Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Siapa Arum?


__ADS_3

Disebuah padang ilalang, angin sepoi-sepoi menggerakkan ke kanan ke kiri hingga menerbangkan bunganya yang putih. Angkasa berjalan seorang diri menuju anak tangga yang mengarah cahaya terang. Ia semakin melangkah mendekat.


"Kamu mau kemana anak muda?" Seseorang bertanya pada Angkasa. Angkasa tak dapat melihat wajah orang tersebut, karena membelakangi cahaya yang terang.


"Saya ingin naik ke tangga itu." Menunjuk tangga yang terlihat didepanya.


Orang tersebut memutar kepala arah yang ditunjuk Angkasa. Kemudian kembali menatap Angkasa.


"Tidak bisa jika kamu tidak memiliki sayap. Orang yang bisa naik keatas sana, mereka yang memiliki sayap," ujarnya, "carilah sayap mu, agar kamu bisa melangkah kesana."


"Papaaa." Suara anak kecil terdengar, Angkasa tak tahu itu anak siapa? Ia menoleh, tak ada siapapun.


"Apa Anda mendengar suara anak kecil?" Angkasa bertanya pada orang tadi, tapi sudah tidak ada.


"Papaaa." Suara itu kembali memanggilnya. Semakin lama, suara itu kian dekat. Angkasa mencari-cari sumber suara dengan kebingungan.


"Papaaa."


Angkasa menemukannya, seorang anak kecil laki-laki memakai pakaian putih sepertinya muncul entah dari mana, bocah itu berlari kearahnya, anak itu seolah tak perduli tajamnya daun ilalang menggores kulitnya yang halus, ia terus berlari mengejar Angkasa.


"Siapa anak itu? Kenapa memanggil ku papa?"


"Papa, jangan tinggalkan kami." Suara renyahnya mencegah, ia terus berlari.


Naluri Angkasa memerintah untuk merendahkan tubuhnya, menyambut sang anak yang langsung meloncat ke gendonganya.


"Papa mau kemana? Kenapa tidak mendengar mama memanggil?"


"Mama? Siapa mama kamu?" Anak itu menoleh kebelakang. Seoarang wanita cantik berjalan kearah mereka.


"Apa harus anak mu yang memanggil sampai kamu menghiraukan panggilan ku. Aku marah sekali."


"Arum?" Angkasa mengernyit. "Anak? Anak siapa?"


"Kamu nggak sadar anak yang ada dalam gendongan mu mirip dengan mu?" Refleks Angkasa menatap wajah anak laki-laki yang ada dalam gendonganya.


Benar, anak kecil itu beriris coklat, beralis tebal sepertinya. Wajah tampan itu, sembilan puluh sembilan persen mirip denganya.


"Aku anak, Papa." Tersenyum begitu manis, Suara cemprengnya begitu menenangkan. "Kami rindu Papa, Papa jangan pergi." Suara yang bicara didepanya ini membuatnya tenang, tangan kecilnya melingkar dileher Angakasa.


"Dia anak kita?" Bertanya, menoleh pada Arum.


"Jangan hanya menitipkan benih tapi tidak mau bertanggung jawab. Itu hasil madu yang kamu ambil dari ku." Arum mencebik, sejak tadi selalu menjawab ketus.


Angkasa kaget.


Apa benar itu hasil madunya?

__ADS_1


"Hanya sekali, apa bisa langsung jadi?"


"Kamu meragukan kami? Yasudah sayang. Kita pulang, Papa tidak menginginkan kita."


Angkasa tak mau melepaskan anak itu, Ia begitu suka pada anak kecil ini, hatinya terasa nyaman dan tenang melihatnya.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan kalian pergi. Jika kalian milikku, aku tidak akan melepaskan kalian."


"Papa akan bersama kami?" Bocah kecil berpipi bulat dan merah itu bertanya.


"Tentu, kita akan bersama-sama. Kamu senang?"


"Iya, aku senang Papa. Mama tidak akan menangis lagi jika Papa bersama kami."


Angkasa mendekati Arum tanpa menurunkan anaknya. "Kamu menangis? Aku membuat mu menangis?"


"Iya, dan aku membenci mu karena kamu terlalu banyak ingkar janji."


* * *


Saat Abian sudah menandatangani berkas kepulangan jasad Angkasa, dan seluruh keluarga sudah setuju alat-alat itu dilepaskan. Arum merasa dunianya runtuh. Tidak ada lagi laki-laki yang akan selalu membelanya, tidak akan ada lagi laki-laki yang berusaha membahagiakanya.


Arum tak sanggup, dia tak kuat menghadapi takdir buruk dalam hidupnya. Apa yang harus ia lakukan untuk membuat ayah dari anak yang ada didalam perutnya bangun?


Ingin ia meronta, menjerit, meluapkan kesedihanya. Ia ingin Angkasa pergi serta membawanya, agar ia tak sedih seorang diri. Dekapan Delia sama sekali tak menenangkanya.


Pintu kaca itu terbuka, keluarnya dokter, berarti berakhir sudah harapan kebahagiaanya. Air mata Arum semakin deras.


Aku ikhlas melepaskan mu.


