
Di kantor pusat Airlangga Airlines.
Dulu, cobaan terberat maskapai ini adalah saat terjadinya kecelakaan pesawat dua puluh lima tahun lalu, memang tak memakan korban, tapi harus mengeluarkan biaya asuransi cukup banyak, belum lagi perbaikan-perbaikan kerusakan pada maskapai itu sendiri.
Tidak hanya itu, kepercayaan para penumpang yang menurun drastis sangat mempengaruhi pemasukan membuat perusahaan ini hampir mengalami kollabs, untung saja hal itu bisa diatasi cepat oleh sang pendiri, Pak Philips Hamzah dengan mendapat banyak bantuan dari para petinggi negara dan dukungan dari banyak perusahaan, maskapai ini kembali menapaki kejayaannya setelah jatuh ditangan pewaris keduanya, Abian Philips Hamzah.
Kini, cobaan itu kembali dirasakan oleh maskapai yang berlambangkan huruf 'AA' itu, tatkala keturunan ketiga yang merupakan seorang pilot di perusahaan tersebut tersandung skandal yang cukup berat, dengan kedapatan memiliki barang terlarang dan dinyatakan positif, imbas dari perbuatan Alex yang ingin mendapatkan wanitanya kembali.
Benar, harta yang dimiliki, tahta yang dengan susah payah diraih, bisa rusak hanya karena seorang wanita.
Cobaan yang kini dihadapkan Abian bukan dari berkurangnya kepercayaan publik dengan pelayanan transportasi udara yang disediakannya, karena kasus ini belum tersendus oleh publik dan pihak pencari berita telah dibungkam oleh Abian agar kabar ini tak menyebar keluar karena belum diketahui apakah cucu dari sang pendiri itu benar-benar mengkonsumsi obat terlarang tersebut karena disengaja dan dalam keadaan sadar, atau karena dijebak.
Cobaan itu terjadi melainkan dari internal perusahaan itu sendiri yang bersumber dari para jajaran direksi yang ingin menguasai Airlangga Airlines yang memiliki citra bagus, dari pelayanan, keramahan staf, pesawat yang selalu dalam kondisi baik, dan para pilot profesional yang tak pernah tersandung kasus apapun, baik itu tentang perselingkuhan, karena perusahaan memiliki peraturan yang sangat ketat.
Abian Philips Hamzah kini harus berhadapan dengan para petinggi perusahaannya yang diam-diam mengadakan rapat tertutup. Abian dengan kewibawaanya pagi menjelang siang yang cukup terik sudah berada dikantor pusat Airlangga Airlines setelah tadi dia dari kantor kepolisian mengurus masalah putranya, kini harus mengurus masalah perusahaannya.
Abian masuk kedalam ruang rapat ditemani diikuti asisten pribadinya.
"Apa yang kalian lakukan? Siapa yang mengusulkan rapat ini?" Tanyanya menatap satu persatu para direksinya. Abian yang selama ini terkenal ramah dan baik, saat ini wajahnya terlihat sangat bengis.
Mereka semua diam, tak ada yang berani menjawab karena memcari aman, hingga suara seseorang yang baru masuk menjawab.
"Aku, aku yang mengusulkan rapat ini," katanya dengan santai masuk kedalam ruang rapat.
Abian berbalik, cukup terkejut ternyata dalang dibalik semua ini adalah orang kepercayaan ayahnya sejak dulu, dan orang itu memiliki pengaruh tinggi dalam perusahaan.
"Oh, rupanya ada pengkhianat disini." Desis Abian tersenyum miring.
"Pengkhianat?" tanyanya mengulang kata Abian, "sebenarnya siapa disini yang menjadi pengkhianat?" Dengan santai ia berjalan menuju kursi direktur dan mendudukkan pantatnya dikursi yang biasanya di duduki Abian, atau tuan Philips Hamzah jika sesekali ia datang ke kantor.
__ADS_1
"Pengkhianat yang dengan diam-diam menyusupkan seorang putra menjadi pilot disini, kenapa disembunyikan?" Ia menatap lurus pada Abian. "Apa takut kedapatan jika ternyata dia sudah sejak lama mengkonsumsi obat-obatan tersebut, melihat jejaknya yang pernah bertugas di luar negeri, kenapa ia pindah? Apa karena kedapatan memiliki barang haram tersebut?"
"Anakku terbukti dijebak, dia sekarang sudah keluar. Aku sedang mencari barang bukti lain siapa yang telah menjebaknya, jika sudah tahu siapa yang menjebaknya, aku tidak segan-segan menghancurkan dia, maupun keluarganya."
"Oh ya?" Axcel berdiri, "tapi sayang, rapat tertutup sudah selesai, dan berdasarkan kesepakatan dan undang-undang yang sudah dibuat, siapapun pihak staf, awak kabin, ataupun para jajaran, maupun pemilik perusahaan yang kedapatan, atau melindungi orang yang bermasalah otomatis dia akan akan diturunkan dari jabatannya." Axcel mengeluarkan berkas didalam map.
"Saya ingatkan jika Direktur Utama kita lupa peraturan yang dibuat olehnya sendiri. Tiga puluh dari lima puluh orang sudah setuju menandatangani surat petisi untuk mengganti posisi Direktur Utama. Mereka kecewa dengan sikap Direktur karena melindungi orang yang terbukti melakukan pelanggaran hukum, dan kini dibebaskan padahal sudah terbukti memiliki barang bukti yang kuat, dan dinyatakan positif."
