Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Tertipu


__ADS_3

Arum ikut turun, menghampiri Angkasa yang menghadapi para preman itu sendirian.


"Siapa kalian?" tanya Arum. Mereka menoleh kearah Arum yang datang. Angkasa mendesah, menyesali Arum yang menyusul turun.


"Kenapa kamu turun?" Angkasa menarik tangan Arum, agar berdiri disisinya.


"Aku dengar tadi mereka bilang, papa punya banyak hutang," jawab Arum menegaskan pendengaranya. "Mereka pasti penipu yang ingin mengambil rumah kami."


"Kamu yakin?" bisik Angkasa. Menarik tubuh Arum semakin merapat padanya. Angkasa menangkap wajah lapar para preman itu ketika melihat Arum.


"Oh, ini rupanya anak Dikdik, cantik juga." Puji salah satunya bicara pada temanya dengan suara kencang, hingga dapat didengar Angkasa.


"Yoi, mantap buat kita," sahut temanya.


"Jaga bicara kalian." Angkasa marah mendengarnya.


"Pergi kalian! Jangan coba untuk membohongi kami." Arum mengusir. Tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan. "Papa tidak punya hutang, jangan menipu, kami tidak akan membayarnya." Kata Arum tegas.


"Kami akan pergi jika hutang Dikdik sudah dibayar, ini bukti peminjamanya jika kalian tidak percaya." Salah satu dari preman maju, mengeluarkan map dari saku dalam jaketnya. Menunjukkan pada Arum dan Angkasa.


Angkasa mengambil map itu, membaca isi dalam surat hutang piutang yang dibuat. Dari tanggalnya, kesepakatan itu terjadi setahun yang lalu, ada tanda tangan atas nama Dikdik diatas materai, dan berjumlah seratus juta. Arum ikut melihat isi map tersebut.


Arum menghela nafas. Mereka memiliki bukti cukup kuat.


"Aku akan melunasinya," ucap Angkasa. Arum terbelalak.


"Jangan." Larang Arum, menatap Angkasa yang lebih tinggi darinya.


"Tidak apa tidak dibayar, asal kamu cantik, ikut dengan kami," ucap preman itu pada Arum. Arum dan Angkasa balas menatapnya dengan tatapan tajam. "Jika kamu ikut kami, kami anggap hutang ayah mu lunas." Dia mengusap dagunya, menatap haus Arum. Tak takut dengan tatapan Arum dan Angkasa.


Angkasa berang, ingin sekali dia menghajar wajah kurang ajar itu, tak terima Arum ditatap seperti itu.


Angkasa mengajak Arum menjauh. "Rum, biar aku melunasinya, hutang ayah mu hanya seratus juta. Sedang harga rumah itu, lebih dari dua miliar," kata Angkasa memberi tahu.


"Tidak apa, biarlah rumah itu hilang, yang penting hutang papa lunas. Aku tidak ingin berurusan dengan para preman itu, lagi pula. Menjualnya tidak bisa langsung laku sebulan dua bulan," ucap Arum tidak masalah sama sekali.


Angkasa menarik nafas, Arum ini bo-doh apa polos? Masa mau merelakan rumah berharga mahal begitu saja. Tapi Arum wanita yang ia suka.


"Rum, rumah itu jika dijual bukan hanya bisa menutupi hutang-hutang papa kamu, tapi bisa untuk membeli rumah, bahkan membeli ruko bagus ditempat yang strategis." Kata Angkasa, agar Arum tak sampai menyerahkan rumah ayahnya begitu saja. Selain memang harga rumah itu tinggi, pasti banyak kenangan Arum bersama mamanya didalam sana.


"Kamu tidak usah memikirkan uangnya. Aku akan membayarkan hutangnya sekarang. Satu tahun rumah itu disewa teman ku, bisa menutupi hutang ayah mu."


"Hah, bisa semahal itu?" tanya Arum polos. Angakasa mengangguk, dia menggenggam Arum menyakinkan. Arum tak tahu saja, jika harga tanah yang dibangun dirumah ayahnya itu, berharga puluhan juta permeternya. Dan Arum tak tahu harga pasaran rumah dikompleksnya jika disewakan.


Hidupnya selama ini, hanya seputaran Alex, bandara, mama, dan ayahnya.


Angkasa dan Arum berbalik, kembali pada para preman itu.

__ADS_1


"Aku akan membayar lunas hutang pak Dikdik," ucap Angkasa. Tangan kirinya menggenggam tangan Arum, tangan satunya ia masukkan kedalam saku celananya.


"Kami ingin malam ini juga, tidak mau ditunda, apa itu bisa?" tantang preman itu, maju satu langkah mendekati Angkasa, tapi matanya melirik Arum.


"Baik, sekarang akan aku bayar. Berapa nomor rekening yang bisa aku transfer?" tanya Angkasa tanpa melepaskan pandangannya pada preman dihadapanya.


Si preman mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, mengetikkan angka diatas tombol jadulnya, lalu memberikan pada Angkasa. Angakasa menerimanya, dan memasukkan nominal yang diminta.


Ingin Arum mencegah Angkasa, tapi apa daya, dia tak memiliki uang sebanyak itu.


Angkasa mengembalikan ponsel milik si preman. "Pergilah dari sini, urusan kita selesai." Usir Angkasa.


"Senang bekerja sama dengan Anda, Bung. Jaga wanita anda, dia terlalu gurih," ucapnya mengedipkan mata pada Arum, tertawa meledek, berani mengatakan itu didepan Angkasa. Arum membuang muka. Angkasa sudah maju ingin menghantam mulut kurang ajar laki-laki berwajah seram itu, tapi Arum menahanya.


