Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Keputusan Awan


__ADS_3

Dikdik dimakamkan siang itu juga yang hanya dihadiri Arum, mamanya, serta keluarga Abian. Pulang dari pemakaman, dirumah Abian tetap dilaksanakan acara selamatan Angkasa dan kehamilan Arum, dengan dihadiri keluarga besar dan para tetangga.


Kehamilan Arum yang sudah memasuki usia delapan bulan itu sudah pasti menjadi bahan gunjingan tetangga yang baru saja datang ke acara tersebut. Seperti obrolan ibu-ibu yang rumahnya berada di pinggiran kompleks perumahan Abian dan Delia, mereka sambil membawa besek di dua tanganya, satu tas anyaman berisi sembako dan makanan, dan satu tas ala-ala minggat seharga ratusan ribu berisi make-up, mukena, dan jilbab.


"Orang kaya mah begitu ya, nggak ada malunya hamil diluar nikah."


"Heeh, pake acara selametan dan ngundang orang banyak lagi."


"Eh denger-denger itu anaknya baru selamat dari maut. Untung masih di kasih kesempatan ya, kalau enggak? Hiii sudah pasti neraka jahannam tempatnya."


"Iya ih, ngeri kalau sampai nggak selamat."


"Ya biasalah orang jaman sekarang, nggak tua nggak muda, ada uang mereka senang chek-in sana, chek-in sini. Tapi saya senang aja diundang syukuran orang kaya, beseknya pasti ada amplopnya."


"Kira-kira ada amplop kayak biasanya nggak sih ya?" Mereka kompak memeriksa tas yang mereka bawa, biasanya Delia menyelipkan amplop yang berisi uang.


"Yah, cuma lima puluh ribu. Biasanya bu Delia ngisi seratus ribu."


"Hooh ya. Apa mereka jatuh miskin karena habis buat pengobatan anaknya?"


"Kayaknya, apalagi pengobatanya di Arab. Tahu sendiri biaya disana, belum makan dan penginapanya. Dokter, obat, dan lain-lain, duh aku pusing ngebayanginya."


* * *


Selesai acara selamatan dirumah Abian dan Delia. Arum dan Angkasa bertolak kerumah Nining, karena disana juga sedang diadakan tahlilan kecil-kecilan yang hanya dihadiri pak rt dan beberapa tetangga, mengingat Nining masih tinggal dirumah kontrakan yang kecil.


"Nanti kamu istirahat saja dikamar. Kamu pasti kecapean," Angkasa tak melepaskan merangkul Arum dan mengusap perut istrinya.


Mereka diantar supir kerumah Nining.


"Aku nggak papa, kan nggak ngapa-ngapain juga."


"Walau nggak ngapa-ngapain, kamu pasti kelelahan kesana-kemari."


Meletakkan kepala di dada bidang suami, Arum merasakan nyamanya. "Iya, nanti aku dikamar aja." Angkasa mengecupi pucuk kepala Arum, mengeratkan pelukan, mengusap lengan sang istri, memberi kenyamanan.


Sebenarnya Nining tak masalah jika Arum dan Angkasa tak datang, dia memahami situasi Arum, tapi Arum kasihan jika membiarkan mamanya seorang diri, apalagi sepeninggalnya Dikdik.


Malam itu, Angkasa mau menginap dirumah Nining, meski dia harus tidur di sofa yang tidak nyaman.


* * *


"Jadi kamu memutuskan sebulan lagi menikah dengan Reini?"


Setelah semalam memutuskan akan menikahi Reini, Awan baru sempat memberitahu Delia dan Abian setelah semua acara dirumahnya selesai.


"Iya, Ma." Awan hanya menjawab singkat.


"Kalau begitu Mama akan menghubungi tante Voni. Kapan akan dilangsungkan acara lamaran sekaligus menentukan tanggal pernikahanya."

