
Setelah makan, Angkasa mengajak Arum jalan-jalan, menikmati hari berdua mereka, sekalian liburan. Angkasa melihat jalan Arum yang terlihat masih tak nyaman saat hendak keluar villa.
"Apa masih sakit?" tanyanya diambang pintu yang sudah dibuka, memegang daun pintu.
Arum menunduk malu ditanya seperti itu. "Sedikit."
"Mau aku gendong." Angkasa berjalan mendekat.
"Hem, sekalian sampai rumah kalau begitu." Angkasa merekahkan senyumnya mendapati jawaban Arum. "Memang kita mau kemana lagi?" Arum mendongak bertanya.
"Ke villa yang lebih bagus, mungkin sensasinya berbeda."
"Aku akan membunuh mu kalau begitu." Angkasa menarik pundak Arum merangkulnya, mereka keluar bersama.
Udara yang sejuk, pemandangan kebun teh yang bersusun rapih memanjakan mata bagi siapa saja yang melihatnya, membuat siapapun akan betah berlama-lama mengunjungi tempat wisata yang satu ini, apalagi untuk pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran. Tak terkecuali Arum dan Angkasa, rasanya mereka tak ingin pulang.
Angkasa dan Arum mengunjungi taman bunga, mengabadikan potret keduanya disetiap tempat yang mereka rasa bagus untuk berfoto. Setelah puas, keduanya turun, Angkasa dan Arum berhenti di warung kaki lima sejenak sebelum kembali ke ibu kota, menikmati nikmatnya jagung bakar yang masih hangat.
Arum menatap kagum sosok sempurna yang semalam telah membawanya terbang ke nirwana. Angkasa menyesap kopi panas yang disajikan pada gelas cup.
Wajah Arum terasa memanas mengingat malam yang telah mereka lalui, pikiran Arum kini membayangkan, betapa besar ukuran kumbang yang masuk ke inti tubuhnya, hingga kini terasa masih sangat mengganjal dibawah sana.
Arum kembali mengingat-ingat, semalam sempat menyentuhnya sedikit, tapi karena takut ia menarik tanganya ketika Angkasa mengarahkan tanganya dibawah sana, Arum menggigit bibir, sayangnya ia tak sempat melihat milik Angkasa.
Astaga, pikiran macam apa ini?
__ADS_1
Arum menggelengkan kepala, membuang nafas lewat mulut.
"Sedang mikirin apa, hem?" Angkasa menyenggol bahu Arum.
Arum malu, hampir saja dia ketahuan memikirkan yang tidak-tidak.
"Emm, Ang. Apa kamu nggak penasaran apa yang aku bahas dengan Alex?"
"Jangan ceritakan jika itu hanya akan membuatku sakit." Angkasa berkata ketus.
Arum mengerucutkan bibirnya, belum apa-apa Angkasa sudah bete duluan. "Dia ternyata selama ini menyelamatkan ku."
"Menyelamatkan dari apa? Menyelamatkan dari kandang anjing laut, dan memasukkan ke kandang banteng, iya?"
Arum berdecak pelan. "Dengarkan dulu makanya kalau orang mau menjelaskan."
Arum menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.
"Alex bilang, alasan kenapa dia tidak menikahi ku, karena dia tahu, setelah dia menikahi ku, ayah Dikdik akan menculikku, dan melakukan yang selama ini dia tahan."
Arum mulai bercerita, ia putuskan akan mulai terbuka pada Angkasa, meski mereka baru dekat, ia merasa jika Angkasa bisa dipercaya. Arum mengatur letak kepalanya mencari kenyamanan.
Kening Angkasa berkerut mendengarnya. "Maksudnya? Jangan bilang apa yang ada didalam pikiran ku ini benar?"
Arum mengangguk. "Dan juga, penagih hutang kemarin, kata Alex mustahil jika ayah punya hutang, sebab Alex rutin memberinya uang. Karena ayah menjual ku pada Alex."
__ADS_1
Arum tak tahu saja jika Angkasa mencengkeram erat gelas kopi yang dipegangnya. Sakit sekali hatinya mendengar jika Arum dijual pada Alex.
"Maksudnya penipu?
"Alex bilang begitu, mereka bukanlah penagih hutang, melainkan, entah mereka siapa? Tapi kata Alex, mereka pasti akan kembali lagi."
"Kalau begitu mulai sekarang kamu harus hati-hati, jangan buka pintu rumah jika ada orang asing datang." Arum mengangguk mendengar pesan Angkasa.
"Ang," Arum mengangkat kepalanya menatap Angkasa. "Kamu jangan cemburu jika aku dekat dengan Alex, karena sekarang aku tidak memiliki perasaan lagi padanya."
"Tidak bisa, aku tidak suka itu terjadi."
"Kamu tahu? Alex itu hidup sebatang kara, ibunya sudah tidak ada, dan papanya. Kamu lihat sendiri jika pak Axel tak perhatian padanya, tapi lebih ke perhatian ke keluarga barunya. Alex kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya sejak kecil, dan selalu mendapatkan kekerasan fisik, hingga membentuk karakternya seperti sekarang."
Ada rasa tak suka Arum begitu detail menceritakan perihal Alex, tapi dia lega Arum tidak lagi punya perasaan pada Alex, dan tahu alasan kenapa Arum dan Alex berpelukan.
Tak ingin Arum lebih panjang bercerita perihal Alex, Angkasa berdiri. Dia kemudian menyeberang, menghampiri seorang pedagang aksesoris, padahal bisa saja dia memanggil pedagang itu tanpa menyeberang. Angkasa tampak membeli sesuatu. Setelah membayar dengan uang lembaran berwarna merah, Angkasa kembali menyeberang.
"Rum, aku ada sesuatu untuk kamu." Angkasa melihat sekeliling mencari seseorang yang bisa dimintai tolong.
"Ah Pak, tolong Bapak pegang handphone saya, dan menjadi saksi proses ikatan kuat diantara kami."
Angkasa memberikan ponselnya pada bapak pemilik warung. Arum menatap heran pada sang kekasih. Bertanya-tanya dalam hati apa yang ingin dilakukan Angkasa?
Angkasa tepat berdiri dihadapan Arum, menekuk lututnya.
__ADS_1
"Rum, dengan disaksikan Bapak pemilik warung, dan disaksikan makhluk hidup, makhluk tak hidup, benda mati dan benda hidupnya. Jika hari aku melamar mu. Maukah kamu menikah dengan ku, Rum?"
Mata Arum seketika berkaca-kaca, dia menutup mulut haru. Angkasa tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan Arum, diambilnya tangan Arum, kemudian tanpa menunggu persetujuan Arum, Angkasa memasukkan cincin seharga lima ribuan dari abang penjual asesoris ke jari manis sebelah Arum.