
Kata orang, jika mau menjadi pedagang itu harus memiliki mental baja. Karena yang namanya jualan, kadang sepi, kadang rame. Disaat semangat ingin berbisnis sudah 45, tapi sepi pembeli, saat itulah mental pedagang diuji.
Seperti yang sedang Arum rasakan saat ini. Saat membuat adonan rotinya semalam, dia sambil menghayal, baru buka toko, sudah banyak yang mampir, dan dagangannya habis terjual. Tapi sayang, kenyataan tak sesuai realita.
Dihari pertamanya membuka toko roti, dari pagi, belum ada yang membeli sama sekali, hanya ada lalat dan sanak saudaranya yang coba masuk kedalam etalase, tempat dia memajang roti.
Ilmu bisnisnya kurang, hanya modal nekat, tak ada promo sebelumnya, tak posting disosial media juga, padahal jaman modern seperti ini, untuk mantan pramugari seperti Arum, pasti banyak pengikutnya, harusnya dia pintar bermain sosial media, tapi dia justru kudet.
Ekpektasi awal juga terlalu tinggi, terlalu percaya diri jika dagangannya banyak yang ingin membeli, nyatanya tidak. Arum lesu.
Hingga pukul 12 siang, belum satupun roti buatannya laku, saat ada yang datang, itu malah Andini, bukan pembeli.
"Bagaimana rotinya, Nona?" tanya Andini, masih memanggil nona.
"Masih belum ada yang singgah, mungkin belum ada yang tahu," jawab Arum mencoba berpikir positif, tetapi hatinya sesungguhnya sudah mulai lemas, belum satupun rotinya laku terjual.
Andini memperhatikan roti buatan Arum yang dipajang dietalase, dari segi pengemasan bagus, bentuknya unik-unik dan bermacam, rasanya juga bervariasi.
"Yang paling recoment, rasa apa?"
"Ada seseorang yang mengatakan kalau roti srikaya buatan ku, paling enak," jawab Arum tersenyum, Angkasa yang ada dalam pikirannya, sebab Angkasa dulu selalu meminta roti padanya, saat ada jadwal bareng.
Andini mengambil sebungkus roti yang disebutkan, dan mencobanya. Dia begitu menikmati setiap potong kunyahanya, tidak langsung memberikan komentar, dia tak ingin menjadi teman yang buruk, jika rasanya tak enak, tapi bilang enak.
Arum menunggu dengan perasaan gelisah.
"Nona, ini rasanya luar biasa, tidak membosankan, isiianya banyak, komposisi yang pas, tidak bikin enek," pujinya, tidak melebih-lebihkan, dan juga tidak mengurangi. "Sukses itu tidak instan, semangat, Nona. Saya yakin dengan mempertahankan rasa, usaha roti Nona nanti banyak yang tahu," komentar Andini melihat wajah lesu dan putus asa Arum.
Arum mengangguk, meski dapat pujian dan dukungan dari Andini, dia tak bisa menutupi rasa lemasnya.
Suara deru mobil membuat keduanya menoleh, Awan yang datang. Arum menyemabut dengan senyuman, meski Awan dan Angkasa memiliki rupa yang sama, dia tahu betul mana Angkasa, mana Awan.
"Hai girls, maaf aku terlambat, aku lupa jika ini haru pertama kerja, ku."
"Tidak apa-apa. Seharusnya kamu tidak perlu datang kalau sibuk," jawab Arum.
"No, no. Aku sudah janji akan datang. Bagaimana hari pertamanya?"
"Sepertinya aku termasuk pada orang yang sukses dengan kerja keras dan penuh kesabaran, bukan dengan keberuntungan," kata Arum coba menghibur hatinya sendiri.
__ADS_1
"Bukankah berarti Tuhan begitu menyayangi mu dengan cara yang hebat?" kata Awan. Dia ingin mengambil roti milik Arum, tapi ponselnya bergetar. Dahinya berlipat, pesan dari Angkasa. Setelah membaca pesan itu, Awan tak jadi mengambil roti, justru pamit.
"Maaf, semuanya. Ada keadaan darurat, aku harus pergi sekarang," pamit Awan, tanpa menunggu jawaban dari Arum ia langsung berlari menuju mobilnya, dan langsung tancap gas menuju bandara.
