
Reini sempat tercenung dengan sifat Awan padanya, sebab terakhir mereka bertemu, mereka dalam keadaan sama-sama marah. Namun kemudian Reini tersenyum karena dia tahu, Awan tidak akan pernah bisa marah padanya.
"Miss you, Baby." Awan nengcup pipi Reini, sengaja ia melakukan itu didepan pilot yang bersama Reini.
"Miss you too. Wan," balas Reini senang. "Oh ya, kenalin, ini Captain Angga. Captain Angga ini juga sudah lama bergabung di Airlangga Airlines." Reini memperkenalkan Awan pada Captain Angga.
"Hai Captain Angga, senang berkenalan dengan, Anda." Awan mengulurkan tanganya. Angga membalas seraya tersenyum ramah.
"Senang juga berkenalan dengan Anda, Pak. Suami Reini yang akan menjadi direktur utama di Airlangga Airlines."
"Terima kasih. Kalau begitu kami duluan, Captain. Saya sangat rindu dengan istri saya, sudah dua hari kami tidak bertemu." Awan menatap Reini dirangkulanya.
"Saya paham, Pak. Dan saya kagum dengan pasangan Bapak dan Reini, biasanya pengantin baru menikmati pergi honeymoon ke tempat romantis, tapi kalian memilih bekerja." Sarkasnya.
Awan mengangguk, menarik sudut bibirnya tahu maksud dari ucapan Angga.
"Hem, menurut kami mau bulan madu di tempat jauh dan romantis sama saja dengan melakukan disini, rasanya tetap sama. Iya kan, baby?" Awan mengedipkan mata pada Reini, memaksakan tersenyum pada Angga.
Ada kekecewaan atas jawaban Awan, jawaban yang sama dengan Reini.
"Dah Capt. Kami pulang duluan," pamit Reini pada Angga, Reini ingin menoleh kebelakang saat berjalan, namun Awan menahanya.
"Aku pikir kamu masih marah sama aku," ucap Reini menatap Awan, berjalan menuju parkiran. Awan tak menjawab, terus berjalan menuju mobil, ia melepaskan rangkulan setelah sampai di mobil, memasukkan koper Reini di bagasi. Reini memperhatikan wajah tampan suaminya. Awan terlihat seksi dengan kemeja putih yang digulung sebatas siku.
Awan tak juga memberikan jawaban, ia berjalan melewati Reini begitu saja, laki-laki itu membukakan pintu untuk sang istri. Terpaksa Reini masuk mobil meski belum mendapatkan jawaban dari Awan. Setelah Reini masuk, Awan memutar mobil, mengambil duduk di balik kemudi, memutar kunci kontak.
Mobil Awan mulai meninggalkan parkiran bandara, dia masih belum membuka suara, membuat Reini penasaran akan jawaban Awan.
"Kita ke puncak, mau?" tawar Awan melihat Reini yang sejak tadi terus mentapanya.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu udah nggak marah sama aku?" Meski tawaran Awan tadi cukup memberikan jawaban jika suaminya itu tidak marah, Reini tetap ingin jawaban dari Awan.
__ADS_1
"Harus aku jawab?"
"Iya, kenapa juga harus nanya?"
Awan tersenyum. "Kayaknya sampai rumah nggak akan selesai pertanyaan dijawab pertanyaan."
"Nyebelin sih. Tinggal jawab aja."
"Kamu sudah pasti tau, kalau aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu," jawaban Awan membuat Reini senang dan cukup puas. "Selama kamu nggak pulang, aku tidur di hotel. Apa malam ini kita pulang ke hotel lagi? Kita belum punya rumah, aku menunggu kamu buat menentukan kita akan tinggal dimana?"
Reini yang tadi sempat menyandarkan kepala di sandaran kursi, seketika menegakkan tubuhnya.
"Kita tinggal di apartemen aja gimana?" usulnya. "Kamu tahu sendiri aku pengen banget tinggal diapartemen, tapi papa sama mama nggak pernah kasih aku tinggal diapartemen," Reini memasang wajah manja, agar keinginanya dipenuhi.
