
Masuk kedalam apartemen, Awan disambut bau masakan, tapi bukan rasa enak, melainkan rasa telor panggang ke matangan, dan letak perabot bukan pada tempatnya.
"Rein," panggilnya sang istri.
Reini yang sedang menghadap kompor membalikkan badan. "Kok kamu sudah pulang?" Padahal ini sudah jam dua siang, cukup lama Awan meninggalkanya, tapi karena Reini sedang berekperimen membuat telur dadar, masakan paling mudah, tapi begitu sulit untuk Reini, ia merasa waktu begitu cepat.
Lalu ia tersenyum, menyadari jika rumahnya sangatlah rapi dalam kata lain. "Maaf," ucapnya sendu.
Awan terkekeh. "Kamu ngapain?" Meletakkan tas kerja diatas meja, melepas jas dan dasi, meletakkan sepatu ditempatnya, lalu menghampiri Reini yang memakai apron berwarna coklat, tampilan istrinya sudah seperti wanita belum mandi tiga hari.
"Aku pulang telat, aku pikir kamu lagi nungguin aku." Berjalan sambil menggulung kemejanya hingga siku, pertanyaan Reini barusan membuatnya merasa tidak dibutuhkan.
Setelah sampai didepan istrinya, melirik kotak sampah yang penuh dengan cangkang telur.
"Udah habis berapa?"
Reini melebarkan bibirnya. "Hampir sekilo," jawabnya menatap nanar tempat telur, dari enam belas butir telur, tersisa dua. Lalu berpindah menatap pada piring putih bulat berdiameter tiga puluh tiga sentimeter disebelahnya.
Nampak telur dengan bentuk orak-arik berbagai gelap.
Keduanya saling pandang, lalu tertawa.
"Dalam rangka apa?" Awan terkekeh.
"Jangan ngeledek, mau panggil mama Voni, aku belum siap bertemu siapapun. Ini aja beli telur pesan online." Matanya berkaca-kaca, menatap tanganya yang ia bungkus menggunakan sarung tangan anti panas, menunduk, membuat bulir bening itu jatuh.
"Hei, kenapa menangis." Memeluk tubuh istrinya yang bau minyak sayur. Reini makin terguguh.
"Aku istri yang pantas diceraikan, bukan? Aku bukan wanita yang baik untuk kamu."
"Sssttt, jangan ngomong sembarangan," menjarakkan tubuhnya, merapikan rambut Reini yang terasa cepel. "Kamu mirip Arum kalau lagi kayak gini." Mata Reini membola menatap suaminya. Awan terkikik. "Nanti aku panggil tukang bersih-bersih," membawa Reini duduk di sofa ruang tamu.
Awan mengangkat kaki Reini dan meletakkan diatas pahanya.
"Aku pesan makan dulu," mengangkat ponselnya, "atau mau makan diluar?"
"Disini aja." Awan membuka aplikasi untuk memesan makanan. "Mau makan apa?"
"Telor dadar padang."
"Cuma itu? Yakin?" Kenal sejak kecil, tahu istrinya tidak suka makanan sederhana.
"Iya, itu aja."
Awan memesan menu yang sama, ia juga sedang ingin makanan sejuta umat itu.
Setelah memesan, Awan meletakkan ponselnya diatas meja. Mulai memijat kaki Reini lembut. "Kenapa harus melakukanya, kan bisa pesan aja?"
Reini membuang muka, kenapa dia harus mendapat suami sesempurna ini? Laki-laki yang tak ia lirik sama sekali karena tak sesuai dengan keinginanya. Mata Reini kembali mengabur, semakin merasa tak pantas menjadi istri Awan.
"Kenapa kamu nggak ajak aku ikut kelas pranikah? Aku merasa dicurangi, disaat suami aku berjuang dan belajar untuk menjadi suami yang baik, aku malah membuat masalah." Mengusap air yang jatuh ke pipinya.
"Nggak ada, aku cuma mau pernikahan kita kekal, tidak ada perpisahan. Aku tahu kamu wanita setia, jadi aku hanya ingin belajar sabar." Menjawab tanpa menatap istrinya.
"Jangan jadi laki-laki yang sempurna, itu membuat aku takut, takut yang namanya kehilangan karena kesalahanku. Dan perpisahan karena kesalahan yang aku buat sendiri, itu menyakitkan. Akan jadi penyesalan ku seumur hidup." Suaranya serak.
Awan menghentikan kegiatanya, menatap Reini yang sejak tadi menyusut pipinya yang basah. Merasakan tangan Awan tak lagi menyentuh kakinya, Reini balas menatap Awan.
