuk Abian. Ahh dia sebal jadi ibu yang terlupakan.


"Jangan tiap hari Arum ya, ganti-gantian gitu. Sehari Mama, sehari Arum yang siapkan bekal," Pinta Delia melipat tangan diatas meja, menatap sang putra yang menikmati sarapanya.


Mendengar permintaan sang mama, cepat-cepat Angkasa menelan rotinya, lalu menenggak segelas susu dihadapanya hingga tandas. Angkasa terkekeh menatap mamanya yang menunggu jawabannya, dia tahu, jika Delia cemburu terhadap Arum.


"Iya Ma. Nanti yang siapin bekal gantian, lagian kalau Angkasa ada jadwal malam atau pagi buta, mana sempat minta bekal sama Arum."


Menyudahi sarapannya, Angkasa berdiri dan berpamitan pada Delia, mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkanya kedunia, dan mencium pipi mamanya dengan penuh sayang.


Angkasa pergi bekerja dengan hati riang, jika kemarin mereka seperti musuh yang saling mendiami, kini kembali akur karena mamanya yang berbesar hati mengalah.


* * *


Sadar akan waktu yang ia miliki sedikit untuk kekasihnya setelah ia mulai aktif dipenerbangan. Sebisa mungkin Angkasa menyempatkan waktu untuk mengunjungi kekasihnya lebih dulu, meski hanya satu menit.


"Kamu nggak kesiangan kan kalau harus kesini dulu?" Arum sudah stand by didepan tokonya dengan tas bekal ditangannya menunggu kedatangan pria tampan pujaan hatinya.


Angkasa melenggang menghampiri Arum. "Enggak," Angkasa memindai sekitar, "ke mobil aku dulu, yuk." Tanganya langsung menyeret Arum menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari toko.


Angkasa mempersilahkan Arum masuk ke kursi penumpang lebih dulu, dia menyusul kemudian.

__ADS_1


"Ngapain?" tanya Arum saat mereka berdua sudah didalam mobil. "Supirnya kemana?" tanyanya lagi menyadari didalam mobil kosong.


"Lagi aku suruh beli e-toll."


Kening Arum berlipat. "Kan jauh dari sini."


"Sengaja," jawabnya santai, menatap kekasihnya yang nampak celingukan. Angkasa mengambil tangan Arum agar Arum tenang, dan Arum menatap Angkasa yang menatapnya penuh cinta dan kerinduan.


"Apasih liatnya begitu, nakutin tau."


"Semalam nggak ada yang ganggu kamu, 'kan?"


Arum menggeleng, "nggak ada. Kan sudah aku sudah bilang, mereka datangnya seminggu lagi." Angkasa tak akan memberitahu jika dia sudah membayar anak tongkrongan untuk menjaganya.


"Mereka tidak akan datang, karena aku sudah memenjarakan mereka."


"Hah? Kapan?" Arum yang tadi bersandar di kursi menegakkan badan.


"Kamu terima beres aja. Aku nggak akan tenang kalau mereka nggak segera ditangkap." Mengelus pipi Arum dengan punggung jari telunjuknya.


"Anak-anak gang suka nongkrong sampai pagi?" tanyanya, hanya ingin tahu.


Arum berpikir sejenak. "Iya, sepertinya pagi tadi sampai subuh." Tak ada rasa curiga dari Arum.


"Rum."


"Hem."


"Mama sudah merestui hubungan kita, kamu nanti ikut aku kerumah kalau aku senggang, dan aku akan segera melamar kamu."


Arum yang merasa Angkasa sat set, sat set membuat matanya berkaca-kaca. Senang diperjuangkan dengan begitu cepat tanpa drama.


Angkasa yang melihat wajah sedih kekasihnya, tanpa menunggu lama langsung menarik tengkuk Arum, sudah selesai sesi basa-basinya, ingin bibir mereka segera bertemu. Arum terbelalak, mata mereka saling tatap dalam damba, kemudian mata keduanya kompak terpejam dengan bibir yang saling bergerak.


Lenguhan kecil keluar dari bibir Arum begitu saja, membuat kelakian Angkasa langsung bereaksi, tangan Angkasa juga tak mau diam, sudah ingin masuk kedalam dress Arum, namun Arum cepat menahanya.

__ADS_1


Arum melepaskan perang lidah mereka yang mulai panas.


"Kenapa?" Suara Angkasa terdengar serak.


"Nanti supirnya datang. Aku nggak mau dipandang curiga," merapikan seragam Angkasa dan dasinya. "Aku turun duluan ya. See you tonight." Tak bisa mencegah Arum yang turun dan menutup pintu, setelahnya wanita cantik itu juga melambaikan tangan berjalan menjauh.


Angkasa mendesah, menunduk menatap kumbang jantanya sudah bereaksi merindukan menghisap madu bunganya.


* * *


"Keparat, jadi dia sudah menangkap orang-orang ku?" Dikdik begitu marah mendengar kabar dari pengacara yang mengunjunginya jika teman-temanya tak bisa memeras Arum lagi untuk mengeluarkanya.


Pengacara Dikdik bukan pengacara sungguhan melainkan ketua geng yang dipercaya tahu tentang hukum.


Apalagi kini sudah diketahui jika dia dalang dari rencana jahat itu. Polisi akan memberi sanksi hukuman yang berat lagi, Angkasa tak main-main kali ini, jika kemarin-marin dia santai dan memaafkan, tapi tidak untuk yang sekarang.


Tapi Dikdik tak kehilangan cara, dalam kesempatan yang ia miliki hanya satu kali ini bisa dikunjungi pengacaranya, dia memberi pesan-pesan terakhir untuk Angkasa, Arum, dan juga Nining.


"Jangan sampai rencana kali ini gagal. Aku ingin mereka menderita karena tak ingin menolong ku. Menjenguk ku saja mereka tidak mau."


Dikdik tak rela, ia yang bertanggung jawab atas hidup Arum dan Nining sejak dulu, tapi saat ia terpenjara seperti ini, tapi Arum dan Nining menutup mata mereka.


"Aku masih memiliki aset yang bisa digunakan untuk menebus ku, malah mereka nikmati dan mereka hidup enak." Dikdik mengepalkan tangannya kuat, ingin memukul meja, tapi kondisinya sedang diawasi, jadi dia harus bisa mengendalikan diri dan berperilaku baik.


"Rumah itu sekarang disewakan." Pengacara Dikdik memberi tahu. "Dan penyewanya buletin, pasti bayaranya tidak murah."


"Teror penyewa itu sampai mereka menuntut ganti rugi pada Arum dan wanita ****** itu."


Dikdik berkata sampai rahangnya mengetat. Geram pada dua orang yang tak tahu terima kasih telah ditolongnya, tapi saat dia susah, tak ada usaha dari mereka yang ingat padanya.


"Akan kita lakukan. Namun jika kami berhasil, kamu harus membagi dua hasil penjualan rumah mu itu."


"Kau meragukan ku?" Tatap Dikdik lawan bicaranya, "lakukan dulu yang benar, baru kau meminta imbalan."


Karena waktu bertemu mereka telah habis, laki-laki yang bicara dengan Dikdik berdiri, ia meninggalkan ruangan bersamaan dengan Dikdik yang kembali ke tempat menginapnya di hotel prodeo.

__ADS_1


__ADS_2