
Reini pulang kerumah orang tuanya dan mengadukan pada Voni dan Rendy tentang apa yang terjadi.
"Awan tega pada Reini, Ma." Menangis dalam pelukan sang mama. Voni tak tahu harus bereaksi seperti apa. Hanya mengelus rambut Reini menenangkan. Hatinya cukup sakit sebagai seorang ibu, tapi tak bisa menyalahkan Awan juga, kemarin dia memang sempat meminta Awan meninggalkan Reini, tapi bukan berarti dengan mengkhianati Reini.
"Itu semua akibat kesalahan kamu sendiri, Rein. Mungkin ini yang harus kamu bayar." Rendy memarahi.
Sudah sakit hati melihat sang suami tidur dengan wanita yang merupakan adik angkat suaminya. Mengadu pada orang tua meminta dukungan, tapi sebaliknya. Reini justru dimarahi oleh papanya.
"Sekarang, kita minta Awan melepaskan mu saja." Lanjut Rendy mengancam, membuat mata Reini membola. "Papa yakin dia akan menyusul mu, jika dia sampai disini, Papa akan mengatakanya."
"Pa."
Ting tong
Feeling orang tua memang tidak meleset, Awan benar-benar datang menyusul Reini di kediaman orang tuanya.
"Pokoknya Papa jangan beri tahu kalau Reini ada disini, Reini nggak mau lihat mukanya." Pinta Reini karena kesal pada Awan.
Awan masih sama seperti yang dilihat Reini tadi, saking buru-burunya mengejar Reini, Awan tak menyadari jika dia bertelanjang dada.
"Pa, apa Reini pulang kesini?" tanya Awan tak menyadari tatapan mertuanya. Matanya mencari keberadaan sang istri didalam.
"Iya, Nak. Masuklah," ujar Rendy tersenyum, mempersilahkan Awan masuk.
"Sayang, ada Awan datang. Ambilkan dia kemeja punya ku." Teriak Rendy pada Voni.
Awan melihat dirinya, baru menyadari jika dia tidak memakai baju, diapun tersenyum malu pada sang mertua.
"Kenapa papa kasih dia masuk sih?" gerutu Reini pada sang mama. "Biarin dia merasa bersalah sama perbuatanya."
"Papa cuma mau masalah ini cepat selesai, kamu tidak tahu betapa pusingnya Papa mikirin kelakuan kamu dari kemarin," jawab Voni ketus.
Karena memang benar, Reini tak tahu saja jika papanya tidak nafsu makan, Rendy juga berencana mengajak Voni pulang ke kampung halaman untuk menenangkan pikiran.
"Disini nggak ada yang ngertiiin Reini sama sekali, Reini benci jadi anak Mama dan Papa."
Reini beranjak dari duduk, memilih masuk ke kamarnya yang berara dilantai dua, malas bertemu Awan, pemandangan pagi tadi cukup mengoyak hatinya, yang mengherankan, bahkan orang tuanya tak ada yang percaya pada ucapanya.
__ADS_1
Voni keluar kamar dengan membawa kemeja berwarna biru muda untuk menantu kesayanganya.
"Terima kasih, Ma. Maaf merepotkan, Rendy tadi terburu-buru."
Setelah Awan mengenakan baju, Rendy mengajaknya duduk dan bicara diruang keluarga. Voni membuatkan teh hangat untuk sang menantu, pekerjaan yang seharusnya dilakukan Reini.
"Pa, tujuan Awan kemari, ingin menjelaskan kesalah pahaman yang dilihat Reini." Menatap wajah mertuanya yang masih menatapnya dengan hangat.
Rendy dan Voni menunggu penjelasan Awan tanpa menyela atau bertanya, mereka membiarkan Awan menceritakan versinya.
"Maaf jika hal ini harus terjadi," ujarnya membuat jantung Rendy dan Voni seketika berlari begitu kencang. "Tapi yang dilihat Reini tidak seperti yang dipikirkan Reini."
"Tapi kamu menyebut nama wanita itu." Pekik Reini menyahut. Awan, Rendy dan Voni menoleh dimana Reini sekarang berdiri di anak tangga menguping pembicaraan mereka. "Kamu bahkan menyebut namanya dengan begitu lembut," ujarnya lagi dengan bulir bening yang turun dari matanya.
"Maaf, Rein." Awan menunduk, menyesali.
"Jadi apa yang terjadi, Wan?" Melihat reaksi Awan seperti itu, Rendy semakin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi.
"Semalam Awan mabuk berat, Pa. Andini memang menemani Awan semalam, tapi Awan sempat memintanya pulang. Dan pagi tadi Awan muntah-munrah karena tidak terbiasa minum-minuman beralkohol, pakaian Awan terkena kotoran muntahan Awan sendiri, dan Andini yang membantu melepaskanya. Jadi memang tidak terjadi apa-apa diantara kami."
Hari Reini terasa tercubit mendengar kenyataan jika Andini yang berada disisi suaminya dalam keadaan tidak berdaya. Tapi ia coba menyangkalnya.
"Terserah, Rein. Tapi memang itu kenyataannya." Karena memang dia mengatakan yang sebenarnya.
