Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Karena banyaknya pekerjaan, dan juga ada jadwal pertemuan dengan menteri perhubungan memperkenalkan dirinya sebagai direktur utama di Airlangga Airlines. Jam lima pagi Awan dan Reini terbang kembali ke ibu kota, meski Awan belum istirahat sama sekali.


Reini menggunakan penutup kepala menutupi dirinya. Meski tak ada yang tahu perkara semalam, dan Awan sudah meminta siapa saja yang melihat dan tahu apa yang terjadi untuk menutup mulut, tapi Reini merasa malu sendiri. Semua yang terjadi karena mulutnya yang tak bisa mengontrol dalam berkata.


"Mau pulang ke apartemen atau ke rumah mama Voni?" Tanya Awan.


"Apartemen aja?"


"Kamu yakin?"


"Aku lagi pengen sendiri."


"Kalau butuh teman hubungi Andini, dia bisa bantu kamu."


Tak banyak obrolan selama didalam pesawat, karena Reini kembali tidur, dan Awan mengerjakan pekerjaanya yang terbengkalai.

__ADS_1


Saat Reini membuka mata, mereka telah sampai di ibu kota, dan disambut sinar cahaya matahari pagi. Reini menatap Awan yang tengah serius pada ponselnya, Awan terlihat begitu menawan terkena pantulan sinar matahari. Dia baru menyadari, jika dia begitu beruntung bersuami kan Awan, selain tampan, Awan sangat sabar selama ini menghadapinya.


"Rein, aku nggak bisa antar kamu sampai apartemen, tidak apa-apa kan diantar supir?"


Reini mengangguk, kini dia menjadi istri yang patuh, menurut saja apa yang dikatakan Awan. "Apa mama, papa tahu masalah ini?"


Awan menggeleng. "Tidak ada yang tahu, tapi jika kamu nyaman mau cerita pada mama Voni, terserah padamu."


"Mama pasti marah karena semua salah aku."


Reini mengangguk lemah, memang benar apa yang dikatakan suaminya. Karena perkataanyalah yang tanpa dia sadari melukai perasaan Viona yang selama ini dekat denganya, dan dimanfaatkan Angga yang diam-diam menyimpan rasa padanya.


Akhirnya mereka harus berpisah dibandara, Awan yang tidak memiliki waktu lagi karena takut jika terlambat untuk bertemu pak menteri, dan Reini harus pulang keapartemen.


Sesampainya diapartemen, Reini membersihkan diri. Hampir satu jam lebih Reini didalam sana, membersihkan tanganya dengan sabun berkali-kali, sebab ia begitu jijik mengingat telah menyentuh milik Angga, Reini juga berulang kali membasuh mukanya agar bayang-bayang milik Angga hilang dalam ingatanya.

__ADS_1


"Sial, kenapa harus teringat terus," gerutu Reini kesal pada diri sendiri. Tak lama ia menutup mulut sebab merasa mual setiap mengingat bentuk milik Angga berkelebat dikepalanya.


Reini kemudian berdiri dibawah shower, menyiram kepalanya berharap yang terjadi semalam hilang dalam ingatanya. Tapi bukan hilang, setiap ia menutup mata, bayang bentuk itu kembali terlintas.


Akkhhhh


Reini berteriak dan menjambak rambutnya sendiri yang terasa begitu sakit. Ia benci pikiranya, ia bahkan ragu untuk mengusap wajahnya menggunakan tanganya sendiri. Reini menangis dibawah kucuran air, menyesali semua yang sudah terjadi.


Merasa dingin, Reini menyudahi mandinya. Tak ingin merepotkan Awan lebih banyak lagi jika dia sampai sakit, tapi badannya semakin terasa menggigil. Kaki Reini bahkan terasa seperti menginjak taburan paku saat menginjak lantai menuju tempat tidur.


"Apa aku harus pergi dalam keadaan seperti ini?" Reini ingat mati. "Ya Tuhan, ampuni segala dosa ku," ujarnya.


Masih dengan rambut basah, Reini naik ketempat tidur, ia meraba bagian laci nakas, mencari obat pereda nyeri, untung tadi dia sempat makan roti meski sedikit karena Awan yang memaksanya. Namun bukan obat yang ia temukan, melainkan sebuah map hijau berisi dokumen.


"Apa ini?" gumamnya dengan mata sayu. Reini membuka isi dalamnya. "Sertifikat Kelas Pranikah." Baca Reini bagian depannya.

__ADS_1


Darah Reini terasa berdesir membaca itu, Awan sampai ikut kelas pranikah agar bisa menjadi suami yang baik. Sedangkan dia? Dia dengan egoisnya mengambil keputusan sepihak untuk menunda momongan.


__ADS_2