
Arum yang tidak merasa memesan barang apapun, tidak ingin menerima begitu saja barang pemberian dari orang yang tidak ia ketahui siapa pengirimnya, dia tidak mau lagi terlibat masalah pencucian uang. Awalnya Arum mengira jika si pengirim salah alamat, tetapi setelah melihat lagi disurat jalan tertera nomor ponselnya, ternyata memang itu ditujukan untuknya.
Barang yang dikirim juga merupakan barang satu set sofa dengan harga fantastis, lemari tv beserta televisinya, dan juga tempat tidur beserta pendingin ruangan.
"Bu, jadi bagaimana ini? Ibu tidak mau menerima barangnya, kasihan Bu kita sudah membawanya kemari."
"Bukan saya tidak mau menerimanya, Pak. Tapi jika saya sendiri tidak mengetahui siapa pengirimnya, bagaimana saya akan menerimanya?" kata Arum menatap serius kernet itu.
Kernet itu kembali berdiskusi dengan teman supirnya, kemudian terlihat sang supir menghubungi seseorang yang Arum tak tahu siapa yang mereka hubungi.
"Nanti orangnya akan kesini sendiri, Bu," kata kernet memberitahu. Arum mengangguk.
Tak kurang dari lima menit, orang yang dimaksud datang, lebih cepat dari perkiraan, Arum menduga paling cepat tiga puluh menit lagi orang tersebut sampai. Air rebusan untuk membuat kopi, untuk kernet dan supir itu saja belum mendidih.
Sepertinya dia memang sudah berada dilokasi sejak tadi.
"Captain?" lirih Arum menatap laki-laki tampan yang melangkah kearahnya, jantung Arum berdegup cepat. Kakinya tiba-tiba terasa lemas ketika langkah itu semakin dekat, ditambah Angkasa bejalan sambil melepas kaca mata hitamnya, dan menyangkutkan dikerah leher kaos abu lengan panjangnya. Arum menelan ludah.
Apa Captain pengirimnya?
"Ehem," Angkasa berdehem, membuyarkan lamunan Arum yang terpesona dengan Angkasa. "Aku yang mengirim ini semua," akunya, membuat kedua sudut bibir Arum mengembang.
"Jangan salah sangka, ini sebagai tanda terima kasih atas bantuan mu pada perusahaan keluarga ku, karena bukti yang kamu miliki, Airlangga Airlines bisa terselamatkan," ralatnya, seketika membuat senyum itu kembali memudar.
"Captain tidak perlu repot-repot, saya melakukan itu hanya untuk membantu seseorang saja," sahut Arum ketus, membalas kekecewaanya, giliran Angkasa yang hatinya dibuat kecewa, lebih kecewa dari yang Arum rasakan.
Karena lagi-lagi Alex menjadi alasan Arum melakukan itu. Tapi dengan cepat Angkasa mengontrol emosinya yang cepat naik ketika cemburu.
"Terserah, tapi kamu tidak boleh menolak barang yang sudah diantar ke lokasi," katanya tak ingin Arum menolak pemberiannya.
Dia tak tega melihat Arum tidur hanya dengan kasur lantai saja.
"Loh, kenapa jadi memaksa? Saya sebagai tuan rumah berhak menolak," kata Arum dengan mata membulat.
__ADS_1
Angkasa tak mengindahkan itu, ia berbalik dan berkata. "Pak, turunkan semua barang-barang itu, letakkan ditempat yang yang seharusnya,"
Angkasa melihat Nining keluar. Angkasapun menghampiri Nining.
"Bu, maaf, maaf jika saya lancang. Saya memberi hadiah ini untuk Ibu, mohon diterima, dan arahkan mereka, untuk langsung diletakkan ditempat yang Ibu inginkan."
Nining mengangguk dan tersenyum. "Iya, Ibu terima pemberian Nak Angkasa, terima kasih," ucap Nining tulus.
"Apa-apaan ini? Ada apa ini pagi-pagi sudah berkunjung dirumah calon istri orang?" tiba-tiba Awan datang. Angkasa dan Arum menoleh kesumber suara.
"Ada apa, Arum sayang?" dengan sangat santainya Awan merangkul pinggang Arum, lalu mengecup pucuk kepala Arum, membuat Arum dan Angkasa membelalakkan mata terkejut.
Arum yang merasa risih, mencoba melepaskan tangan Awan yang melingkar manis di pinggangnya, dia malu pada Angkasa. Tapi Awan mengeratkan lingkarannya, dan mengedipkan mata pada Arum. Arum tak paham, tapi dia mengikuti saja apa yang dilakukan Awan.
"Selamat pagi, sayang," ucapnya lagi dengan senyum konyolnya yang membuat hidung Angkasa semakin kembang kempis, dengan dada terlihat naik turun.