"Sepertinya pengurusan kepulangan jenazah kita batalkan," ucap dokter.


Arum mengangkat pandangannya, apa dia tidak salah dengar?


"Maksud Dokter, apa?" Abian bertanya.


"Kita percaya jika keajaiban itu ada, maka Tuhan akan memberikan keajaiban itu." Dokter menepuk pundak Abian. "Perjuangan anak sebagai orang tua menyelamatkan anak Anda, berbuah manis, Pak."


"Anda bicara apa, Dokter?" Arum ingin dokter bicara yang jelas.


"Pasien bangun dari tidur panjangnya, Nona. Dia telah bangun."


"Tolong katakan sekali lagi, sebenarnya apa yang Anda bicarakan?" Arum tidak puas dengan jawaban dokter.


Dokter itu tersenyum. "Pasien melewati masa kritisnya, dia sadar. Tuhan memberinya kesempatan."


"Anda tidak bercanda 'kan Dokter?" Arum sungguh ingin memastikan. Delia juga tak sabar, dan yang lainya juga.

__ADS_1


"Tidak, Nona. Anda bisa menjenguknya setelah Tuan Angkasa dipindahkan ke kamar perawatan."


"Aku ingin melihatnya sekarang." Arum ingin menerobos masuk. Dokter mencegahnya, meminta bersabar hingga Angkasa dipindahkan ke ruang perawatan.


* * *


Kurang lebih tujuh bulan dipisahkan oleh alam yang berbeda, Angkasa dialam mimpi, Arum dialam nyata, membuat Arum tak sabar menunggu Angkasa bangun. Perkiraan dokter, Angkasa akan sadar dalam lima belas menit, tidak lama bukan. Tapi menunggu lima menit, bak seminggu bagi Arum dan Delia. Keduanya berbagai, memegang tangan kanan dan kiri Angkasa.


Abian, Awan, Aira, Oma Amanda, dan Pak Philips Hamzah sampai terkekeh melihat keduanya.


"Sepertinya Angkasa akan sulit bangun jika kedua nadinya sesak." Abian berkata pada orang tuanya.


"Biarkan saja, mereka itu bak sepasang sayap untuk Angkasa. Keduanya begitu berharga, untuk seekor kumbang jantan sepertinya." Pak Philips Hamzah menyahut.


"Kenapa jadi ke kumbang. Istilah macam apa juga itu?" Abian mencebik.


"Papa mu dulu mantan anak senja. Kamu mana tahu tentang itu." Amanda membela suaminya.


"Anak senja itu pemburu warna diatas langit. Bukan kumbang Tanduk seperti yang Papa sebutkan." Abian selalu tak sependapat dengan kedua orangtuanya, itulah, meski setua ini, dia masih menjadi bulan-bulanan orangtuanya.


"Lihat Wan. Ayah mu bukan pria romantis, kalau bukan Oma yang menjodohkan dengan mama kalian. Mana mungkin dia bisa beruntung mendapatkan wanita hebat seperti mama kalian. Mungkin sekarang dia akan menjadi laki-laki yang selalu galau karena tidak bisa memilih pasangan yang baik."


Awan dan Aira saling lirik, menggaruk kepala yang tak gatal. Jika terus dilanjutkan, Abian yakin dia akan terus dipojokkan, dia memilih menghindar menghampiri dua sayap kiri kanan Angkasa. Belum juga sampai, kedua wanita itu membuatnya terkejut.


"Angkasa/Nak, kamu bangun?" Arum dan Delia serempak bangkit dari duduknya. Kemudian menoleh pada Abian.


"Panggilkan dokter sekarang." Delia dan Arum juga secara bersamaan memerintah Abian. Abian pun mengangguk patuh.


Setelah dokter memeriksa keadaan Angkasa, dan memastikan tak ada yang mengkhawatirkan dari Angkasa, dokter itu pamit, memberi ruang untuk keluarga melepas rindu. Dan langsung saja semua ribut ingin lebih dulu memeluk Angkasa.


"Biarkan yang melahirkanya lebih dulu yang menyapanya." Pak Philips Hamzah memberi pilihan bijak, dia menyembunyikan Arum, ingin memberikan kejutan untuk Angkasa.


Setelah semuanya bergantian menyapa, barulah giliran Arum yang terakhir. Arum mendekat, ia berjalan malu-malu saat Angkasa menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.


"Hai," seribu kata yang sudah Arum siapkan untuk menyapa belahan jiwanya lenyap, gugup saat berhadapan langsung, hanya itu kata yang mampu ia keluarkan, Arum menyelipkan helai rambutnya menghilangkan rasa gugupnya.


"Kamu siapa?"


Terkejut, Arum tak jadi melanjutkan langkahnya.


"Sayang, dia Arum."


Tatapan Angkasa sejak tadi fokus pada perut besar Arum. "Arum siapa?"


Delia mendekat, dia tak tega melihat raut wajah Arum yang berubah sedih.


"Arum_ kamu tidak ingat Arum kamu, Nak."

__ADS_1


"Angkasa tahu Arum Angkasa, Ma. Tapi dia tidak hamil."


"Tapi dia hamil anak kamu, sayang."


__ADS_2