Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Sudah Selesai


__ADS_3

"Kenapa kamu hanya berani pada wanita, Lex? Kenapa tidak langsung melawan ku saja? Satu lawan satu,dan itu akan menunjukkan jika kita laki-laki sejati, bertarunglah dengan jantan," tantang Angkasa pada Alex.


Hahahaha Alexpun tertawa mengejek.


"Ohh, pilot yang menjelma menjadi pahlawan kesiangan, bukan aku tidak mau, tapi kamu bukan lawanku," sahutnya meremehkan kemampuan Angkasa.


"Lagi pula aku heran padamu, kenapa kamu mau mengantarkan nyawa mu demi wanita yang tak tahu diri ini. Apalagi kalian tidak memiliki hubungan apa-apa? Apa kamu tahu siapa wanita yang ingin kamu bela ini? Dia wanita yang begitu mencintai ku, dia sampai rela melakukan apa saja yang aku minta, bahkan yang tidak aku minta. Dia juga rela menjadi budak penghangat ranjang ku," Alex kembali tertawa, mencoba mempermainkan perasaan Angkasa.


Arum menggeleng, meminta Angkasa tak percaya dengan ucapan Alex. Tapi Angkasa nampaknya mulai goyah dengan apa yang dikatakan Alex. Dia meragu pada Arum, mengingat ciuman Arum dan Alex yang sempat ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, sangat terlihat jelas jika Arum melakukannya dengan penuh perasaan, tanpa ada paksaan dari Alex. Dan keduanya sering berada diapartemen hanya berdua, hati Angkasa terasa ngilu membayangkan hal yang mungkin memang benar terjadi itu.


Saat ini Angkasa hanya ingin tahu isi ponsel Arum yang sejak tadi dibicarakan, apalagi sepertinya Arum ingin Angkasa tahu isi dari ponselnya tersebut, hanya itu. Selebihnya, biar urusan pribadi mereka, mereka urusi sendiri, setelahnya Angkasa tak ingin tahu lagi.


"Aku tidak suka banyak bicara Alex. Maju dan lawan aku jika kamu benar-benar laki-laki sejati," tantang Angkasa lagi, jengah melihat Alex banyak bicara.


"Nampaknya kamu sudah tidak sabar untuk menjemput ajal mu, hai Captain. Seharusnya profesi mu sudah cukup menantang maut, tapi kau belum puas dengan tantangan maut itu?" Alex memundurkan langkah, masih tak melepaskan Arum, memberi perintah pada anak buahnya dengan gerakan kepala, untuk menyerang Angkasa.


Angkasa mundur, menyembunyikan Nining dibelakang dibelakang tubuhnya, meminta ibu Arum bersembunyi. Dia tak akan gentar melihat


Anak buah Alex yang berjumlah sekitar sepuluh orangan itu maju dan mengelilinginya.


"Ayo Rum, sepuluh lawan satu, kamu yakin pahlawan kesiangan itu mampu melawannya?" Alex kembali menekan leher Arum, membuat Arum meringis kesakitan.


"Hanya sepuluh, kalau bisa kamu kirim satu RT juga aku akan menghadapinya."


"Oh ya? Kita lihat saja, apa kamu bisa mengalahkan anak buah ku? Kalau kau bisa mengalahkan mereka, baru kau bisa melawan ku," ucapnya diikuti seringai licik.


Alex memberi kode pada apara anak buahnya untuk menyerang Angkasa. Alex memperhatikan anak buahnya yang mulai menyerang Angkasa. Permulaan yang cukup bagus, Angkasa mampu melawan mereka.


Sepuluh lawan satu, lawan yang tidak seimbang sebenarnya, tapi jika masih dengan tangan kosong Angkasa bisa mengalahkan mereka.


"Sial, Captain itu punya kemampuan yang lumayan bagus, juga," maki Alex melihat Angkasa mampu melumpuhkan para anak buahnya satu persatu. "Ayo kita lihat, apa dia bisa mengatasi itu, Rum?" Alex melepaskan lilitan tangannya didepan leher Arum. Dan memutar tubuh Arum untuk menghadapnya.


