
Pukul 12 siang Angkasa baru tiba dirumah. Ada Delia yang menemani Arum, Andini sudah pulang untuk beristirahat.
"Assalamualaikum." Angkasa masuk kamar dengan senyum sumringah. Sehari semalam tak bertemu anak istri membuatnya begitu rindu, dapat bertemu anak dan istrinya adalah hal paling membahagiakan untuknya.
Arum menyambutnya, saat ini Adithya bersama sang nenek dikamar sebelah. Arum mengendus seragam Angkasa.
"Ada apa sih Sayang?" Angkasa menarik tubuh Arum kedalam pelukanya.
"Cuma mastiin nggak ada parfum perempuan di pakaian kamu."
"Kamu mencurigai ku?" Melerai pelukan, menatap wajah cantik Arum.
"Cuma waspada." Arum juga memeriksa sisa lipstik yang mungkin tertinggal di sela-sela seragam Angkasa.
"No problem, kamu berhak melakukannya," Angkasa merentangkan tangan untuk diciumi Arum. "Kalau bisa dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan bagian paling penting juga."
"Apa aku masih cantik dimata kamu?"
__ADS_1
"Harus aku jawab, Sayang?" Angkasa menggendong tubuh istrinya, lalu merebahkanya di kasur. Teriakan Arum minta diturunkan, diabaikan oleh Angkasa. "Kamu cantik, kamu selalu cantik dimata ku."
"Kamu nggak gombal cuma buat menutupi kebohongan kamu kan?"
"Astaga, Sayang. Kenapa kamu jadi sensitif begini?" Angkasa menatap wajah sang istri yang berada dibawahnya. "Oh aku tahu, apa inj yang dinamakan sindrome baby blues?"
Arum menggeleng. "Jangan mengalihkan, apa aku benar-benar masih cantik dimata kamu?"
Angkasa menjatuhkan tubuhnya disamping Arum, masih belum sempat melepas seragamnya. Kemudian memeluk Arum dari samping.
Arum mengangguk.
"Jadi jangan pernah berpikir yang macam-macam, kamu tujuan ku hidup dan kembali, kamu rumahku." Angkasa merapikan rambut Arum. "Jika aku nakal diluar sana dan menyakiti kamu, mama yang lebih dulu membu-nuhku. Dia garda terdepan yang menolong mu." Arum percaya apa yang dikatakan Angkasa.
Delia juga selalu mengatakan, jika pikiran dan tenaga Arum hanya untuk sikecil, tak boleh memikirkan yang macam-macam tentang Angkasa, sebab jika Angkasa berani berbuat yang macam-macam, Airlangga Airlines juga akan menghukumnya.
"Rum, setelah nanti Adithya umur dua bulan, kita buatkan adik untuk Adithya, ya. Aku mau punya anak banyak."
__ADS_1
"Hah, enggak. Aku nggak mau kasih adik sama Adithya di usianya yang masih kecil, nanti kalau dia sudah berusia lima tahun."
"Nggak mau, Sayang. Lima bulan deh paling lambat. Bagaimana?" Tawar Angkasa pada istrinya.
"Lihat nanti saja."
Angkasa tersenyum, lihat nanti saja jawaban Arum begitu pasrah, berarti Arum setuju.
Jika pasangan Angkasa dan Arum sudah merencanakan untuk menambah momongan lagi, berbadan dengan pasangan Awan dan Reini. Sejak awal Reini kekeuh dengan keputusanya mengenai menunda memiliki anak. Setelah bertemu dengan Daniel kemarin, tak sedikitpun hatinya goyah.
Sudah seminggu lebih pernikahan pun, Awan dan Reini belum melakukan hubungan suami istri. Kemarin setelah pulang dari rumah Arum, mereka mencari apartemen untuk mereka tinggal. Karena kecapean, keduanya langsung terlelap, dan paginya mereka sudah disambut dengan kegiatan masing-masing.
Awan yang sibuk dengan jabatan barunya sebagai direktur, dan Reini juga dengan profesinya sebagai pramugari.
Hari terus berjalan, pernikahan mereka sudah mau memasuki satu bulan pernikahan namun mereka belum melakukan hubungan suami istri sebab tak memiliki waktu istirahat bersama. Sepulang bekerja sudah kelelahan oleh pekerjaan, tak terpikirkan oleh keduanya untuk melakukan hubungan suami istri.
Ada dimana Awan ingin mengajak Reini melakukanya namun melihat wajah kelelahan Reini, Awan tak tega.
__ADS_1