"Rein, setelah aku memiliki kamu. Aku semakin tahu sifat kamu, keras kepala kamu. Kenal kamu sejak dulu, aku juga tahu kamu wanita yang seperti apa?" ujarnya menatap mata Reini dalam. "Dan aku tahu bekal yang harus aku persiapkan, jika aku harus memiliki ilmu sabar dan ikhlas yang sulit untuk diterapkan." Awan menarik nafas.
"Jujur, dihari pertama pernikahan kita aku hampir saja lepas kendali. Tapi dengan ilmu yang aku miliki walau hanya sedikit, ingin aku terapkan. Sejauh ini kamu masih bisa diterorir. Seperti kata-kata wanita yang sering diagungkan, sesulit apapun hidup suaminya, dia bisa bertahan, asal tidak memiliki hati yang lain. Dan aku juga memiliki prinsip yang sama, selagi kamu masih setia padaku, mau seburuk apapun kamu, aku akan bersabar. Masalah kamu ingin berubah setelah kejadian ini, itu semua tergantung dengan mu, aku tidak akan bisa merubahnya kecuali kamu yang akan merubahnya sendiri."
Reini mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Awan. "Ini belum terlalu jauh, Rein. Kamu masih banyak memiliki kesempatan, kamu sadar secepat ini, aku senang, tapi aku tidak bisa menerapkan ilmu sabar ku." Tersenyum, menghapus air mata Reini dengan ibu jarinya.
"Bagaimana bisa kamu melawan mereka? Padahal mereka mengancam kamu dengan video itu, kan?" Sejak awal ingin tahu bagaimana Reini melawan Angga. "Laki-laki jika sudah diujung hasrat, bisa lepas kendali."
Reini menggeleng. "Aku nggak tahu, itu naluri aja. Aku rasa kalau aku takut, aku tidak bisa melawan, justru aku kehabisan tenaga. Kamu tahu aku luar dalam kan? Aku nggak mau dikalahkan, aku licik. Jadi jika orang mau menghancurkan aku, aku harus lebih licik."
Reini terlihat semangat menceritakanya.
"Jadi kamu sengaja membuat laki-laki itu lengah?" Malas sekali menyebut nama Angga.
Reini mengangguk. "Disaat dia terlena, aku memelintir dan menarik miliknya, lalu membungkusnya dengan sprei." Reini sampai memeperagakan saat menceritakanya.
Awan terbahak. "Sayang rasanya pasti sakit banget." Awan bergidik, nyeri sendiri membayangkanya. Disaat sedang tegang-tegangnya, ditarik sedikit saja rasanya begitu nyeri, apalagi ditarik dan dipelintir.
"Tapi itu yang membuat aku ...," Reini menjeda, "sentuh punya dia." Ada rasa penyesalan-, merasa bersalah pada suaminya.
"Nggak papa, Sayang. Aku harap cara ini bisa diterapkan semua wanita yang sedang dalam keadaan yang sama, membuat lawannya lengah, lalu melawan. Cara kamu juga dulu yang pernah Arum lakukan pada Alex."
"Kamu tahu itu?"
"Awan ada sedikit cerita, Arum juga sempat trauma."
__ADS_1
"Arum juga trauma?"
"Iya, dan saat itu Angkasa langsung mengirim Andini untuk mengobati Arum. Sebelum tahu kalau Andini anak teman mama." Awan menurunkan kaki Reini, duduk mendekat, lalu menarik kepala Reini menyandar dibahunya. "Kalau kamu merasa butuh bantuan Andini, kamu bisa hubungi dia."
Reini menatap kedua telapak tangannya yang ia rasa selalu kotor. Tapi detik berikutnya Reini mengangkat kepalanya mengingat sesuatu. "Tadi kamu ada bilang aku seperti Arum. Memang aku bagaimana?"
Awan coba mengingat. "Oh, tidak bagaimana-bagaimana, memang menurut kamu Arum seperti apa?"
Reini membaui badanya. "Aku bau, kucel?"
"Kamu sedih kalau aku menilai kamu seperti itu?" Ada makna sindiran didalamnya. "Tapi dimata ku kamu nggak begitu, mau bagaimana pun kamu, dimata ku kamu tetap cantik dan wangi."
Reini merenungi kata-katanya yang pernah ia ucapkan pada Arum. Mungkinkah Arum sama seperti Viona, merasa tersinggung dan sakit hati dengan ucapanya?
