Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Viona dapat melihat wajah kecewa Angga melihat Reini dan Awan yang menjauh. Viona mendekati Angga.


"Mau aku temani ngopi, Capt? Sekaligus aku punya informasi yang menarik buat Captain," Viona menawarkan diri.


"Informasi menarik apa yang kamu tawarkan pada ku?" Mengangngkat sebelah alisnya.


"Informasi yang pasti sangat menguntungkan buat Captain, ini tentang Reini." Bisik Viona menghalau tanganya ke telinga Angga.


Alis Angga semakin menukik. "Reini? Apa?"


"Ayo kita cari tempat yang enak buat ngobrol santai." Bukan area bandara Viona pilih, melainkan restoran bergaya bali yang tak jauh dari bandara.


Dua puluh menit waktu yang digunakan dengan untuk mereka sampai di restoran yang Viona mau. Viona dan Angga langsung memesan makanan andalan restoran tersebut, lalu mencari tempat untuk mereka ngobrol.


"Apa yang mau kamu ceritakan tentang, Reini?"


Viona terkikik jahil, Angga sangat tidak sabaran. "Sabar Capt, kelihatan sekali ya Captain ini ada rasa sama Reini." Viona mentertawakan Angga yang salah tingkah dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bukan rahasia umum lagi jika dia memang naksir Reini sejak dulu, meski tak mengungkapkan, dari gerak-gerik dan tatapan Angga pada Reini membuat semua orang tahu, ditambah sekarang dia yang begitu antusias ingin tahu tentang Reini. Tapi Reini tak pernah menanggapi gosip-gosip atau ledekan para temanya. Angga bukan tipe Reini meski dia pilot dan tampan, karena saat itu Angga masih berstatus laki-laki beristri.


"Ceritakan saja, apa yang mau kamu katakan padaku tentang Reini," ujar Angga tak menutupi keinginan tahuanya. "Eh, bukanya Reini itu teman dekat kamu?"


"Iya sih Capt, awalnya," Viona memainkan kertas struk. "Dulu Reini memang menjengkelkan, tapi setelah menikah dengan anak pemilik maskapai tempat kita bekerja sekarang, Reini tambah lebih menjengkelkan," aku Viona menatap Angga. "Sekarang dia juga sangat sombong."


"Sombong bagaimana?"


"Maaf sebelumnya, saya tidak berniat menghina profesi Captain, justru saya, teman-teman pramugari, bahkan Reini, kami begitu mendambakan memiliki pasangan seorang pilot. Reini bahkan tidak suka dengan suaminya."


"Maksudnya?"


"Ya, dia terpaksa menikah dengan suaminya, karena kasihan. Awan mengejar-ngejar dia terus sejak dulu, aslinya sih Reini suka dengan saudara kembar suaminya yang pilot itu." Viona melirik Angga. "Kesempatan Captain untuk mendapatkan Reini itu 80, 20," ujarnya mempengaruhi.

__ADS_1


Angga nampak berpikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan Viona. "Tapi aku tidak begitu yakin." Memainkan dagunya.


Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, Viona dan Angga menghentikan obrolan mereka.


"Kenapa tidak yakin, ada saya Capt." Viona memainkan anak rambut yang menjuntai.


"Apa rencana kamu?"


Viona tersenyum senang, umpan masuk dalam perangkapnya, Viona mendapatkan sekutu.


Sambil makan, Viona juga memberi tahu jika ternyata Reini dan Awan belum melakukan malam pertama.


"Serius kamu, Vi?" Viona mengangguk. "Jika mereka saling mencintai, mana mungkin pernikahan yang sudah berjalan satu bulan belum melakukan hubungan suami istri?"


"Apa suami Reini tidak normal?"


"Entahlah, Capt." Viona mengangkat kedua bahunya.


Tak ada yang mengasyikkan rumah tangga yang dijalani Awan dan Reini. Pulang dari bekerja, mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan. Setelahnya mereka pulang ke apartemen, sangat datar.


Tapi Reini selalu up-date status di sosial media miliknya menunjukkan kemesraan bersama Awan. Tentang mereka makan di restoran mewah, kebaikan Awan yang selalu menuruti keinginanya, dan itu membuat yang ada di kontak Reini iri terhadap kehidupan Reini sekarang.


"Rein, aku keluar sebentar ya. Ada perlu," kata Awan setelah mengantar Reini ke apartemen.


"Mau kemana?"


"Kerumah Angkasa, ada yang ingin aku bahas denganya. Masalah perusahaan, meski sekarang aku yang menjadi direktur, aku tetap harus bertanya tentang program yang akan aku lakukan kedepannya."


Reini cemberut. "Jangan lama-lama, aku kesepian." Awan mengacak rambut Reini, mencium keningnya, lalu meninggalkan Reini seorang diri dirumah.


Sepergian Awan, Reini langsung membersihkan diri, lalu melakukan perawatan tubuh dan wajah. Menonton drama kesukaanya sambil makan camilan yang ada. Drama yang ia tonton saat ini, menceritakan kisah rumah tangga.

__ADS_1


Dimana sang istri tidak mau memiliki anak karena takut badanya rusak, yang membuatnya tak cantik lagi. Dan suaminya tidak mempermasalahkan itu. Bertahun-tahun mereka menikah, tak ada masalah berarti yang mereka hadapi, suaminya juga begitu mencintainya sama seperti sejak pertama mereka menikah. Sang istri yang sibuk bekerja, tak menyadari kegiatan apa saja yang dilakukan suaminya, hingga suatu hari dia mengetahui perselingkuhan suaminya dengan wanita lain, dan mereka sudah memiliki anak.


Dari kisah itu, Reini jadi kepikiran pada hubunganya dengan Awan. Reini baru menyadari, jika ada yang tidak beres dengan pernikahanya dengan Awan. Mereka yang belum melakukan hubungan suami istri padahal usia pernikahan mereka sudah memasuki satu bulan. Awan tak pernah meminta itu, karena kadang jadwal mereka tidak ketemu.


Reini menggigit bibir, dia tak percaya jika Awan akan mengkhianatinya, Awan pasti selalu setia padanya.


"Awas saja kalau Awan sampai berani selingkuh dibelakang aku, aku nggak akan tinggal diam," gerutu Reini menbuka ponsel, mencari nomor Awan.


Tujuan Reini ingin menghubungi suaminya, malah teralihkan oleh status yang dibuat Aira. Dimana status Aira memperlihatkan tiga foto Awan yang tersenyum, tertawa, sambil menciumi pipi gembul anak Angkasa.


Degh.


Seketika jari Reini terasa lemas. "Apa benar tujuan Awan kerumah Angkasa untuk membahas pekerjaan?"


Cepat Reini menekan nomor Awan.


"Iya Sayang."


"Kamu pulang sekarang, Wan. Atau kamu tidak menemui aku lagi saat pulang nanti."


Tut, tut.


Reini mematikan panggilanya seketika, membuat Awan berteriak diseberang sana.


"Halo, Rein. Rein!" teriak Awan memanggil nama Reini.


"Ada apa, Reini. Wan?"


"Nggak tahu, Ma. Tapi Awan pulang sekarang ya."


"Mama ikut sayang. Mama khawatir ada apa-apa sama Reini. Mama juga belum melihat apartemen kamu."

__ADS_1


__ADS_2