"Semua butuh observasi yang jelas, saya juga membuat peraturan tidak asal, semua yang dinyatakan bersalah, tidak langsung mendapatkan tindakan, melainkan dicari dulu kebenaran dan fakta yang terjadi. Tapi jika petisi sudah ditandatangani, saya mengalah, dan menerima atas aturan yang saya buat sendiri. Tapi setelah aku mendapatkan bukti jika anakku tidak bersalah, maka siap-siap kalian akan menerima gaji terakhir kalian." Abian berkata begitu tenang
Dia tak perlu menjelaskan jika bebasnya Angkasa karena orang yang menjebak Angakasa sudah mendapatkan apa yang diinginkanya. Sepertinya Axcel tidak tahu itu.
Biarlah mereka berasumsi dengan pendapat mereka sendiri, dari pada dia harus repot-repot menjelaskan, lebih baik dia memanfaatkan kesempatan ini dengan beristirahat dirumah dan berduaan dengan istrinya, sembari menunggu bukti yang sedang dicari asisten pribadinya. Nanti saja dia memberi tahu sang pujaan hati, saat semua masalah sudah beres. Abian hanya ingin istrinya selalu tenang dan tak banyak pikiran, sebab dulu Delia sudah terlalu banyak bersedih, biarlah masalah Angakasa ia serahkan pada adik iparnya, Daniel dan Mahesa.
Dia santai sekali, bukan?
Hanya kemarin dia panik saat anaknya dinyatakan positif dan ditemukan barang bukti didalam koper Angkasa, itu naluri seorang ayah. Tapi setelah tahu ternyata anaknya dijebak, Abian kembali pada hidupnya yang santai seperti tanpa beban.
Tanpa dia tahu, jika anaknya saat ini sedang bertaruh nyawa demi seorang wanita yang tak memiliki hubungan apa-apa denganya.
Dikdik memandang Angkasa dengan tatapan benci. Baginya Angkasa adalah musibah untuknya, karena Angkasa bisa saja menjadi penghalau segala rencananya, dia harus menghabisi Angkasa saat ini juga, membuat Alex bangga padanya.
Sudah tadi Angkasa dia buat babak belur wajahnya, kini dia membuka seragam putih milik Angkasa yang sudah dua hari laki-laki itu kenakan karena dia belum sempat menggantinya.
Di dada Angkasa juga terdapat banyak luka akibat tendangan dari Dikdik yang secara pengecut melakukan itu disaat Angkasa dalam keadaan tak berdaya.
Nining yang melihat apa yang dilakukan suaminya itu hanya dapat menggelengkan kepalanya, tak dapat berteriak atau menolong Angkasa sebab mulut, kaki dan tanganya diikat dikursi yang didudukinya.
"Ada pesan terakhir yang ingin kamu sampaikan pada keluarga mu anak muda?" ucapnya bertanya pada Angkasa. Angakasa hanya memandang tajam pada laki-laki dihadapanya tanpa ingin menjawab.
__ADS_1
"Oh, aku lupa, kamu butuh mulut untuk bicara." Dibukanya kain yang terikat menutup mulut Angkasa.
Setelah kain penutup itu terlepas, Angakasa menggerakkan mulutnya ke kanan dan ke kiri karena merasakan keram setelah lama diikat.
"Apa kau menyukai Arum?" tanyanya. Angakasa juga tak ingin menjawab.
"Sebelum kamu menjemput ajal mu, aku beri tahu dulu, jika Arum sudah aku jodohkan dengan Alex sejak lama. Tak akan ku beri Arum pada siapapun, karena hanya Alex yang bisa bekerja sama dengan ku, meski pergerakannya lambat dan sedikit bodòh." Dikdik menempelkan saupi di pipi Angkasa.
"Jangan pernah mengganggu Arum dan Alex jika kamu ingin selamat, tapi sayang sekali kamu sudah masuk ketempat yang salah, kamu tak bisa memutar waktu, kini tinggal menunggu detik-detik ajal mu saja, dan aku yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa untuk mu."
Dikdik sudah siap menancapkan saupi ke perut Angkasa, detik itu juga Angkasa mengangkat kakinya dan mendaratkan tepat didada Dikdik. Dikdik tak tahu saja jika sejak tadi tali yang mengikat tangan dan kaki Angkasa sudah terlepas, dan sekali hantaman kaki Angkasa, Dikdik langsung terkapar tak sadarkan diri. Mungkin usia mempengaruhi kekuatan fisik Dikdik.
Meski dia sudah terlepas dan bisa saja menghabisi Dikdik, tapi Angkasa tak sampai hati untuk kembali memukùl laki-laki itu lagi. Angakasa langsung melepaskan Nining.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah menyelamatkan Ibu." Nining langsung mengucapkan terima kasih padanya Angkasa.
"Lebih baik kita pergi sekarang, Bu." Angkasa menggandeng tangan Nining ingin membawanya pergi.
Ketika mereka akan keluar, Alex datang bersama Arum dengan sebuah saupi melingkar dileher Arum, diikuti sepuluh anak buah Alex dibelakangnya yang sudah memegang tongkat pemukul seperti akan perang melawan satu tikus tak berdaya menurutnya.
Pandangan Angkasa langsung jatuh pada wajah ketakutan Arum, sudut bibir wanita itu terdapat lebam dan cairan merah.
"Aku senang permainan ini, Captain. Tak menyangka jika hidup ku akan semenyenangkan ini bertemu dengan mu."
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya Alex?"
"Kesenangan, tapi dia tak memberiku kesenangan itu, malah menyembunyikan sesuatu yang begitu berharga." Alex menekan tanganya dileher Arum, membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Sekarang, aku tanya padamu Arum? Kau menyerahkan flashdish dan ponsel itu, atau Captain ini hanya tinggal nama?"
__ADS_1
Angkasa menatap Arum, semakin penasaran, entah apa isi dari ponsel tersebut? Isi surat Arum juga menyebutkan tentang ponsel.