Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Skenario Angkasa


__ADS_3

"Hahaha, kamu terkejut? Kamu masih bau kencur, tidak sepintar itu untuk menjebakku," uhuk uhuk Dikdik terbatuk, ia menahan dengan tangan, dilihatnya ada cairan merah, bogeman Angkasa tadi tepat diulu hati membuat didalam perutnya terasa nyeri.


Tapi dia masih memberikan senyum menyeringainya pada Angkasa.


"Kamu mengeluarkan ku demi wanita anak ****** itu? Kamu akan menyesal karena dia sudah tidak perawan lagi."


Lagi Arum difitnah, entah sudah berapa orang yang memfitnah Arum, jika saja malam itu tidak terjadi, mungkin Angkasa lama-lama akan percaya.


"Atau kamu ingin tahu masalah hutang itu? Itu memang aku yang membuatnya, karena aku sengaja ingin memeras anak ****** itu." Hahaha


Angkasa mengepalkan tanganya, sejak tadi Dikdik menghina Arum, tapi dia masih diam, ingin Dikdik melanjutkan pengakuanya.


"Padahal aku tidak memiliki hutang sama sekali, karena Alex selalu memberikan uang. Anak haram itu tidak tahu malu, sudah aku tampung, aku besarkan, tapi disaat aku susah dia tak ada niat mengeluarkan ku. Seharusnya dia menjual rumah itu untuk membebaskan ku."


"Arum sudah terlalu banyak mengorbankan dirinya dengan menghabiskan waktunya untuk mengabdi pada Alex. Dan kamu menikmati uang pemberian Alex."


Dikdik masih sempat tertawa meski bibirnya terasa perih.


"Alex, ya. Alex orang pertama yang menjamahnya, jadi kamu hanya akan mendapatkan sisa Alex."


Tak tahan lagi, Angkasa kembali menarik kerah baju Dikdik, memberi hadiah lima kali diwajah dan lima kali diperut. Tak hanya disitu, Angkasa menginjak pergelangan tangan Dikdik sampai tulang-tulangnya hancur, laki-laki tua itu menjerit kesakitan dan memohon ampun, kali ini dia begitu kesakitan, tapi Angkasa menulikan pendengaranya.


"Ampun, ampun. Ku mohon kalian hentikan dia. Dia bisa saja membunuh ku," rintih Dikdik memohon pada orang-orang Angkasa.


Namun percuma, mereka orang yang dibayar Angkasa, tidak mungkin menghentikan Angkasa.


Krekkkkkk

__ADS_1


Aaaaaaaaa


Dikdik menjerit tatkala Angkasa menarik kakinya kebelakang tubuh Dikdik dan menekuknya. Dikdik merasakan tulang-tulang kakinya remuk, dan sekujur tubuhnya sudah tidak merasakan apa-apa lagi.


"Tolooong, hentikan. Kau lupa Arum dalam bahaya, orang suruhan Axel sudah didepan rumah Arum." Kali ini Dikdik menyebut nama Arum dengan benar.


Angkasa menghentikan aksinya, dia mengambil ponsel didalam saku jaketnya, nampak menghubungi seseorang.


"Halo." Suara Alex menjawab. "Arum sudah berada ditempat aman, orang-orang suruhan papa sudah ditangkap polisi."


Tut.


Angkasa langsung mematikan panggilanya.


"Aku bukan lagi anak bau kencur, tapi bau lengkuas." Angkasa menatap Dikdik yang terkapar tak berdaya dengan wajah babak belur, dan banyak luka.


"Semua bukti sudah aku dapatkan, kalian bawa lagi dia dengan bukti pengakuanya tadi."


Kini, dia akan menuju tempat dimana Arum dan mamanya berada.


* * *


Kejadian saat orang-orang Axel datang dikediaman Arum. Lima orang dengan pakaian preman datang kesana, salah satu diantara mereka mengetuk pintu rumah Arum.


Karena Arum tak kunjung membuka, mereka terus mengetuk dan mengancam akan mendobrak.


"Bukaa, atau kami dobrak pintu rumah kamu."

__ADS_1


Ceklek.


Arum membuka pintunya. Lima orang itu langsung menerobos masuk, dan mengacungkan sen jata tajam ke leher Arum. Dan disaat yang bersamaan, sebuah pis tol mengarah ke perut mereka. Ternyata didalam ruang Arum sudah ada polisi dan Alex.


Semua skenario ini sudah direncanakan Angkasa untuk mencari bukti agar Dikdik dan Axel semakin lama mendekam dipenjara, dan Axel tak bisa mengajukan banding atas tuntutan hukumanya.


Tahu sendiri, jika tak ada bukti, Angkasa tak bisa menjebloskan para preman yang mengancam Arum. Dan Dikdik akan selalu menggunakan cara licik itu untuk memeras Arum.


* * *


Mobil yang membawa Angkasa tiba di hotel tempat Arum dan mamanya dibawa Alex. Keluar dari mobil, Angkasa langsung menuju lift, menekan lantai dimana Arum berada.


Pintu lift terbuka, Angkasa langsung disambut Alex. Alex masih didampingi dua petugas, sebab dia masih seorang tahanan.


"Arum ada didalam, kami hanya berjaga diluar." Alex langsung melapor. Angkasa mengangguk.


"Terima kasih karena telah membantu. Tapi maaf, aku tidak bisa membebaskan mu. Kamu harus tetap menjalani hukuman yang sudah ditetapkan."


Alex mengangguk, mendekatkan tubuhnya pada Angkasa dan memberi pesan sebelum akhirnya dia dibawa petugas lagi untuk melanjutkan hukumanya.


"Tolong jaga Arum, dia wanita baik-baik, kami belum pernah melakukan apapun."


Angkasa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Alex. Dia berbalik, menatap punggung Alex yang hilang setelah pintu lift tertutup. Angkasa menarik nafas, dia tak bisa membayangkan bagaimana nasib Arum jika tak bertemu denganya.


Ting tung


Angkasa menekan bel kamar Arum. Pintu terbuka, Angkasa tersentak saat Arum tiba-tiba memeluknya.

__ADS_1


"Kamu nggak papa kan?" tanyanya, mendongak, menatap wajah Angkasa. "Maaf aku selalu merepotkan mu."


"Aku disini, aku baik-baik saja. Dan aku akan menepati janji membawa mu ke pelaminan."


__ADS_2