Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Arum sungguh tak sabar ingin cepat sampai di hotel bintang tujuh, penasaran, apa bedanya hotel bintang tujuh dan bintang lima.


"Aku penasaran dengan fasilitas bintang tujuh seperti apa, Bang? Apa sama seperti hotel bintang lima, atau kalau bintang tujuh, kita turun dari mobil kita disambut pakai tari-tarian, atau dibentangi karpet merah, ke kamar naik kereta kencana?" tanyanya bergurau pada Angkasa. Adithya sudah tidur dalam dekapanya.


Angkasa terkekeh, diusapnya rambut Arum. "Di dunia internasional, yang masih diakui tertinggi hotel bintang lima, kalau untuk hotel bintang tujuh sendiri, aku rasa nggak jauh beda sama bintang lima. Ya ... itu biasanya hanya bahasa marketing saja, Sayang. Tak jauh berbeda dengan bahasa marketing properti, lima menit dari pintu tol, kenyataannya lima puluh menit dari tol."


"Aku rasa mereka tidak berbohong, kalau tidak macet, bisa jadi memang hanya lima menit."


Angkasa mengangguk. "Ya, bisa jadi. Yang pasti sebagai hadiah kehamilan kamu, kita akan menginap dikamar suite king deluxe seharga lima belas juta semalam. Ngerasain bagaimana jadi sultan semalam." Menoleh sejenak, lalu kembali fokus ke jalanan.


"Lima belas juta semalam? Kamu gila Angkasa?" Matanya membulat seperti ingin keluar.


"Abang Sayang," meralat panggilan istrinya.


Arum tak perduli. "Lima belas juta kalau kita kasih pada orang yang kelaparan itu sudah berlimpah, kenapa lima belas juta hanya dihabiskan dalam waktu semalam untuk orang yang sudah kaya?" Ngomel khas emak-emak. "Apa nginep disini setelahnya kita buang hajat keluar emas?"


Angkasa tergelak. "Itu sudah ada bagiannya. Dan aku, aku ingin kita menikmati hasil kerja keras ku selama ini, membahagiakan kamu, dan Adithya." Menarik kaki Adithya yang sedang tertidur.


"Aku nggak mau, lebih baik aku pulang. Tidur dirumah lebih nyaman." Tolaknya syok mendengar harganya.


"Sudah aku bayar, bagaimana donk? Apa kita ihklasin saja, sedekah sama orang kaya?" Mlirik, memasang wajah memelas.


Arum berpikir, benar juga, sayang kalau sudah dibayar. Tapi dia juga nyesek, lima belas juta hanya untuk menginap satu malam dihotel.


"Yasudah, malam ini saja. Lain kali kalau kamu melakukan sesuatu tanpa seizin ku lagi, aku nggak akan maafin."


Angkasa memasang senyum lebar. "Terima kasih ya, siapa tahu nanti anak kita bisa jadi sultan beneran nginep di hotelnya sultan."


"Aku amiinin, walau nggak ada ngaruhnya," ujarnya manyun. Tak ikhlas sekali uang lima belas juta hanya dihabiskan untuk numpang tidur saja. Arum juga memikirkan, jika Angkasa membayarkan Reini dan Awan, berarti suaminya mengeluarkan total tiga puluh satu juta dalam semalam.


Mau bertanya, tapi nanti dikira ipar pelit dan perhitungan. Meski begitu, Arum tak bisa jika tidak berkomentar.


"Mentraktir Awan dan Reini disini segitu, sepertinya lebih baik mentraktir mereka keluar kota, atau luar negeri. Paling dekat setidaknya lombok atau bali sudah puas. Ini dalam masih dalam kota." Ngedumel, menyandarkan tubuh di kursi. Memikirkan uang lima belas juta sarung kamar, membuat Arum menjadi lelah tiba-tiba, dan sakit kepala.


"Berbeda sensasinya, Sayang. Setidaknya kita tahu seperti apa hotel bintang tujuh? Nanti kita kasih lagi mereka hadiah buat mereka honeymoon."


"Kitanya sendiri belum pernah honeymoon." Manyun.


Kini apapun tentang Reini, ada rasa ikhlas tidak ikhlas, kalau iparnya bukan Reini, mungkin berbeda lagi.


Angkasa hanya terkekeh seraya menggeleng, menyadari, semakin lama sifat emak-emak Arum semakin terlihat, begitu detail dan rinci mengenai keuangan.


