
Sudah ditolak, ditinggal tidur membelakangi pula, sakit hati Reini berkali-kali lipat hingga dadanya terasa sesak dan sulit bernafas.
Wanita di bentak sedikit saja seperti makhluk terdzolimi sedunia, apalagi ini Reini yang sudah menyerahkan diri, sudah buka-bukaan seperti wanita penghibur, bulu-bulu halus dibawah sana sampai berdiri karena kedinginan oleh pendingin ruangan yang distel paling rendah. Bukan membangkitkan hasrat suaminya, malah ditolak mentah-mentah, diminta saling menghargai pilihan. Harga diri Reini yang setinggi langit seakan direndahkan bahkan lebih rendah dari seorang wanita penghibur.
Airmata Reini meluncur deras membanjiri wajah putih mulusnya, bibirnya bergetar, sekujur tubuhnya terasa lemas.
Apakah pilihanya menunda memiliki momongan adalah pilihan yang salah? Entahlah, tapi Reini benar-benar belum ingin memiliki anak saat ini, dia belum siap dengan segala konsekuensi memiliki bayi, kurang tidur, bentuk badan berubah, belum lagi dia harus pintar mengatur waktu antara suami dan anak, Reini belum siap akan itu.
Memilih turun dari tempat tidur, Reini kembali ke ruang ganti, mengganti pakaian dinas malam yang disukai laki-laki, tapi tidak dengan suaminya. Reini menggigit bibir menghalau air mata yang semakin deras. Sumpah demi apapun, ditolak suami disaat dia sudah siap itu rasanya begitu menyakitkan.
Reini memang memiliki watak keras, tapi Reini belum pernah bersentuhan dengan lelaki manapun, Awan orang paling dekat dengannya, satu-satunya lelaki yang sering ia gandeng atau rangkul. Berpakaian terbuka dan tipis seperti tadi, Reini harus menyiapkan diri berhari-hari untuk siap dilihat Awan, tapi yang terjadi tadi ... justru dia mempermalukan dirinya.
Jujur Reini penasaran bagaimana rasanya malam pertama, dan melihat bentuk ular piton secara live. Dia hanya pernah melihat lewat film blue yang suka di tonton teman-temanya.
Lama Reini berada didalam ruang ganti, tapi Awan tak ada meyusulnya, Awan yang terlanjur kesal, memilih mengabaikan Reini, dan akhirnya tertidur karena seharian ini dia begitu lelah.
Awan tak tahu jika istrinya malam ini memilih tidur di sofa, meringkuk menangis dalam diam. Tak perduli dia salah atau tidak? Dia merasa pilihanya benar.
Sampai pagi, Reini bangun lebih dulu, semalam dia meminta kepada kepala pramugari untuk diberi jadwal, dan kebetulan ada salah satu temanya yang minta digantikan karena ada urusan penting yang mendadak.
Awan membuka mata, Reini sudah rapih dengan seragam pramugari yang membalut pas tubuhnya.
"Wan, karena katamu tidak ada bulan madu, jadi aku minta jadwal sama ketua. Aku ada penerbangan dua jam lagi, aku berangkat dulu ya. Baju kerja kamu sudah aku siapin," bicara tanpa menatap lawan bicaranya sambil mengenakan sepatu. "Good morning, aku berangkat dulu." Menggeret koper menuju pintu.
Awan jadi merasa heran sendiri, perasaan semalam dia yang dibuat kesal, malah berbalik dia yang bersalah. Awan mengacak rambutnya frustrasi.
"Apa begini sifat perempuan sebenarnya? Pintar membolak-balikkan situasi." Akhhhhh Awan dibuat pusing oleh tingkah makhluk yang namanya perempuan.
* * *
"Loh Rein, bukanya cuti kamu masih lama, kok sudah masuk saja?" Voni dan Rendy yang berada di meja makan heran melihat Reini sudah berseragam dan menarik koper dinasnya.
"Tadi ada teman yang mohon-mohon minta digantikan, Ma. Kasihan kalau nggak ada yang gantiin," jawabnya menuruni anak tangga.
Reini memang seperti itu, sangat mencintai pekerjaanya, siapapun yang meminta tolong untuk digantikan, dengan senang hati dia menggantinya, meski jadwal libur sekalipun.
"Sarapan dulu sayang," tawar Voni, "Awan mana?" Menatap anaknya yang nampak buru-buru.
"Lagi mandi, Reini nggak bisa kalau nunggu Awan, Ma. Reini duluan, nggak keburu." Reini memang memiliki sifat jelek, tapi dia malu harus mengakui jika hubunganya dengan Awan tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Mencium pipi kedua orangtuanya, Reini melenggang pergi tanpa menyentuh makanan.
"Apa mereka benar-benar mau menunda momongan ya, Sayang? Kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonya, tapi kenapa anak kita jatuhnya jauh sekali?"
"Maksudnya?" Voni tidak mengerti maksud sang suami.
"Dulu kita nabung dulu, jadi tidak perlu nunggu lama sudah ada Reini, tapi kenapa anak kita tidak begitu ya?"
"Ih amit-amit. Kamu tuh seharusnya bersyukur anak kita tidak begitu. Kalau dipikir sekarang aku nyesal ngelakuin itu dulu. Memalukan."
Setengah jam kemudian Awan turun, sudah memakai pakaian kerjanya.