__ADS_1


"Semua Awan serahkan sama Mama dan Ayah. Awan hanya akan fokus pada pekerjaan Awan untuk sementara ini, Ayah sudah waktunya istirahat." Setelah mengatakan itu, Awan keluar dari kamar kedua orang tuanya, naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Saat melewati kamar Angkasa, Awan menghentikan langkahnya. Ada rasa iri melihat keromantisan keluarga saudara kembarnya, rasa terhadap Arum masih ada, namun ia harus menyimpannya sendiri sampai kapan pun.


"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dari Awan, Sayang?" Abian sudah siap tidur dengan piyamanya. Menunggu Delia yang sedang melakukan perawatan wajahnya agar terlihat tetap cantik meski tak lama lagi akan menjadi seorang nenek, Abian menyandar di kepala ranjang.


"Aneh bagaimana?" Delia menatap Abian dari pantulan kaca.


"Wajahnya terlihat tidak semangat membahas pernikahan." Abian menyadari itu.


"Mungkin karena dia kecapean, Bi. Setelah pulang dari Dubai, kita ke tanah suci, Awan harus langsung masuk kerja. Dan sekarang harus membahas pernikahan juga."


"Sebaiknya kamu tanyakan dulu, apa Awan benar-benar sudah mantap dengan pilihanya atau tidak?" Abian memberi masukan. "Aku sebenarnya bangga dengan anak kita tidak menjadi laki-laki brengsek, mereka tidak bergonta-ganti pasangan. Setia pada satu wanita dan bertanggung jawab dengan cinta mereka. Tapi aku khawatir mereka tidak memiliki pengalaman tentang wanita, sebenarnya mengenal berbagai macam wanita diusia muda tidak masalah selama itu bertujuan positif. Merasakan bagaimana rasanya patah hati, rasanya jatuh cinta berkali-kali. Aku khawatir itu akan berakibat buruk setelah pernikahan."


Delia memikirkan perkataan suaminya.


"Kenapa kamu baru bahas itu sekarang? Apa ada yang salah cara aku mendidik mereka?"


"Bukan begitu sayang. Aku cuma merasa ada keterpaksaan dari Awan, coba kamu tanyakan dan pastikan, sebelum semua terlambat, dan sebelum kamu bicara sama Voni."


Delia setuju dengan pernyataan suaminya, dia harus menanyakan tentang kemantapan hati Awan.


"Yaudah, aku tanyakan sekarang aja." Delia hendak keluar.


"Besok aja. Sekarang sudah malam, kamu juga harus banyak istirahat. Pulang dari Dubai kamu juga belum istirahat sama sekali." Abian mengingatkan, dia orang yang paling memperhatikan istrinya. Meski sekarang Delia sedikit menyebalkan, tapi Delia selalu mengutamakan melayani kebutuhan mama Amanda dan papa Philips Hamzah saat dirumah mereka.


Setelah mengetuk pintu dan sudah diizinkan masuk, Delia masuk. Awan baru selesai mandi.


"Mama nggak ganggu kan?" Tersenyum pada Awan, menutup pintu. Ia mengambil alih handuk kecil yang dipegang Awan. "Mama bantu keringin."


Tak menolak, Awan duduk di sofa diujung ranjang.


"Mama mau bicara apa, Ma?" Tahu sekali jika ada yang mamanya bicarakan.


"Kamu tahu aja Mama mau ngomong sesuatu." Delia mulai mengusap rambut Awan. "Kamu punya tabungan nggak buat meminang Reini?"


"Ih Mama, itukan tanggung jawab Mama. Awan kan baru mulai kerja."


"Iya juga sih. Wangi banget rambut anak Mama, kapan ya terakhir Mama ngeringin rambut kamu?"


"Setahun yang lalu, waktu Awan sakit."


"Kamu inget aja," Delia jadi ingin menitikkan air mata, membayangkan satu persatu anaknya akan meninggalkanya, setelah tadi dia melihat kamar Angkasa kosong. "Apa ada yang Mama nggak tahu tentang kamu, Wan? Mama nggak mau jadi orangtua yang gagal, nggak tahu kalau anak Mama sedang ada masalah."


