
Seekor kumbang jantan hinggap pada setangkai bunga yang menarik pehatianya, bunga itu masih kuncup, tapi harum wangi dan pesona mahkota dengan warna mencolok yang masih kuncup itu, membuat sikumbang ingin melakukan penyerbukan.
Bunga itu malu-malu saat kumbang mendekatinya, dan memaksa menghisap madunya. Jika penyerbukan pada umumnya terjadi saat kumbang itu membawa serbuk sari pada bunga lain. Tapi berbeda pada bunga ini, si kumbang yang gagah perkasa, bisa melakukan penyerbukan tanpa melakukan itu. Ia bisa melakukan pembuahan pada bunga, dengan menempelkan serbuk sari ditubuhnya, dan dia akan menebar pada serbuk sari yang ada pada bunga itu, menusukkan didalamnya.
Saat kumbang selesai dengan tugasnya membuahi, kuncup mahkota itu perlahan terbuka, kelenjar madu bunga itupun meleleh.
Bunga itu mekar, menunjukkan pesonanya yang semakin menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.
Arum terbuai akan indahnya pemandangan hamparan bunga yang bermekaran itu. Ia berguling-guling bersama Angkasa, berlari, dengan tangan saling bergandengan, mereka saling melempar senyum, tak ingin saling melepaskan.
Arum terpejam, tak ingin semua berlalu, ingin Angkasa selalu bersamanya, tak boleh ada siapapun yang mengambil Angkasa darinya, meskipun itu pemilik raga yang ingin memisahkan mereka secara paksa. Arum, membutuhkan bahu Angkasa sebagai tempatnya bersandar.
Mata Arum terbuka, tanganya meraba dada polos dihadapanya. Ia semakin melebarkan matanya yang masih terasa berat, dan detik itu juga ia tersadar dan kepingan puzzle kejadian semalam, satu persatu menyatu.
Astaga, apa yang telah ia lakukan semalam bersama Angkasa?
Arum bergerak, justru rasa nyeri yang teramat ia rasakan dibawah sana, sesuatu benar-benar telah terjadi. Arum mendesis, ini terasa sangat perih. Tak terasa setitik bulir keluar dari sudut matanya, ia menyalahkan dirinya yang membiarkan ini terjadi.
Angkasa ikut terbangun, saat lenganya yang dijadikan bantal kepala Arum terasa basah, dan pertama yang ia lihat, Arum yang sedang menangis dalam diam.
"Rum." Panggilnya, dan Arum semakin terguguh. "Hei."
Angkasa semakin menarik Arum dalam dekapan lenganya yang kokoh Arum tak menolak, karena menolak juga percuma, dia dan Angkasa telah melakukanya. Dikecupnya kening Arum dengan sayang, dirapikanya rambut Arum yang menutupi wajahnya.
"Maaf, maaf semalam aku tidak bisa mengontrol diri." Arum tak membuka suara, ia tak menyalahkan Angkasa, semua terjadi karena andil dirinya juga.
__ADS_1
Angkasa yang awalnya hanya ingin menyelamatkanya, malah terjebak pada situasi yang membuat mereka sama-sama mendamba dalam gelora yang panas. Bibir Angkasa yang awalnya hanya memagut lembut, justru ia sambut dengan lebih menggebu, yang membawa mereka sama-sama saling ingin melakukan lebih.
Tubuh yang saling menempel, kulit yang saling bersentuhan secara langsung, dan gesekan karena pergerakan Arum yang meringsekkan tubuhnya dalam dekapan hangat tubuh Angkasa mencari kenyamanan, membuat sikumbang jantan tak bisa dikontrol, dan sulit untuk menolak pesona sibunga yang masih kuncup.
Suasana malam yang sunyi, didukung cuaca yang dingin menusuk kulit, membuat gairah yang bersiteru merajut kasih diatas gelora cinta yang membara.
"Rum, aku akan bertanggung jawab." Angkasa coba menenangkan Arum yang sepertinya sangat menyesali kejadian ini. Jujur ia juga menyesal, tapi apa mau dibuat, nasi telah menjadi bubur.
Sebelah tangan Angkasa mencari ponsel yang entah ia lupa diletakkan dimana? Dan akhirnya ia menemukan diatas nakas. Angkasa melihat waktu, sudah jam sepuluh pagi, ia menggigit bibir, banyak pesan dan panggilan tak terjawab, semua dari orang rumah.