Arum dan Andini melihat kepergian Awan, padahal belum lima menit Awan sampai, sudah harus pergi lagi.
Tapi tak lama kemudian, Arum kedatangan pelanggan pertamanya.
"Selamat siang, selamat datang di toko roti Arum," sapa Arum menyambut hangat.
"Jual apa, mbak?"
"Roti, mas. Silahkan dipilih mau roti yang mana? Berhubung anda pelanggan pertama, saya kasih diskon, beli satu gratis dua," kata Arum, ide itu datang tiba-tiba.
"Maksudnya, beli satu dapat tiga?" tanya pelanggan laki-laki itu. Arum mengangguk.
"Wah, kalau begitu, saya beli lima. Jadi dapat berapa itu?"
"Anda cukup bayar lima harga roti, tapi dapat lima belas roti," jawab Arum semangat.
Setelahnya, datang satu persatu pembeli di toko roti Arum. Karena promo dari mulut ke mulut, pikir Arum. Sebab mereka juga minta diskonan sama seperti pelanggan pertama tadi. Dalam waktu satu jam, seratus bungkus lebih roti Arum, ludes terjual.
"Sepertinya anda harus mengganti kata-kata anda tadi, Nona. Jika anda juga temasuk salah satu orang yang memiliki keberuntungan," kata Andini.
"Baru mau saya bantu promo kam lewat media sosial milik saya, dan grup pesan, tapi sudah habis saja," kata Andini. "Eh tapi tetep akan saya promosi kan deh, Nona. Biar ada yang mau, nanti saya buatkan list."
"Oh ya. Terima kasih, Sus. Saya tidak pernah main sosial media, saya tidak kepikiran kesana."
"Tenang, nanti toko roti Nona saya buatkan akun sosial sendiri," ujar Andini, "ya ampun, kenapa nggak dari awal saja ya buatnya sebelum buka, ya?" sesal Andini sambil membantu Arum merapikan toko roti Arum.
"Iya, memang kadang kota tidak kepikiran kesana," sahut Arum. Arum menghitung hasil penjualannya hari ini.
"Bagaimana, Nona. Untung apa rugi, tadi Nona memberi diskon kepada semua pembeli?"
"Alhamdulilah, balik modal, tidak untung, dan juga tidak rugi, masih bisa untuk belanja bahan-bahan buat besok."
"Apa Nona, mau belanja sekarang? Saya ikut."
"Iya."
__ADS_1
Arum dan Andini memesan taksi, tiba-tiba hujan turun lebat. Taksi yang Arum pesan, terjebak macet, karena jalur yang akan dilewati tegenang air akibat ditimpa hujan setiap hari.
Angkasa yang masih memantau dari jauh, tak tega melihat wanita yang ia suka sampai kehujanan. Diapun melajukan mobilnya menghampiri Arum.
Arum dan Andini melihat mobil yang berhenti didepan mereka, Arum terkejut saat si laki-laki dibalik kemudi membuka kaca mobil.
"Captain," gumam Arum.
"Masuk, aku antar," titah Angkasa memerintah.
Arum mengedipkan mata tak percaya, tapi tak mau Angkasa menunggu lama, Arum mengajak Andini masuk dan duduk dibangku belakang.
"Suster Andini, bisa pindah ke depan? Saya berasa seperti supir," pinta Angkasa. Hal itu membuat hati Arum mencelus.
Kenapa bukan dia yang diminta duduk disebelahnya, kenapa Andini? Hati Arum terasa di remas, sakit.
Sialnya lagi, hal sepele ini membuat matanya tiba-tiba memanas.
Arum menunduk dan memejamkan matanya, membuat buliran itu jatuh.
Kenapa jadi begini sih? rutuk Arum dalam hati. Memangnya aku siapa?
Diam-diam Angkasa mengintip lewat spion tengah, terlihat Arum menunduk, meski wajahnya tertutup rambut panjangnya dan terhalang oleh kursi yang ia duduki, tapi Angkasa bisa melihat pergerakan tangan Arum yang seperti mengusap muka, seperti menghapus air mata.
Arum menangis?
.
.
.
Visual Arum.
Visual Angkasa
__ADS_1