
Usai memberi pelayanan pada para penumpang, Reini istirahat. Hari ini Reini bertugas di bagian belakang pesawat, ia duduk dan menggunakan sabuk keselamatan. Tak lama seorang teman Reini ikut duduk disebelahnya.
"Hai, Rein. Istirahat?" tanyanya sambil mengenakan sabuk pengaman.
"Hooh nih, Vio. Capek." Vio ini teman yang menelepon Reini tempo hari.
"Udah jadi istri CEO, kenapa masih kerja? Bukanya tinggal ongkang-ongkang kaki juga nanti bakal dapat uang? Gak perlu terbang kesana-kemari?" Mengingatkan Reini atas perkataannya waktu itu.
"Yah, yang namanya cinta sama pekerjaan, nggak bisa lepasin begitu saja." Reini mengangkat jemarinya, memamerkan cincin pernikahannya yang bernilai fantastis pemberian Awan.
Viona bertambah jengah melihatnya. Reini terkesan sangat norak setelah menikah, entah apa yang mendasarinya seperti itu. Viona ini teman dekat Reini, dulu Reini tidak terlalu seperti ini, tapi setelah menikah, sifatnya berubah drastis, apa ini sifat asli Reini sebenarnya?
"Memang suami kamu nggak melarang kamu buat berhenti kerja aja? Secara, kamu nggak kerja juga harta keluarga suami kamu nggak akan habis."
Reini menatap Viona. "Tahu sendirikan, Awan itu cinta mati sama aku, apapun keputusan ku, dia sih oke-oke saja. Asal aku bahagia dan senang menjalaninya, katanya." Reini tersenyum, kembali melihat cincin bermata berlian yang melingkar dijemari manisnya.
"Itu pasti cincin mahal ya, Rein?"
"Seratus jutaan lebih harganya." Bibir Viona membulat membentuk huruf 'O'. "Vi, ubah standar calon suami kamu dari sekarang, jangan lagi pilot, harus seorang pengusaha tajir, pilot mah belum tentu bisa kasih yang kita mau."
__ADS_1
"Aku mah apa saja sih, Rein. Sama saja, yang penting hubungan yang langgeng."
"Hem, sama laki-laki yang begitu mencintai kita," Reini menambahi, "saking cintanya sama aku, Awan juga mau untuk menunda memiliki momongan." Aku Reini jujur.
"What? Suami kamu setuju menunda momongan? Kok bisa?"
Agak sedikit terkejut sih Viona, secara biasanya anak orang kaya, tidak akan menunda memiliki momongan sebagai penerus mereka.
"Ya bisalah, yang namanya cinta mati. Apa saja pasti di turuti."
Viona hanya dapat tersenyum kecil, Reini terlalu angkuh, bagaimana jika Awan mengetahui Reini berkata demikian? Sebagai laki-laki dan seorang suami, dia pasti merasa seperti diinjak-injak harga dirinya. Viona jadi penasaran, bagaimana cara Reini dan Awan menunda momonganya?
Reini tak langsung menjawab, dia sejujurnya belum meminum pil kb dari temanya. "Kami belum melakukan hubungan suami istri setelah menikah, jadi aku belum meminum pil kb-nya," ujar Reini terlalu membocorkan hal yang menjadi privasi.
Mengejutkan sekali mendengar pengakuan Reini. "Kamu lagi datang bulan?"
Reini menggeleng. "Kami belum sempat saja melakukanya," sahut Reini jujur.
Viona agak sedikit terkejut, ada yang aneh? Apa pernikahan Reini dan suaminya tidak baik-baik saja? Tidak mungkin orang yang saling mencintai, dan Awan yang begitu bucin bisa melewatkan malam indah bersama?
__ADS_1
Heh, pantas saja mereka tidak honeymoon? Sepertinya ada yang Reini tutupi.
Obrolan mereka harus terhenti karena pesawat tidak lama lagi akan mendarat, Reini dan Viona bersiap untuk melakukan instruksi pada penumpang sebelum pendaratan terjadi.
* * *
Penerbangan tadi merupakan penerbangan terakhir Reini. Berjalan bersama para pilot dan pramugari yang lain menuju parkiran, Reini ternyata sudah ada yang menunggu.
Bukan hanya terbang bersama Viona, Reini juga terbang bersama Angga.
"Rein," Angga yang berjalan lebih dulu menghentikan langkahnya. Memutar tubuh menatap Reini.
"Iya, Capt."
"Bisa kita ngopi-ngopi sebentar? Sudah lama kita tidak ngopi sambil ngobrol ringan."
"I',m so sorry Capt. Suami bucin ku sudah stand by," ujarnya pada Angga dan Viona.
Viona dan Angga melihat Awan yang berjalan kearah mereka. Viona memang dekat dengan Reini, tapi belum tahu yang namanya Awan. Reini memang sering menceritakan tentang Awan, tapi belum pernah mengenalkan secara langsung. Awan terlihat begitu sempurna dimata Viona, spadan dengan kecantikan Reini, tapi tidak cocok jika harus terikat tali pernikahan, Awan terlalu sempurna untuk Reini yang memiliki sifat sombong, seperti sekarang.
__ADS_1