"Iya, kita cari disekitaran bandara, biar nggak terlalu jauh, dan kamu nggak kecapean terjebak kemacetan."
"Bener Wan?" tanya Reini terlihat begitu girang.
"Makasih sayang, kamu emang selalu bisa ngertiiin aku." Reini ingin memeluk Awan, tapi ingat penolakan Awan malam lalu, ia mengurungkanya. Masih ada rasa takut ia ditolak lagi.
Sampai di hotel, Awan dan Reini bergantian membersihkan diri, padahal mereka sudah suami istri, bisa saja mereka mandi bersama, tapi karena keduanya masih sama-sama polos, mereka tak kepikiran kesana.
Tadinya Awan mengajak Reini makan di restoran, tapi Reini menolak sebab ingin cepat istirahat dan berganti pakaian, jadi mereka makan dikamar hotel saja.
Mereka baru saja menghabiskan makanan, Awan mengajak Reini ke balkon, melihat keindahan ibu kota dimalam hari dari ketinggian. Awan memeluk Reini dari belakang, pelukan pertama yang mereka lakukan setelah mereka menikah, Reini dapat merasakan debar jantung Awan dipunggungnya, serta nafas hangat suaminya di atas kepalanya.
Reini memejam, menikmati pelukan hangat Awan.
"Begini ternyata rasanya dipeluk," gumam Reini, jantungnya tak kalah berdebar dari Awan.
"Maaf atas ucapan ku malam itu, Rein. Aku tahu itu sangat melukai hati kamu," ujar Awan dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
"Iya, nggak papa." Suara Reini serak sebab gugup.
"Boleh aku minta satu hal, Rein?"
"Hem, apa?"
Awan membalik tubuh Reini jadi menghadapnya, mereka saling tatap. Rambut Reini yang berterbangan karena tiupan angin membuat Reini terlihat begitu cantik dimata Awan, Awan merapikan rambut istrinya.
"Jangan pernah keluar rumah kalau kita lagi bertengkar, usahakan kita selesaikan dulu masalah kita baru kita keluar?" Menatap mata Reini lembut.
Reini mengangguk, sumpah jantungnya sedang tidak baik-baik saja, dua hari tak bertemu, dia begitu merindukan suaminya.
"Untuk keinginan kamu yang menunda momongan aku setuju, kamu yang akan hamil, jadi aku menunggu sampai kamu siap."
"Be-bener?" Reini tiba-tiba gugup.
"Iya Sayang. Tapi biar aku saja yang memakai pengaman, jadi kamu nggak perlu minum obat atau melakukan suntik. Setelah aku baca-baca, takut ada efek untuk kamu."
Setelah mendapat saran dari Daniel, dan segala masukan, Awan akhirnya memilih mengalah dan mengikuti keinginan istrinya, sebisa mungkin dia harus mempertahankan rumah tangga mereka. Sebagai kepala keluarga, Awan harus cepat memadamkan api yang menyala, menurunkan ego, memupuk cinta antara dia dan Reini.
Reini kembali berada diatas awan, suaminya kembali menuruti segala keinginanya, ia tahu itu Awan pasti akan melakukanya.
"Rein, apa kamu menceritakan tentang masalah rumah tangga kita pada orang lain?"
Reini menggeleng.
"Terima kasih, aku harap kamu jangan asal menceritakan masalah kita pada orang lain, kecuali orang itu bisa dipercaya." Awan masih mengungkung tubuh Reini. "Dan satu lagi, aku tidak suka kamu dekat sama pilot tadi."
"Kamu cemburu?"
"Jelas aku cemburu, apalagi kamu pengen punya suami seorang pilot."
__ADS_1
"Tapi sekarang aku punya suami lebih kaya dari pilot," sahut Rein cepat. "Bukan cuma kaya, tapi juga lebih tampan dari pilot-pilot itu, kecuali saudara kembar kamu."