"Kamu ngapain pagi-pagi sudah disini? Sudah tahu kan kalau Arum ini calon istri aku? Mau berusaha rayu dia?" ucap Awan semakin memancing emosi Angkasa.
Angkasa tak menjawab, dia membuang muka, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering melihat kedekatan Awan dan Arum. Kalau bukan saudara kembar, sudah pasti Angkasa menghadiahi bogeman keras di muka yang mirip dengan mukanya itu. Kurang ajar sekali Awan mengatakan itu didepan Arum, harga dirinya merasa direndahkan.
Arum memijit pelipisnya, pusing mendengar pertengkaran keduanya.
"Mau ajak Arum sarapan, sekaligus mau undang Arum ke acara ulang tahun ku," ujarnya menatap Angkasa, menaik turunkan alisnya menggoda.
"Kamu mau ulang tahun?" tanya Arum antusias, mendongak, menatap Awan yang tingginya jauh darinya.
"Iya, dua hari lagi," jawab Awan.
"Berarti aku harus menyiapkan kado untuk kamu."
"Nggak usah sayang, kamu mau datang aja aku sudah senang," ujar Awan merapikan poni Arum. Angkasa yang melihat itu semakin geram saja, dia juga jadi kesal dengan Arum, mau saja disentuh-sentuh oleh lelaki, ditambah muka Arum yang terlihat salah tingkah. "Nanti aku jemput kamu," kata Awan lagi melirik saudara kembarnya.
Awan izin pada Nining untuk mengajak Arum sarapan, Angkasa mengekor dibelakang.
__ADS_1
Sarapan bubur menjadi pilihan Awan.
"Sayang, nanti aku bawa lima puluh bungkus roti kamu ya, buat bagi sama teman-teman kantor," kata Awan menatap Arum mesra. Mereka duduk bersebelahan, Angkasa diseberangnya.
Arum tentu senang mendengarnya. "Benarkah?"
"Iya, sebagai calon suami, aku mau membantu usaha calon istri ku." Arum tersenyum tipis, dia sebenarnya bingung kenapa Awan selalu mengatakan jika mereka calon istri, calon suami. Tapi nanti dia akan bertanya langsung jika mereka hanya berdua.
Angkasa mendengus, calon suami macam apa yang membiarkan calon istrinya tinggal ditempat apa adanya seperti itu? gumamnya dalam hati, pagi-pagi dia sudah dibuat mendidih dengan kemesraan keduanya, padahal tadi dia berharap dia bisa mendapatkan sarapan sebungkus roti srikaya dengan secangkir kopi buatan tangan Arum, tapi gagal total karena kehadiran orang ketiga.
"Sayang," panggil Awan manja pada Arum, Arum sampai tersedak. Keduanya sigap memberi air putih. Arum bingung harus mengambil yaang mana, akhirnya dia mengambil air minumnya sendiri.
Awan dan Angkasa meletakkan lagi cangkir mereka.
"Selama ini aku bukan nggak mau beliin barang-barang seperti yang tetangga kasih ke kamu, tapi aku sangat menghargai pilihan kamu yang ingin hidup sederhana, apa adanya," kata Awan meneruskan apa yang ingin dikatakannya setelah melihat Arum sudah sembuh dari tersedaknya.
Angkasa menggeram kesal mendengarnya.
"Nggak papa, Wan. Aku sebenarnya lebih senang tinggal dengan apa yang aku punya," sahut Arum.
"Terima kasih ya," kata Awan mengusap punggung tangan Arum diatas meja, Angkasa mendelikkan mata melihat itu, kemudian berdehem, tapi sayang, itu tidak membuat Awan menjauhkan tangannya. Tapi kemudian tangan Angkasa mengambil mangkuk sambal, dan dengan sengaja menjauhkan tangan Awan dari atas tangan.
"Maaf, nggak sengaja," ucapnya, memasukkan tiga sendok kedalam mangkuk buburnya.
"Sayang, apa rumah lama kamu sudah ada yang menyewa? Kalau belum ada, teman ku ada yang mau menyewanya."
"Belum, boleh kalau teman kamu ada yang mau menyewanya, kapan mau datang dan melihatnya?" tanya Arum.
"Nanti aku kabari, kapan dia akan melihatnya." Arum mengangguk.
Angkasa menajamkan telinga mendengar percakapan Awan dan Arum. Dalam hatinya berharap teman Awan tak jadi menyewa rumah Arum tersebut.
Dari jauh, dari dalam mobil, seorang wanita cantik mengusap pipinya yang basah, melihat kemesraan sahabatnya.
__ADS_1
"Ternyata Arum calon istri Awan," gumamnya menahan rasa sakit didadanya. Dia bingung kenapa dia sakit melihat kedekatan Awan. Sedangkan pada Angkasa dulu, dia tak sesakit ini melihat Angkasa didekati wanita lain.