Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Usia matang tidak menjamin seseorang bersikap dewasa. Terkadang yang membuat dewasa ialah pengalaman hidup.


*


*


Reini terbangun, ia melihat diluar, ternyata sudah terang. Ia tertidur di sofa dengan posisi duduk. Reini melihat sekeliling, tak ada tanda-tanda Awan pulang.


"Dia nggak pulang?" Bertanya pada diri sendiri, Reini menghela nafas, "apa salahnya aku mau pindah tempat kerja? Kayak aku melakukan tindakan kriminal aja."


Masuk ke kamar, dan membersihkan diri, Reini akan menyusul Awan ke kantor saja.


"Dia bilang kalau ada masalah jangan lari dan dibicarakan baik-baik, dianya sendiri yang menghindar dari masalah." Ngedumel kesal.


Menaiki taksi, Reini menuju kantor utama Airlangga Airlines. Taksi berhenti didepan lobby tower Airlangga, Reini turun dari taksi dengan memakai kaca mata hitam menutupi kantung matanya yang menghitam akibat banyak pikiran, kurang tidur, dan menangis semalaman karena suaminya tidak pulang.


Reini berjalan anggun menuju meja resepsionis. Profesinya sebagai pramugari membuatnya memiliki tubuh tinggi bak seorang model. Rambut hitam lurusnya yang digerai tertiup angin membuat beberapa mata terpesona menatapnya, termasuk seorang satpam dan tukang ojek.


"Ehem, apa Pak Awan sudah sampai di kantor?" tanyanya pada resepsionis yang baru selesai merapikan penampilanya. Bagaimana tidak, ini masih terlalu pagi untuk jam kantor yang biasa aktif jam setengah delapan.


"Maaf, Ibu siapa? Apa sudah membuat janji dengan Pak Awan?"

__ADS_1


Dibalik kaca mata hitamnya Reini merotasikan bola mata malas, lalu ia menurunkan sedikit kaca matanya ke hidung. Resepsionis wanita berusia dua puluh tahunan itu membelalakkan mata. Reini memang belum pernah datang ke kantor, tapi dia tahu wajah istri dari Awan itu.


"Sa-saya tidak tahu Pak Awan sudah datang atau belum, Nyonya. Tapi saya belum melihat sekretaris dan juru bicara Pak Awan datang. Saya juga belum meli-"


"Kalau begitu aku mau ke ruang suami ku dulu." Reini memotong ucapan resepsionis itu. Sang resepsionis bergegas keluar dari mejanya, sedikit berlari membukakan akses untuk Reini masuk. Kemudian dia berlari membukakan pintu lift khusus yang biasa digunakan Awan.


Memang sudah bawaan dari lahir Reini angkuh, tak mengucapkan terima kasih setelah dibantu sang resepsionis yang bertugas pagi ini.


Keluar dari lift, Reini langsung menuju ruangan Awan yang masih sepi, sebab belum ada karyawan yang datang termasuk sekretarisnya.


Tapi Reini melihat satu meja yang sudah terdapat tas diatasnya, entah milik siapa itu Reini tak tahu. Nafas Reini seperti tercekat, dari tas itu terlihat jika milik seorang wanita. Mata Reini kemudian tertuju pada ruangan yang bertuliskan direktur utama yang memiliki dinding kaca sandblas, terlihat masih gelap.


"Rein?" Andini terbelalak.


Reini mematung ditempat. Darahnya seolah berhenti mengalir, seiring dengan air matanya yang jatuh dengan sendirinya begitu deras. Kemudian matanya tertuju pada botol minuman yang berserakan diatas meja tamu ruang kerja suaminya.


Andini berjalan mendekat kearah Reini.


"Rein ini nggak seperti yang kamu lihat." Reini mengangkat tangannya meminta Andini berhenti. Andini pun menghentikan langkahnya.


"Jadi ini yang kalian lakukan dibelakang ku?" pekiknya marah dengan mata menyala.

__ADS_1


"Rein aku bisa jelasin," lirih Andini.


"Jangan mendekat wanita murahan, kamu terlihat menjijikkan," ucap Reini dengan tatapan benci. Andini memejamkan matanya kuat, tubuhnya terasa menggigil karena ketakutan.


Dengan sisa tenaganya, Reini berjalan kearah ruangan tadi Andini keluar dengan langkah lebar. Dia tidak tahu itu ruangan apa? Karena dia tidak pernah mengunjungi kantor suaminya meski sudah setahun mereka menikah. Dibukanya pintu itu, terlihat Awan sedang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka, saking pulasnya Awan tak menyadari kedatangannya.


Reini dengan berlinang airmata menghampiri Awan dan menarik kasar selimut yang menutupi tubuh Awan.


Bertambah sakit hati Reini melihat ternyata suaminya tidak mengenakan pakaian.


"Andini," racau Awan setengah kesadaranya memanggil nama wanita lain selain nama istrinya.


Dada Reini bak terhimpit batu besar, sesak dan sakit. Kakinyapun terasa tak bisa menopang berat tubuhnya.


"Brengsekkk." Maki Reini.


"Reini?" Awan menyadari itu suara istrinya. Ditengah kepalanya yang terasa berat dan sakit, Awan coba bangun dan memaksakan membuka mata.


"Rein." Panggilnya, Reini sudah berlari keluar.


Diluar Reini tak lagi menatap Andini yang mematung ditempat. Andini benar-benar ketakutan, ia menyesali keadaan ini. Andini tahu Reini pasti begitu sakit mendapati pemandangan ini. Tak lama Awan keluar mengejar istrinya. Andini tak mampu berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2