Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Denisa dan Reini keluar dari lift yang mengantarkan mereka ke lantai Awan dan Daniel berada.


"Tante tahu mereka di kamar yang mana?" tanya Reini.


"Iya juga ya, Rein. Tante nggak tahu yang mana? Mereka ke lantai yang ini juga Tante nggak yakin."


Reini menghela nafas lelah. "Kita kehilangan jejak. Kalo terjadi apa-apa sama Awan, gimana ya, Tan?"


Saat keduanya sedang kebingungan mencari kamar yang digunakan Daniel, suami dari Denisa itu keluar dari salah satu kamar.


"Om Daniel." Reini segera menghampiri Daniel, "Awan mana, Om?"


"Cieee, khawatir. Om juga nggak tahu dimana?"


Kok jadi ngeselin. Batin Reini.


"Serius, Om. Awan dimana?" tanyanya tak sabaran. Reini mulai gelisah, merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya.


"Om nggak tahu, Rein. Om nggak megangin kakinya."


Sial, ini badan kenapa? Reini ingin menerobos kamar itu, Daniel menghalangi. Kulit mereka tidak sengaja bersentuhan dan itu membuat Reini semakin tak karuan, tapi meski begitu, dia masih sadar tujuh puluh persen.


"Permisi Om, Reini mau masuk. Awan pasti didalam kan?"


"Nggak ada." Daniel menghalangi, dan itu membuat Reini curiga.


"Awan pasti ada didalam, biarkan Reini masuk." Tubuhnya makin tak karuan, Reini ingin menyentuh dadanya saat ini, tapi sial Daniel malah mempermainkanya.


"Mas." Denisa melebarkan mata, memberi rahu agar suaminya mengizinkan Reini masuk, ia tahu obat itu mulai bereaksi.


"Oke, tapi kamu janji nggak boleh kaget atas apa yang kamu lihat." Daniel menepi, memberi ruang untuk Reini masuk.


"Apasih?" gerutu Reini tak paham apa yang diucapkan Daniel.


Saat masuk, Reini tak melihat sesuatu yang mencurigakan, ia malah mendapati Awan dalam posisi tengkurap, mulutnya menggumam tak jelas.


"Wan, kamu kenapa?" Reini mendekat, menyentuh kening suaminya. Dan itu membuat tubuhnya merasakan hal lain.


Ada apa ini? Dia ingin disentuh.


"Rein, ini kamu?" Awan membalikkan badan mendengar suara sang istri. Dia sudah dikuasai hawa nafsu yang tinggi.


"Iya, in_" Belum sempat Reini menyelesaikan ucapanya, tanganya sudah ditarik lebih dulu oleh Awan. Bibir mereka bertemu, Reini tak menolak, karena ini juga yang dia inginkan.


Reini memejamkan matanya, membiarkan bibir Awan melahap bibirnya dengan rakus, dan Reini membalasnya dengan tak kalah lebih ganasnya. Tak tahan, Awan membalikkan posisi menjadi Reini dibawah kungkunganya, tanpa melepaskan kegiatan mereka yang semakin panas.


Sama-sama dalam pengaruh obat, Reini dan Awan tak sabaran melepaskan kain yang melekat di tubuh mereka masing-masing, bibir mereka terlepas sejenak karena itu, tapi kemudian mereka melanjutkanya lagi.


Kulit yang saling bertemu, sudah lama saling merindukan, dan lama sama-sama tak merasakan membuat Awan langsung menyatukan tubuh keduanya. Suara eranangan yang keras terdengar tatkala benda tumpul yang berukuran besar dan berurat itu masuk kedalam tubuh Reini.


"Wan." Panggilnya dengan suara serak.


"Iya, ini aku, suamimu. Panggil nama ku sekencang yang kamu mau." Pinta Awan, lalu menyatukan kembali bibirnya, dengan sambil menggerakkan pinggulnya.


Awan sadar betul, baik dia dan sang istri sama-sama dalam pengaruh obat. Tapi dia tak perduli, yang ia inginkan saat ini, mereka menyatu dalam ikatan cinta. Tak memakai pengaman, Awan siap menerima amarah Reini besok pagi. Biarlah dia egois untuk saat ini, yang terpenting, mereka sama-sama keluar dari obat laknat ini.


Dan malam ini, mereka habiskan hingga menjelang pagi, Awan sampai lima kali merasakan nikmatnya percintaan mereka, dengan berbagai posisi. Dia bahkan mengabaikan Reini yang kehausan, hingga hal itu berhenti saat tenaga mereka dirasa benar-benar sudah habis.


* * *


Dilain tempat, masih dilantai yang sama, namun di kamar yang berbeda. Denisa terpaksa membawa suaminya kesana, karena suaminya juga mengkonsumsi obat yang sama yang dia berikan kepada sang keponakan.


"Dasar tua gila, nggak sadar umur. Ngapain ikut minum obat itu, mau ngerasain sama cewek lain?" Marah Denisa sambil mengguyur tubuh suaminya di bawah shower yang mengalir kencang.