Reini merasa beruntung memiliki suami seperti Awan. Awan tidak memarahinya dan memintanya untuk merubah sifatnya, tapi Awan justru belajar memahami sifatnya, dan itu membuat Reini sadar sendiri dengan sifatnya yang telah berlebihan.
"Rein, besok malam Angkasa dan Arum mengundang kita ke acara keluarga, selamatan atas kehamilan Arum yang kedua. Kamu bisa datang?"
Reini menimang, akankah dua kuat bertemu orang banyak? Sedang ada rasa malu dihatinya.
"Aku nggak tahu siap datang atau nggak?"
"Datang saja, tidak akan ada yang tahu tentang peristiwa semalam."
"Siapa yang ngundang kamu? Angakasa apa Arum?"
"Angkasa."
"Kenapa Arum nggak mengundang aku secara langsung?"
Awan mengangkat bahunya. "Mungkin dia lupa, atau sudah. Sudah lihat hape kamu?"
Reini berdiri dan masuk ke kamar untuk mengecek ponselnya, ada pesan dari Arum, dan tiga panggilan tidak terjawab. Dia sudah suudzon pada Arum, dianya sendiri sibuk membuat sekilo telor dadar sampai tidak dengar Arum meneleponya.
Reini menekan tombol panggil menghubungi balik, di dering ke lima Arum baru mengangkat teleponya.
"Rum, maaf. Tadi nggak dengar kamu telepon."
"Iya, nggak papa. Aku mau mengundang kamu ke acara makan malam keluarga besok."
"Iya, aku usahakan datang."
"Alhamdulilah, kamu bisa liburkan, Rein?"
"Ditunggu besok malam, ya?"
Panggilan berakhir, sebagai ipar dari suami mereka yang kembar, Arum dan Reini tidak dekat. Padahal dalam hati Arum berharap Reini tidak bisa hadir, malas harus mendengar sindiran dan nasehat yang membuatnya, sedikit sakit hati.
Reini keluar lagi, tak menemukan Awan disana. "Wan." Mencari ke pantry, tapi Awan tak ada disana. Ke kamar mandi yang berada didekat dapur, juga tidak ada, lalu mencari ke balkon, Awan juga tak ada.
"Kemana sih?" Mulai terpancing emosi, baru baikan sudah membuat kesal. Tak lama Awan muncul dari luar.
"Dari mana?" tanyanya.
"Dari bawah, ambil makanan yang kita pesan. Lama karena motor abang karirnya bocor, jadi aku ambil kebawah, kasihan kalau harus antar keatas."
Reini menghela nafas, sedikit banyak dia ada baca novel, bersuamikan seorang direktur, tak semuanya bersifat sabar. Kenapa Awan sejak dulu sangat sabar? Kalau suaminya bukan Awan, mungkin Reini sudah jadi janda di sebulan pernikahan mereka, karena selama sebulan menikah, mereka belum melakukan hubungan suami istri.
** ** **
Keesokan malam, Reini dan Awan datang ke acara keluarga yang diadakan Angkasa dan Arum setelah Reini siap keluar dan bertemu banyak orang. Tapi belum sepenuhnya, Reini juga banyak menyendiri dan diam, ia memiliki tujuan sendiri.
Disana berkumpul seluruh keluarga besar Angkasa. Ada juga mama Voni dan Rendy.
Dan malam ini Reini mendapat pertanyaan yang sama dari beberapa orang.
"Sudah nyusul Arum belum?"
"Kalah nih sama Arum."
Ingin dia mengatakan yang sesungguhnya, tapi Awan melarangnya sebab tidak semua orang sependapat dengan keputusan mereka. Dan Awan berpesan, itu pertanyaan umum, tak perlu diambil pusing. Kadang hanya pertanyaan basa-basi, ada juga yang memang sengaja menyindir.
Reini menghampiri Arum yang sedang berada didapur membuatkan susu untuk Adithya.
"Ehem, Rum."
Arum menoleh, dan tersenyum.
Mau bilang apa lagi?
"Aku minta maaf."
Arum langsung meletakkan botol susunya dan menatap Reini serius.
__ADS_1
Apanie? perasaan mulai nggak enak.
"Maaf atas apa, Rein?" Arum tegang seperti terdakwa menghadapi vonisnya.
"Atas apa yang pernah aku katakan sama kamu, maaf kalau aku pernah menyakiti dan menyinggung perasaan kamu, aku tak sengaja melakukanya."
Arum diam, matanya berkedip berkali-kali, sedikit tidak percaya dengan yang keluar dari bibir Reini.