Kemudian Alex menempelkan bibirnya diatas bibir Arum. Arum terkejut, matanya membola dengan tangan yang coba mendorong tubuh Alex, tapi tenaganya yang jauh dari tenaga Alex, membuat itu semua seperti sia-sia. Bibir Alex terus meringsek memaksa masuk kedalam mulut Arum, posisi Arum yang membelakangi Angkasa, membuat adegan itu seolah Arum juga menginginkannya, hal itu membuat konsentrasi Angkasa menjadi percah saat matanya tak sengaja melihat itu. Kembali kepercayaannya kepada Arum dibuat terkikis dengan hati penun luka.


Angkasapun harus mendapatkan pukulan dari belakang tepat ditulang lehernya.


Bugghhh


Angkasa terjungkal kedepan dan terpelungkup. Kemudian dengan cepat anak buah Alex mengangkat tubuhnya untuk bangun. Kedua tanganya dipegang dua anak buah Alex dan dari depan ada dua orang anak buah Alex tanpa memberi jeda untuk Angkasa mendaratkan kaki mereka yang terbungkus sepatu yang memiliki telapak tebal dan keras itu tepat di ulu hati Angkasa, membuat Angkasa meringis tak berdaya. Bukan hanya sekali, tapi mereka melakukan itu hingga berkali-kali, sampai-sampai Angkasa mengeluarkan cairan merah kental dari dalam mulutnya.


Sungguh Arum menjadi hal yang melemahkan kekuatan Angkasa, membuat Alex tersenyum dalam gerakan bibibrnya.


"Lex, setop!" Arum mendorong tubuh Alex melepaskan tautan bibir Alex. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya nyalang menghapus bibirnya yang basah. Alex tertawa, dia melihat Angkasa yang kini tak berdaya. Arum menoleh kebelakang, dilihatnya Angkasa sedang dipukuli oleh Anak buah Alex, ernyata Alex sengaja melakukan itu.


"Captain!" pekik Arum melihat keadaan Angkasa yang cukup parah sekarang, Arum hendak berlari kearah Angkasa tapi Alex menahan tangannya. "Lepas Lex, kamu sudah keterlaluan."

__ADS_1


"Berikan ponsel dan flasdisk itu maka aku akan melepaskannya."


"Aku tidak akan menuruti mu, kamu sudah melewati batas." Arum menghentakkan tangan Alex. Saat bersamaan, pintu gudang tempat mereka di dobrak dari luar.


Angkasa, Arum, Alex, dan Nining melihat kearah pintu itu. Mereka melihat langkah gagah lima orang dengan postur tubuh yang sama. Mereka adalah Awan, Daniel, Edward, Danish dan Damian.


Kening Alex mengkerut, dia hanya mengenal Edward diantaranya, tapi kelima laki-laki yang diantaranya terlihat paling tua seperti pemimpin untuk kelimanya tanpa banyak bicara berjalan melewati Alex begitu saja, seolah Alex hanya figuran tak penting.


"Serangggggg." Sorak kelima orang tersebut, reaksi kesenangan mereka seperti anak SMA mau tauran antar pelajar saja.


Mereka menyerang anak buah Alex dengan bambu runcing seperti para pahlawan dulu melawan penjajah ditangan mereka. Bedanya diujung bambu itu terdapat buah hijau berduri tapi bukan buah durian.


Angkasa mengangkat wajahnya saat tanganya dilepas begitu saja, bala bantuannya sudah datang menolong, Angkasa tersenyum lega.


Sebelum datang keapartemen Alex, Angkasa memang berpesan pada Edward untuk mendatangi Daniel dikediamanya, menceritakan apa yang terjadi, meminta tolong pada Om-nya itu jika dalam hitungan tiga puluh menit dia belum mengabari atau kembali, berarti ada sesuatu yang serius terjadi padanya.


Angkasa sudah memperhitungkan jika ini akan terjadi, dan dia tahu, ayahnya pasti dibuat sibuk mengurus perusahaan yang mungkin sedang dalam masalah karena pengakuan Abian jika dia anaknya.