"Papa dan Mama percaya pada penjelasan mu, Wan." Rendy
Diluar dugaan, jika mungkin orang tua lain akan percaya dan membela anaknya sendiri meski anaknya salah sekalipun, Voni dan Rendy lebih memilih percaya seratus persen pada ucapan dan penjelasan menantunya.
"Terus, jika memang tidak terjadi apa-apa pada kalian, kenapa wanita itu terlihat begitu ketakutan? Seperti baru saja kepergok telah melakukan kesalahan, jika memang tidak terjadi apa-apa, kenapa dia harus takut?" Reini masih mencecar.
"Karena dia orang baik, meski tidak bersalah sekalipun, dia akan merasa ketakutan jika ia sadar berada diposisi yang salah. Dia takut menimbulkan fitnah dan masalah untuk orang tersebut, apalagi orang itu sudah terikat pernikahan. Sedang dia tidak memiliki seribu kata untuk menyangkal, takut orang tidak akan percaya dengan penjelasanya." ujar Voni semakin membela Awan dan Andini.
"Mama keterlaluan." Reini yang kecewa pada kedua orangtuanya memilih naik kekamarnya dengan menghentakkan kaki kesal.
Rendy geleng kepala saja, kemudian menatap Awan yang menghela nafas dalam, kasihan juga melihat Reini tak ada yang membelanya.
"Kita tahu betapa lelahnya kamu menghadapi Reini, Wan. Papa terima kasih kamu masih setia hingga saat ini," kata Rendy penuh rasa bersalah. "Tapi Papa menyadari betapa kekanak-kanakannya Reini, anak Papa. Jadi Papa tidak ingin masalah terus berlarut, dan membuat kamu menahan sabar." Rendy menjeda ucapanya.
__ADS_1
"Lakukak apa yang ingin kamu lakukan, seharusnya Reini sudah mengambil hikmah atas kejadian setahun yang lalu. Bukan berbenah diri dan melakukan tanggung jawabnya pada suami, tapi Reini malah semakin menjadi."
* * *
Ketegaran hati Awanpun semakin goyah, kesabaran yang ia latih selama setahun lebih, juga lepatihan pranikahnya mulai menipis tergerus ombak yang terus Reini hantamkan di tembok pertahananya.
Setelah berpikir panjang, Awan menemui Abian yang memang sudah menunggunya selama beberapa hari ini setelah Abian tahu yang terjadi.
"Wan, bagaimana keadaan kamu Nak?" Delia memeluk Awan, dia begitu mengkhawatirkan keadaan putranya. Tiga haru lebih tak mendapat kabar, Delia begitu rindu. "Kamu sudah makan?"
"Sudah, Ma."
Delia meneliti penampilan Awan dari atas hingga bawah. "Kamu kurusan." Melampirkan wajah sedih.
Delia baru menyadari perbedaan jodoh Angkasa dan Awan. Dulu dia tidak merestui hubungan Angkasa dengan Arum, tapi justru Arum mampu menjadi istri, dan ibu yang baik untuk cucu dan anaknya. Sedang Reini ... Hem, Delia tak bisa berkata-kata, Awan terlihat sangat tidak terurus. Sering bertengkar, sering pisah ranjang, Awan seperti menikahi anak abege.
"Kamu sehat, Nak?" Abian menghampiri Awan, "Sayang, anak kita pulang kerumah, suruh dia makan, lalu istirahat."
"Awan sudah makan, Yah."
Abian mengangguk. "Ayah dengar Airlangga Airlines kini semakin diminati. Ayah melihat di berita, maskapai kita naik ke nomor tiga setelah maskapai BUMN. Ayah bangga degan mu." Menepuk pundak Awan bangga.
"Itu bukan hasil Awan sendiri, Pa. Berkat ide-ide Angkasa, dan juga kerja sama tim yang hebat."
"Apapun itu, setelah kamu menjadi direktur, Airlangga Airlines semakin dikenal masyarakat, dan semakin diminati. Pertahankan." Ikut duduk di sofa. "Waktu Ayah yang memegang, kita kuat diposisi lima besar, setahun lebih kamu menggantikan Ayah. Naik ke posisi tiga besar."
"Katanya disuruh makan, tapi anaknya diajak ngobrol terus. Mama sudah siapin makanan kesukaan Awan. Ayam lada hitam."
Delia menyusul keruang keluarga, mengusap pundak Awan dari belakang, dimana anak baiknya yang selalu diberi cobaan didalam pernikahanya sedang mengobrol dengan sang suami.
"Ayah rindu ngobrol berdua dengan Awan, belakangan dia begitu sibuk mengurus maskapai kita. Dan menorehkan prestasi yang gemilang."
Lama Abian berbincang dengan Awan, memancing Awan untuk jujur atas masalah yang sedang menimpanya, sebab dia baru mendengar dari Andini dan Rendy. Hingga Awan membuka suara.
"Yah, Ma. Tujuan Awan kesini, ada yang ingin Awan beri tahu pada Mama dan Ayah."
Suasana mulai menegang.
__ADS_1
"Apa sayang?" Delia sudah siap dengan berita buruk, dan pilihan yang akan Awan ambil.
"Mungkin Mama dan Ayah sudah mendengar cerita Awan dari Reini." Awan diam sesaat, "Awan sudah memikirkanya, Yah, Ma. Awan ingin berpisah dengan Reini."