__ADS_1


"Mi, bukan begitu. Aku ingin ngerasainya sama kamu. Please, bantu Papi." Rengek Daniel memohon.


"Ogah, sama saja kamu memperkaos aku kalau begitu. Kamu enak, aku yang kesakitan."


"Apa kamu nggak kasihan lihat aku tersiksa begini, Mi?"


"Nggak."


Daniel lemas, ia pikir istrinya akan melayaninya dengan sukarela dan membantunya keluar dari obat yang sama dengan obat yang ia beri pada Awan. Nyatanya, istrinya menolaknya. Salahnya juga tidak memberi obat itu pada sang istri.


"Kamu nggak penasaran, Mi? Kamu minum obat itu juga kek, biar kita sama-sama enak."


Denisa menghela nafas berat, kemudian ia keluar dari kamar mandi. Dia mengeluarkan dua obat dari dalam tasnya. Satu obat penawar, satu lagi obat perangsang. Dia bimbang, mana akan dia pilih? Meminum obat yang sama, atau memberi obat penawar untuk sang suami.


Hingga lima menit kemudian, ia menghampiri sang suami yang terduduk dibawah shower sambil memegangi miliknya sendiri.


"Ngapain sendirian? sini aku bantu." Ia menunduk, kemudian menyatukan bibir dan tubuh mereka. Daniel tersenyum dalam ciumannya, Denisa menurutnya. Dia menang, dia akan meminta maaf pada sang istri besok. Tapi untuk malam ini biarlah dia mencoba obat yang membuatnya penasaran untuk mencobanya, kini dia merasakan bersama sang istri.


Terlihat konyol memang, tapi inilah yang membuat rumah tangga mereka semakin terasa harmonis berbeda dari pasangan yang lain. Dara dan Danish saja sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol papi mereka yang kadang membuat Denisa kesal, tapi juga semakin sayang. Daniel si pemaksa, dan Denisa si pengalah yang selalu menuruti kemauan istrinya.


* * *


Esok paginya, Awan terbangun lebih dulu. Saat membuka mata, ia melihat Reini tidur dalam pelukanya. Awan tersenyum, Reini terlihat sangat cantik dalam tampilan rambut acak-acakan dan sedikit keringat dikeningnya.


Awan mengingat kejadian semalam, dari Daniel yang mengajaknya bertemu, lalu ia meminum minuman yang ada diatas meja, kemudian ia merasakan tubuhnya yang tidak karuan, dan dia sadar, jika minuman itu sudah dicampur Daniel obat perangsang. Ia marah pada omnya itu, tapi Daniel malah terkekeh dan keluar. Awan tak bisa mengejar, sebab ia takut pengaruh obat itu malah membuatnya melakukan dengan orang sembarang yang ia temui diluar, dan itu menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.


Namun tak lama, Awan bersyukur karena Reini yang datang. Awan tahu ini bukan kebetulan semata, ini pasti kerjaan omnya yang selalu diluar nurul. Awan tidak tahu harus marah atau justru berterima kasih pada omnya itu.


Awan melihat jam di nakas, ternyata sudah pukul sebelas siang. Ia tak tega membangunkan Reini. Awan putuskan bangun lebih dulu, sebelumnya ia mengecup kening sang istri terlebih dahulu sebelum beranjak ke kamar mandi.


Didalam kamar mandi, Awan dibuat terkejut dengan banyaknya tanda yang dibuat Reini sekujur tubuhnya. Awan tersenyum senang, tapi tak tahu reaksi Reini saat bangun nanti.


Selesai dengan aktivitasnya dikamar mandi, Awan keluar, dan ketika itu ia menyadari kamar yang mereka tempati sangat berantakan, Awan hanya dapat meringis. Sebrutal itu mereka semalam. Dilihatnya pakaian Reini dan pakaianya yang berceceran, dipungutinya pakaian mereka.


"Astaga," Awan terkekeh melihat pakaian Reini yang robek dan tak bisa terpakai lagi.


* * *


"Wan, kamu beli baju buat Reini?"


"Tante, Tante disini juga?" Awan terkejut melihat Denisa juga berada di mall yang tak jauh dari hotelnya menginap semalam.


Denisa terkekeh melihat ekspresi terkejut Awan. "Beliin baju buat om kamu, bajunya kusut kayak baju kamu." Awan melirik pakaianya yang memang terlihat kusut. "Dah selesai belum? Kalo udah, yuk kita ngobrol sebentar." Denisa melihat keranjang Awan yang berisikan pakaian dalam wanita. Awan yang menyadari itu, ia jadi malu sendiri.


Akhirnya mereka ngopi sebentar di cafe yang terletak dilantai bawah hotel. Denisa tak bisa menahan tawanya menceraikan kejadian semalam.


"Jadi Tante ikut dalam ide gila om Daniel?" Denisa mengangguk di sela tawanya.


"Om kamu niatnya baik loh."