Angkasa menatap yakin jika bala bantuan bisa mengalahkan anak buah Alex. Netra Angkasa berpindah menatap nyalang Alex yang masih memegangi tangan Arum. Laki-laki itu sedang memperhatikan anak buahnya melawan saudaranya. Dengan sisa tenaganya, Angkasa berdiri, dengan tertatih dia berjalan kearah Alex.


"Kau jatah ku, Lex," seringai Angkasa mengusap sudut bibirnya yang terasa perih karena pergerakan bicaranya.


"Aku bukan pengecut seperti yang kau katakan, Captain. Ayo kita selesaikan." Alex tak gentar, melihat tenaga Angkasa yang mungkin kini tinggal separuhnya saja.


"Auwww," terlihat sudut kening Arum mengeluarkan cairan merah segar.


Angkasa mentapap khawatir pada Arum, tapi saat ini dia harus meladeni Alex yang sepertinya senang dengan apa yang dilakukannya.


Nining menghampiri Arum, membantu anaknya bangun. "Rum," dipeluknya Arum. "Maafkan Mama."


Angkasa dan Alex memasang kuda-kuda yang sama, sepertinya mereka satu perguruan. Kemudian Alex menyerang Angkasa terlebih dahulu.


Angkasa berhasil mengelak serangan Alex, kemudian dia berhasil melayangkan kepalan tangannya di wajah Alex. Tak mau kalah, Alex juga membalas itu tepat dipipi Angkasa.


Disisi lain, Danish anak Daniel, berdiri saling membelakangi, dengan Damian anak Mahesa. Mereka terlihat senang melayani lawanya, tak ada wajah tegang, yang ada mereka selalu tertawa, dan menjejali mulut lawan dengan buah yang mereka tancapkan diujung bambu. Setelah buah itu berhasil masuk kedalam mulut lawan, mereka memaksa mereka untuk memakan buah tersebut, sehingga tak lama membuat mereka meracau tak karuan.


Begitu juga dengan Daniel, Edward, dan Awan. Mereka juga menyumpalkan mulut lawanya dengan buah yang mereka tancapkan diujung bambu tersebut.


Kecuali Angkasa, dia dan Alex masih saling serang, sepertinya kekuatan mereka memang seimbang. Namun tak lama, nampaknya Alex mulai kewalahan dan kehabisan tenaga, hingga dia kalah, berkali-kali tangan Alex menghantam wajahnya, hingga Alex tersungkur jatuh. Arum yang melihat itu berlari memeluk tubuh Alex.


"Sudah Capt, sudah. Jangan diteruskan." Angkasa yang sedang dalam tenaga on sebab memang kesal pada Alex, menghentikan kepalan tangannya, melihat Arum melindungi Alex.


Dadanya kembali dibuat bergemuruh, Arum dengan posesifnya melindungi Alex. Hal yang berkali-kali Arum lakukan, menyayati hatinya, membuat luka dalam namun tak berdarah tanpa gadis itu sadari.


Aku salah, aku yang salah telah menaruh hati terlalu dalam pada wanita yang tak memiliki rasa sama sekali padaku.

__ADS_1


* * *


Dua hari berlalu.


Setelah kejadian hari itu, Arum harus merelakan Alex untuk menebus kesalahannya dengan menerima hukuman negara dengan semestinya. Setitik air bening terus merembes membasahi pipi putih gadis itu tatkala mengiringi Alex yang digiring masuk kedalam tempat untuknya menghabiskan sisa hidupnya nanti.


Meski bagaimanapun Alex padanya, Arum tetap tak tega melihat laki-laki itu harus kembali menghadapi kenyataan hidup yang tak sesuai dengan yang diharapkanya. Hanya dia yang tahu yang Alex rasakan.


Tidak hanya Alex yang harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya, Dikdik, papa Arum juga harus mempertanggung jawabkan perbuatanya karena telah melakukan kekerasan pada Angkasa.


Arum pun sudah menyerahkan flasdisk pada keluarga Angkasa untuk melihat apa saja pengkhianatan yang dilakukan para direksi Airlangga Airlines yang bermain curang dibelakang Abian.