Berbeda lagi dengan Reini, dia justru begitu antusias menginap di hotel bintang tujuh yang katanya semalam bergarga lima belas juta itu.


Sudah pasti Reini up-date status, serta live di akun instagramnya.


Dari mulai masuk pintu hotel, meng-spill harganya, service dari pihak hotel yang smooth, saat turun di drop off dia disambut pegawai hotel, dan barang bawaanya dibawakan hingga ke kamar mereka.


Selama menuju kamar juga, mereka benar-benar di istimewakan, pegawai hotel seperti guide pariwisata,memberitahukan spot-spot bagus yang bagus untuk berfoto.


Arum memutar mata jengah melihat tingkah Reini. Entah bawaan karena kejulitan Reini padanya, atau karena status mereka, ipar ketemu ipar.

__ADS_1


Benar kata Arum, tak ada bedanya menginap di hotel dan dirumah. Kamar dirumahnya luas dan lebar, sama dengan kamar hotel bintang tujuh tempatnya menginap, hanya saja pemandangan yang disajikan, menghadap pada ikon ibu kota.


Sayang sekali lima belas juta, pikiran Arum berkutat pada uangnya yang hilang, bukan menikmati kenyamanan dan fasilitas yang disajikan pihak hotel. Sedang berolahraga pun, ia masih memikirkan uang lima belas jutanya.


Lain yang dirasakan Reini, dia benar-benar tak melewatkan kesempatan ini, dia live tok-tok dari berbagai sudut ruangan, hingga kamar mandinya juga.


"Sayang, bahaya loh live seperti itu, rentan kejahatan." Awan memperingati.


"Jaman sekarang kan, jaman live, aman-aman aja tuh. Kamunya aja yang norak."


Saat Reini berkata demikian, bersamaan masuk pegawai hotel mengantar makanan dan mendengar ucapanya.


Wanita itu tersenyum miring, untung penyamaranya tak diketahui Reini yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya, dan Awan sedang berada didalam toilet.


* * *


"Live kamu kemarin banyak yang nonton Rein, sampai jutaan loh." Kata teman Reini saat mereka berjalan menuju pesawat.


"Yaiyalah pasti, orang-orang nggak mampu pada penasaran hotel bintang tujuh itu seperti apa? Kesempatan bisa lihat secara langsung, gratis pula," ucapnya sombong.


Dibelakangnya Angga dan Voni mendengar ucapan Reini saling lirik.


"Makananya gimana Rein, enak-enak? Kita kan cuma bisa lihat, nggak bisa ngerasain."


"Eenakkk banget pokoknya, nggak bisa dijelasin sama kata-kata. Hem, lima belas juta permalam mah, murah sebenarnya, dengan fasilitas super, duper wahhh."


"Semoga aku dapat suami kayak kamu ya, Rein. Kaya, dan sultan."


Reini berjalan angkuh, berjalan lebih dulu naik ke pesawat, jika biasanya pramugari naik setelah pilot, merasa istri dan menantu pemilik maskapai, Reini rasa dia yang harus naik lebih dulu, dan yang lainya harus berjalan dibelakangnya.


Hari ini, mereka harus menginap diluar kota. Reini memilih kamar VIp untuknya sendiri, enggan berbagi kamar dengan teman-temanya yang lain.


Reini baru saja keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat segar dan bersih, handuk masih tergulung diatas kepalanya. Reini mengambil ponsel dari dalam tas ingin menghubungi Awan.


Baru akan menelepon Awan, bel kamarnya berbunyi. Reini berjalan menuju pintu, mengecek lewat lubang intip.


"Rein, aku mau minta tolong sebentar." Viona berteriak dari luar.


Reini membuka pintunya. "Ada apa, Vi?"


"Aku mau minta tolong, pinjam beha kamu, aku lupa bawa beha."


"Yaudah masuk." Reini memutar tubuh, berjalan lebih dulu, tak menyadari ada yang ikut masuk dibelakang Viona.


"Kebetulan aku bawa lebih tadi, ada-ada aja kamu lupa bawa dalaman." Mengambil dalaman yang diminta Viona dari koper. Berbalik, memberikan pada Viona benda berbentuk seperti kaca mata itu.


"Captain Angga? Kol ada Captain Angga?" Menatap Viona, meminta penjelasan.


"Hai, Rein. Apa kabar?" Angga menyapa Reini.


"Jawab pertanyaan ku, kenapa ada Captain Angga, Viona?" Teriak Reini.

__ADS_1


Viona maju, menempelkan jari telunjuknya dibibir Reini. "Sssttt, jangan berisik, my bestiee."