"Semoga aja Reini nggak marah deh."


"Ini yang buat kamu kurang greget dimata istri kamu."


Alis Awan saling bertaut. "Maksud Tante?"


Denisa meletakkan garpu yang ia gunakan untuk menusuk pudingnya, lalu menatap Awan serius.


"Kamu tahu apa yang membuat Tante sangat mencintai om kamu? Karena sampai saat ini, sifat dominan yang dia miliki yang membuat Tante tergila-gila sama om kamu." Awan menyimak.


"Wanita itu memang rumit, tidak mau diatur, tapi dia suka cowok yang tegas dan dominan. Nggak perlu banyak debat, tinggal tentuin apa yang kamu mau."


"Jadi, selama ini Awan salah selalu menuruti keinginan Reini?"

__ADS_1


"Nggak juga, tapi dimata Reini kamu kurang greget aja. Beruntungnya kalian berdua merupakan anak baik-baik, nggak ada yang selingkuh, kalian nggak sampai berpisah itu hal yang bagus. Meski karena orang tua kalian ikit campur masalah ini, tapi jika kalian tidak memiliki sifat dewasa, mungkin kalian sudah memilih berpisah. Tante bangga sama kalian." Denisa kembali memakan pudingnya.


"Karena setiap rumah tangga pasti ada cobaanya masing-masing, memiliki kisah dan ceritanya sendiri. Nggak bisa disamakan juga." Lanjut Denisa sama seperti nasehat Angkasa padanya beberapa minggu yang lalu.


"Wan, jika nanti Reini marah, kamu jangan takut. Kamu harus bisa tentukan sikap."


"Apa itu tidak terkesan memaksakan, Tante?"


"Nggak, dan itu baik buat kamu. Percaya sama Tante."


Awan diam memikirkan itu.


"Om kamu itu nggak sabaran lihat kamu yang lambat, jadi dia melakukan ini. Untuk kedepannya, kamu yang menentukan."


"Sebagai kepala keluarga, apa Awan salah selama ini?" Tanyanya meminta pendapat, dari beberapa nasihat yang diberikan padanya. Semua menjurus pada ketegasanya sebagai suami.


"Nggak sayang. Kamu nggak salah, yang salah jika kamu memilih berpindah kelain hati." Denisa mengambil buat jambu air yang tadi ia beli. Mengambil salah satunya, lalu menekan menggunakan kedua tangannya. "Kamu makan yang ini deh."


"Nggak mau, itu kan buah busuk, Tan. Apa nggak ada yang lebih bagus lagi? Itu banyak loh, Tan."


Denisa tersenyum. "Ini yang kamu nggak tahu. Diantara buah jambu yang busuk ini, ini yang paling manis. Coba kamu makan dulu."


Awan mengikuti perintah sang tante, memakan buah itu. "Manis kan?"


Awan mengangguk.


"Itu malah lebih manis dari yang lain." Mengambil lagi satu buah, membelahnya dengan hal yang sama. "Coba kamu makan yang kata kamu bagus." Memberikan pada Awan.


"Manis."


"Tapi manisnya beda."


Awan merasa-rasai. "Yang ini masih ada asam-asamnya."


"Nah, seperti halnya berumah tangga. Jika lurusss, aja. Nggak senikmat itu rasanya. Tapi kalau ada kerikil-kerikil sedikit, itu wajar. Dan rasanya beda, bagaimana kita menghadapi dan menjalaninya. Paham kan?"


Awan mengangguk paham. "Terima kasih, Tante."


Denisa berdiri. "Tante ke kamar dulu. Om kamu pasti udah bangun. Ingat, mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan." Menepuk pundak sang keponakan sebelum meninggalkan Awan dan menghilang di dalam lift.


* * *


Awan kembali ke kamarnya, dan mendapati Reini masih tidur. Suara pintu tertutup, membuat Reini membuka mata.


"Eunggh," erangnya sambil menutup mata dengan telapak tangan, menghalau sinar matahari. "Wan, kamu dari luar."


Awan meletakkan paperbag diatas meja, menghampiri sang istri. "Hei, baru bangun? Ada yang sakit?"


Reini malu atas pertanyaan itu, ia menyembunyikan wajah didada Awan. "Kamu wangi banget, dari mana sih?"


Reini nggak marah? Apa tandanya Reini menerima jika dia hamil?


"Beli baju kamu." Reini semakin menarik tubuh Awan.


"Ngapain beli baju aku? Emang baju aku kenapa?" Pura-pura tidak tahu.


"Kita semalam."


"Nggak usah diterusin." Memukul punggung suaminya. Reini sadar apa yang telah terjadi semalam, bukan hanya Awan, tapi dia juga begitu agresif.


"Rein, tapi semalam aku melakukanya tanpa menggunakan pengaman."


"Ish, apa salahnya? Kamu suami aku."

__ADS_1


"Rein, apa kamu nggak takut?"


"Iya, aku nggak takut hamil. Aku siap hamil anak kamu."


__ADS_2