Sudah pasti mereka mengkhawatirkan Angkasa, sebab Angkasa tak pernah bermalam di luar. Dan juga, ini merupakan hari pertama ia mulai aktif lagi sebagai pilot, setelah sekian lama ia fakum setelah kejadian penjebakan itu. Angkasa memilih mengnonaktifkan ponselnya, ia tak ingin diganggu siapapun hari ini.
Kemarin mereka tiba sore hari, ternyata semalam terjadi cukup lama, karena Angkasa butuh perjuangan untuk mengeksekusinya. Ada kebanggaan dalam diri Angkasa, setelah ia mengetahui, jika ialah yang pertama melakukan itu pada Arum.
Mulai saat ini, Arum seutuhnya menjadi miliknya, ia berkuasa atas diri Arum, ia tak ingin ada seorangpun yang menyentuh Arum.
* * *
Angkasa dan Arum sudah selesai menbersihkan diri, sudah berganti pakaian yang tadi Angkasa beli secara online. Tadi Angkasa cepat-cepat menjauhkan dirinya dari Arum, sebab, terus berdua berada dalam satu selimut, membuat jiwa kelakian Angkasa menginginkannya lagi, Arum terasa candu, dan Angkasa sudah merasakan nikmatnya.
"Kita mau cari makan diluar apa pesan kesini aja?" tanya Angkasa sambil memakai jam tanganya, manatap Arum yang memilih duduk diujung tempat tidur.
"Aku ... ingin makan disini saja, boleh?" pinta Arum. Sebab diantara sela pahanya masih terasa tidak nyaman untuk dibawa berjalan.
Dan juga, meskipun yang mereka lakukan tidak diketahui siapapun, Arum merasa malu sendiri untuk keluar, sebab mereka bukanlah pasangan suami istri yang sudah sah secara hukum dan agama.
__ADS_1
Angkasa mengangguk, menatap Arum yang wajahnya sudah terlihat segar.
Bukan perkara mudah bagi Angkasa melawan dirinya untuk tak mendekati Arum, tapi langkah kakinya tak bisa dicegah lagi. Ia mendekat, menyelipkan tangan dileher Arum, menariknya, mendaratkan kembali dibibir berwarna merah muda itu. Menggigitnya sekilas.
"Ia aku akan memesanya," jawabnya, mengusap bibir Arum yang basah karena ulahnya. Padahal bibir Arum masih bengkak bekas semalam, dan belum hilang sepenuhnya, tapi ia tambah lagi.
* * *
Di kediaman Abian.
Ibu negara masih ngoceh dari kemarin, satu anak laki-lakinya tidak pulang, padahal ini hari pertama ia masuk kerja. Aira, sampai tak masuk sekolah, karena ibu negara terus uring-uringan, memerintahnya telepon ini, telepon itu. Ia sampai menyumbat telinganya dengan kapas.
Awan sendiri sudah berangkat sejak pagi, ia tak mau diinterogasi, sebab feelingnya mengatakan, Angkasa bersama Arum. Entah dimana mereka berdua?
Dan Andini yang kemarin terakhir bersama Angkasa, ia bungkam, tak mengatakan apa-apa, hanya mengatakan jika mereka berpisah setelah Angkasa mengantarkanya ditempat pasienya.
"Aira, nomor kakak kamu belum aktif juga?" repet Delia begitu bawel. Suara Delia yang sekarang seperti klakson bis, bisa didengar Aira, meski telinga gadis itu ditutup kapas.
"Masih belum aktif, Ma," jawab Aira.
Tadi sih aktif sebentar, tapi mati lagi. Gumam Aira, ngedumel dalam hati. Sumpah ya, jika kakaknya pulang nanti, dia akan meminta uang jajan lebih pada kakaknya yang sudah membuat seisi rumah heboh.
Aira yang memiliki keahlian tersembunyi, sudah mengetahui keberadaan kakaknya, dia mendeteksi letak lokasi terakhir kakaknya melalui sinyal ponsel Angkasa, dan itu berada disebuah villa.
"Sayang, kamu makan dulu ya. Dari pagi tadi perut kamu belum diisi sama sekali." Abian muncul dari dapur membawa sepiring nasi.
__ADS_1
"Bi, gimana aku bisa makan. Sedangkan belum ada kabar sama sekali dari anak kita. Aku takut terjadi sesuatu sama Angkasa," sahut Delia begitu khawatir.
"Kita doakan saja sayang. Tidak terjadi apa-apa pada anak kita."