"Kita ingin bsrsenang-senang dengan mu, Sayang." Angga yang bicara.


"Bersenang-senang apa maksud kalian?" Menatap Viona dan Angga bersamaan.


"Bersenang-senang apa lagi, Sayang? Ya sudah pasti kota saling puas memuaskan." Angga memasang wajah mesumnya.


"Aku nggak mau!" Tolaknya marah. "Keluar kalian dari sini, kalau tidak mau terjadi apa-apa dengan karir kalian." Usir Reini masih dengan keangkuhan dan mengancam.


"Oh ya? Coba beri tahu wanita sombong dan angkuh ini, apa akibatnya jika dia tak mau melakukanya, Capt?" Viona menarik sudut bibirnya seram.


Angga menunjukkan ponselnya pada Reini yang sedang memutar video Reini dan Awan sedang berhubungan suami istri, mata Reini membola melihat jelas tubuh polos mereka.


"Terima kasih atas live-nya Rein. Kami jadi tahu, nomor kamar kamu, letak kamar kamu, dan sedang dimana kamu. Jadi kita bisa menyelinap masuk dan meletakkan kamera di spot yang pas."


"Hapus video itu, kalian bisa aku penjarakan." Reini ingin mengambil ponsel itu, tapi Angga menariknya lebih dulu.


"Penjarakan saja, yang pasti video ini sudah tersebar. Kamu tahu, jejak digital itu jahat. Sebanyak apa uang suami kamu, tidak akan bisa menghapus semua video yang sudah tersebar," ucap Viona.


"Kamu jahat, Vio. Apa salah aku sama kamu, sampai kamu melakukan ini padaku." Teriak Reini marah dengan air mata yang berlinang.


"Kamu tanya salah kamu apa, Rein? Kamu nggak sadar kelakuan kamu setelah menikah?" Viona berteriak tepat didepan wajah Reini. "Kamu jadi wanita sombong, suka menghina, seolah kamu diatas segalanya, seolah kamu paling berkuasa."


"Wajar bukan aku melakukan itu, kamu saja yang iri dengan nasib ku."


Plakkk


Tangan Vioan mendarat di wajah mulus Reini. "Ini yang aku benci pada orang yang tidak sadar atas kesalahanya, bukanya mengakuinya, malah bertingkah apa yang dilakukannya wajar, dan kami dianggap iri," sembur Viona makin marah. "Iya aku iri, aku iri atas apa yang kamu miliki sekarang, aku iri atas kebahagiaan kamu. Dan aku ingin kamu menderita atas sifat sombong kamu. Kamu harus tahu, atas apa yang kamu miliki itu hanya semu dan sementara, semua akan hilang dan hancur dalam sekejap."


Vioan benar-benar meluapkan segala yang dia pendam selama ini.


Reini terdiam, dia baru menyadari jika yang dilakukannya memancing amarah orang lain.


"Aku minta maaf, Vioan. Tapi aku mohon hapus video itu," pinta Reini memelas.


Dia tak mau jika video dirinya dan Awan sampai tersebar. Itu akan mencoreng nama baiknya, Awan, orang tuanya, juga orang tua Awan.


"Sudah terlambat, Sayang. Semua sudah terjadi," ucap Viona persis seperti seorang psiko. "Sekarang, aku ingin kamu hancur dan menderita." Viona tersenyum menakutkan.


Reini saat ini begitu takut, apalagi ada video itu, tubuhnya gemetar, wajahnya memucat, seperti tak dialiri darah sama sekali.


"Santai saja, Rein. Video ini tidak akan tersebar jika kamu mau memuaskan ku." Angga coba menyentuh wajah Reini, tapi Reini menepisnya.


"Aku nggak mau." Tolak Reini menunduk takut, ia berjalan mundur menjauh.


"Berarti kamu ingin video ini tersebar?" Angga memajukan langkah mendekat. "Ini bukan pilihan sulit, Rein. Jika kamu memuaskan ku, kita akan sama-sama puas, kita sama-sama merasakan nikmatnya, tidak ada yang dirugikan disini, dan video ini akan aku hapus."


"Nggak mau, kalian bohong!" Reini menggeleng takut, menyilangkan tangan didepan dada, merapatkan kain kimononya.


"Kamu menolak memuaskan ku?" tanya Angga menunjukkan wajah devil, "satu, dua, tig-"

__ADS_1


"Jangan, Capt. Baik, aku akan melakukanya."


__ADS_2