"Selamat pagi, Pa, Ma." Enaknya menikah dengan keluarga yang sudah dekat ya seperti ini, tidak canggung lagi meski sang istri tidak ada.
"Pagi, Wan. Kamu sudah masuk kerja juga?" Tanya Rendy.
"Iya, Pa. Karena dua hari lagi Awan diminta ayah mengganti posisi ayah."
"Hem, benar juga. Impian Papa menimang cucu benar-benar harus ditunda ya."
Awan tersenyum, bukan dia yang tidak mau, tapi Reini. Awan menatap kursi disampingnya yang masih rapih, piring juga masih terpelungkup.
"Reini tidak sarapan, Ma?" Bertanya pada Mama mertua.
Awan jadi tak bernafsu makan, keadaan menjungkirbalikkan keadaan, dia merasa dia yang jahat disini.
"Astaga, jadi aku harus bagaimana?"
Mungkin hanya dia pasangan pengantin baru yang benar-benar dibuat tak jelas. Belum melakukan hubungan suami istri, tempat tinggal pun mereka belum menentukan harus tinggal dimana?
Awan segera mengakhiri sarapanya, dia naik ke kamar untuk menghubungi Reini.
"Awan keatas dulu, Ma, Pa. Ada yang ketinggalan." Izinya bangkit dari tempat tidur, menuju lantai dua.
Awan menghubungi nomor Reini, tersambung tapi Reini tidak mau menjawabnya. Awan kembali memanggil nomor sang istri, namun tidak juga diangkat, dipanggilan ketiga, nomor Reini sudah tidak aktif lagi.
"Astaga, menyebalkan sekali pernikahan ini." Awan sampai ingin menghempas ponsel saking geramnya pada Reini.
* * *
__ADS_1
Dikediaman Angkasa, setelah dua hari berada dirumah sakit, Arum diperbolehkan pulang bersama sang anak.
Kebahagiaan tengah menyelimuti kebahagiaan keluarga kecil ini yang baru saja dikaruniai malaikat kecil sebagai pelengkap hidup mereka.
Angkasa menghampiri sang istri yang sedang memberikan asi pada si kecil.
"Kalau seperti ini, aku kapan kebagian dapat jatah dari kamunya." Awan mengelus pipi halus anaknya.
Arum terkekeh. "Puasa donk, Dad, empat puluh hari."
"Lama sekali sayang. Apa nggak bisa dipotong remisi selama aku berkelakuan baik? Buatin susu buat anak kita kalau kamu tidur malam? Bantu gantiin popok, gendong kalau anak kita menangis. Masa tidak ada imbalanya?" Angakasa melucuti pipi dan leher istrinya hingga Arum kegelian.
"Ya ampun sayang, Daddy kamu perhitungan sama Mommy."
"Aku juga butuh asupan sayang. Biar semangat mengerjakan pekerjaanya." Rengek Angkasa begitu manja.
"Tahan Sayang, jangan sampai Adithya punya adik duluan." Delia masuk membawakan sarapan untuk Arum. "Kamu sarapan sayang. Adithya biar Mama bawa berjemur di bawah. Kakek Abian sudah menghayal cuti ditemani cucunya."
"Berarti Adithya harus punya adik ya Ma. Jadi Ada yang menemani Mama sama Ayah dirumah."
Delia memberikan tatapan tajam pada Angkasa. "Mama hanya mau pinjam saja, kalau capek bisa dikembalikan." Angkasa terkekeh. Senang Delia menerima Arum dengan tangan terbuka.
Setelah Delia turun, Angkasa tak menyia-nyiakan waktu, apapun ia lakukan untuk menyalurkan hasratnya tanpa menyakiti dan menyentuh sang istri. Arum hanya bisa pasrah saat Angkasa membawanya ke kamar mandi, meletakkan di buth-up, dia ikut masuk dan duduk dibelakang Arum, sambil membersihkan punggung Arum.
* * *
Esok harinya. Reini tidak pulang, dia meminta crewlink menjadwalkanya keluar kota. Mengandalkan nama sang suami, ayahnya, dan mertua, mudah bagi Reini meminta itu, meski sebenarnya scedule sudah di publis (publish schdule) setiap awal bulan.
Awan begitu kesulitan menghubungi Reini, dia sampai menginap di hotel, karena belum menentukan akan tinggal dimana, dia harus bertanya pada sang istri lebih dulu, sebelum nanti dia jadi kesalahan lagi.
Awan meminta jadwal pramugari di ruang crewlink. Dia melihat jadwal Reini, seminggu kedepan Reini memiliki jadwal terbang luar kota.
Kembali keruanganya yang bersebelahan dengan Abian. Awan bertemu dengan Angkasa.
"Wan, apa kabar?"
"Baik," jawab Awan.
"Kerja terus, minta cutilah sama ayah. Diundur dulu pengangkatanya. Cepat kejar biar makin semangat kerjanya. Kayak aku nggak sabar mau pulang, lihat anak istri." Goda Angkasa menaiki turunkan alisnya.
__ADS_1
Angkasa mendapat pesan dari Arum.
"Shittt, Arum memanas-manasi ku." Angkasa menunjukkan pesan dari Arum menciumi pipi Adithya yang mulai tembam, sebab anaknya kuat sekali makanya.