Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Diterima Dengan Baik


__ADS_3

Arum keluar dari ruang dokter bertuliskan Sp, og, dengan langkah gontai. Betapa tidak, ucapan dokter yang mengatakan jika dia tengah berbadan dua membuat tubuh Arum terasa begitu lemas, ia sampai harus berpegangan pada dinding menuju ruang Angkasa.


Saat Arum masuk kedalam ruangan luas itu, tak ada siapapun disana, Delia yang selalu setia menunggupun tak tahu dimana? Tapi Arum tak perduli, ia segera masuk keruangan dimana Angkasa masih betah dalam tidur panjangnya.


Melihat wajah tampan yang pucat itu, rasa bersalahlah yang mendominasi perasaanya. Apakah Angkasa akan diberi kesempatan untuk meminta maaf pada sang pencipta atas dosa yang mereka perbuat? Kalau tidak? Maka Angkasa akan pulang dengan keadaan berlumur dosa.


Belum lagi, perasaan bersalahnya pada kedua orang tua Angkasa, dan .... mamanya.


Arum menarik kursi, duduk didepan Angkasa. Menggenggam tangan Angkasa dan meletakkan dipipinya.


"Hei, gimana keadaan kamu hari ini?" Berkata dengan air mata yang jatuh. Arum mengangkat kepalanya, segera menghapus air matanya. "Aku mau bilang kalau aku baik-baik saja, aku juga harap kamu seperti itu." Mendongak, menahan air mata yang kembali ingin jatuh. Tapi tidak berhasil, nyatanya air matanya semakin deras membasahi pipi.

__ADS_1


Arum terkekeh sendiri, lagi-lagi dia harus menghapus air matanya sendiri, andai saja Angkasa ada, pasti laki-laki itu tidak akan mengizinkan dia menitikkan air mata setitikpun, kecuali air mata bahagia.


"Aku nggak cengeng, bener aku nggak cengeng," ia justru semakin terguguh, "aku cuma bingung bagaimana menyampaikanya sama kamu kalau sekarang ada malaikat kecil didalam sini." Berdiri, membawa tangan Angkasa untuk menyentuh perutnya yang masih rata.


"Apa kamu bisa merasakanya? Dia hidup didalam sini," suaranya serak, dan hampir tak terdengar karena tangis yang tak bisa dihentikan, "kalau sudah seperti ini aku harus apa?" Arum kembali duduk menumpahkan kesedihanya, menjatuhkan kepala di bibir ranjang dengan air mata yang semakin deras. "Apa kamu tega membiarkan dia lahir tanpa sosok tangguh disisinya, lalu kamu membiarkan aku hidup sendiri? Kamu jahat, kamu harus bangun dan biarkan aku berjuang sendiri."


Arum jadi kesal sendiri dengan nasibnya yang selalu tak beruntung, dari kecil kurang kasih sayang dari seorang ayah. Dan ketika ada laki-laki yang begitu tulus padanya, laki-laki itu akan pergi meninggalkanya. Apakah anaknya akan memiliki nasib sepertinya?


Tidak? Arum tidak mau itu terjadi pada anaknya, namun apabila Tuhan berkehendak lain atas takbirnya, Arum berjanji pada dirinya akan memberikan segala hidupnya, tak akan ia biarkan anaknya kekurangan kasih sayang dan perhatian seperti yang ia rasakan dulu, meski tanpa Angkasa.


Berdiri, Arum membalikkan badan untuk keluar, sudah ada Delia, Abian, Awan dan kakek Philips Hamzah, serta mama Amanda.

__ADS_1


* * *


Menunduk, sambil memelintir ujung kemejanya, Arum dibawa keluarga Angkasa ke ruang vip kantin rumah sakit, Arum disidang setelah diberi makan makanan enak dan banyak.


"Apa mereka ingin aku menggugurkan bayi ini?" gumam Arum sendiri, apalagi mereka sudah mengetahui ini sejak lama, tapi tidak memberitahunya membuat Arum bertanya-tanya.


"Apa yang kamu khawatirkan, Nak?" Tangan keriput Tuan Philips Hamzah menyentuh pundak Arum. Arum menoleh, menatap laki-laki yang meski sudah sangat tua itu, tapi wajah teduh nan wibawanya masih terlihat.


"Jangan takut, kami membawa mu kesini agar kamu makan dengan baik." Entah sihir apa yang dimiliki lelaki tua itu, senyum dan ucapanya membuat hati Arum seketika tenang. Arum dapat merasakan jiwa seoarang ayah bijak dimiliki tuan Philips Hamzah.


Dialah yang mengubah pemikiran Delia kemarin yang gundah atas apa yang terjadi.

__ADS_1


"Kamu sudah mengetahuinya sendiri, jadi kami harap kamu menjaga anak itu dengan baik. Beri dia makan-makanan yang enak dan asupan yang bergizi.


Disebelahnya, Mama Amanda merangkulnya dengan kasih sayang. Jauh dari dugaan Arum, ia pikir jika ia akan dianggap sebelah mata oleh keluarga Angkasa, nyatanya mereka tetap menerimanya dan janin yang ada didalam kandunganya, tanpa Arum sadari, jika ada hal besar yang disembunyikan darinya.


__ADS_2