Awan membalikkan badan, mengambil tangan Delia.


"Mama kenapa?"


"Mama takut ada yang kamu sembunyikan dari Mama."

__ADS_1


Awan diam, dia akan jujur pada mamanya.


"Awalnya Awan memang ragu, Ma. Tapi Awan sudah mengambil keputusan."


Delia menangkup wajah Awan. "Jangan diteruskan kalau kamu ragu, Sayang. Jangan salah dalam mengambil keputusan. Semua belum terlambat, Mama yang akan menyelesaikan semuanya."


Awan menggeleng. "Nggak, Ma. Sekarang Awan sudah mantap, Awan akan menerima segala kekurangan pasangan Awan. Awan ingin jadi seperti Ayah, menjadi laki-laki sejati."


Delia terharu. "Tapi Mama nggak mau kamu tersiksa jika ternyata Reini tidak sebaik yang Mama kira. Kejadian Angkasa membuat Mama sadar banyak hal, Mama nggak mau kamu menyesal nantinya."


"Pernikahan bukan hal yang mudah, bukan seperti pacaran, bosan tinggal putus, ada masalah ditinggalkan. Mama nggak mau anak lelaki Mama seperti itu."


"Pernikahan cobaanya luar biasa, bukan sehari dua hari, sebulan dua bulan, atau setahun. Tapi seumur hidup selalu ada cobaanya, entah cobaan itu datang dari kamu atau pasangan kamu, jadi harus dipikirkan matang-matang."


Awan diam. Menunduk, memikirkan nasihat mamanya.


"Mama percaya sama Awan, Ma. Seburuk apapun Reini nanti, selagi dia tidak memiliki pria idaman lain, Awan akan menerimanya apa adanya. Seperti Angkasa yang menerima Arum apa adanya, meski banyak orang meragukan Arum."


Delia memeluk Awan. "Mama doakan yang terbaik untuk kamu, Sayang. Maafkan Mama yang tidak sempurna menjadi ibu dan mendidik kalian."


* * *


Keluar dari kamar Awan, Delia memeriksa kamar Aira, Andini sendiri malam ini tidak pulang, Denisa meminta menemaninya. Kamar Aira kosong, anak perempuan satu-satunya itu tadi pamit mau kerumah temanya.


Astaga, mengurus dua anak laki-lakinya, Delia hampir saja kecolongan teledor memperhatikan anak perempuannya.


Saat turun, bersamaan dengan itu Aira pulang, Delia bernafas lega.


"Baru mau Mama kunciin kalau kamu nggak pulang sepuluh menit lagi." Tegurnya.


"Tapi kan Aira pulang tepat waktu." Jawab sang anak, mencium punggung tanganya.


"Aira langsung ke kamar ya, Ma. Ngantuk." Delia mengusap pundak Aira.


"Eh Aira, tunggu." Panggilnya saat Aira sudah menaiki anak tangga.


"Iya, Ma."


"Mama minta tolong sama kamu, sayang. Tolong jaga kepercayaan Mama sama Ayah, Mama sama Ayah tidak pernah membatasi kalian, asal kalian bisa jaga diri, tapi Mama nyatanya kecolongan kakak kamu. Mama harap itu nggak terjadi sama kamu."


"Iya, Ma."


Delia mengangguk, mengizinkan anaknya naik, dan dia kembali ke kamar.


Aira masih ditempatnya berdiri, merasa bersalah pada mamanya karena telah membohongi mamanya, meminjamkan mobil pada sang kekasih. Pada kenyataannya kekasihnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri yang kemarin melaporkan padanya.


Yang membuat Aira lebih hancur lagi, ternyata sahabatnya itu tengah berbadan dua, dia melakukan itu agar Aira mengetahui perselingkuhan kekasihnya dan segera menikahinya. Karena laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatanya.


"Huh, tabungan ku habis buat ngeluarin mobil kak Angkasa yang mereka gadaikan."

__ADS_1


__ADS_2