"Rein." Tubuh Arum terasa dingin, begitu juga Reini, ada rasa takut Arum tidak akan memaafkannya.
"Kamu mau maafin aku kan, Rum? Maafin aku ya Rum, aku sudah mendapat balasan atas perbuatan ku sendiri." Menunduk, menangis.
Arum sebenarnya bingung harus apa? Dia dan Reini tidak terlalu dekat, jujur masih ada rasa sakit hati.
"Iya, aku maafin kamu, Rein." Cuma itu yang bisa terucap, tidak ada pelukan damai.
Reini tersenyum menatap Arum, menghapus air matanya.
"Terima kasih, Rum. Sudah mau maafin aku."
Arum mengangguk, ia kemudian melanjutkan membuat sufor untuk Adithya.
"Kita kedepan yuk, jangan pikirin apa-apa." Ajaknya setelah selesai.
Reini mengangguk dan bergabung dengan keluarga besar Arum dan Angkasa. Delia memanggil Reini untuk duduk didekatnya.
"Kamu sehat, Rein?"
"Sehat, Ma." Melengkungkan senyum.
"Kata ayah Abian kamu tadi sakit. Sudah periksa?" Pertanyaan Delia juga didengar Voni, Voni merasa tak enak sendiri pada besanya, berarti Delia belum tahu Reini memutuskan pilihan lain.
Andai besanya bukan temanya sendiri, mungkin tidak akan semendebarkan ini. Ternyata berbesan dengan teman sendiri, tak seenak yang dibayangkan.
"Cuma masuk angin, Ma. Sekarang sudah nggak papa." Delia melirik Reini yang menggunakan sarung tangan. Seperti acara peresmian kerajaan Inggris saja, tapi beruntungnya Delia ingat dengan cerita suaminya.
"Wanita itu memang kuat-kuat, coba kalau laki-laki yang sakit, pasti manjanya kayak sakit struk saja." Mengusap pundak Reini, mencoba menguatkan.
Ingin bertanya secara langsung, ia rasa baik Reini dan Awan sengaja menutupi kejadian ini, tidak mau semua orang tahu, dan dia mengerti, Reini pasti merasa malu.
Pukul sepuluh malam, satu persatu tamu undangan Angkasa dan Arum berpamitan, tidak terkecuali Awan dan Reini. Saat Awan berbincang dengan Abian dan Delia. Voni menghampiri Reini.
"Besok kamu libur, Rein?"
"Iya, Ma."
"Mama besok main keapartemen kamu ya?" Izinya.
"Iya, Ma. Kenapa harus izin, kalau mau datang, datang saja."
** ** **
Keesokan harinya, Voni datang ke apartemen anaknya. Reini tidak melakukan aktivitas apapun, dia hanya duduk menyendiri dikamar.
"Kalau suami lagi kerja, sebaiknya membuat kesibukan, jangan merenung begini." Omel Voni, melihat Reini hanya bermalasan dikamar. "Mama malu sama tante Delia kalau kamu nggak jadi istri yang baik untuk anaknya." Membuka selimut yang menutupi kaki Reini, tapi Reini menarik tubuh mamanya, dan memeluknya.
"Dari kemarin Reini takut mau cerita ke Mama, takut Mama akan marah sana Reini."
Voni terkejut. "Ada apa, Rein?" Reini menceritakan kejadian yang menimpanya, ada rasa kasihan dan sakit hati mendengar cerita Reini.
"Untung kamu tidak apa-apa, Rein. Tuhan masih melindungi mu."
"Maafin, Reini, Ma."
"Kamu tidak salah, Sayang. Ambil hikmah atas semua yang terjadi, kamu berhak mendapat kesempatan kedua." Melepaskan pelukan, merapikan rambut Reini, dan menghapus air matanya.
"Lalu bagaimana kabar kedua orang itu?"
"Awan sudah memenjarakan keduanya, Ma."
"Lain kali hati-hati dalam berucap, Rein. Zaman sekarang manusia banyak yang menakutkan, apa kamu masih mau kerja?"
"Reini nggak bisa lepas begitu aja, Ma. Awan juga masih mengizinkan."
"Setelah semua yang terjadi?" Reini mengangguk.
"Awan cuma mau Reini senang atas semua keputusan Reini."
"Bersyukurlah suami kamu, Awan Rein. Terus masalah momongan kamu masih belum berubah pikiran?" Reini mengangguk. "Awan juga mengizinkan?" Reini kembali mengangguk.
Voni melemah, Reini anak semata wayangnya, dia sudah menginginkan cucu, tapi Reini malah menundanya.
"
__ADS_1