
Berhasil mendarat di kota tujuan pertamanya, yang ingin Angkasa hubungi lebih dulu yaitu, Arum. Tapi saat dia sudah menekan nomor sang pujaan hati, nomor sang mama muncul lebih dulu.
Angkasa sampai tak bisa lagi menahan senyumnya, mamanya ini, meski kadang galak, kalau marah bisa berhari-hari, dan kadang terlihat seperti anak kecil kalau ngambek, tapi dia orang yang pertama selalu ada untuknya.
"Halo, Ma. Ada apa?" Tak ingin mamanya menunggu lama, dia tak bisa mengabaikan panggilan wanita yang menjadi cinta pertamanya.
"Alhamdulilah, diangkat. Berarti kamu udah mendarat, padahal tadi Mama iseng-iseng aja loh nelepon kamu." Terdengar suara ceria Delia diujung sana, Angakasa terkekeh, tak akan ada yang bisa menggantikan kedudukan wanita yang memiliki tahta tertinggi dihatinya ini.
"Iya pas banget, Angkasa baru nyalain hape, mau telepon Mama, Mama sudah telepon duluan." Berbohong, berniat membahagiakan hati mamanya.
"Ah, yang benar? Bukanya kamu mau telepon pacar kamu?" Delia meledek, tapi tepat sasaran. Angkasa berdehem, merasa kebohongannya ketahuan.
"Arum bawain bekel apa?" Itu yang ingin Delia ketahui lebih dulu.
"Roti srikaya, telor dadar, sama sayuran."
Hem, biasa aja. Besok mama bawain bekal yang yang lebih enak. Delia merasa Arum adalah saingan terbesarnya.
"Yaudah, kamu makan. Mama mau telepon Awan."
Panggilan terputus, Angkasa menghela nafas. Dia kemudian menghubungi pengacaranya, menanyakan perkembangan kasus para preman yang memeras Arum.
"Ada kabar apa?" Tanya Angkasa langsung pada intinya.
"Kita sepertinya agak kesulitan mengungkap ini."
"Kenapa?"
"Kita tidak punya bukti kuat tentang pemerasan, Alex juga tidak punya bukti tertulis yang bisa menguatkan dugaan kita. Sekarang, yang membuat posisi mereka lebih kuat, mereka memiliki bukti perjanjian hutang piutang itu."
Angkasa berpikir. "Buat mereka mengakui, jika diperlukan cara kekerasan, lakukan." Perintah Angkasa.
__ADS_1
Berkaca dari permasalahanya kemarin, Angkasa tidak mau memberi cela untuk siapapun menyakiti wanitanya, dia tidak mau kecolongan lagi, apapun akan dia lakukan untuk melindungi Arum.
"Baiklah, Pak."
"Jerat mereka atas tindakan kekerasan, aku tidak mau mereka bebas meski mereka memiliki surat perjanjian itu." Sungguh Angkasa tidak bisa tenang sekarang. Beres masalah satu, timbul masalah lain.
"Apa aku minta Arum pindah tempat saja ya?" Angkasa terus berpikir keras, memikirkan cara melindungi Arum dari kejahatan Dikdik. Mereka belum menjadi pasangan yang sah, jadi Angkasa tidak bisa 24jam melindungi Arum.
"Baiklah, kalau aku tidak bisa memberi bukti yang kuat, aku akan membereskan ini dengan cara ku sendiri."
Angkasa memakan makanan yang dibawakan Arum, dia memotretnya, dan mengirimnya pada sang kekasih. Tak lama ponselnya bergetar, Arum memanggil dengan panggilan video. Sebelum mengangkatnya Angkasa menggerakkan-gerakkan bibirnya mengatur senyum yang akan ia berikan pada Arum.
"Lama banget angkatnya," Arum langsung komplain, wajahnya terlihat cemberut.
"Aku lagi makan." Alasannya.
Wajah yang tadi terlihat masam, berubah membentuk senyuman termanis. "Suka nggak?"
"Besok mau dibawain bekal apa lagi?"
"Nggak usah," Angkasa menggerakkan tanganya, "jadwal untuk besok sudah turun. Aku ada penerbangan jam tiga pagi, entah nanti transit dimana? Mungkin nggak pulang." Angkasa belum bisa mengatakan, jika besok mamanya yang akan membawakan bekal.
Arum menghela nafas, lupa apa profesi pacarnya ini, jam pulang tak menentu, itu juga tidak bisa pulang setiap hari, dia tahu betul itu.
Satu jam mereka mengobrol, sampai akhirnya harus terhenti karena Angkasa harus melanjutkan penerbangan selanjutnya.
* * *
Berbeda dengan pasangan lain. Sore hari Reini sudah mendarat di ibu kota, wajah lelahnya begitu terlihat, Awan yang melihat kehadiran kekasihnya langsung menghampiri dan mengambil alih membawakan kopernya.
"Aku capek banget," keluhnya begitu Awan membukakan pintu di bagian penumpang, Reini menghempaskan tubuhnya di kursi mobil yang begitu nyaman.
__ADS_1
Awan yang sudah masuk dan duduk di balik kemudi melihat Reini yang belum memasang seatbelt, memasangkanya.
Awan ini berbeda dengan Angkasa, dia begitu lempeng, meski sejak remaja menyukai Reini, tapi tak terbawa pengaruh syaiton. Tak ada adegan tabrak-tabrakan bibir, dan perang lidah.
"Kamu tidur aja, kalau sudah sampai aku bangunkan."
"Pijitin kaki aku dulu donk, pegel banget," pintanya menggumam.
"Aku cari tempat parkir dulu."
"Aku juga aus, pengen minum yang seger-seger."
Kelewat bucin, Awan memenuhi semua keinginan Reini dengan terlebih dahulu membeli air setelah memarkirkan mobilnya ditempat yang aman.
"Nih," menyodorkan minuman berperisa jeruk yang tutupnya sudah dibukakan. "Mana yang pegal, aku pijitin." Tanpa bertanya, seperti sudah hapal, Awan berjongkok, membuka sepatu berhak tiga senti milik Reini.
"Iya bener, betis aku yang pegel." Meletakkan kaki di pangkuan Awan.
Dan lagi-lagi Awan begitu memahami Reini, dia mengambil handbody dari tas Reini, menuangkan ditelapak tanganya, lalu mulai memijat kaki Reini dengan begitu lembut. Reini sampai memejamkan mata saking menikmati pijatan lembut Awan.
"Gimana, kamu udah mutusin mau sekolah penerbangan?" Reini bertanya, matanya masih terpejam.
"Aku sedang mencobanya."
Reini membuka mata. "Mencoba terus, kamu harus bisa lawan trauma kamu, nggak boleh dimanja." Reini tiba-tiba ingat sesuatu. "Wan, Andini yang dirumah kamu bukanya psikolo?"
"Iya." Awan menjawab tanpa mengalihkan pada tanganya yang memijat kaki Reini.
"Kenapa kamu nggak minta tolong sama dia saja?"
Tak menjawab, tapi Awan akan memikirkan itu.
__ADS_1