Didalam video yang Arum ambil secara diam-diam itu menunjukkan, Axel, ayah Alex sedang mengintrupsikan para awak kabin untuk membawa mobil dan motor sport keluaran terbaru tanpa diketahui perusahaan. Mereka semua bekerja sama saling menutupi.


Tak hanya itu, ayah Alex juga membantu menyelundupkan obat-obatan terlarang tanpa diketahui perusahaan sama sekali meski itu dalam jumlah yang sedikit, dibantu dengan petugas terkait yang telah menerima suap darinya, dan yang mengendalikan pesawat tentunya Alex sendiri saat dia membawa pesawat jenis cargo.


Hal itu menjadi headline pemberitaan dimana-mana. Nama Airlangga Airlines menjadi trending topik. Abian tak takut jika perusahaan disidak negara. Philips Hamzah juga sudah memasrahkan hal ini pada pemerintah, dia ingin perusahaan melakukan pembersihan diperusahaannya.


Bukti yang ditunjukkan Arum cukup kuat, jika pilot dan awak kabin bekerja dibawah tekanan.


"Maaf, Pak. Saya baru berani membongkar itu sekarang, setelah mengetahui jika Captain Angkasa anak anda," ucap Arum pada Abian didalam ruang kerja Abian, mereka hanya berdua. Arum yang memintanya.


"Tidak apa, saya berterima kasih karena kamu telah menyimpan semua bukti ini. Saya terlalu mempercayakan perusahaan pada orang lain. Selama ini saya hanya memantau kelengkapan dan kesiapan maskapai saja, tanpa mengetahui yang terjadi sebenarnya," sesal Abian. Dia sama sekali tak pernah menaruh curiga pada ayah Alex, karena keuangan perusahaan sangatlah aman dan lancar.


"Pak, apakah saya boleh meminta satu hal?" pinta Arum ragu, bukan tak tahu maku, tapi dia tak bisa menahan keinginanya. "Mungkin saya berlebihan, tapi saya benar-benar mengharapkan kelapangan hati anda untuk meringankan hukuman Captain Alex."


Abian menatap manik Arum dengan alis saling bertaut dalam. Selentingan dia mendengar jika gadis ini dekat dengan anaknya, tapi kenapa Arum mati-matian membela Alex?


Arum yang paham dengan pandangan Abian padanya, menjelaskan kehidupan Alex dengan masa lalunya, Arum juga meminta dengan mata penuh permohonan pada Abian, untuk mengizinkan Alex mendapatkan pengobatan terapi khusus agar Alex bisa sembuh dan melupakan bayang-bayang wajah perempuan yang telah melahirkanya, namum merusak mental dan hidupnya itu.


"Aku rasa tidak ada perlakuan khusus untuk para tahanan, Nak. Didalam sana, kita doakan saja Alex bisa merenungi perbuatannya, dan dia bisa berubah."


Arum menunduk lesu, dia berharap Alex bisa berubah seperti apa yang dikatakan Abian.


"Apa kamu ingin meneruskan pekerjaan mu sebagai pramugari?" tanya Abian kemudian.


Arum menggeleng. "Tidak, Pak. Terima kasih atas tawarannya, saya menyadari pramugari bukanlah dunia saya. Saya bisa masuk ke sini juga berkat bantuan Alex, kalau tidak karena dia, saya tidak akan bisa mencicipi bagaimana rasanya menjadi pramugari."


Abian hanya menganggukkan kepalnya.


"Seharusnya kamu mendapat hukuman atas perbuatan mu yang bermain curang agar bisa masuk ke sini. Tapi karena kamu telah membantu perusahaan, atas video yang kamu simpan, jadi saya maafkan."


Ya Arum juga menyadari itu, seharusnya ia juga mendapatkan hukuman seperti Alex.


Merasa apa yang ingin ia sampaikan sudah selesai, Arum berdiri. Menunduk hormat pada Abian sebelum akhirnya keluar dari ruangan milik Abian.

__ADS_1


__ADS_2