Arum menggeleng sebagai isyarat, takut terjadi sesuatu pada laki-laki yang selalu saja menyelamatkanya dari kesusahan. Angakasa jadi lemah.


Setelah para preman itu pergi, tak lama teman Angkasa yang ingin menyewa rumah Arum datang. Seorang warga negara asing dari Barcelona bersama istrinya itu keluar dari mobil, menghampiri Angkasa yang sudah menunggu mereka.


"Maaf lama menunggu," ucap teman Angkasa dalam aksen Spanyol yang begitu kental, mereka saling berjabat tangan. Arum tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Rum, kenalkan, dia William. Teman ku." Angkasa memperkenalkan Arum dengan temanya. Arum membalas jabatan tangan teman Angkasa dan istrinya.


"Apa dia pacarmu?" tanyanya pada Angkasa.


"Iya, dia ibu dari calon dari anak-anak ku," jawab Angkasa tanpa keraguan dalam bahasa Spanyol juga, tersenyum menatap Arum, Arumpun ikut tersenyum, tanpa mengerti apa yang mereka katakan.


Puas melihat rumah yang akan mereka sewa untuk setahun kedepan, William menanyakan harganya.


"Dia cocok sama rumahnya. Kamu minta harga berapa? Dia mau sewa setahun sekaligus kalau cocok dengan harganya," tanya Angkasa pada Arum.


"Menurut mu, berapa?" Arum masih kaku dengan panggilan yang diminta Angkasa.


"Terserah kamu saja. Biasanya disini berapa?"


"Aku tidak tahu," jawab Arum apa adanya. Karena dia memang sama sekali tidak tahu.


"Kalau 80 juta bagaimana?" tanya Angkasa.


"Apa tidak kemahalan?" Arum kaget dengan harga yang diusulkan Angkasa.


"Itu harga standar, terlalu murah untuk pengusaha seperti mereka. Tapi kita tidak boleh juga menarifkan harga terlalu tinggi."


Setelah mereka sama-sama setuju dengan harga. Angkasa mengantarkan Arum melaporkan ke petugas setempat, jika rumahnya sekarang ini diitempati warga negara Asing.


Angkasa mengantarkan Arum pulang.


"Uang tadi, simpan saja, sebagai ganti uang yang terpakai untuk membayar hutang papa." Arum bicara saat sudah didalam mobil.

__ADS_1


"Pakai saja untuk sewa ruko yang lebih besar, dan ingat kataku, cari karyawan." Titah Angkasa tak ingin dibantah.


Mobil mereka tiba didepan toko Arum. Didalam ada beberapa pembeli, hati Arum senang melihatnya, apalagi melihat mamanya memberi senyum saat melayani para pembeli.


Tapi mata Arum tertuju pada mobil pickup yang terparkir didepan tokonya.


"Mobil siapa itu? Kenapa parkir didepan toko?" gumam Arum.


"Itu mobil yang membawa barang-barang Andini, mulai hari ini dia tinggal bersama kami."


Apa, berita macam apa ini? Mereka tinggal bersama. Kejujuran Angkasa itu tanpa ia sadari menimbulkan kecemburuan dihati Arum, secuil luka tak nampak mulai timbul tanpa disadari.


"Andini ternyata anak teman Mama yang sudah tiada. Andini tinggal bersama kami, karena sebagai penebus rasa bersalah mama saja." Angkasa tak berani jujur, dalam surat wasiat itu jika mereka dijodohkan. Arum keluar dari mobil Angkasa. Angkasa segera pulang karena sejak tadi Delia terus menghubunginya, diikuti mobil yang membawa barang-barang Andini dibelakangnya.


"Apa dia menyembunyikan sesuatu dari ku? Sepertinya mamanya benar-benar akan menjodohkan mereka berdua." Hati Arum menebak-nebak kemungkinan yang terjadi.


Arum mendorong pintu kaca tokonya, tersenyum pada sang Mama.


"Maaf ya Ma, lama," ucap Arum pada Nining. Arum kembali mengenakan apronya, mengalungkan dilehernya. Mengikat tali bagian belakang.


"Tidak apa? Gimana, penyewanya jadi?" tanya Nining ingin tahu.


Arum mengangguk. "Iya, tapi tadi ada yang datang menagih hutang, katanya papa punya banyak hutang, ini bukti pinjamanya, dan bukti pembayarannya." Arum menunjukkan kertas hitam diatas putih, jika tadi dia sudah melunasi hutang Dikdik. Nining menatap nanar angka yang tertera.


"Sebanyak itu? Kamu uang dari mana?"


"Angkasa yang membayarnya."


"Kalian berhubungan?" Arum diam, wajahnya berubah merona, malu untuk mengakuinya, tapi lehernya mengangguk kecil mengiyakan.


"Sepertinya dia pria yang baik. Jaga baik-baik hubungan kalian, jangan sampai yang dulu pernah terjadi pada Mama, terjadi juga pada kalian."


"Iya, Arum pasti bisa menjaga diri, Ma."


* * *


Ditempat lain.


Seorang preman sedang bicara dengan seseorang dari sambungan telepon.


"Bos, kita sudah mendapatkan uangnya. Seratus juta, cash."


"Hahahaha bagus. Tinggal satu langkah lagi, kita akan mendapat uang untuk menebus ku."


"Tenang Bos. Kita siapkan anak buah baru."


"Mainkan yang cantik, jangan sampai mencurigakan," katanya memperingati.

__ADS_1


"Baik bos. Siap laksanakan."


__ADS_2